
"Ya aku sedang terbelit masalah besar. Kapan kamu kembali?"
"...."
"Tentu saja aku merindukan kekasihku."
"...."
"Kamu tau masalahku sangat rumit, aku tidak bisa menyusul mu. Tunggu Kak Shera ditemukan dan aku akan melepas rindu kita."
"...."
"Yes. Love you, sweetheart."
Bibir Naren masih menyisakan senyuman padahal sambungan telepon sudah berakhir beberapa saat lalu.
Ketika pria itu berbalik ingin masuk, terkesiap melihat Valey berdiri di dekat pintu. Naren menelan ludah, lalu berpura-pura acuh melewati Valey.
"Bolehkah aku ikut nanny ke pasar?"
"Ada-ada saja. Jangan melunjak! Aku masih belum mempercayaimu." Mengambil duduk di sofa.
"Aku janji tidak melakukan apapun. Aku bosan. Dan ...." Valey menelan ludah dan terhenti sejenak. Membuat Naren mengernyit.
"Dan aku takut di rumah sendirian," lanjut Valey.
Kening Naren semakin mengerut. "Sendirian? Kamu tidak menganggap ku?" Naren merasa ambigu dengan kalimatnya sendiri. Namun kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Kini berganti kening Valey yang mengerut. Aneh sekaligus geli mendengar Naren mengatakan 'kamu tidak menganggap ku?'
'Siapa yang sudi menganggap pria sepertimu ada.'
Valey memilih tidak menanggapi. Masuk kembali ke kamar, mengambil duduk di dekat jendela.
Wanita itu merenung. Naren benar-benar pria bastard! Sudah memiliki kekasih, tapi malah menghamili wanita lain.
Naren bisa berbicara lembut dan hangat dengan kekasihnya, tapi selalu dingin ketika berbicara dengannya. Bahkan lebih sering menggunakan nada tinggi.
Valey memukul kepala karena pemikirannya barusan. Ia tertawa getir. Bisa-bisanya terpikir hal demikian.
Jelas Naren bersikap lembut dengan kekasihnya, sedangkan ia hanya dianggap seorang pembunuh dan penghancur kebahagiaan keluarganya. Naren sedikit melunak akhir-akhir ini hanya karena ada bayi diantara mereka. Selain itu, ia yakin Naren akan tetap menyiksanya.
"Non, ayo kita berangkat."
Suara nanny mengejutkan Valey. Ia menoleh.
"Berangkat kemana?"
"Loh, kata Tuan Naren, Nona ingin ikut ke pasar," bingung nanny.
"Aku memang ingin ikut, tapi dia tidak mengijinkan."
"Tapi Tuan Naren menyuruh nanny untuk mengajakmu."
"Benarkah?" Valey mendadak berbinar. "Aku ikut. Aku ikut!" teriaknya senang. "Tolong sisir rambutku," pintanya. Kedua tangannya masih terikat, ruang geraknya sangat terbatas. Bahkan untuk menyisir rambut ia harus meminta bantuan nanny.
Dengan senang hati nanny menyisir rambut Valey yang memang sedikit berantakan.
"Rambutku rontok banyak, ya?"
Nanny memunguti helai rambut Valey yang tertinggal di sisir. Mengumpulkan dan menggulungnya menjadi satu.
"Tidak apa, ibu hamil rambutnya rontok itu wajar. Setelah melahirkan, rambut Nona akan pulih lagi," ujar nanny.
Valey mengangguk. Setelah selesai mengurus penampilan, Valey dan nanny keluar menemui Naren. Lalu mereka berangkat ke pasar yang paling dekat dengan jarak rumah.
Di perjalanan hening. Sampai Naren menghentikan mobil di tempat parkir.
"Nanny, orang-orang pasti aneh melihat tanganku terikat," ucap Valey.
__ADS_1
Tanpa diduga, Naren menyahuti. "Orang-orang tidak akan melihatmu. Kamu tetap disini."
"Disini?! Menunggu di dalam mobil bersamamu?!" Valey membelalak tak percaya.
"Memang apa yang kamu pikirkan?" Naren melirik kaca spion.
"Kalau tau seperti ini, lebih baik aku tadi tidak ikut," gerutu Valey.
Naren membuang napas panjang. Sekuat tenaga menahan amarah, supaya tidak berbuat kasar lagi dengan wanita yang sedang mengandung darah dagingnya.
"Saya hanya sebentar. Nona ingin apa? Nanti saya belikan."
"Aku tidak ingin apa-apa."
Setelah nanny keluar, tinggal Naren duduk di kursi kemudi, sedangkan Valey duduk di belakang.
Hening. Tak ada pembicaraan apapun. Valey fokus melihat pemandangan di luar jendela. sebuah pasar tradisional namun ramai dengan pengunjung.
Tatapan Valey terhenti pada anak kecil yang sedang menjilat-jilat eskrim lumer. Air liurnya mendadak banjir, ingin sekali menjilati eskrim seperti anak kecil itu.
"Ada apa?" tanya Naren yang ternyata mengamati Valey dari kaca spion.
"Aku ingin turun."
Tapi Naren menggeleng, membuat wajah Valey kembali mendung.
"Kamu tunggu disini!" kata Naren. Tapi Valey diam saja.
Tak berapa lama Naren sudah kembali membawa kantong plastik entah berisi apa. Lalu, pria itu mengusungkan di depan Valey.
