
Nanny menangkan Valey dan mengatakan akan membantu meluruskan kesalahpahaman dengan Narendra.
Dia tidak tega melihat Valey yang sudah banyak berkorban dan menderita. Walau mungkin Narendra tidak memiliki perasaan terhadap Valey, setidaknya Narendra bisa menghargai keberadaan dan kerja kerasnya.
Dan tengah malam ketika Narendra baru kembali, nanny sengaja menunggu di ruang tamu.
Pria itu terkejut melihat nanny belum tidur padahal sudah hampir pukul 1.
"Nanny ... ada apa? Kenapa belum tidur?"
"Saya tidak bisa tidur, Tuan. Jika ada yang ingin saya bicarakan, apakah Tuan ada waktu untuk mengobrol?"
Narendra mengangguk dan duduk di kursi seberang nanny. "Apa yang ingin nanny bicarakan? Apa tentang Valey?" tebaknya.
Nanny lekas-lekas mengangguk. Memang itu tujuan utamanya untuk bisa berbicara dengan Narendra.
"Maaf kalau saya lancang karena mengetahui kesalahpahaman kalian. Saya tidak memihak siapapun, juga tidak membela Non Valey. Tapi disini saya ingin mengutarakan pendapat saya.
Non Valey sangat baik, dari pertama dia ingin berjualan sama sekali tidak ada niat merendahkan Anda. Non Valey sangat tulus untuk membantu kesulitan kita. Bahkan, setelah apa yang dialami. Maaf, setelah Anda menyiksanya, dia masih berbaik hati untuk membantu dan bekerja keras. Nanny sungguh kagum dengan Nona Valey.
Tapi Tuan, dibalik sikap itu semua, Nona sangat rapuh. Nanny hanya minta tolong jaga perasaannya. Andai Tuan tahu semangat dan perjuangannya, Anda tidak akan tega. Sungguh tidak akan tega. Nanny mohon, jangan buat Non Valey menangis lagi. Jangan salah paham dengan niat baiknya."
"Mungkin aku terlalu khawatir dengan Valey dan bayinya, tidak ingin terjadi apapun dengan mereka. Aku hanya ingin dia diam di rumah dan tidak melakukan apapun.
Dia tidak perlu memikirkan biaya persalinan, biar aku yang bertanggung jawab. Hanya itu, dan mungkin karna salah pengertian malah menimbulkan kesalahpahaman."
Nanny mengangguk, memaklumi. "Nanny terlalu sering melihat Nona menangis, tidak tega melihatnya."
•
Pagi itu tidak seperti pagi-pagi biasanya yang selalu sibuk membantu nanny untuk menyiapkan bahan jualan. Valey hanya membantu memasak saja.
"Sudah hampir jam tujuh, Non tidak bersiap-siap?" tanya Nanny. Biasanya Valey selalu gesit berganti pakaian setelah mereka memasak. Karena usai sarapan mereka langsung ke klinik.
"Maaf, mulai hari ini aku tidak bisa bantu nanny jualan. Aku akan di rumah sampai nanti waktunya persalinan."
Nanny mengelus bahu Valey. "Tidak pa-pa, Non, nanny sudah handal untuk berjualan sendiri. Non baik-baik di rumah." selorohnya agar Valey tidak terlalu sedih.
"Kata Kak Shera, dia akan membantu nanny sebelum menemukan orang yang mau bekerja."
"Tapi kalau Non Shera ikut ke klinik apa gak bahaya? Takut kalau ada yang mengenali Non Shera."
"Nanny tenang saja, kalau begini apa masih ada yang mengenali Sherana Adisya Putri?" Shera muncul dari ruang tengah dan mengejutkan nanny juga Valey. Tentu dengan penampilan barunya yang memakai rambut palsu dan kaca mata tebal.
Nanny dan Valey sampai terbengong. Benar-benar bukan seperti Shera yang mereka kenal.
__ADS_1
"Tidak. Nanny saja tidak mengenali Non Shera," ujar Nanny.
"Biar aku saja yang menggantikan Valey. Ayo kita berangkat." Shera begitu semangat. Valey tersenyum melihatnya.
"Mari, Non," kata nanny.
"Valey, Kakak berangkat dulu. Narendra belum bangun, biarkan saja, hari ini dia tidak pergi kemanapun."
"Iya, Kak. Semoga banyak pembeli," balas Valey.
