
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Valey tak sabar melihat Naren justru diam.
"Aku cuma mau bilang kalau besok jadwal periksa ke dokter."
Valey mengangguk. "Atur saja jadwalnya. Disini aku tidak tau dimana poli kandungan."
"Naren, apa aku boleh minta satu keinginan?"
Naren mengerutkan dahi. "Kamu menginginkan apa?"
"Sekali saja aku ingin berkunjung ke tempat tinggal kita yang sebelumnya."
"Tidak! Aku tidak akan mengantarmu kesana, itu sama saja kita menyerahkan diri pada pria keparat itu."
"Pria itu hanya mengincar kamu dan kakakmu. Aku sama sekali tidak ada urusan dengannya. Biar aku kesana dengan nanny. Atau ... biarkan aku tinggal disana. Aku tidak betah disini."
Tempat yang mereka tinggali memang berada di desa terpencil, hingga jauh dari hiruk pikuk suasana perkotaan. Bahkan ditempat baru itu terlalu sepi. Untuk melanjutkan usaha berjualan kue keliling kurang tepat.
"Aku bilang tidak ya tidak!" tegas Naren.
Valey terlihat kesal dan meninggalkan Naren begitu saja.
"Selama kamu masih mengandung anakku, kamu tidak akan jauh dariku," gumam Naren. Dia juga meninggalkan meja makan dan bergabung dengan kakaknya di ruang depan.
"Cepet banget ngobrolnya," ujar Shera. Tapi Naren tidak menanggapi.
"Tuan Naren sepertinya lelah sekali, nanny buatkan jahe hangat sebentar," sahut nanny.
"Boleh. Badanku memang terasa kaku setelah tadi seharian pergi ke Villa Kindra di kota X," balas Naren.
"Kota X? Itu jauh sekali, Narendra. Ya Tuhan ... kamu kesana sendirian?" Shera nampak terkejut.
"Mau gimana, Kak, aku ada perlu dengan dia. Keuntungan saham sudah aku ambil untuk keperluan beberapa minggu kemarin, jadi aku menemui Kindra untuk meminjam uang." Pria itu menghela napas panjang.
Sepanjang perjalanan hidupnya, seorang Narendra tidak pernah kekurangan uang. Bahkan harta peninggalan keluarganya tidak akan habis sampai tujuh turunan jika uncle Ziat tidak curang mengambil alih semuanya.
Kini, Narendra harus merasakan kerasnya kehidupan. Untuk mencari uang lima juta saja dia sangat kesulitan.
"Apa tidak bisa lewat telepon dan via tf. Kenapa harus jauh-jauh kesana?"
__ADS_1
"Tidak pa-pa, aku juga ada perlu langsung dengannya."
"Ohya Narendra, tadi pemilik rumah datang buat nagih sisa uang sewa."
Naren mengubah duduknya menjadi tegap. "Uang sewanya memang belum aku lunasi. Rencananya uang dari Kindra ini mau ku bayarkan."
"Tapi uangnya sudah dibayar," kata Shera.
Naren mengernyit. Sisa uang sewa masih kurang banyak, lalu siapa yang melunasi.
"Valey sudah membayar lunas," sambung Shera, membuat Naren menoleh cepat.
"Valey?" gumam Naren tak percaya. Darimana gadis itu mendapat uang?
Tunggu-tunggu, atau jangan-jangan Valey mempunyai uang dari berjualan kue keliling bersama nanny sewaktu masih tinggal di rumah sewa yang sebelumnya.
"Sebentar, Kak." Naren bangkit, lalu menuju kamar Valey. Dia mengetuk pintu dua kali dan langsung masuk.
Valey yang duduk berdiam diri didekat jendela terkesiap melihat Narendra sudah berdiri di dekatnya.
"Ada apa?" tanyanya. Karena lagi-lagi pria itu hanya diam.
Sejenak Valey terpaku melihat pria di depannya. Sungguh, sikap Narendra berbeda jauh dari pertama kali mereka bertemu. Matanya yang dulu memancarkan kilat kemarahan, kini berubah teduh. Nada bicara yang selalu membuat jantungnya berdebar sakit kini terdengar merdu.
"Tidak usah. Aku juga tinggal disini, jadi anggap saja aku juga membayar uang sewaku."
