Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Usaha yang Sia-Sia


__ADS_3

Valey tersenyum getir mendengar ucapan Naren pada nanny. Yang ia bilang benar, hati Naren sudah dipenuhi amarah dan benci hingga tak mampu membedakan mana yang tidak bersalah dan mana yang musti diwaspadai.


Jika apapun yang ia katakan tidak merubah sikap Naren, harusnya ini kesempatan terbaik untuk kabur dari lingkaran pria itu. Namun, entah mengapa hatinya justru enggan. Ia menginginkan masih disana. Entahlah ....



Pagi hari, seolah rutinitas disetiap pagi harus menjadi penghuni kamar mandi untuk memuntahkan cairan kekuningan yang sangat pahit.


Brak! Brak!


Pintu kamar mandi digedor dengan keras, membuat Valey berjengit kaget.


"Tunggu sebentar!" teriaknya. Ia bisa menduga jika itu adalah Naren, karena nanny sudah tahu ia dikamar mandi dan tidak mungkin menggedor pintu dengan begitu keras.


Saat membuka pintu, ia langsung bertatapan dengan manik tajam seorang Narendra.


"Kamu kira hanya kamu yang butuh kamar mandi!" bentak pria itu.


Valey tidak menjawab, tangannya sibuk membekap mulut agar tidak muntah di depan Naren. Tapi hal itu sia-sia, kini Valey justru melakukan kesalahan besar. Ia tidak bisa menahan mual sampai muntah di depan Naren bahkan sedikit mengenai kaos pria itu.


"Hei! Kamu sengaja!!!" bentak Naren terlihat berang.


Valey menggeleng, tanpa mengatakan apapun segera berbalik masuk kembali ke kamar mandi.


"Dasar wanita sialan!" maki Naren dengan suara tinggi. Ia sangat jijik karena kaosnya terkena cairan muntahan Valey.


Di dalam kamar mandi jantung Valey berdebar tak karuan. Ia tidak berani keluar karena tahu Naren pasti marah besar dengan kesalahan tak sengaja tadi.


Brak! Brak!


Gedoran di pintu terdengar kembali bahkan kali ini lebih keras. Valey menelan ludah yang terasa pahit, tubuhnya bergetar dengan keringat dingin menghiasi kening.


Tapi ia tak bisa terus menerus di kamar mandi, pria seperti Naren bisa saja mendobrak pintu karena ia tak kunjung keluar.


Pintu dibuka, dan pipinya memanas karena langsung dihadiahi sebuah tamparan yang sangat keras. Ia terpejam sebentar untuk menguatkan hati.


"Tuan, tolong jangan sakiti Nona lagi. Nanny mohon."


"Apa yang aku bilang kemarin?! Harusnya masih ingat?!" ujar Naren mengingatkan nanny agar tidak memperlakukan Valey dengan baik, karena wanita itu seorang penjahat.


"Tidak Tuan, nanny tidak tega melihat Nona mendapat luka fisik. Jangan sakiti Nona." Nanny sampai menangis. Menatap iba pada Valey yang kini pipinya sudah memerah akibat tamparan Naren barusan.


"Kalau nanny terus membela dia, lebih baik nanny pergi agar tidak melihat aku menyiksa wanita sialan ini!" usir Naren. Entah bagaimana pemikiran pria itu, nanny sudah berbaik hati tetap mengabdi dengan suka rela, tapi Naren malah berpikir mengusirnya.


"Tidak, Tuan. Nanny tidak akan pergi." Wanita itu memilih menunduk tanpa mendebat, jika ia pergi entah seperti apa nasib Valey. Tidak ada yang menemani dan menguatkan gadis itu.


Naren kembali fokus pada Valey. Tanpa aba-aba pria itu menjambak rambut Valey dan menyeretnya ke halaman belakang.


"Akh! Sakit, Naren! Lepas!" Valey mulai menangis karena tangan Naren menjambak rambutnya dengan sangat kuat. Serasa kulit kepalanya hampir tercabut. Kepalanya berdenyut sakit.

