Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Akhirnya


__ADS_3

Pagi itu Narendra sudah rapi dengan pakaian formal. Bayi Vandra ada di gendongan Nanny dan sedang menyusu.


"Kamu mau ke rumah sakit dulu atau langsung ke kantor?" Shera menanyai Narendra.


"Aku langsung ke kantor, Kak. Ada meting dengan staf pemasaran."


"Hari ini jadwal Kakak tidak padat. Kakak ingin mengajak nanny dan Vandra ke rumah sakit ...." Ucapan Shera menguap di udara saat Narendra menyahut perkataannya.


"Rumah sakit bukan tempat bagus buat anak kecil. Ada banyak virus yang bisa menular. Kalau Kakak mau ke rumah sakit, tidak usah ajak Vandra!" ucap nya lugas.


Memang sedari awal Narendra selalu melarang keras bayi mungil itu berkeliaran di rumah sakit. Alasannya jelas karena tidak ingin anaknya tertular penyakit ketika berada pada jangkauan orang-orang sakit. ?


Shera melirik cuek. Dia sudah mengerti larangan itu sejak Vandra di bawa pulang ke rumah. Waktu itu, bayi mungilnya terkena flu gara-gara duduk berdekatan dengan orang asing yang juga sedang terjangkit flu.


Narendra sangat perhatian dengan putranya. Hal kecil pun tidak luput dari pengawasannya.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Narendra berpamitan kepada Shera. Tak lupa meminta tolong untuk menjaga putranya.


Setelah mengantar kepergian adiknya, Shera lekas menghampiri nanny dan Vandra.


"Nanny, semalam aku banyak membaca artikel tentang seseorang yang koma bisa bangun hanya karena mendengar atau merasakan sentuhan orang yang di sayang.


Ku pikir Valey pasti menyayangi anaknya, dan aku ingin mencoba membawa Vandra untuk menyentuh ibunya. Siapa tahu dengan mendengar atau mendapat sentuhan dari Vandra, Valey akan segera sadar.


Gimana pendapat nanny? Apakah setuju jika aku ajak Vandra ke rumah sakit?"


Nanny terlihat sedang menimang, ide dari Shera memang sangat bagus, tapi bagaimana bila Narendra mengetahuinya. Pasti pria itu akan marah besar. ?


"Nanny setuju, tapi takut juga, Non. Takut kalau Tuan Narendra tahu dan akan marah terhadap kita." Wajah Nanny tampak kebingungan.


Sejak kedua orang tua Shera dan Narendra tidak ada, entah mengapa dia selalu dimintai pendapat oleh kakak beradik itu. Mungkin karena mereka berdua menganggapnya sebagai pengganti ibu.


"Narendra bekerja selama 8 jam, tidak mungkin tahu," lanjut Shera.


"Nanny terserah Non saja kalau gitu," jawab Nanny yang sudah terlalu bingung, memilih pasrah saja apa kata Shera.


Shera menyuruh nanny untuk bersiap, begitupun dengan diri nya sendiri.


Tidak lebih dari satu jam, taksi yang ditumpangi Shera sudah terhenti di lahan parkir rumah sakit.


Shera memilih naik taksi karena tidak ingin diketahui Narendra.


Bayi yang disembunyikan dalam kereta bayi itu tampak tenang dan tidak terusik sama sekali meski di ajak bepergian.

__ADS_1


Shera mendorong kereta bayi ke ruangan Valey. Saat itu perawat juga sedang menuju ruang rawat Valey.


"Selamat pagi, Non," sapa suster berpakaian serba putih itu dengan senyum ramah.


"Pagi. Saya mau jenguk Valey," ujar Shera.


Suster itu mengangguk. Saat akan masuk, dia sadar telah melupakan satu obat Valey. Jadi, suster itu berpamitan untuk kembali.


Daun pintu di buka perlahan, Shera menghela napas panjang dan menatap nanny.


"Bener kata Narendra kemarin, Valey masih betah tertidur," ujarnya.


Nanny menepuk bahu Shera untuk menenangkan. "Sabar, Non, kita doakan saja semoga Non Valey segera siuman."


Shera mendekatkan kereta bayi di dekat ranjang Valey.


