
Shera dan Kindra menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju ruang UGD.
"Pelan-pelan, Kak," ujar Kindra merasa sedikit kewalahan mengikuti langkah Shera yang seperti setengah berlari karena terlalu panik.
"Aku khawatir dengan kondisi Valey juga bayinya. Apalagi mendengar dia terkena tembakan, ya Tuhan ... aku benar-benar sangat takut." Wajah Shera menegang bercampur sedih.
"Mudah-mudahan dokter bisa menyelamatkannya," ucap Kindra memaklumi.
Lalu keduanya kembali melanjutkan langkah. Berbelok satu lorong barulah mereka melihat Narendra berdiri gelisah di depan ruangan yang masih tertutup rapat.
"Narendra," panggil Shera.
"Kak ...." Pria itu memeluk kakaknya. "Aku gak tau harus bagaimana Kak," ucapnya dengan keputusasaan.
"Tenang, Narendra. Dokter sedang berusaha, Valey dan bayimu akan diselamatkan." Shera menenangkan kegelisahan adiknya, meski tak dipungkiri jika dirinya sendiri juga sangat khawatir.
"Kondisi Valey kritis. Dokter memberiku pilihan jika salah satu dari mereka harus diselamatkan, siapa yang harus dipertahankan. Dan aku ... memilih Valey." Suara Narendra yang bergetar, menandakan jika pria tersebut sangat sedih.
Shera bahkan langsung meneteskan air mata. Jika yang dikatakan Narendra sungguh terjadi, maka dia tak akan bisa menyaksikan keponakannya terlahir dengan sebuah tangisan. Penantian selama sembilan bulan hanya sia-sia.
Akan tetapi dia juga tak bisa menyalahkan keputusan adiknya, karena nyawa Valey juga sangat berarti. Dia juga tak ingin kehilangan Valey.
"Apa yang aku pilih salah? Apa keputusanku kurang tepat?" tanya Narendra yang masih diselimuti kebimbangan atas keputusannya tadi.
Shera menggeleng. "Kamu tidak salah dan tidak ada yang bisa disalahkan. Nyawa Valey juga sangat penting," timpal Shera dengan mengusap bahu adiknya untuk memberi dukungan.
"Kesalahanku sangat banyak, aku ingin meminta maaf pada Valey."
Shera mengangguk setuju. "Selain itu juga kamu berhutang nyawa pada Valey, maka kamu harus memberinya kesempatan hidup."
"Kalian terus membahas wanita itu tapi tidak menggubris rasa penasaranku," sela Kindra membuat adik kakak itu mengarah padanya.
"Sebenarnya siapa wanita itu?" tanyanya untuk yang kesekian kali.
"Di awal ibuku ditemukan tewas, entah bagaimana wanita itu tiba-tiba datang ke rumah dan memberitahuku semua bukti kejahatan Ziat. Namun, aku justru mencurigainya.
Saat itu aku merasa sangat terpuruk, hingga tak bisa membedakan orang baik atau sekutu. Aku menuduh dan menyiksanya, sampai tak sengaja menodainya. Saat itu aku sedang mabuk."
__ADS_1
Kindra yang mendengar dengan seksama hanya bisa memasang wajah tak percaya. Dia tahu masalah pelik yang dihadapi keluarga Narendra, namun tak mengetahui tentang Valey karena sahabatnya itu tidak pernah menyinggung tentang wanita bernama Valey.
"Kamu sudah memperlakukannya dengan buruk, tapi dia masih mau mengorbankan diri demi menyelamatkanmu ...." Kindra menggeleng tak percaya.
"Sementara kekasih yang kamu unggul-unggulkan malah menusuk mu dari belakang," lanjutnya mencibir.
Tapi Narendra mengerutkan kening dalam karena sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Kindra.
"Apa maksudmu?"
"Tisya ternyata bersekongkol dengan uncle Ziat. Bahkan wanita itu ikut menyakiti Valey."
"Kau bicara apa?!" Suara Narendra menggema di lorong yang nampak sepi itu. Hingga Shera harus mengusap bahu adiknya lagi supaya lebih tenang dan bisa menerima kenyataan.
"Tisya sekarang sudah ditangkap polisi dan sedang dimintai keterangan atas keterlibatannya dengan paman Ziat," Kindra memberitahu sesungguhnya. Bagaimanapun Narendra berhak tahu kebusukan Latisya.
