
"Naren tolong! Mmpppfffhh!" Mulut Valey dibungkam oleh tangan besar milik pria yang memaksanya masuk ke dalam mobil. Tubuhnya di apit dua orang berbadan kekar dengan wajah sangar dan menakutkan.
"Diam!" bentak salah satu dari mereka.
"Bungkam mulutmu cantik, atau belati ini akan merobek rahangmu!" ancaman bernada lembut namun membuat Valey bergidik ngeri.
Valey diam seketika namun air matanya terus menetes. Dia sangat ketakutan.
Tuhan, tolong aku ....
Naren, aku takut ....
Mobil itu terus berjalan sampai masuk ke sebuah jalanan yang sisi kiri dan kanannya rimbun pepohonan.
Tubuh Valey semakin bergetar, dia tak tahu akan dibawa kemana. Juga tak tahu siapa orang-orang yang menculiknya. Selama ini dia tidak memiliki musuh.
Tuhan, lindungi aku dan bayiku. Jangan sampai bayi Naren kenapa-napa. Ku mohon. Yang utama adalah bayi Naren, tolong selamatkan dia. Doa Valey dalam hati.
Di sebuah kawasan jauh dari pemukiman warga, ada bangunan tua yang sudah terbengkalai. Mobil yang membawa Valey tadi terhenti di sana.
Tubuh Valey diseret paksa untuk masuk ke dalam. Valey tak bisa berontak karena dua orang tadi memegangi tangannya. Dia pikir, berontak juga percuma, hanya membuang tenaga. Karena akan sia-sia.
Valey disuruh duduk di kursi kayu, lalu kedua penjahat itu mengikat tangan dan kakinya. Mungkin karena syok dan rasa takut, perutnya terasa kram. Dia mengatur napas dan berusaha tenang.
"Haha ... bajingan juga keponakanku. Memiliki pacar tapi menghamili wanita lain," ucap seseorang yang baru masuk ke ruangan itu.
Valey menoleh pada orang tersebut. Keningnya berkerut dalam, dia merasa tidak mengenal pria paruh baya di depannya. Tapi sekilas wajahnya tidak asing. Sepertinya dia pernah melihat pria itu tapi dia lupa.
Perlahan-lahan pria itu mendekat. Bibirnya menyungging senyum yang sangat menyeramkan.
"Tapi kamu sangat cantik, pantas saja keponakan bodohku itu menghamilimu," ucapnya terkekeh.
"Anda siapa? Aku tidak mengenalmu, kenapa menculikku?!" Valey memberanikan diri bertanya meski suaranya gemetar ketakutan. Dia masih belum ingat siapa pria itu meski sudah pernah bertemu satu kali di makam ibunya Narendra.
Pria itu menjulurkan tangan dan mengelus pipi Valey. Valey sendiri merasa jijik, sekuat tenaga menjauhkan wajahnya.
"Kau tidak mengenalku? Apa Narendra tidak mengenalkan aku padamu? " Pria itu justru membalikan pertanyaan.
Valey mulai mengerti siapa pria itu. Dia mulai ingat.
"Baiklah, mari kita kenalan secara resmi," ucap pria itu.
"Aku, Ziat, pamannya Narendra Adiyasa Syahputra. Pria yang sudah menyiksa dan menghamilimu."
__ADS_1
Valey menatap tajam. Napasnya memburu, karena pria tua itulah Narendra menjadi salah paham dengannya. Seolah Ziat mengkambing hitamkan dirinya hingga dia yang tidak tahu apa-apa sangat dibenci oleh Narendra.
"Kenapa kau menculikku? Dari awal aku tidak ada hubungannya dengan Naren!" decit Valey.
"Ha ha ... bagaimana tidak ada hubungannya? Kau yang memberi Narendra kunci brankar rahasia sampai dia tau semua kejahatanku dan hampir saja memenjarakanku. Tapi karna kau juga, rencanaku menjadi mulus." Pria itu menjelaskan dengan diselingi gelak tawa.
"Sekarang, aku akan membuat Narendra dan Shera sendiri yang menghampiriku. Shera harus menandatangani surat pemindahan semua harta warisan keluarga Adiyasa dan menggantinya dengan Ziat Danu Permana. Setelah itu, mereka akan kulenyapkan." Kali ini Ziat menunjukkan wajah devilnya.
