Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Maafkan Aku


__ADS_3

Keesokan harinya, Narendra datang ke kantor polisi untuk menemui Latisya dan Ziat.


"Narendra ...." Latisya memanggil lirih. Wanita itu langsung mendekat pada Narendra namun pria itu justru menghindar.


"Narendra, tolong bebaskan aku. Aku tidak bersalah. Aku ... aku sama sekali tidak terlibat," ucapnya yang kini berlutut di depan Narendra. Kedua tangannya yang diborgol meraih tangan Narendra dan menggenggamnya erat.


"Kamu bilang tidak bersalah?! Sama sekali tidak terlibat?! Lalu kenapa kamu ada di sekitar sana?" Narendra bertanya dengan menatap tajam ke arah Latisya. Sementara wanita itu tidak berani bertatapan langsung.


"Aku hanya kebetulan lewat di daerah sana."


"Daerah itu jauh dari rumah warga, bahkan disekitarnya lahan kosong untuk apa kamu lewat daerah itu?" Narendra mencibir tak percaya. Latisya memberi jawaban konyol yang sama sekali tidak masuk akal.


"Kamu kira aku anak kecil yang bisa kamu bodohi dengan mengatakan alasan tidak masuk akal seperti itu?" Dia tersenyum remeh. Namun detik berikutnya menampilkan wajah murka.


"Aku tidak percaya, Tisya. Aku tidak percaya kamu bisa melakukan itu! Bekerja sama dengan Ziat untuk menghancurkan aku. Aku benar-benar kecewa!" decit Narendra dengan perasaan yang terluka.


"Tidak Narendra, tidak seperti itu!" pekik Latisya yang mulai menangis.


"Aku tidak bermaksud menghancurkan mu." Wanita yang bersimpuh itu menggeleng kuat. Karena sedari awal niatnya bukan seperti yang dikatakan Narendra.


"Aku kecewa dan sakit hati tau kamu menghamili perempuan lain. Dan Aku sangat benci dengan perempuan murahan yang sudah menggoda mu itu. Awalnya hanya ingin memberinya pelajaran. Tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri.


Lalu aku meminta bantuan paman Ziat untuk memberinya pelajaran."


Narendra tak habis pikir mendengar alasan Latisya yang sesungguhnya. Padahal sedari awal dia sudah menjelaskan dengan gamblang seperti apa hubungannya dan Valey. Tapi rupanya kekasihnya itu tidak mempercayainya dan memilih menusuknya dari belakang.


"Aku paham kamu sakit hati dan kecewa, tapi aku sudah berusaha menjelaskan semuanya. Aku tekankan sekali lagi bahwa Valey sama sekali tidak menggodaku. Aku melakukannya secara tidak sadar. Saat itu aku sedang mabuk, dan yang aku pikirkan hanya ingin membalas dendam. Bukan karna hal lain.


Asal kamu tau, kemarin aku merasa sangat bersalah karna sudah mengkhianati cinta kita. Walau aku melakukan kesalahan itu, tapi aku sangat mencintaimu. Tetap kamu wanita yang ingin aku nikahi, aku ingin membesarkan darah daging ku bersamamu walau ada Valey sebagai ibu kandungnya.


Dan ada satu hal lagi yang harus kamu tau, aku bersama Valey bersepakat jika bayi itu sudah lahir, maka kami tidak akan saling mengenal. Valey merelakan bayinya untuk kita, dan dia akan pergi sejauhnya tanpa menemui kita lagi." Narendra menjelaskan semuanya.


"Maafkan aku, Narendra. Maafkan aku." Latisya terisak, menyesal karena tak bisa mengendalikan emosi. Hingga yang dipikirkan hanya bagaimana caranya memberi pelajaran kepada Valey.


Sejujurnya dia hanya takut jika Narendra ke lain hati. Valey bukan gadis biasa, dia mengakui kalau parasnya begitu cantik. Apalagi dengan tinggal satu atap, banyak waktu yang mereka habiskan bersama. Bisa saja Narendra terpesona pada Valey dan beralih menyukainya.


Tidak! Itu tidak boleh terjadi.


"Maaf mu sudah tak ada guna, Tisya. Semua sudah terjadi. Apa yang kamu perbuat sangat mengecewakan. Aku tidak bisa ...."

__ADS_1


Latisya terdiam sejenak, menatap Narendra dengan penuh harap.