__ADS_1


"Tolong lepas, Naren. Sakit!" Meski Valey memohon dan meronta, tak membuat Naren melepas rambutnya. Pria itu mengantuk kan wajah Valey pada batang pohon yang berdiri kokoh meski setengah pohonnya sudah mengering. Membuat kening Valey terluka dan mengeluarkan darah.


Valey kembali terpejam, merasakan sakit dibeberapa titik kepalanya dalam waktu bersamaan.


Naren tetaplah Naren, pria kejam penuh dendam dan amarah yang tak punya belas kasih sedikitpun.


Sepertinya Naren belum puas menyiksa Valey hanya dengan beberapa luka saja. Terbukti pria itu mengambil sebuah tali lalu mengingat tangan dan tubuh Valey di pohon yang setengah mengering.


Pohon yang mengering sudah tidak memiliki daun, hingga terik matahari bisa menembus kulit Valey.


"Naren, lepaskan aku. Lepaskan aku!" teriak Valey melihat Naren justru menjauh dan masuk ke dalam rumah. Meninggalkannya dalam keadaan memprihatinkan. Ia terisak, Naren benar-benar kejam memperlakukannya.


Saat memasuki rumah, Naren menemui nanny yang berdiri di samping pintu dapur dan sedang menangis. Nanny pasti tahu apa yang ia lakukan pada Valey.


"Jangan coba-coba menolongnya, jika nanny masih ingin tinggal disini!"


"Tuan, kasihan dengan Nona. Nona bisa pingsan kalau terlalu lama kepanasan. Dia juga akan dehidrasi."


"Lepaskan Nona, Tuan. Tolong lepaskan. Dia tidak sengaja muntah di depan Anda. Memang akhir-akhir ini Nona sering muntah, nanny takut dia sedang sakit."


"Aku tidak peduli. Semoga saja dia sakit parah dan mati secara mengenaskan. Biar dia merasakan kesengsaraan keluargaku!" Kedua mata Naren menyala-nyala. Entah sampai kapan bara api itu bisa dipadamkan.


"Sekali kamu melangkah keluar dan menolongnya, aku benar-benar akan mengusirmu!"


Ancaman Naren membuat nanny semakin terisak. Berada dalam keputusan yang sulit.


Tiga jam sudah Naren menyiksa Valey dengan membiarkannya dibawah terik matahari yang semakin siang semakin terasa membakar kulit.


"Ibu," lirih Valey memanggil nama ibunya setiap kali merasa sendiri dan tersakiti. "Aku ingin bersamamu. Aku ingin menyusulmu."


Di panas yang terik itu, Naren membawa nampan berisi makanan dan minuman dingin.


Valey yang lemas tampak menelan ludah, tak sabar ingin merasai makanan dan minuman dingin mengaliri tenggorokannya.


Tapi Naren justru tersenyum remeh. "Kamu mau makanan dan minuman ini?"


"Aku haus dan lapar, Naren."


Naren kembali menyungging senyum remeh. "Kalau begitu akui perbuatan mu dan katakan dimana pria keparat itu menyekap kakakku!"


"Apa yang harus aku akui?! Aku tidak melakukan semua itu!"


"Kamu tetap tidak menyerah, oke, kita lihat sejauh mana pertahananmu." Naren duduk ditempat sejuk dan sengaja memamerkan makanan dan minuman pada Valey.


Air mata Valey yang sempat mengering kini tak terbendung lagi. Ia dipaksa mengakui kesalahan yang sama sekali tidak dilakukan. Harus bagaimana ia membuktikan kepada si keras kepala itu jika ia tidak bersekongkol dengan Ziat dan ia pun tidak tahu dimana keberadaan kakaknya.


"Baik, Naren! Aku akan menunjukan dimana kakakmu berada," ucap Valey pias. Ia benar-benar sudah putus asa dengan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.


Naren terkesiap. Kedua tangannya terkepal dengan rahang mengeras. "Akhirnya kamu mau bicara! Cepat beritahu dimana kakakku!!"

__ADS_1


"Aku tidak akan mengatakan dimana tempatnya, tapi aku sendiri yang akan membawamu kesana."


