Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Shera sudah Kembali


__ADS_3

Dini hari ketika Valey, Naren dan nanny masih terlelap, tiba-tiba ada yang menggedor pintu dengan irama terburu-buru.


Naren yang menempati kamar bersebelahan dengan ruang tamu dengan jelas mendengar gedoran itu, hingga pria itu mengumpat kesal karena tidurnya terganggu.


"Kepar*t! Siapa malam-malam gedor pintu kencang banget!" umpatnya marah. Namun, mau tak mau ia bangun untuk membuka pintu. Sekaligus ingin memaki tamu atau siapapun yang datang.


Naren keluar dari kamar kebetulan nanny juga tengah menuju pintu depan.


"Siapa yang bertamu? Apa Yuda yang baru pulang?" tanya Naren.


"Tidak tau, Tuan. Kalau Yuda, dia tidak akan berani gedor-gedor pintu," jawab nanny. "Biar saya buka pintunya."


Pintu kayu berpelitur cokelat muda itu dibuka, tubuh nanny terpaku di depan pintu.


"Non ... She-Shera?"


Gumaman nanny mampu didengar Naren, pria itu melangkah ke depan pintu. Bola mata Naren membulat sempurna, terkesiap melihat wanita pucat dengan penampilan berantakan yang tak lain adalah saudara kandungnya.


"Narendra ... ya Tuhan ... Naren! Kakak bisa menemukanmu. Kakak bisa menemuimu." Wanita itu memeluk Naren dengan air mata berderai.


"Kakak, Kakak kemana saja? Apa pria bedebah itu menyakiti Kakak?"


Naren merasa sangat bahagia sudah bertemu dengan kakaknya, sekaligus merasa sedih melihat penampilan Shera.


"Kakak akan jelasin semuanya nanti." Shera memperhatikan jalan, wajah pucatnya juga memancarkan ketakutan yang teramat.


"Naren, bisakah pergi dari sini?"


"Ada apa, Kak? Di sini aman, tidak ada yang tau tempat ini."


"Kamu salah! Tempat ini sama sekali tidak aman. Semua akan Kakak ceritakan, tapi kita harus segera pergi!"


Nanny diam mematung karena masih terkejut dengan kedatangan Shera. Sampai perintah dari Naren membuatnya tersadar.


"Nanny, segera bersiap, kita akan tinggalkan rumah ini. Bangunkan juga wanita itu!"


"Baik, Tuan."


Setelah nanny berlalu ke kamar, Naren mengajak Shera masuk ke kamarnya untuk membantu berkemas.


Valey terbangun saat nanny membangunkan dengan menggoyang-goyangkan punggungnya. "Ada apa, nanny?"


"Tuan Naren menyuruh kita berkemas karena kita akan meninggalkan rumah ini."


Valey mengernyit bingung. Tidak ada masalah apapun, kenapa Naren mendadak pindah. Selain itu, ia sudah sangat nyaman tinggal disana. Enggan harus berpindah tempat tinggal lagi.

__ADS_1


"Memang ada apa, Nanny? Apa ada yang terjadi?" Valey mengulang pertanyaan.


"Non Shera tiba-tiba datang, lalu menyuruh kita untuk pindah. Katanya tempat ini tidak aman," terang nanny.


"Shera? Bukankah itu nama kakaknya Naren?" Valey terkejut.


Nanny mengangguk. "Iya, Non Shera adalah kakaknya Tuan Naren."


"Puji Tuhan penuh kebaikan. Kesalahpahaman Naren akan segera berakhir dan aku bisa bebas, nanny," pekik Valey dengan senyum lebar.


Nanny kembali mengangguk. "Tapi Tuan Naren menyuruh saya untuk membangunkan Nona karena Nona harus ikut pindah."


"Enggak! Aku tidak mau pindah. Nona Shera sudah kembali, ia mungkin tau kebenarannya dan kesalahpahaman Naren harusnya sudah berakhir. Aku tidak mau pindah!" Valey tidak beranjak, karena ia tidak mau ikut pindah.


Ketukan pintu membuat nanny dan Valey saling pandang. "Apa kalian sudah selesai? Kita tidak punya banyak waktu untuk pergi dari tempat ini!"


Nanny membuka pintu kamar. "Nona Valey tidak mau ikut, Tuan."


Valey masih duduk di ranjang tanpa bergeser sedikitpun.


"Naren, kakakmu sudah kembali. Tanyakan padanya apa aku terlibat konspirasi jahat dengan pria bernama Ziat. Aku sudah jelaskan kalau kamu salah paham ...."


Ucapan Valey terhenti saat Naren membawa paksa ia keluar.