"Aku tidak tau kamu suka rasa apa. Jadi ku beli semua yang dijual."
Valey menerima bungkusan itu dengan kening berkerut. Tapi setelah membukanya, tanpa sadar bibirnya mengembangkan senyuman.
"Makasih. Eum, aku suka rasa vanila."
Mendadak hatinya terasa menghangat dengan perbuatan Naren yang sederhana. Peka dengan apa yang diinginkan.
Valey men-setting wajah kembali datar. Canggung dan merasa aneh jika ia dan Naren berbicara normal karena selama ini mereka seperti polisi dan penjahat. Tak ada keakraban sama sekali. Bahkan cenderung permusuhan.
Naren sendiri sempat tersenyum singkat, entah mengapa merasa bangga kala tebakannya benar jika Valey sedang ingin makan eskrim.
Tapi kebanggaan itu berangsur hilang saat dirinya juga sadar dengan kelakuan absurdnya.
•
Keheningan malam didominasi dengan percakapan Naren dan nanny.
"Apa uang yang aku berikan kemarin masih?"
"Masih, Tuan."
"Cukup tidak untuk belanja bulan depan?"
"Jika lebih hemat, mungkin cukup, Tuan."
Naren menyandarkan kepala di sandaran sofa. "Pegangan uang semakin menipis. Pembagian hasil saham sudah aku ambil untuk biaya rumah sakit kemarin," ujarnya.
Nanny mengangguk memahami.
"Dua minggu lagi Nona jadwal periksa kandungan, saya masih punya simpanan. Tuan bisa memakainya."
Naren menggeleng. "Aku akan berusaha. Tidak perlu memakai uangmu."
Nanny lekat memandangi Naren, pria yang ia asuh dari kecil hingga tumbuh dewasa seperti sekarang ini.
Naren memang angkuh, tapi sebenarnya masih memiliki sisi baik. Hanya saja, nanny sempat terkejut saat Naren mampu menyiksa Valey dengan sangat kejam. Karena sejak kecil Naren tidak pernah menyakiti siapapun.
Valey yang ingin ke kamar mandi mengurungkan niat mendengar pembicaraan Naren dan nanny.
__ADS_1
Meski ia benci, tapi mendengar kebingungan Naren masalah biaya, membuatnya tak tega.
Pagi harinya, setelah Valey menuntaskan rasa mual di kamar mandi. Wanita itu menyusul nanny ke dapur.
"Bikin apa, nanny, baunya harum sekali."
"Eh, Nona sudah tidak mual dengan harum kue?" nanny ingat sewaktu menawari kue karamel, Valey sempat muntah-muntah.
"Tidak. Aku sudah tidak mual, nanny." Valey mengerut, tampak aneh pada diri sendiri.
"Nanny buat kue donat berbagai toping."
"Sepertinya enak," gumam Valey.
"Nanny bisa bikin kue, coba kita buat lebih banyak," ujar Valey lagi.
"Untuk apa, Non?"
"Kita jual, siapa tau banyak peminatnya."
Nanny menanggapi ide Valey dengan senyum lucu. "Nona ada-ada saja. Tidak mungkin, Non."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Nanny tidak pernah menjual kue." Kali ini nanny mulai menanggapi dengan serius.
"Nanny yang buat, nanti coba kita berdua berkeliling."
Nanny aneh dengan ide Valey, tapi tidak ada salahnya mencoba. Toh, keuangan mereka juga mulai menipis.
"Coba nanti saya ijin dengan Tuan."
•
"Tidak!" Naren menjawab tegas. Menolak usul nanny yang meminta izin untuk berjualan kue keliling.
"Apa lagi dengan wanita itu! TIDAK!!!"
"Naren, nanny sudah membuat kue dengan jumlah banyak. Sayang kalau tidak dimakan." Valey yang bersembunyi di belakang pintu akhirnya keluar dan ikut menyahut.
"Bagikan saja pada orang sekitar!"
"Hanya disekitar, tidak akan jauh-jauh."
"Tetap TIDAK!"
"Kalau kamu takut aku kabur atau berbuat nekat, ikatan di tanganku tidak akan dilepas."
Naren menggebrak meja dan terlihat marah. Hal itu membuat Valey berjengit kaget dan pelupuk matanya menggenang cairan bening.
Nanny mendekati Valey. "Sudah Non, sudah. Tidak apa."
Siang hari ketika Naren pergi dengan mobil rentalnya, Valey membujuk nanny untuk melancarkan ide tadi pagi.
Nanny jelas menolak, karen takut jika Naren tahu akan menjadi masalah besar.
"Aku janji tidak akan melakukan kenekatan apapun. Aku tidak ingin Naren terbebani dengan kebutuhan kita."
"Aku bersunpah tidak akan kabur!"
Nanny menghela napas panjang. Berlalu ke dapur dan tak lama sudah kembali membawa kotak kue juga sebuah topi.
"Cuacanya sangat panas, Non pakai topi ini."
"Eum. Makasih nanny." Saking senangnya, Valey memeluk tubuh Nanny. "Terbaik," imbuhnya.
"Tapi Non, kita harus sudah kembali sebelum tuan pulang."
"Iya, nanny. Semoga tidak lama kuenya cepat habis."
__ADS_1
Mereka berdua keluar dari rumah sederhana dengan perasaan senang namun diiringi jantung berdebar.