Setelah nanny dan Shera pergi, Valey bingung harus melakukan apa. Dia yang sudah terbiasa beraktifitas rasanya tidak bisa hanya berdiam diri. Akhirnya memilih ke halaman samping untuk berkebun.
Beberapa saat mencabuti rumput liar yang tumbuh didekat tanaman sayurannya, Valey terkejut mendengar suara Narendra.
"Dimanapun kamu memang tidak bisa diam, ya."
Valey menoleh. "Naren, kamu sudah bangun?" Mendapati Narendra duduk mencangkung di depan pintu samping.
Valey beralih mencuci tangan dan mendekati pria itu.
"Sarapannya mungkin sudah dingin, biar aku panaskan," ujarnya. Melewati pria itu untuk menuju ke dapur. Ternyata Narendra mengikutinya.
Narendra duduk di kursi meja makan dengan tatapan memindai pergerakan Valey yang menghangatkan makanan.
"Apa ruang gerakmu tidak terbatas dengan perutmu yang besar seperti itu?"
"Untuk semalam aku minta maaf, mungkin aku sudah keterlaluan."
Valey terkejut tiba-tiba Narendra sudah berpindah, berdiri disampingnya. "Tapi aku senang lihat kamu di rumah. Kamu tidak harus lelah berjualan, hanya fokus dengan kehamilanmu," lanjutnya.
'Kamu gak tau aja kalau aku sangat bosan di rumah,' batin Valey.
"Aku juga minta maaf membuatmu salah paham," ujar Valey. Dia mengambil makanan untuk sarapan Narendra. Lalu duduk di kursi meja makan. Narendra kembali mengikuti.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Narendra.
"Kalau pagi aku minum susu aja. Sarapannya nanti kalau agak siang. Kadang kalau sarapan malah mual."
"Masih sering mual?" Narendra terkejut. Karena sudah tidak melihat Valey muntah. Dia pikir Valey baik-baik saja.
"Sesekali masih mual walau gak separah awal kehamilan."
Entah kenapa tiba-tiba Narendra berpindah tempat duduk, lalu meletakkan sendok di depan mulut Valey.
"Kalau sedikit apa mual juga," ucapnya.
__ADS_1
"Naren, aku tidak mau." Valey memundurkan wajahnya.
"Ayo coba dulu," bujuk Narendra. "Sarapan itu penting, agar suatu hari tidak terkena masalah lambung," lanjut nya.
"Aku sudah minum susu, itu sama saja sarapan. Yang penting perutku tidak kosong."
"Tidak sama. Sarapan itu harus makan nasi." Narendra kembali menyodorkan sendok di depan mulut Valey.
"Coba sedikit saja, kalau muntah, aku gak akan memaksa."
Valey tetap belum membuka mulut.
"Oke kalau kamu gak mau, anggap saja aku menyuapi bayiku."
Mendengar itu Valey tertawa. "Itu sama saja aku yang makan."
"Tapi tujuannya berbeda."
"Baiklah. Tapi kalau mual, jangan memaksa lagi," ujar Valey, lalu menerima suapan dari pria di depannya.
Hingga beberapa detik tidak merasakan apapun, Narendra kembali menyuapinya.
Setelah menyuapi Valey, pria itu berganti menyuapi diri sendiri. Valey yang mengetahui itu merasa risih sendiri.
"Kamu tidak takut tertular penyakit? Biar aku ambil makanan sendiri."
"Kita pernah lebih dari ini. Apa yang aku takutkan."
Jawaban enteng dari Narendra membuat Valey menunduk malu. Benar, bahkan mereka sudah berkontak fisik lebih dari itu.
Berada di dekat Narendra membuat suasana hatinya berubah-ubah. Terkadang menangis, terkadang senang, bahkan terkadang membuat jantungnya berdebar.
Narendra membuka ikatan rambut Valey, hingga rambut yang terikat rapi tadi berubah berantakan.
"Ikatan rambut setinggi itu membuat pria berpikir jauh," celetuk pria itu.
Valey mengernyit tidak mengerti. "Maksudnya?"
"Kalau kamu sudah tidak polos, kamu akan tau maksudku."
"Bicaramu kurang jelas, jadi aku tidak tau maksudmu."
Narendra hanya tersenyum dan kembali menyendok makanan.
Saat itu, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan.
__ADS_1
Deg!
Siapa yang datang???