Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Perasaan


__ADS_3

"Semua tidak sengaja, sayang. Sungguh hanya sebuah kecelakaan." Narendra berusaha menjelaskan kepada kekasihnya. Wanita yang duduk di tepi ranjang itu menangis sejadi-jadinya.


"Kamu mengkhianatiku, Narendra. Mengkhianati cinta kita. Kamu jahat! Kamu tega."


"Sayang, maafkan aku. Aku bersumpah, hanya sekali menyentuhnya dan itupun dalam keadaan tidak sadar. Saat itu hatiku sedang kalut dan dikuasai dendam. Aku ... aku ... tidak bisa mengontrol diri. Maafkan aku, Tisya." Narendra menggenggam telapak tangan Latisya, namun wanita itu menyingkirkan dengan kasar.


"Demi apapun, hanya kamu pemilik hatiku dan tetap kamu wanita yang aku cinta."


Seseorang yang ada dibalik pintu memejamkan mata, tubuhnya merosot ke lantai terasa lunglai. Ingin memarahi diri sendiri, kenapa harus sakit hati mendengar kata-kata Narendra.


*Aku bersumpah, hanya sekali menyentuhnya. Itupun dalam keadaan tidak sadar.


Demi apapun, cuma kamu pemilik hatiku dan tetap kamu wanita yang aku cinta*.


Membuktikan jika dia tak ada arti apapun untuk Narendra. Semua hanya karena bayi yang dikandung. Kebersamaan dan ciuman singkat di biang lala waktu itu tak memiliki makna apapun.


"Lalu setelah bayi itu lahir, apa kamu akan menikahinya?" Latisya bertanya pada Narendra.


"Tidak. Kita berdua yang akan merawat bayinya. Kamu yang akan aku nikahi."


Jawaban Narendra membuat Valey kembali memejamkan mata. Dia menangis dalam diam, menahan sakit dan kecewa.


Tuhan, kenapa memberiku jalan hidup seperti ini? Kenapa Kau biarkan aku terlibat perasaan rumit.


"Valey ...." Shera berjongkok di depan wanita yang terlihat menyedihkan. Bahkan ujung matanya nampak berkaca-kaca. Dia mengerti apa yang dipendam Valey.


"Kak ...." Valey memeluk Shera dengan erat. Menumpahkan tangis yang sedari tadi terasa menyakitkan.


Sementara di dalam kamar Narendra memeluk Latisya dan terus menenangkannya.


"Aku lelah, Kak," ucap Valey lirih.


"Tidak, Valey, kamu kuat."


"Aku sakit, Kak."


"Aku tau, hatimu yang sakit."


"Aku tidak sanggup."


"Sebentar lagi. Sebentar lagi kamu akan bebas dan bisa mencari kebahagiaanmu sendiri."


Mata Valey terlihat sayu, tubuhnya melemas dan tiba-tiba tak sadarkan diri.


"Valey! Valey!" Shera menangkap tubuh Valey ke dalam dekapannya.


"Narendra, tolong! Valey pingsan!" teriaknya dengan keras agar adiknya mendengar.


"Valey? Dia kenapa, Kak?"


"Cepat bawa Valey ke klinik!"


Narendra segera membopong tubuh Valey dan membawanya ke mobil, Latisya dan Shera mengikuti di belakang.


Ruang UGD


"Narendra, ikut Kakak! Kakak ingin bicara denganmu," ajak Shera. Narendra mengangguk dan mengikuti langkah kakaknya dan menjauh dari jangkauan Latisya.


Plak!


Tanpa diduga, Shera melayangkan tamparan keras ke wajah adiknya. Dia menatap curam dengan napas tersengal seperti menahan amarah.

__ADS_1


"Kakak apa-apaan?!"


"Kamu yang apa-apaan?! Kamu pengecut yang sudah menghancurkan kehidupan seorang wanita!"


"Kak!"


"Diam!" Tatapan Shera tajam namun berkabut. Telapak tangannya tergenggam kuat. "Kamu menyakiti Valey. Kamu menghancurkannya," pekiknya tertahan.


Narendra menunduk.


"Semua yang kamu katakan pada Latisya, Valey mendengarnya. Hatinya pasti sangat sakit."


"Aku sedang menjelaskan dan menenangkan Tisya, Kak."


"Kamu bermain dua hati, Narendra. Kakak sudah katakan, pilih satu dari mereka!"


"Aku memilih Latisya, Kak!"


"Kamu memilih Latisya tapi masih memberi harapan pada Valey."


"Harapan apa, Kak?"


"Apa kamu tidak peka kalau Valey juga memiliki perasaan padamu? Dia menyukaimu, Narendra."