"Vandra sayang, bangun. Kita sudah sampai di tempat mama kamu. Ayo Nak, bantu Mama untuk kembali bersama kita. Mama butuh suaramu juga belaian mu. Tolong bantu Mama ya Nak." Shera tersenyum lalu mengangkat tubuh Vandra.


Tadinya Vandra sedang terlelap, tapi ketika Shera memindahkan di dekat Valey, bayi mungil itu membuka mata dan mencebik seperti ingin menangis.


Bahkan, tak lama tangisan Vandra pecah. Shera sedikit panik karena tangisan itu melengking ke penjuru ruangan rawat Valey. Dia takut di tegur oleh dokter atau perawat.


Shera hampir memindah Vandra untuk di gendong tapi nanny mencegah.


Shera mengikuti arahan Nanny, dan membiarkan Vandra yang menangis dengan menggerak-gerakan tangan juga kakinya seperti sedang memukuli Valey.


Satu detik, dua detik, tiga detik. Kelopak mata Valey bergerak sejurus dengan jemarinya yang juga bergeser.


Nanny yang melihat itu melebarkan bola matanya. Tak percaya dengan apa yang dilihat.


"Tangan Non Valey bergerak," ucap Nanny. Dia membekap mulut dan tak lama sudut matanya berair karena haru.


Shera juga melihat apa yang dilihat Nanny. Reaksinya pun hampir sama. Mematung sesaat karena tak percaya anggota tubuh Valey bergerak.


"Valey-Valey!" Shera memanggil-manggil. Berharap apa yang dilihat bukan halusinasi.


Perlahan kelopak mata Valey terbuka.


"Ya Tuhan ... Valey!" pekik Shera benar-benar terkejut. Ketika ingat, dia segera menekan tombol dokter.


Valey belum merespon dengan baik, sedang menguasai diri.


"Valey bangun, Nanny. Sekarang Valey sudah bangun." Kedua mata Shera mengeluarkan air mata, namun bibirnya tersenyum merekah.

__ADS_1


"Ada apa, Non?" Perawat datang lebih dulu, baru beberapa menit kemudian dokter menyusul.


"Adikku bangun, Sus. Adikku sudah bangun. Tolong periksa dia!" ucap Shera.


Tak lama dokter lah yang memeriksa keadaan Valey, dan menyatakan bahwa kondisi Valey mulai normal dan membaik.


"Kenapa dia diam saja, Dok?" tanya Shera yang penasaran kenapa Valey dari tadi belum bersuara.


"Kak ...," sela Valey yang terdengar begitu lirih.


"Valey, ya Tuhan ... Kakak senang sekali akhirnya kamu bisa bangun."


Manik layu Valey menatap makhluk kecil yang ada di gendongan nanny.


"Itu anak kamu, Valey. Itu putramu," ujar Shera memperkenalkan Vandra kepada ibunya.


Mata layu itu menggenang cairan bening. Sedangkan bibirnya tersenyum tipis.


"Di-dia a-anak-ku?" ucapnya terbata.


"Iya. Dia putramu, Valey." Shera memeluk Valey dengan suka cita. Kebaikan Valey selama ini membuat Shera sangat sayang kepada Valey.


Beberapa saat Shera lupa untuk memberitahu Narendra. Begitu ingat, dia langsung menelpon adiknya.


"Ada apa, Kak?" tanya Narendra dari seberang telepon.


"Kabar bahagia, Narendra. Ada kabar bahagia."


"Kabar bahagia apa, Kak? Nanti saja, Aku lagi meting." Narendra hampir memutus panggilan, tapi cegah Shera.


"Tunggu, Narendra. Valey sudah sadar!" pekik Shera.


"Apa???" Narendra juga memekik terkejut.


"Iya, Valey sudah sadar."


"Aku akan segera ke rumah sakit, Kak," ujar Narendra yang sudah tidak peduli lagi dengan meting penting dengan tim pemasaran.


Secepatnya ingin segera sampai ke rumah sakit dan melihat mata indah Valey terbuka. Dia ingin mendengar suara Valey, juga hal utama yang ingin dilakukan adalah untuk meminta maaf atas kesalahannya selama ini.


Narendra mengendarai mobil sendiri dengan kecepatan penuh.


Napasnya memburu saat membuka pintu ruang rawat Valey.

__ADS_1


"Valey!"


__ADS_2