
Untuk hari pertama, jelas sulit menjajakan kue keliling di tempat asing. Namun, Valey tak patah semangat untuk mencari pelanggan.
Terik matahari siang begitu menyengat tak membuat semangatnya surut, justru semakin menggebu.
Meski tangannya tetap terikat, tak membuat Valey bersedih. Ia senang bisa menghirup udara luar dengan bebas. Pemandangan cakrawala yang hampir beberapa bulan terakhir hanya sebagai khayalan, kini bisa ditatap dengan sempurna.
"Tante, beli kue."
Gadis kecil berteriak dan mengejar langkahnya. Valey terhenti dan menyambut dengan senyum ramah.
"Mau yang rasa apa, sayang?"
"Mau rasa vanila dan keju."
"Kamu akan segera mendapatkannya." Walau berinteraksi dengan Valey, namun nanny yang membungkus donat ke dalam plastik.
"Terima kasih, ya," ucap Valey saat gadis kecil itu membayar dengan uang pecahan.
"Sama-sama Tante. Apa besok lewat sini lagi?" tanya gadis kecil itu.
"Eum, belum tau sih. Tapi Tante usahakan lewat sini lagi."
"Oke deh. Dah Tante ...."
"Dah ...."
Valey tersenyum sambil menggelengkan kepala. 'Menyenangkan sekali,' batinnya.
"Non, ayo kita pulang sekarang!"
Ajakan nanny membuyarkan lamunan Valey. "Kuenya masih ada sisa 'kan?"
"Masih 10. Tapi nanny takut tuan Naren sudah pulang, bisa marah besar kalau kita tidak di rumah." Wajah nanny berubah cemas.
"Baiklah." Akhirnya Valey mengikuti ajakan nanny. Namun, saat mereka melewati bangunan gereja, Valey meminta berhenti.
"Nanny, bolehkah aku berdoa sebentar?"
"Tentu saja."
Hanya sekitar sepuluh menit Valey di dalam, ia sudah terlihat keluar. Lalu meminta izin pada nanny untuk membagikan sisa kue itu untuk anak-anak yang ditemui di sekitar gereja.
Setelah itu mereka berdua kembali pulang.
"Semoga Tuan Naren belum pulang, ya, Non." Semakin dekat dengan jarak rumah, wajah nanny semakin cemas. Bahkan Valey pun sama.
"Tidak apa. Jika Naren marah, aku akan bicara padanya." Sebenarnya ia sendiri sangat takut. Bahkan detak jantungnya bertalu-talu tak karuan. Tapi ia berusaha tenang.
__ADS_1
Saat sampai di halaman rumah, Valey dan nanny bernapas lega karena yang dicemaskan tidak terwujud. Mobil rental yang disewa Naren belum terparkir di halaman rumah.
Tanpa sadar, Valey dan nanny saling pandang dan tersenyum senang. Lalu keduanya masuk.
"Puji Tuhan, hari ini dilancarkan segala urusan kita ya, Non," ujar nanny.
"Iya." Valey duduk di meja makan dengan menghela napas lega.
"Kita hitung uangnya dulu, Non."
Valey mengangguk. "Sisakan untuk modal besok, lalu untungnya buat uang belanja sehari-hari saja, nanny," sahut Valey.
Nanny diam karena masih fokus menghitung uang. Setelah memisahkan uang untuk modal besok, wanita paruh baya itu masih membagi lagi untuk uang belanja dan uang kebutuhan Valey.
"Tidak, nanny! Aku tidak membutuhkan uang. Untuk apa aku simpan uang. Biarkan saja uang itu nanny simpan untuk kebutuhan dapur." Valey menolak saat nanny memberi beberapa lembar pecahan padanya. Ia rasa tak membutuhkan uang.
"Uang belanja sudah saya sisihkan. Ini masih ada sisa, bisa Nona tabung untuk persiapan si bayi nanti."
Sudut mata Valey berkaca-kaca, sungguh kebaikan nanny seperti seorang ibu membuat hatinya menghangat.
Tiba-tiba Valey mendekat dan berusaha menggapai tubuh nanny dengan sebisanya. "Terima kasih nanny sangat baik padaku."
Nanny membalas dengan mengusap bahu Valey. "Nanny tau Non orang baik, nanny sayang dan menganggap Non seperti anak sendiri."