Narendra menggeleng. "Itu bukan tugasmu. Uang sewa dan semua kebutuhan sudah menjadi tanggunganku. Terima ini." Dia sedikit memaksa. Menaruh uang itu di dekat Valey.
"Kamu lebih membutuhkannya, Naren. Tidak usah dikembalikan." Valey berdiri untuk mengembalikan uang itu pada Naren, tapi melihat tatapan pria itu membuat Valey mengurungkan niat.
"Baiklah aku simpan saja untuk biaya periksa kandungan besok."
•
Pagi hari setelah sarapan bersama, Naren menyuruh Valey lekas bersiap karena pagi ini mereka akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan.
Shera antusias ingin ikut untuk melihat perkembangan calon keponakannya. Narendra pun menyetujui.
Di perjalanan Shera dan Valey mengobrol, sedangkan Naren fokus menyetir. Sampai mereka sudah sampai di depan klinik 24 jam. Jadwal periksa poli kandungan masih 2 jam mendatang, daripada harus bolak-balik lebih baik mereka menunggu.
__ADS_1
Shera mengajak Naren dan Valey untuk menunggu di kantin.
"Disini ramai, tapi yang jualan hanya sedikit. Lihat, penjualnya sampai kerepotan melayani pembeli," ujar Shera sambil melihat-lihat keadaan sekitar.
"Iya. Sebenarnya kita bisa manfaatin peluang ini untuk menambah pemasukan, Kak."
"Maksud kamu?"
"Klinik ini tidak terlalu jauh dari rumah, kita bisa buka kantin seperti mereka."
Shera menimbang perkataan Valey. "Ide kamu oke, tapi aku takut keberadaan kita diketahui uncle Ziat. Sebelum pria itu tewas atau membusuk dipenjara, hidupku dan Narendra masih terancam."
"Sebenarnya hanya kakak dan Naren saja yang dicari, tapi aku dan nanny tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Jadi, harusnya tidak masalah kalau aku bebas di luaran. Lagian, ini bisa membantu perekonomian kita."
Shera masih terlihat berpikir. "Kakak tidak bisa memberi keputusan, kita harus meminta pendapat Narendra."
Valey menghela napas panjang. Jika Narendra lagi yang mengambil keputusan, bisa dipastikan kalau pria itu tidak akan setuju.
Obrolan Shera dan Valey terjeda saat Naren kembali bergabung dengan mereka.
"Siapa yang bicara denganmu? Lama sekali," ujar Shera menanyai adiknya.
"Latisya. Satu bulan lagi dia libur dan akan kembali ke Indonesia."
Mendengar itu Shera langsung menghunus tatapan tajam. Apa adiknya itu tidak memikirkan perasaan Valey. Sesantai itu Narendra bercerita tentang kekasihnya dihadapan wanita yang sedang mengandung anaknya.
"Jangan temui dia!"
Narendra terkejut. "Apa maksud Kakak? Berbulan-bulan aku menunggu kepulangannya. Kenapa Kakak melarang ku menemuinya?!"
"Narendra! Kita sedang bersembunyi, apa kamu mau uncle Ziat menemukan keberadaan kita? Kamu tau sendiri uncle sudah kenal dekat dengan Latisya, aku takut dia memata-matai Latisya. Selain itu, apa kamu tidak memikirkan perasaan Valey!" Shera menatap Valey dengan tatapan kasihan.
"Latisya sudah tau semuanya, aku tidak akan muncul sembarangan di depan umum." Narendra juga beralih melihat Valey.
"Kenapa dengannya? Aku tidak akan menceritakan hubungan dengan Valey pada Latisya. Dia di Indonesia hanya satu minggu, kami bertemu hanya untuk melepas rindu."
Shera memejam. Ingin melayangkan pukulan ke mulut Narendra yang tidak bisa mengontrol ucapan. Dia benar-benar kasihan melihat Valey.
"Lupakan pembicaraan tentang kekasihmu, kita temui dokter sekarang!" Jika tidak dihentikan, bisa saja Narendra semakin berbicara asal.
__ADS_1
Sebagai seorang wanita, dia tahu bagaimana perasaan Valey. Dia dihamili, tapi pria yang menghamili sudah memiliki pacar. Pasti sakit dan kecewa.