Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Janji Tetaplah Janji


__ADS_3

"Valey!"


Suara itu membuat Valey menolehi sosok pria gagah yang tengah berdiri di depan pintu. Tatapan keduanya saling bertemu. Entah sendu atau rindu.


Narendra yang dilihat saat ini berbeda dari sebelumnya. Pria itu muncul dengan pakaian formal yang membuatnya semakin dewasa dan juga terlihat tampan.


Beberapa menit mereka hanya saling menatap tanpa suara. Hingga Valey mengalihkan pandangan lebih dulu.


Shera mengajak nanny keluar agar keduanya leluasa berbicara.


"Valey, akhirnya kamu bangun," ucap Narendra. Kedua matanya tak alih sedikitpun dari wajah Valey.


"Naren ...."


"Aku minta maaf, Valey. Aku benar-benar minta maaf untuk semua kesalahanku." Narendra menundukkan kepala, sedang mengingat runtutan kesalahan dan kekejaman yang pernah dilakukannya.


"Aku ...."


"Aku akan menebus kesalahanku. Bilang saja apa yang harus aku lakukan," ucapnya penuh sesal.


Valey menggeleng. "Kamu tidak perlu melakukan apapun, Naren. Tidak perlu menebus kesalahan karena kamu tidak memiliki kesalahan apapun. Kesalahpahaman kita sudah terselesaikan," ujar Valey.


Kini berganti Narendra yang menggeleng. "Aku menyesal Tisya tega menyakitimu. Aku juga meminta maaf untuk itu," ucap nya.


"Dia menyakitiku karena terlalu cemburu dan tidak ingin kehilanganmu. Seorang wanita mungkin akan melakukan hal sama jika kepemilikannya di ganggu."


Pria itu menghela napas panjang. Dalam keadaan seperti apapun, Valey tetap baik dan bersikap tenang. Sungguh menyesal apa yang telah dia lakukan dulu terhadap wanita itu.


Valey bergerak ingin menjangkau gelas di atas nakas, namun terlihat kesulitan. Narendra yang mengetahui itu segera membantu.


Setelah satu gelas air putih tandas licin, Valey kembali menggerakkan anggota tubuhnya, namun sayang, kedua kakinya tak terasa sama sekali. Benar-benar mati rasa.


Untuk menegaskan lagi, dia berusaha menggerak-gerakan kaki nya. Tapi nihil. Sama sekali tidak bisa digerakkan.


"Ada apa?" tanya Narendra yang menyadari raut wajah Valey berubah menegang.


"Kakiku ...."


"Kenapa dengan kakimu?"


"Kakiku tidak terasa sama sekali, Naren. Kakiku tidak bisa di gerakan." Valey mencoba lagi, tapi tetap tidak bisa.


"Naren." Suaranya bergetar. Di kedua sudut matanya tergenang cairan bening.


"Tenang Valey. Tenang. Aku panggilkan dokter, sebentar," ujar Narendra yang segera melesat keluar.

__ADS_1


Keadaan panik sampai lupa jika di atas kepala ranjang ada tombol untuk memanggil dokter.


Sementara Valey mulai terisak dan bertanya-tanya kenapa kakinya tidak bisa digerakkan. Bukan hanya satu, tapi kedua-duanya.


Dia mendapat tembakan di dada sebelah kanan, tapi kenapa justru kakinya yang tidak bisa digerakkan.


Pintu ruangan terbuka, Narendra sudah kembali bersama dokter, perawat, Kak Shera dan juga nanny.


"Bagaimana Nona?" tanya Dokter.


"Kedua kaki saya seperti mati rasa, Dok. Tidak bisa digerakkan sama sekali."


Dokter itu membuka selimut dan memeriksa kaki Valey.


"Bagian mana yang tidak bisa digerakkan?" tanya Dokter.


"Dari lutut ke bawah. Sedangkan dari lutut ke atas masih terasa," jelasnya.


"Saya belum bisa memastikan penyebabnya. Besok kita lakukan pemeriksaan secara menyeluruh agar lebih jelas penyebabnya."


"Tapi apakah sebelum ini kedua kaki Anda baik-baik saja?"


Valey mencoba mengingat-ingat sesuatu. "Saat aku di sekap, ada orang yang memukul kakiku, saat itu aku pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi."


"Supaya lebih jelasnya, kita lakukan pemeriksaan keseluruhan."


Tiba-tiba Narendra menggenggam tangan Valey.


