Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Aku Janji


__ADS_3

"Non Valey."


Valey menoleh saat nanny memanggilnya. Bibirnya mengembang dengan raut bahagia.


"Ada apa, Nanny,?" tanya Valey.


"Ini uang tabungan Non." Nanny mengangsurkan segenggam uang kepada Valey. Sementara wanita itu mengernyit bingung.


"Uang tabungan gimana?" Valey sungguh tak mengerti.


"Uang tabungan yang Non kumpulin saat kita jualan di klinik."


Sekarang Valey baru ingat ternyata uang itu yang dia titipkan pada Narendra.


"Nanny pengen liat Nona bisa jalan lagi. Mungkin saja kaki Nona masih bisa disembuhkan."


Valey menunduk sedih mengingat dokter sendiri belum bisa memastikan saraf-saraf di kakinya masih berfungsi atau tidak. Karena hasil pemeriksaan kemarin menyatakan kerusakan saraf dikakinya cukup serius.


"Kalau aku seperti ini, apa aku sangat merepotkan, Nanny?" ujarnya sedih. Valey menanggapi ucapan nanny dengan pemikiran berbeda.


"Tidak! Non sama sekali tidak merepotkan. Hanya saja Nanny tidak tega melihatnya." Tak ingin salah paham, nanny buru-buru menjelaskan maksudnya.


Valey menghela napas perlahan.


"Harusnya orang yang buat Non seperti ini di hukum dengan berat, atau kalau perlu kakinya di buat sama seperti keadaan Non Valey!" ujar Nanny menggebu. Pandangannya menerawang membayangkan sosok Latisya. Seorang wanita cantik namun berhati iblis. Yang tega membuat Valey kehilangan fungsi kakinya.


"Latisya di penjara, dia sudah mendapat balasan setimpal," pangkas Valey.


Nanny menggeleng keras. Tidak setuju dengan perkataan Valey.


"Jika hanya di penjara, setelah keluar juga fisiknya masih sama. Beda dengan Nona, lihat ... entah sampai kapan hanya bisa duduk di kursi roda."


Valey meremas ujung bajunya. Memang benar apa yang dikatakan nanny. Meski Latisya mendekam di penjara dengan waktu cukup lama, namun fisiknya tetap masih utuh. Masih terlihat sempurna.


Sedangkan dirinya, entah berapa lama harus bergantung pada orang lain. Entah sampai kapan harus memerlukan bantuan orang lain hanya sekedar berpindah tempat. Menyedihkan.


"Nanny, walau aku cuma bisa duduk di kursi roda. Tapi aku akan berusaha tidak merepotkan siapapun." Dia berusaha legowo menghadapi takdirnya. Kalau dia menginginkan Latisya mengalami keadaan yang sama seperti dirinya, bukankah dia juga memiliki hati jahat.


Tok ... tok ....


Terdengar ketukan di daun pintu. Pembicaraan mereka terhenti saat Shera masuk dengan Vandra yang ada di gendongannya.

__ADS_1


"Nanny, tolong jaga Vandra. Barusan Narendra telepon kalau aku di suruh ke kantor," titah Shera.


Meski berbicara dengan Nanny, namun Wanita itu tak beralih dari Vandra dan terus menciumi pipi gembul bocah itu. Seolah tidak rela menyerahkan keponakannya pada nanny. Tak ingin berpisah jika bukan tak ada kepentingan.


"Baik, Non." Nanny sigap meraih Vandra dari gendongan Shera.


"Apa ada yang penting, Kak?" tanya Valey hanya sekedar basa-basi.


"Entahlah, tapi dari nada suaranya sih penting. Kakak pergi dulu, ya," pamit Shera. Setelah mencium pipi kanan dan kiri Valey, wanita itu beranjak keluar kamar. Akan tetapi sampai di depan pintu dia melongok kembali.


"Mau nitip apa? Nanti kakak belikan," ujarnya menawari Valey.


"Makasih, Kak. Aku gak nitip apa-apa," jawab Valey.


Shera mengangguk dan kali ini benar-benar pergi.



Di Kantor.


Narendra tampak fokus melihat benda yang ada di depannya. Sesekali bibirnya mengembangkan senyuman. Dia tidak sabar menunggu kedatangan kakak nya.


