
"Kenapa setiap hari membuat kue sebanyak itu?" Naren mulai mengendus kejanggalan aktifitas nanny karena setiap hari wanita paruh baya itu membuat kue donat dengan jumlah banyak.
Jelas merasa aneh. Jika untuk dikonsumsi, tidak mungkin membuat kue dengan jumlah hampir 100 biji bahkan terlihat lebih.
"Eum ...itu, Tuan. Eum ...." Nanny bingung memberi jawaban. Jantungnya berdegup kencang, takut Naren mengetahui rahasianya selama satu minggu ini.
Naren menautkan alis melihat raut nanny begitu tegang dan gugup. Namun sebelum mengulik lebih dalam, konsentrasinya terpecah mendengar ponselnya berdering. Akhirnya pria itu menjauh dan nanny bisa bernapas lega.
"Aku harus keluar sebentar. Tolong jaga dia jangan sampai lengah!" ujar Naren memberi pesan.
"Iya, Tuan."
Dan setelah Naren pergi, nanny menemui Valey di kamar.
"Tuan Naren pamit pergi. Tapi dia bilang cuma sebentar," kata nanny memberitahu Valey.
Valey mengangguk. "Ayo kita segera bersiap!" Ia nampak bersemangat. Siap menjajakan kue donat.
Namun raut wajah nanny kali ini terlihat ragu. "Apa hari ini kita di rumah saja ya, Non?"
"Memang kenapa?"
"Tuan Naren bilangnya hanya sebentar, saya takut dia pulang cepat." Nanny mengutarakan kecemasannya.
"Setiap kali pergi juga bilangnya sebentar. Tapi bisa seharian dia pergi," cibir Valey.
"Hari ini sudah buat kue banyak, sayang kalau tidak keliling." Valey sedikit memaksa.
"Baiklah. Nanny siapkan sebentar."
•
Tiba waktunya Valey memeriksakan kehamilannya. Itupun berkat nanny yang mengingatkan, jika tidak, mungkin keduanya tidak terpikir untuk pergi ke poli kandungan.
Naren sudah menunggu di ruang depan saat ia tadi memberi pesan pada nanny untuk memanggil Valey.
"Naren!"
Pria itu menoleh.
"Jangan perlakukan aku sebagai tahanan lagi. Aku tidak mau pergi kalau kedua tanganku tetap diikat."
"Kalau ikatan itu dibuka, apa ada jaminan kamu tidak kabur atau berbuat nekat?!" Sebelah alis pria itu meninggi.
Valey memutar bola mata, jengah. "Hampir satu bulan aku diikat seperti ini. Kalaupun aku mau kabur, sudah dari dulu aku pergi. Hanya nanny saja yang menjagaku, dia bisa aku kelabui. Apa kamu masih tidak percaya padaku?!" Nada Valey terdengar kesal.
"Kalau ikatan ini tidak dilepas, aku tidak mau pergi kemanapun!" imbuhnya mengancam.
Naren diam sebentar sebelum beberapa saat kemudian bangkit dan melepas ikatan di pergelangan tangan Valey. Keduanya pergi bersama ke rumah sakit yang pernah di datangi sebelumnya.
Saat diperjalanan keduanya terdiam. Tak ada yang ingin memecah keheningan suasana. Larut dalam pikiran masing-masing. Hingga mobil yang dikemudikan Naren sudah berhenti di sebuah lahan parkir rumah sakit.
Naren tak membiarkan Valey hilang dari pandangan walau sedetikpun, maka dari itu membawa Valey sampai ke lahan parkir tanpa menghentikan dulu di lobi rumah sakit.
Setelah menunggu antrian, kini giliran mereka berdua dipersilahkan masuk.
"Hay Nona Valey, apa kabar?" dokter yang sama pada bulan lalu menyapa Valey ramah.
__ADS_1
"Baik, dok."
Dokter itu tersenyum dan mempersilahkan Valey berbaring di atas brankar. Wanita berpakaian hijau itu menerangkan perkembangan si janin.
"Kondisi Nona Valey lebih baik dari waktu pertama, tapi berat badan dan hb nya masih terbilang rendah. Tolong aktifitasnya di kurangi dan perbanyak waktu istirahat."
Naren melirik Valey yang diam menatap dokter. "Tolong aktifitasnya di kurangi?! Padahal seharian dia cuma di rumah," batin Naren tersenyum remeh.
"Baik, dok, terima kasih," ucap Valey.
Seperti bulan lalu, dokter memberi resep vitamin untuk ditebus.
Ketika berjalan di lorong rumah sakit, tiba-tiba ada suara kecil yang memanggil "Tante!"
Deg!
Tubuh Valey menegang. Ia sepertinya mengenal suara itu. Tak ingin Naren tahu, ia menggandeng tangan Naren untuk berjalan cepat.
"Tante Valey! Tante, aku Saina!"
Valey sempat melirik lewat ekor matanya, bila gadis kecil yang suka memborong dagangannya tengah berlari mengejarnya. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk berbincang dengan Saina. Bahkan waktunya sangat tidak tepat.
"Hei, pelan-pelan. Perhatikan jalanmu! Kamu bisa membahayakan bayinya!" sentak Naren.
Valey langsung melepas gandengan tangannya dan berlari mendahului pria yang sekarang sedang berang menatapnya. Tak masalah ia mendapat kemarahan seorang Naren, toh, ia sudah terbiasa.
Yang dikhawatirkan hanya Saina, ia tak mau gadis kecil itu banyak bicara dan semua akan terbongkar. Tidak!
"Berhenti!" Naren mencekal pergelangan tangan Valey dengan sedikit menyentak sampai Valey mendesis.