Valey mengangguk. "Terima kasih, nanny. Terima kasih."
Satu minggu sudah mereka berjualan keliling, beruntung Naren lebih sering keluar hingga mereka punya kesempatan untuk keluar dari rumah.
Setiap hari peminat kue donat semakin bertambah, apalagi semenjak anak kecil bernama Saina mengajak teman-temannya untuk memborong dagangan itu, membuat Valey semakin bersemangat.
Sejak dua hari terakhir nanny sudah berani melepas ikatan tangan Valey, meski setelah sampai di rumah akan mengikatnya kembali.
"Itu Tante yang aku ceritain, Pa!"
Suara anak kecil di belakang Valey membuatnya menoleh. Terlihat Saina bersama seorang pria berperawakan tinggi, gagah dan ... tampan sedang berjalan ke arahnya.
"Hay, Tante!" Sapa Saina riang. Satu minggu sudah membuat keduanya mengenal satu sama lain.
Valey sendiri tidak tahu dimana rumah Saina. Gadis kecil itu sering kali duduk di bangku ujung jalan.
"Hay, Saina." Valey tersenyum ramah seperti biasanya.
"Tuh kan, Pa, apa Saina bilang." Gadis itu berbicara dengan pria yang dari tadi mengamati Valey.
Pria itu hanya membalas tersenyum singkat.
"Tante mirip dengan mendiang mama," imbuh Saina membuat Valey terkesiap.
__ADS_1
"Hanya mirip, sayang," balas pria itu.
"Em ... ha-i ...." Setelah beberapa saat, pria itu menyapa Valey canggung.
Valey tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Maaf, akhir-akhir ini aku penasaran dengan cerita sopir yang mengantar putriku. Katanya setiap hari Saina minta diantar ke jalan ini untuk membeli kue donat yang penjualnya mirip dengan mendiang mamanya Saina."
"Oh begitu, pantas saja Saina sering memintaku untuk memeluknya. Katanya dia rindu seseorang," ujar Valey yang baru ingat gadis kecil bernama Saina itu sudah dua kali meminta izin memeluknya karena sedang rindu seseorang.
"Maaf, wajahmu memang sedikit mirip dengan mamanya Saina."
Valey menanggapi dengan senyuman.
"Tangan Tante udah nggak diikat lagi?" celetuk Saina.
"Enggak." Valey menggeleng.
"Pa, kasian, kemarin-kemarin tangan Tante di ikat seperti Bibi Rum."
Pria itu melihat pergelangan tangan Valey, tapi sudah tidak ada tali yang mengikat. Bibi Rum adalah wanita dengan gangguan jiwa yang masih memiliki ikatan saudara dengan keluarga Saina.
"Tuan Morgan, ponsel Anda tertinggal di mobil. Ada yang menelpon." Seseorang yang mungkin sebagai sopir Saina datang membawa ponsel dan menyerahkan pada pria bernama Morgan.
Setelah lima menit menjawab telepon, pria bernama Morgan itu mengajak putrinya segera pulang. Meski awalnya Saina menolak, tapi Morgan terus membujuk.
"Besok Papa temani kesini lagi. Hari ini Papa ada urusan mendadak. Kita pulang sekarang, ya."
"Oke, tapi Papa harus beli kue Tante, semuanya!" perintah Saina dengan wajah cemberut.
"Oke, siap!" kata Morgan.
Tapi Valey menyela. "Saina, jangan seperti itu!"
"Maaf-maaf, tapi saya memang berniat memborong kue Anda. Bukan hanya Saina, tapi saya sendiri suka dengan kue buatan Anda," jawab Morgan.
Valey jelas janggal dengan jawaban Morgan, tapi tak mungkin melarang Morgan untuk membeli.
"Tante, besok jualan lewat sini lagi, ya," pesan Saina sebelum berlalu.
Valey tersenyum dan mengangguk. "Belum bisa janji."
Benar, tidak bisa janji. Karena jika Naren seharian di rumah, ia dan nanny tidak bisa keluar.
"Kasihan ya, Non, anak kecil itu ternyata tidak punya mama," ujar nanny saat mereka berjalan pulang. Tidak perlu menjajakan kue lagi karena sudah diborong.
Valey sendiri cenderung melamun, ternyata keakrabannya dengan Saina karena dirinya mirip dengan mendiang ibunya.
__ADS_1