Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Baik Tetaplah Terlihat Baik


__ADS_3

"Kak aku pergi dulu," ujar Naren dengan pakaian rapi.


"Kamu mau kemana?" Shera yang baru keluar dari kamar sudah dihadang Narendra di depan pintu kamar.


"Aku ada urusan sebentar."


"Naren, Ziat pasti sedang gencar mencari kita. Diamlah dulu sampai mereka sedikit lengah. Kakak takut mereka mengendus jejakmu." Wajah Shera menunjukan raut khawatir.


"Kakak tenang saja, jika berada di luaran, aku bukan sebagai Narendra." Pria itu menunjukan kaca mata dan topi yang akan dipakai untuk penyamaran.


Shera bernapas panjang. Meski khawatir, tapi tidak mungkin bagi mereka untuk tetap diam. Akhirnya mengangguk memberi izin Narendra untuk pergi.


Setelah kepergian Naren, Shera berkeliling ruangan untuk mencari nanny dan Valey, tapi tidak menemukan mereka. Namun, begitu melangkah ke halaman samping rumah, dia tersenyum melihat keduanya sedang sama-sama menanam bunga dan tanaman lainnya.


"Non Shera." Nanny mengetahui kedatangan Shera.


"Kalian sedang apa?"


"Hanya menanam beberapa sayuran dan bunga. Kata Non Valey untuk mengusir kebosanan," ujar Nanny tersenyum.


Shera mendekat dan duduk di kursi plastik kecil. Valey tersenyum sekilas dan melanjutkan aktifitasnya. Pada saat itu mobil rental Naren keluar halaman, tapi Valey tak peduli.


Shera lebih dominan banyak bertanya tentang hal apa saja pada Valey untuk mencairkan suasana, sedangkan Valey hanya menjawab tanpa berniat bertanya kembali.


Disaat ketiganya sedang mengobrol, tiba-tiba ada suara seorang laki-laki di halaman depan. Shera sudah menegang, takut jika itu salah satu anak buah Ziat yang mengintai dan akan menangkap mereka.


Nanny yang tadinya beranjak ingin membukakan pintu tapi ditahan. "Lebih baik diam saja!"


Tapi pria itu malah menyusul mereka di halaman samping. "Di sini banyak orang, tapi tidak ada yang keluar!" ujarnya sedikit marah.


"Maaf, Anda siapa? Kenapa bisa masuk kemari?"


"Saya yang menyewakan rumah ini, makanya saya bisa masuk ke ruangan manapun!"


"Oh ...." Shera mengembus napas lega.


Pria itu mengernyit heran melihat tingkah Shera.


"Ada keperluan apa, Pak?" tanya Shera.


"Ini sudah lebih dari yang dijanjikan. Saya datang untuk menagih sisa pembayaran uang sewa yang masih kurang setengahnya."


Kali ini wajah Shera berubah panik juga bingung. Narendra sudah terlanjur pergi, sedangkan dirinya sama sekali tidak memiliki uang.


"Maaf, Pak, memang masih kurang berapa?" nanny menyela.


"Satu juta setengah."


Nanny terkejut, ternyata nominal kurangnya lumayan banyak.

__ADS_1


"Maaf, Pak, bisakah Bapak tunggu adik saya pulang. Kami tidak punya uang."


"Aduh, kapan pulangnya? Saya juga lagi butuh banget."


Valey tiba-tiba masuk ke dalam dan tak berapa lama sudah kembali dengan menyerahkan sejumlah uang pada bapak itu.


"Ini, silahkan Anda hitung."


"Ini ada. Oke-oke saya hitung dulu." Bapak itu terlihat sumringah menghitung sejumlah uang.


"Uangnya pas. Terimakasih. Saya permisi," gegas pria itu pergi.


"Non, bukankah itu uang tabungan Nona," ujar nanny.


"Sudahlah, nanny. Kita sama-sama membutuhkan. Masih ada, kok, nanny tenang saja."


Nanny tersenyum namun sudut matanya berkaca-kaca.


"Terima kasih, Valey. Biar nanti Narendra yang mengganti uang kamu," sela Shera.


"Jangan bilang pada Naren. Biar saja. Saya juga ikut numpang tinggal disini."


'Dia baik dan polos, bagaimana Narendra sanggup menuduh dan menyiksanya. Bahkan, dibanding Latisya, jauh lebih baik Valey,' batin Shera.



Di sebuah Villa, Narendra sedang menemui satu sahabat dekatnya.