"Kamu sudah janji tidak akan kabur! Ucapanmu memang tidak bisa dipercaya!" bentak Naren ketika mereka sudah sampai di parkiran mobil.
"Sesuatu apa?!" kejar Naren.
"Sesuatu ... emh, sesuatu ... itu, aku ingin mengejar penjual bakso dorong. Tapi sudah lewat jauh." Valey menjawab asal.
"Alasan! Cepat masuk!" Naren membuka pintu mobil. Mendorong bahu Valey agar cepat masuk.
"Tapi vitaminnya."
"Besok aku tebus sendiri."
Valey terdiam, tidak berani mendebat lagi. Dan begitu keluar dari halaman rumah sakit, Naren menghentikan mobil di dekat lahan penjual bakso.
"Kenapa berhenti?"
"Apa wanita hamil membuat pikun?! Kamu bilang ingin makan bakso. Itu penjual bakso dorong yang kamu inginkan tadi." Emosi Naren belum mereda membuat pria itu berkata dengan berapi-api.
"Eum, tapi aku mau makan di rumah saja."
"Dasar merepotkan!" Meski masih marah, tapi Naren tetap keluar untuk memesan bakso, sambil matanya mengawasi Valey agar tidak kabur lagi.
•
Di tengah malam yang sunyi, Naren duduk sendiri di teras rumah dengan pikiran melayang.
Tentang penebusan obat vitamin untuk ibu hamil, resep itu hampir sama dengan bulan lalu bahkan ada satu obat tambahan yang masuk daftar tebus. Membuatnya mengurungkan niat untuk berbelok ke bagian farmasi dikarenakan uangnya tidak cukup.
__ADS_1
Ia menghela napas panjang. Kepalanya berdenyut dan banyaknya masalah yang dipikirkan membuat kepalanya hampir meledak.
Pagi sekali pria itu sudah melenggang pergi entah kemana. Dan pagi kedua juga begitu. Nanny dan Valey penasaran kemana Naren pergi, tapi juga merasa senang karena aktivitasnya berjualan kue keliling lancar jaya tanpa pikiran was-was.
"Semakin hari penjualan kita bertambah. Uang yang Valey kumpulkan juga semakin banyak," ucap Valey dengan senyuman. Meski kening bersimbah peluh, namun semangatnya tetap menggebu.
"Sssthh, adu duh, kepalaku!" Baru beberapa detik terlihat senang, mendadak Valey mengeluh.
"Nona kenapa?"
"Ssttth, entah, kepalaku tiba-tiba pusing."
"Nona pasti kelelahan. Nanny perhatikan, beberapa hari ini Nona tidak minum vitamin? Tuan Naren juga tidak mengingatkan nanny untuk menyiapkan vitamin."
"Waktu periksa kemarin Naren belum menebus vitaminnya. Dan dua hari ini dia pergi terus, mungkin dia lupa untuk menebus."
Nanny diam sebentar. Apa mungkin tuan Naren memang lupa, atau jangan-jangan ....
"Non, nanti resep vitaminnya kasih ke saya saja, mungkin tuan Naren sedang sibuk biar saya yang tebus."
Valey mengambil resep obat yang disimpan pada dompet kecil pemberian nanny waktu itu. "Kalau begitu kita tebus sekarang pakai uang tabunganku, Nanny," ujar Valey.
Dan nanny menyetujui.
Malam hari, Naren pulang larut. Biasanya nanny dan Valey sudah tertidur, tapi langkahnya terhenti saat Valey keluar dari arah kamar mandi.
"Beberapa hari ini kamu pulang larut, apa kamu sudah makan?"
Pertanyaan Valey membuat Naren mengerutkan dahi. Namun setelahnya membuang muka. "Bukan urusanmu!"
"Apa aku bangunkan nanny untuk menyediakan keperluan mu?" Valey memperhatikan penampilan Naren yang kusut. Entah sebenarnya apa yang dikerjakan pria itu di luaran sana.
"Jangan banyak bicara! Tidurlah, kepalaku bertambah pusing melihatmu!"
Valey menghela napas dan melewati Naren, namun ia berhenti di dekat meja untuk mengambil minum dan obat vitamin karena tadi ia lupa belum meminumnya.
Beberapa saat Valey masuk ke kamar, berganti nanny yang bangun dan membuatkan teh untuk Naren.
"Tuan baru pulang? Nanny buatkan teh, silahkan diminum."
Naren duduk di meja makan dan menyambar teh untuk diseduh pelan.
"Tuan ingin makan? Biar saya hangatkan."
"Tidak usah, aku sudah makan." Naren menyeduh teh sampai setengah, lalu mengarah pada nanny untuk bertanya tentang rasa penasarannya tadi.
"Kemarin aku belum sempat menebus vitamin. Tapi di lemari sudah ada vitamin. Apa nanny yang tebus?" Suara Naren pelan dan seperti tercekat.
"Nona Valey yang tebus. Eh, maksud saya, iya saya yang tebus." Nanny mengerut begitu sadar telah salah menjawab.
"Darimana uangnya? Bulan ini aku belum kasih uang. Bahkan uang belanja juga belum aku kasih." Naren menelisik.
"Uang bulan kemarin masih ada, sisanya pakai uang saya, Tuan."
Naren masih menelisik dengan dua alis menyatu. Ia tahu wanita di depannya sedang menyembunyikan sesuatu.
Selain itu, jawaban nanny sangat janggal. Tidak mungkin uang belanja masih ada sisa, jika pun ada sisa tetap tidak cukup untuk menebus vitamin apalagi berbelanja kebutuhan sehari-hari.
__ADS_1
Seketika Naren teringat dengan kegiatan nanny yang sering membuat kue dengan jumlah banyak. Ia mulai curiga. "Sepertinya aku harus mengintai kegiatan mereka," batinnya.