"Narendra ...," gumamnya.


"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi."


Deg!!!


Latisya membantu. Bergeming, tak percaya.


"Narendra jangan katakan itu!"


"Awalnya aku berharap kamu mengerti kesalahanku, tapi setelah kamu juga menusuk ku dari belakang, aku tidak bisa terima. Aku sama sepertimu, sangat kecewa. Jadi, hubungan kita sampai disini."


"Tidak Narendra! Jangan katakan itu. Aku melakukan semua itu karna aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu! Kamu tidak bisa mengakhiri hubungan kita begitu saja! Bagaimana dengan aku?!" Latisya begitu histeris mendengar Narendra mengakhiri hubungan mereka.


Narendra melepas genggaman Latisya, ingin segera pergi. Tapi wanita itu semakin erat menggenggam tangannya. Terpaksa dia melepas dengan kasar. Karena begitu tahu wanita itu bersekutu dengan Ziat, semua perasaan yang dimiliki menguap begitu saja.


Dia menganggap Latisya tidak benar-benar mencintainya.


"Narendra, tolong ... aku sangat mencintaimu. Jangan akhiri hubungan kita!"


"Narendra! Narendra!"


Bahkan ketika keluar pun masih mendengar Latisya memanggil-manggil namanya.


Apakah perasaan itu bisa secepat kilat berubah?


Dia tidak tahu, kenapa hatinya mulai berpindah haluan.


Saat ini, dimana pun dia berada, selalu terpikirkan dengan keadaan Valey. Bagaimana perkembangannya, apakah wanita itu sudah sadar.


Bahkan tangis dan teriakan Latisya tadi tidak berarti apapun baginya. Padahal sewaktu dulu selalu mengutamakan apapun tentang Latisya. Mendengar wanita itu menangis membuatnya tak tega, akan tetapi ....


Cara kerja waktu memang sangat cepat. Hingga dia sendiri tidak sadar dengan perubahan hatinya.



Narendra mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit. Tak sabar ingin melihat makhluk kecil dengan suara tangis melengking. Juga, tak sabar ingin melihat keadaan Valey.

__ADS_1


Ketika fokus menyetir, ponsel dalam saku celananya berbunyi. Tertera nama Kindra disana.


"Halo, Ki."


[Kamu udah ke kantor polisi?]


"Ini baru pulang. Kenapa?"


[Anak buah ku sudah menyisir tempat tinggal paman mu. Semua bukti sudah ditemukan. Jika bukti itu diserahkan ke kantor polisi maka hukuman paman Ziat akan semakin berat.]


"Tidak masalah aku kembali ke kantor polisi untuk menyerahkan bukti itu."


[Tidak-tidak, sebaiknya besok saja sekalian hubungi pengacara untuk mengesahkan hak waris keluarga kalian. Biar siapapun tidak bisa mengusik harta keluargamu,] ujar Kindra memberi saran.


Narendra mendengarkan dan menyimak dengan seksama saran dari sahabatnya.


[Tapi Naren .... ]


"Tapi kenapa?" tanya Narendra.


[Tidak. Besok saja kita bicarakan saat bertemu.]


"Katakan sekarang saja, Ki. Jangan buat penasaran!"


[Tidak begitu penting, besok saja.]


Lalu Kindra lebih dulu mematikan sambungan telepon. Membuat Narendra sangat penasaran apa yang ingin dibicarakan sahabatnya itu. Apakah ada hal penting?


Narendra kembali fokus menyetir agar segera sampai. Dan setelah sampai di rumah sakit, dia langsung menuju ruang rawat Valey. Di sana ada Shera dan nanny yang langsung melihat ke arahnya.


"Valey belum sadar, Kak?"


Shera menggeleng lemah. Lalu melihat Valey yang masih terpejam.


Narendra berdiri di dekat brankar Valey. Shera yang peka mengajak nanny untuk keluar. Memberi kesempatan Narendra untuk berdua dengan Valey.


"Berkali-kali kamu mengalami keadaan seperti ini karena aku," ucapnya lirih.


"Maafkan aku, Valey. Saat kamu bangun, aku ingin menebus kesalahanku. Cepatlah bangun." Perlahan Narendra meraih telapak tangan Valey dan digenggam. Wajah Valey begitu pucat seolah tanpa aliran darah, hal itu membuat Narendra semakin merasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2