"Sebenarnya dokumen negara belum sah berpindah tangan, pamanmu hanya mengganti sementara karna statement yang dibuat di depan publik kamu dan kakakmu hilang. Jadi, karena dia satu-satunya kerabatmu maka dia berdalih menggantikan posisimu. Misal kamu bisa mengambil kembali semua surat itu, pasti semua kembali."


Naren diam sedang memikirkan cara untuk mengambil kembali semua dokumen penting.


"Kak Shera!" celetuknya tiba-tiba.


"Kenapa dengan kakakmu?"


"Dia tau dimana tempat persembunyian pria keparat itu."


Teman Naren yang bernama Kindra itu menjentikkan jari. "Satu kunci sudah kita kantongi, tinggal kita pikirkan cara selanjutnya. Pengawal pamanmu pasti banyak, kita tidak bisa gegabah kesana."


Naren mengangguk menyetujui. Harus waspada, jika mereka meleset sedikit saja, maka Ziat akan mengakhiri hidupnya dan kakaknya.


"Bagaimana kalau kita pancing dengan kakakmu datang kembali ke markas mereka, begitu mereka lengah, kita yang akan menyelinap," usul Kindra.


Kali ini Naren menggeleng keras. Sama sekali tidak setuju. Berbulan-bulan dia kehilangan Shera, dia tidak ingin mengambil resiko besar. Hanya Shera anggota keluarga satu-satunya. Lebih baik dia kehilangan harta jika harus kehilangan sang kakak.


"Sebenarnya itu cara efektif," sambung Kindra.


"Enggak, Ki. Resikonya terlalu besar. Jangan libatkan kakakku, cukup aku yang akan berusaha."

__ADS_1


"Baiklah, kita cari cara lain." Kindra dapat memahami perasaan sahabatnya.


"Bagaimana kalau kita mengelabui mereka dengan jejak palsu, saat mereka terkecoh, kita yang akan datang ke markas mereka."


"Setuju." Naren mengangguk antusias. Ide yang barusan dibeberkan Kindra sangat tipis resikonya. Dia sendiri yang menjadi umpan, bukan kakaknya.


"Sudah lama aku disini. Aku harus pulang. Takut Kak Shera mengkhawatirkanku."


"Eh, sejak kapan kamu menjadi anak rumahan?" Kindra tergelak lucu.


"Tunggu keluargaku normal, baru aku bisa seperti dulu. Saat ini, kami saling mengkhawatirkan satu sama lain."


Mendengar itu Kindra terdiam. "Oke-oke!"


"Tapi ...." Naren berdiri kikuk.


"Tapi apa?" Kindra mengernyit.


"Apa aku bisa pinjam uang?"


"Bbbehhha haha haha ...." Kindra kembali tergelak, bahkan kali ini lebih keras.


"Kamu belum pernah merasakan kesedak cangkir kopi, kan? Mau merasakannya!" geram Naren.


Kindra mengangkat tangan tanda menyerah.


"Kamu butuh berapa, ku kirim sekarang juga."


"Beri aku uang cas saja. Lima juta."


Pria berpakaian santai itu berjalan menuju lemari pakaian. Lalu kembali dengan membawa sejumlah uang yang disebutkan Naren barusan.


"Jangan sungkan, Naren. Jika papaku sudah menggembungkan ATM ku, aku bisa meminjami uang."


"Thanks, Ki. Aku akan menggantinya."


"Jangan pikirkan itu."


Sebelum Naren keluar dari Villa Kindra, dia terlebih dulu memakai topi, kaca mata dan masker.


Diperjalanan, konsentrasi Naren terbagi dengan keadaan rumah. Bukan dia tidak tahu jika sewaktu-waktu pemilik sewa rumah datang dan menagih sisanya. Itulah kenapa dia nekat menemui Kindra walau harus menempuh perjalanan yang sangat jauh.


Bahkan, pukul delapan malam Naren baru sampai dan memarkirkan mobil di depan rumah.


Begitu dia masuk, penghuni yang lain baru saja selesai makan malam.


"Naren, kamu dari mana? Kakak mencemaskanmu."


Valey hanya memperhatikan sekilas interaksi keduanya. Shera terlihat sangat menyayangi Naren. Bahkan Naren juga berbeda saat pria itu berbuat kejam padanya.

__ADS_1


Saat Valey akan ke kamar, Naren menghentikannya. "Tunggu! Aku ingin bicara denganmu."


Valey kembali duduk ditempat yang tadi, sedangkan Shera mengajak nanny untuk mengobrol di ruang depan. Memberi mereka ruang agar leluasa berbicara.


__ADS_2