Naren sempat terdiam, namun pada akhirnya ia bangkit dan melepas ikatan ditubuh Valey. Setelah ikatan terlepas, Valey terjatuh karena tubuhnya terlalu lemas.


Naren memberi waktu pada Valey untuk istirahat sejenak. Ia merasa senang karena akhirnya wanita sialan itu mau membuka mulut.


Saat ini, Naren dan Valey sedang dalam perjalanan. Sebelumnya Naren merental sebuah mobil untuk pergi bersama Valey.


Valey duduk di samping kemudi dengan pandangan kosong. Ia hanya asal menjawab setiap kali Naren bertanya belok ke arah mana? Belok arah kiri atau kanan?


Ia sedang berpikir, bagaimana caranya agar terbebas dari keadaan yang menyengsarakan. Hingga tiba-tiba Naren membentak dengan suara keras.


"Sebenarnya dimana tempatnya?! Kamu jangan mempermainkan aku!"


Sudah berpuluh-puluh kilo meter, tapi ekspresi Valey membuat Naren ragu kalau sebenarnya Valey hanya berbohong. Dan kesabarannya sudah habis untuk mencekik leher Valey sampai wanita itu kesulitan bernapas.


"Ayo Naren tekan leherku lebih keras. Ayo bunuh aku. Hilangkan nyawaku sekarang juga. Aku sudah lelah hidup. Aku benar-benar lelah," jerit Valey dalam hati. Ia menatap Naren dengan tatapan kosong. Seolah pasrah apapun yang akan dilakukan pria itu.


"Akh!!!" Naren memukul pegangan setir untuk meluapkan kesal.


"Kenapa kamu selalu menunda untuk melenyapkanku? Ayo bunuh aku, Naren! Bunuh aku! Kamu pengecut!"


"Diam!!! Beraninya kamu mengerjaiku!" Naren hampir melayangkan sebuah tamparan, namun melihat sudut bibir Valey yang robek karena tamparannya tadi membuat tangannya hanya menggantung diudara. Tak sampai hati untuk melakukannya lagi.


"Aku tidak mengerjaimu, aku sungguh tidak tau dimana kakakmu berada!"


Saat Naren sedikit lengah, Valey segera membuka pintu mobil dan berlari ke tengah jalan.


Naren yang terkejut segera turun dan mengejar Valey.


Valey berdiri di tengah jalan dengan memejamkan mata. "Aku sudah siap menyusulmu ibu."


Diiinnnnnn!!!


Klakson mobil berbunyi memekakkan telinga. Valey sudah bersiap jika kendaraan besar menghantam dirinya dan membuat tubuhnya hancur berkeping-keping. Lalu semua penderitaan itu tidak lagi ia rasakan. Dan lebih penting ia akan segera bertemu dengan ibunya.


Tapi semua angan itu hilang saat seseorang menarik tubuhnya lalu ia berada didekapan seseorang. Bahkan ia bisa merasakan degub jantung seseorang itu berdebar kencang.


"Mas dijaga pacarnya! Untung saya bisa mengerem dengan cepat. Kalau tidak, saya yang akan disalahkan padahal pacarmu yang tiba-tiba lari ke tengah jalan."


"Iya, Pak. Maaf!"


Deg !!!


Jantung Valey serasa terhenti. Ternyata seseorang yang memeluknya adalah Naren. Seseorang yang menyelamatkannya adalah Naren.


Valey segera menyentak tangan Naren yang sedang memeluknya. Ia ingin berlari tapi Naren memegang tangannya dengan erat.


"Lepas Naren! Lepaskan tanganku!" Valey menggigit tangan Naren dan berlari.

__ADS_1


"Akh! Sialan!" Naren memegangi tangannya yang terluka. Namun ia segera mengejar Valey yang terus berlari.


Dengan sisa kekuatan yang ada, Valey terus berlari. Jika hari ini ia gagal menyusul ibunya, setidaknya ia bisa kabur dari Naren. Tapi angan itu kembali tak terwujud karena perlahan-lahan pandangannya mulai berkunang, lalu menggelap dan tubuhnya merosot ke jalanan.


__ADS_2