"Jangan banyak bicara. Secepatnya kita harus pergi." Wajah Naren terlihat tegang dan cemas, setelah tadi Shera mengatakan jika Ziat dan anak buahnya mengejar sampai kesini. Untuk itu, sebelum sampai, mereka harus lebih dulu meninggalkan tempat itu.


Shera yang berdiri di depan pintu ruang tamu sudah membuka mulut untuk menanyakan siapa Valey, tapi urung ditanyakan karena Naren sudah menghilang dibalik pintu kamar.


Shera tahu kekasih adiknya adalah Latisya, wanita yang sedang menempuh pendidikan di negeri orang.


Lalu ... siapakah wanita itu?!


Naren melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Shera duduk di sampingnya, sedangkan di kursi penumpang ada nanny dan Valey.


Valey tak bisa berontak dan berbuat apapun karena mulutnya tertutup lakban, sedangkan kedua tangan kembali diikat.


Semua itu bukan karena Naren memperlakukan Valey dengan kejam lagi, tapi agar Valey diam dan tidak banyak berontak.


"Naren, siapa wanita itu?" Sudah kesekian kali Shera bertanya dengan pertanyaan yang sama, tapi Naren juga menjawab dengan jawaban satu kalimat.


"Nanti Naren jelaskan."


"Kalau begitu, kenapa dia harus ikut kita pindah?"


"Kemana tujuan kita, Kak?" Naren justru mengalihkan topik. Dan Shera menyebut alamat yang lumayan jauh dari kota.

__ADS_1


Siang hari, Naren menghentikan mobil di SPBU batas kota. Ia menghubungi pihak jasa rental mobil dan mengatakan akan keluar kota untuk satu minggu hingga pihak forum tidak akan mencarinya atau menganggapnya kabur.


Setelah mendapat izin, tak lupa ia berpesan jika ada yang menanyakan keberadaanya mereka tidak perlu memberitahu.


Menjelang malam mobil yang dikendarai Naren terhenti di sebuah desa dengan rumah penduduk yang saling berjarak. Pria itu turun dan bertanya pada satu warga yang tengah melintas. Menanyakan di mana orang yang punya jasa sewa rumah.


Dan seperti dipermudah, ternyata pria itu memiliki satu rumah yang baru kosong karena ditinggal penyewanya.


"Rumahnya juga tidak jauh dari sini, Mas. Kalau mau saya antar," kata pria berkisar empat puluh tahunan itu.


"Kalau untuk harga?"


"Dua juta perbulan, bisa dibayar dua kali," jawab pria itu.


"Saya baru ada lima ratus ribu, apa boleh saya bayar minggu depan?" Meski ragu dan malu, tapi Naren tak punya pilihan lain. Yang terpenting mereka bisa bermalam malam ini.


Pria itu tampak menelisik mobil yang dikemudikan Naren. Penampilan terlihat oke juga datang mengendarai mobil, tapi tidak punya uang. Begitu isi pikirannya.


"Ya sudah tidak papa. Tapi janji minggu depan, ya!"


Naren mengangguk.


"Mari ikuti saya."


Naren kembali masuk ke dalam mobil, lalu menghidupkan mesin dan perlahan mengikuti pengendara motor di depannya.


"Sudah dapat rumah sewanya?" tanya Shera.


"Sudah, Kak. Kita tinggal ikuti pengendara motor itu."


Rumah di depan sana tak jauh beda dengan rumah sewa yang sebelumnya. Hanya tampak sedikit kotor, mungkin karena tidak ada penghuninya.


"Ini kuncinya. Semua perabotan lengkap. Dan sudah siap ditinggali. Mungkin sedikit berdebu karena satu minggu ini tidak dibersihkan," ujar si pemilik rumah.


"Iya, tidak papa. Terima kasih, Pak." Kali ini Shera yang menjawab.


Setelah pemilik rumah pergi, Naren menyuruh nanny untuk keluar dari mobil. Sementara ia justru masuk dan berusaha melepas lakban di mulut Valey juga ikatan tangannya.


"Auh sakit! Kamu selalu tidak sabaran, Naren!" sentak Valey kesal.


"Maaf. Ayo, turun."


"Aku tidak mau!"


"Jangan membuat susah! Ayo cepat turun!" Naren menggenggam telapak tangan Valey untuk diajak turun, tapi Valey menyentak kasar.

__ADS_1


"Aku tidak mau! Kalau kamu tidak memaksaku ikut pindah, aku tidak akan membuatmu susah. Kakakmu sudah kembali, Naren! Bebaskan aku!"


"Dia sudah kembali, tapi aku belum tau kebenarannya."


__ADS_2