Deg!



Narendra berjalan perlahan menuju brankar Valey. Wanita berwajah pucat itu masih belum sadar.


Kata-kata yang disampaikan Shera terus terngiang.


Dia menyukaimu, Narendra!


Narendra meraup wajah dan bernapas panjang. Dia tidak menyangka jika Valey memiliki perasaan padanya. Dia merasa tidak pantas untuk disukai wanita itu.


Setelah bayi itu lahir, dia ingin membebaskan Valey supaya wanita itu bisa mendapat kebahagiaan. Bukan dia tak memiliki kenyaman saat tinggal bersama Valey, tapi Valey terlalu baik untuknya.


Selama ini dia juga berusaha menjaga perasaan. Jangan sampai terlibat perasaan dengan Valey, karena wanita itu terlalu baik untuknya.


Kebaikan, perhatian, dan kelembutan Valey menciptakan kekaguman yang semakin lama semakin nyata. Namun, sebisanya dia menyangkal perasaannya. Dia terlalu buruk untuk wanita sebaik Valey.


Jemari Valey bergerak, kelopak matanya terbuka perlahan.


"Naren ...."


"Sstthh! Jangan bergerak." Narendra menahan tangan Valey.


"Aku minta maaf," ucapnya. "Dari awal aku menyakitimu, bahkan sampai sekarang kamu masih harus menanggung sakit karnaku."


Valey menggeleng lemah. "Kamu sudah meminta maaf."


"Seratus kali aku meminta maaf, tidak akan sebanding."


"Aku sudah menerima takdirku, Naren."


"Valey, setelah ini, aku akan membebaskanmu."


Valey mengangguk dengan setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Namun bibirnya bisa berakting indah dengan menampilkan senyuman.


"Aku juga sudah lelah, Naren. Semoga kita sama-sama menemukan kebahagian."

__ADS_1



Di toilet umum, telapak tangan Latisya tergenggam erat.


Dia tadi sengaja mengikuti Shera dan Narendra. Menguping pembicaraan mereka. Dari kata-kata Shera, calon kakak iparnya itu mulai berpindah haluan. Memilih wanita rendahan, daripada dirinya.


Pengkhianatan Narendra yang belum dia maafkan, ditambah perkataan Shera yang mengatakan wanita itu memiliki perasaan pada Narendra membuatnya semakin meradang.


"Harusnya kamu tidak mengkhianatiku, Narendra! Sampai menghamili wanita lain." Kilat matanya terpancar kemurkaan. Meski Narendra sudah menjelaskan, tapi hatinya belum menerimanya.


Dia mencari ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo ... apa kabar?"


"Ada berita penting untukmu."



Satu minggu berlalu. Keadaan Valey sudah pulih. Dia kembali ke rumah dengan kegiatan yang sama. Selesai menemani Narendra sarapan akan berkebun. Sedangkan nanny sudah berangkat ke klinik.


Perut yang semakin membesar membuatnya kesulitan melakukan banyak aktifitas. Akan tetapi jenuh bila hanya tiduran saja.


Tok ... tok ....


"Naren, bolehkan aku menyusul ke klinik?"


"Kamu sudah janji di rumah saja. Ingat pesan dokter, agar banyak istirahat. Kondisimu belum pulih total."


Meski kecewa, tapi Valey tak bisa membantah.


"Valey."


"Hem?"


"Hari ini aku ada urusan, menemui Kindra, mungkin sampai sore."


"Eum."


Setelah memakai sepatu, Narendra pergi. Valey segera menutup pintu dan menguncinya.


Tapi, tak berapa lama ada yang mengetuk pintu.


"Apa Naren kembali lagi?" gumamnya. "Em, mungkin ada yang tertinggal.


Pintu kembali diketuk, membuat Valey cepat-cepat meraih handle pintu.


"Naren, apa yang tertinggal?"


Ketika mendongak, Valey terkejut setengah mati.


"Si-siapa kalian?"


"Halo, Nona, apa kabar?"


Valey berusaha menutup pintu, tapi jelas di hadang oleh tamu yang tak diundang. Tubuhnya gemetar ketakutan.


Sementara Narendra, di perjalanan tiba-tiba perasaan nya tidak enak. Seperti ada yang membisikinya untuk putar arah dan kembali ke rumahnya.


Dia menoleh untuk meneliti barangnya. Ternyata baru ingat jika ponsel miliknya tertinggal karena tadi sedang di cas.


Mau tak mau dia harus kembali. Mobil Narendra kembali, tapi Valey sudah masuk ke dalam mobil seseorang.

__ADS_1


"Naren! Tolong! Emmmphh!"


__ADS_2