Tubuh Narendra melemas dan menjatuhkan diri di kursi tunggu. Wajahnya menunduk dengan kedua tangannya menekan kepala yang berdenyut sakit.
Bagaimana bisa orang yang dicintai justru bersekongkol dengan penjahat yang menghancurkan keluarganya.
"Mana mungkin Tisya mengkhianati ku," gumam Narendra. Kenyataan itu jelas sulit diterimanya. Dia merasa telah mengenal Latisya dengan sangat baik, bahkan dia sangat mencintai kekasihnya itu. Tapi, kenyataan sesungguhnya malah mengecewakannya.
"Dia kecewa melihatmu dengan Valey, maka Tisya menyusun rencana untuk menculik Valey."
"Bagaimana aku tidak curiga sama sekali," ujar Narendra. "Ternyata dia dalang dibalik penangkapan itu. Aku tidak menyangka."
Pembicaraan serius mereka terhenti saat dokter sudah selesai menangani Valey.
"Bagaimana keadaan ibu dan bayinya, Dok?" tanya Shera cepat.
"Puji Tuhan, kami berhasil menyelamatkan nyawa bayinya. Bayinya sudah lahir dengan Sehat dan tidak kekurangan apapun. Bayinya tampan seperti ayahnya." Dokter yang tengah tersenyum itu menjeda kalimat dan merubah raut wajahnya menjadi lesu.
"Tapi, untuk ibunya kami sudah berupaya sebisa kami. Namun kondisinya masih kritis dan kami nyatakan koma."
"Ya Tuhan ... Valey." Shera menangis dan terduduk lemas di kursi tunggu.
Narendra membatu sesaat. Juga menjatuhkan diri di dekat kakaknya. Sedetik dia merasa lega karena ternyata bayinya bisa lahir ke dunia. Meleset dari perkiraan dokter yang menyatakan harus menyelamatkan salah satu dari mereka.
__ADS_1
Akan tetapi, tak sesuai angan karena Valey dinyatakan koma.
Ruangan kembali terbuka, dan kali ini seorang perawat terlihat keluar dengan menggendong makhluk kecil yang baru pertama dia lihat.
Dia hampir tak percaya jika makhluk mungil itu adalah anaknya. Kini statusnya sudah menjadi seorang ayah. Semua itu bukan atas kesengajaan, namun kini menjadi kebahagiaan.
Narendra bangkit dengan tubuh terasa ringan. Dia mendekati bayi yang ada di gendongan perawat dan mengamatinya dengan sudut mata berkaca-kaca. Sungguh-sungguh tak percaya.
"Walau dia tampan, tapi wajahnya sangat mirip dengan Valey," ujar Shera yang juga mendekat dengan tangis haru biru.
Perawat memberikan bayi itu untuk di gendong Shera.
"Dia anakku, Kak. Dia anakku," ucap Narendra.
Shera tersenyum haru. Tidak menyangka jika keponakannya bisa terlahir ke dunia.
Ketika bayi itu menggeliat dan menangis, Shera buru-buru mengembalikan nya pada perawat.
"Sus, apa pasien sudah bisa ditemui?" tanya Narendra. Dia tak sabar ingin melihat keadaan Valey.
"Tunggu sampai Nyonya Valey di pindah kan ke ruang perawatan. Baru bisa di temui," jawab perawat itu.
Sekitar setengah jam berikutnya, brankar Valey keluar dan di pindah ke ruang perawatan. Narendra mengikuti di belakang, sementara Shera mengikuti perawat ke ruang khusus bayi.
"Dia sangat cantik," batin Kindra yang juga mengikuti di belakang Narendra.
"Selamat Naren, kamu sudah menjadi seorang ayah."
Sekitar setengah jam berikutnya, brankar Valey keluar dan di pindah ke ruang perawatan. Narendra mengikuti di belakang, sementara Shera mengikuti perawat ke ruang khusus bayi.
"Dia sangat cantik," batin Kindra yang juga mengikuti di belakang Narendra.
"Selamat Naren, kamu sudah menjadi seorang ayah.
Narendra tersenyum. "Aku sendiri tak percaya kalau sudah menjadi seorang ayah," ucapnya.
"Dia lebih cantik dari Latisya. Tapi sayang, nasibnya tragis," ujar Kindra dengan mengamati wajah pucat Valey.
__ADS_1
"Nasibnya tragis semua karena aku. Kesalahanku begitu besar, maka dari itu aku berharap dia masih bisa membuka mata agar aku bisa meminta maaf padanya."