"Kakimu pasti baik-baik saja."


Valey kembali terisak. "Bagaimana kalau kakiku tidak bisa jalan lagi?"


"Ada kami, Valey. Kami akan mendampingimu," sahut Shera. Dia juga mendekat ke sisi yang lain dan mengelus punggung wanita itu untuk sedikit menenangkan.


"Tidak Kak. Setelah ini saatnya aku bebas. Aku tidak mungkin terus-terusan bersama kalian."


Deg!


Mendengar perkataan Valey membuat Narendra terdiam seribu bahasa.


Dia sudah melupakan hal itu, tapi Valey selalu mengingatnya. Apakah wanita itu benar-benar ingin menjauh.


Lima bulan dia menunggu Valey sadar, tapi ketika sudah sadar justru ingin pergi. Tidak!


Membayangkan yang belum terjadi pun membuat Narendra diiringi kecemasan.

__ADS_1


"Apa maksudmu ingin bebas, Valey? Apa kamu tidak memikirkan Vandra? Dia butuh sosok ibu," ujar Shera.


Valey tahu itu, tapi dia tidak mungkin tetap tinggal bersama keluarga mereka. Toh selama ini mereka tak memiliki hubungan apapun.


Valey tetap tinggal hanya karena bayi yang diberi nama Vandra. Sekarang dia tidak memiliki beban apapun, maka itu dia ingin pergi.


Masalah Vandra membutuhkan ibu, bukankah ada Tisya yang akan merawat bayi itu.


"Tapi Vandra akan mendapat ibu sambung yang akan merawatnya."


"Tidak, Valey!" bantah Narendra. "Putra kita tidak akan memiliki ibu sambung. Cukup satu saja ibunya," imbuhnya.


Valey mengernyit karena tidak mengerti maksud Narendra.


"Tapi Naren ...."


"Tisya mendekam dipenjara selama empat bulan. Vandra tidak memiliki ibu sambung seorang mantan narapidana," celetuk Narendra.


"Latisya di penjara?" Valey sangat terkejut. Tidak menyangka kalau ucapannya di dengar.


"Maka dari itu, jangan pergi, Valey. Vandra butuh kamu." Vandra melihat penuh harap.


Tapi Valey diam tak memberi jawaban. Saat-saat seperti itu Vandra yang ada dalam gendongan nanny menangis. Pusat mereka teralihkan dengan suara lengkingan Vandra.


Nanny menyerahkan Vandra kepada Valey untuk di tenangkan, namun ibu dan anak itu baru bertemu, jelas Vandra masih sangat asing dengan Valey. Dan tetap menangis.


Makhluk kecil itu malah menunjuk-nunjuk ke arah Narendra. Mengisyaratkan ingin di gendong oleh ayahnya. Dengan senang hati Narendra meraih Vandra.


"Aku tenangkan Vandra dulu." Narendra membawa Vandra keluar.


Shera kembali mendekati Valey. "Valey, jangan memikirkan untuk pergi. Kakak minta tetaplah bersama kami. Kakak tahu Narendra sudah mulai menyukaimu, kamu tinggal bersabar, kakak akan bicara pada Narendra agar dia segera melamar mu."


"Kak!" Valey menggeleng. "Itu tidak mungkin."


"Kenapa tidak mungkin, Valey?! Narendra mulai menyukaimu. Kamu tidak tau selama kamu tidak sadarkan diri, Narendra tidak henti mencemaskan mu. Setiap hari dia datang hanya ingin memastikan apa kamu sudah sadar atau masih sama.


Dia juga pernah bilang kepadaku kalau kamu sudah sadar, dia akan menebus semua kesalahannya.


Percaya Valey, Narendra sudah berubah dan dia sungguh-sungguh ingin kamu tetap bersama kami."


"Aku pun memiliki perasaan kepada Naren, Kak, tapi janji tetaplah janji yang harus di tepati. Aku tetap pergi, jikapun Tuhan menakdirkan kami masih bersama pasti akan dipertemukan kembali dengan cara tak disangka-sangka."


"Tapi, Valey."


"Keadaanku seperti ini, aku hanya akan menjadi beban."

__ADS_1


"Jangan katakan itu! Kamu sama sekali bukan beban buat kami. Jangan berpikir seperti itu. Kamu sudah banyak menolong kami, biarkan sekarang kami yang akan menolong mu," mohon Shera dengan menggenggam tangan Valey. Berharap wanita itu luluh dengan putusannya.


__ADS_2