"Anda salah jika menyekapku hanya untuk memancing Naren kesini. Hanya sia-sia karena Anda salah mangsa, aku tidak penting bagi Naren. Dia tidak akan mencariku!"
"Kalau kamu tidak penting, lalu bagaimana dengan bayi yang ada di dalam perutmu? Bayi itu pasti sangat penting bagi Narendra."
Sial, usaha Valey untuk mengelabui Ziat gagal. Demi bayi itu, Narendra jelas akan mencarinya. Tapi hanya demi bayi itu, bukan dirinya.
"Kamu salah, Naren tidak menginginkan bayi ini!"
Maaf, Nak, maafkan ibu yang terpaksa mengatakan ini. Kamu lebih tau ibu dan ayahmu sangat ingin melihatmu. Valey meminta maaf dalam hati, karena terpaksa harus mengatakan demikian.
"Kamu kira bisa membodohiku?" Ziat tersenyum meremehkan.
"Jika tidak menginginkan, tidak mungkin bayi itu masih dipertahankan. Harusnya sudah dari dulu dilenyapkan. Atau, kalau memang tidak diinginkan, mau ku bantu untuk melenyapkannya sekarang?!" ancam Ziat.
"Tidak-tidak-tidak! Jangan!" Valey menciut mendengar perkataan Ziat. Meski bayi itu milik Narendra, tapi dia sudah berjanji untuk menjaganya sampai waktunya terlahir ke dunia.
•
Keanehan semakin menjadikan rasa penasaran saat sandal rumahan yang sering dipakai Valey terdampar sekitar tiga meter dari pintu rumah.
Firasatnya mulai tidak enak. Mungkinkah sudah terjadi sesuatu?
Dia segera turun dan masuk ke dalam rumah untuk mencari Valey.
"Valey ...!"
"Valey ...!" teriaknya lantang, tapi tak mendapat sahutan. Kamar, ruang tengah, kamar nanny, dapur, halaman samping sampai halaman belakang dia putari untuk mencari Valey tapi tidak ada.
Perasaanya mulai cemas.
"Ke klinik," gumamnya menebak. Dia berusaha berpikir positif, mungkin saja Valey pergi ke klinik karena tadi Valey sempat meminta izin.
Narendra menghubungi nomor Valey yang saat ini sedang dibawa Shera.
[Halo, Narendra?] jawab Shera dari seberang sana.
__ADS_1
"Kak, apa Valey menyusul ke klinik?" tanyanya tak bisa menyembunyikan panik.
[Tidak, Valey tidak menyusul. Bukannya di rumah denganmu?]
"Hari ini aku ada janji dengan Kindra dan Tisya, ku suruh Valey di rumah. Tapi ...."
[Tapi apa, Naren!?!"] Di seberang, suara Shera mulai meninggi.
"Tapi begitu aku kembali karna ponselku ketinggalan, Valey tidak ada. Dan pintu depan dalam keadaan terbuka."
"Astaga ...! Terus kemana Valey? Coba kamu cari di sekeliling, mungkin saja Valey lagi jalan-jalan. Atau pergi ke warung."
"Aku sudah cari, Kak, tapi gak ada."
Ponsel Narendra masih terhubung dengan Shera, tapi ada nomor asing yang mengantri untuk menelponnya.
"Nomor siapa?" bingungnya.
"Kak, ada panggilan lain. Nanti aku hubungi kakak lagi."
[Kamu harus kabari Kakak tentang keadaan Valey.]
Narendra mengakhiri panggilannya dengan Shera, lalu mengangkat nomor asing itu. Sedari tadi menghubunginya tanpa henti.
"Halo, dengan siapa?"
Plak!!!
[Akh!]
Suara tamparan keras dan teriak kesakitan itu membuat Narendra terkejut setengah mati. Dia paham betul pemilik suara itu.
"Valey!" pekiknya.
[Naren, jangan hiraukan aku. Jangan sampai kamu terpancing untuk datang!]
Jelas sekali suara Valey terdengar.
[Lancang sekali kamu mengatakan itu. Aku menyuruhmu memanggil Narendra kemari!]
Suara itu? Sialan, dia tahu suara siapa itu.
[Akh' sakit! Lepas!] Suara Valey terdengar samar. Tapi Narendra masih mendengar sedikit-dikit.
__ADS_1
[Apa kabar keponakanku?]
"Keparat kau Ziat! Bedebah!" Rahang Narendra mengeras. Wajahnya memerah karena amarah.