"Ada apa kamu menyuruh Kakak datang cepat-cepat Narendra," ujar Shera langsung mengambil duduk di sofa yang ada di ruangan CEO tersebut.


Narendra menunjuk benda di atas meja menggunakan dagunya.


"Bagaimana dengan cincin-cincin itu, Kak?" Narendra bertanya untuk meminta pendapat Shera.


Shera melihat beberapa model cincin yang terpajang di atas meja. Keningnya berkerut dalam. Dia memperhatikan cincin itu sekilas, lalu melihat wajah adiknya.


"Cincin-cincin itu untuk apa, Narendra?"


"Rencananya aku ingin melamar Valey."


"Apa?!" Shera sampai terlonjak dan melotot sempurna karena saking terkejutnya. Detik berikutnya terbatuk-batuk, tersedak air liur sendiri.


"Iya ... aku berencana ingin melamar Valey. Bagaimana menurut Kakak?" ulang Narendra mengutarakan keinginannya.


"Kamu yakin?" Tapi justru Shera yang tidak yakin dengan adiknya. Dulu sewaktu keadaan Valey baik-baik saja adiknya itu tidak mau menjalin hubungan serius. Lalu sekarang keadaan Valey tidak bisa apa-apa, Narendra malah ingin melamarnya. Yang di takutkan, Narendra tidak serius dengan niatnya.


Bahkan selama ini adiknya itu sama sekali tidak pernah bercerita tentang perasaanya terhadap Valey. Tentu saja membuat sang kakak terkejut lantaran tiba-tiba adik satu-satunya itu mengatakan ingin melamar Valey.

__ADS_1


Bukan Shera tak senang, bahkan justru merasa sangat bahagia. Karena selama ini dia memang menginginkan Narendra dan Valey menjadi pasangan.


"Kamu bisa menerima keadaan Valey?" tanya nya dengan menatap ragu. Karena saat ini memang fisik Valey tidak sempurna, dia takut Narendra tak bisa menerima itu.


"Valey seperti itu karna Tisya. Aku juga merasa bersalah akan hal itu, makanya aku menerima bagaimana pun keadaanya Valey."


"Kalau kamu hanya merasa bersalah dan tidak sungguh-sungguh mencintai Valey, lebih baik jangan, Narendra. Kakak memang ingin melihat kalian berdua sebagai pasangan kekasih, tapi jika kamu tidak memiliki perasaan terhadap Valey, Kakak takut suatu hari nanti kamu menyakitinya."


"Tidak, Kak. Aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi. Aku ... aku sungguh ingin menjalin hubungan dengan Valey."


Pria berjas hitam itu merebahkan kepala di atas sandaran sofa. Memejam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Saat ini perasaanku masih samar-samar, tapi aku hanya butuh waktu sedikit lagi untuk memastikan hatiku." Beralih membasuh wajah dengan embusan napas panjang.


"Aku ingin melamarnya agar dia mau tinggal bersama kita. Agar Vandra bisa dekat dengan ibunya."


Shera ikut mengembuskan napas. "Tapi Kakak akan pegang janjimu, Narendra. Jangan pernah kamu sakiti Valey."


"Iya, aku janji, Kak."



Malam hari Narendra baru sampai di rumah. Kepulangannya disambut gema tawa Vandra yang sedang di kelilingi Shera, Valey, juga Nanny.


"Halo, sayang." Pria itu menyapa Vandra, membuat bayi gembul itu kelojotan meminta di gendong.


"Papa belum mandi. Masih bau asem," ujar Narendra yang mengerti kemauan anaknya.


"Kalau ujung-ujungnya gak mau gendong, harusnya gak perlu berhenti, Narendra. Lihat, Vandra malah rewel kamu datang," omel Shera kesal karena menganggap Narendra hanya mengganggu saja.


"Iya-iya, Kak. Liat dia ketawa, gak nahan buat gak berhenti," ujarnya tertawa.


"Naren, sudah makan malam?" Pertanyaan Valey menghentikan tawa pria itu.


Narendra menggeleng. "Tadi belum sempat."


"Kamu bersih-bersih dulu biar aku hangatkan makannya."


"Tidak usah, Valey. Biar nanny saja," cegah Narendra.


Valey menatap Narendra sebentar dan mengangguk. Namun sorot matanya berubah sendu.

__ADS_1


__ADS_2