
Nanny memaksa ingin ikut ke rumah sakit. Akhirnya pukul 2 dini hari keduanya baru tiba di rumah sakit. Meski harus melewati prosedur rumit dengan meminta izin pada penjaga dan beberapa pekerja rumah sakit, akhirnya Naren dan nanny diperbolehkan masuk. Itupun dengan pemeriksaan teliti.
Naren tidak tenang jika meninggalkan Valey terlalu lama, ia takut wanita itu kabur atau berbuat nekat seperti yang selama ini Valey lakukan.
Tidak! Belum saatnya wanita itu hilang, apalagi ada darah dagingnya yang kini bersemayam di rahim wanita itu, ia harus menjaganya sampai menemukan solusi yang terbaik.
Naren dan nanny masuk ke ruang perawatan Valey. Air mata nanny tak terbendung ketika mendekati brankar gadis malang itu. Kedua tangan Valey terikat pada besi ranjang, membuat siapapun iba melihatnya.
Kening Valey terdapat perban, juga sudut bibirnya lebam kebiruan. Benar-benar kasihan.
•
Pagi hari, Naren masih tertidur pulas di atas sofa. Sementara Valey dan nanny sudah berbicara tentang kejadian kemarin.
"Aku tidak mau bayi ini, Nanny. Aku tidak mau!" Valey menangis, tapi tak bisa berbuat apa-apa karena kedua tangannya masih terikat.
Nanny sendiri tidak berani melepas, karena sudah diberi peringatan oleh Naren.
"Non, jangan seperti itu. Bayi itu tidak bersalah. Yang salah adalah Tuan Naren, tapi bayi itu berhak hidup. Jika Non menggugurkannya, sama saja Non membunuh bayi yang tidak berdosa. Non bukan seorang pembunuh. Nanny tau, Non tidak akan tega membunuh." Nanny ikut meneteskan air mata melihat Valey terisak. Tangannya mengusap rambut Valey dengan lembut. Seperti seorang ibu yang tengah menguatkan putrinya.
"Aku bukan seorang pembunuh! Bukan!" Valey menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya, Nanny tau Non bukan seorang pembunuh, maka dari itu biarkan dia tetap berkembang di rahim Nona."
Hening. Hanya isak tangis Valey yang sesekali terdengar.
Apa yang dikatakan nanny benar, tapi ia masih belum sepenuhnya lapang menerima kehadiran janin itu.
"Hoek!" Tiba-tiba Valey diserang mual. Seperti pagi-pagi sebelumnya. Nanny sigap mencari kantong plastik untuk menampung muntahan Valey karena wanita itu tidak bisa pergi kemanapun.
Di saat itulah Naren terbangun. Pria itu mendekat dan membuka ikatan tangan Valey dengan berkata, "antar dia ke kamar mandi."
"Baik Tuan." Nanny membantu Valey turun dan memapahnya ke kamar mandi.
Seusai dari kamar mandi, Valey meminta untuk duduk di dekat jendela. Ia ingin menikmati hangatnya matahari pagi.
Naren membiarkan Valey melakukan itu, dan ia berganti ke kamar mandi. Namun, sebelum ia masuk ke kamar mandi, lebih dulu ia mengunci pintu agar Valey tidak kabur. Setakut itu Naren andai Valey kabur lagi.
"Nanny, tolong ambilkan minum!" ucap Valey.
"Oh ya, nanny ambilkan." Wanita berjalan menuju meja untuk mengambil botol air mineral, namun belum mencapai tempat yang dituju, ia mendengar jendela itu dibuka dan Valey tengah bersiap melompat dari ketinggian.
"Non!!!" Nanny berteriak kencang, hingga mengejutkan Naren yang sedang di kamar mandi.
"Nanny, lepas! Ku mohon lepaskan!"
"Jangan Non. Jangan!" Nanny menahan tubuh Valey dari belakang, dengan Valey yang terus meronta.
"Ada apa?!" Naren segera mendekat dan menutup jendela, lalu menguncinya.
"Lepas! Jangan halangi aku. Aku ingin mati saja. Aku ingin mati. Kenapa kamu tidak membiarkan aku mati, Naren! Aku ingin mati!"
Nanny sangat kewalahan menahan tubuh Valey, hingga Naren mengambil alih mendekap tubuh yang terus bergerak kasar itu.
"Tenang! Tenangkan dirimu, atau aku panggil dokter untuk menyuntikkan obat penenang lagi."
__ADS_1
Gerakan Valey mulai mengendor, lalu entah bagaimana seorang Naren sudah membalikkan tubuhnya dan kini memeluknya.
Isak Valey masih terdengar, namun secara perlahan tubuhnya melemas dan ia mulai tak sadarkan diri.
Naren segera menggendong tubuh Valey untuk dipindah ke atas brankar.
"Ya Tuhan, kasihan sekali Nona Valey sepertinya sangat tertekan," gumam nanny.
"Itulah kenapa aku menyuruh suster untuk mengikat kedua tangannya, agar dia tidak berbuat nekat," ujar Naren.
"Kasihan Nona, Tuan, dia pasti sangat tertekan."
Naren tidak menjawab dan memilih membenarkan ikatan tali di tangan Valey.
Siang hari, Valey baru terbangun. Mulutnya mendesis dengan tangan memijit-mijit pelipis.
Naren yang menyadari pergerakan Valey segera mematikan laptop dan mendekat.
Tak ada sepatah ucapan yang keluar dari mulut keduanya, hanya sekilas saling melirik. Namun Valey membuang muka.
"Makanlah bubur ini!" Tiba-tiba Naren sudah mengangkat mangkuk berisi bubur di depannya.
Valey mengernyit dan mencibir. Tak sudi makan dari tangan pria itu. "Aku tidak mau!"
"Jangan keras kepala atau aku suapi dengan cara paksa!"
"Dimana nanny?"
"Dia sedang berdoa."
"Aku menunggu nanny."
Valey semakin mengernyit. Tak percaya dengan apa yang didengar? Seorang Naren memperlakukannya dengan baik? Apa ia sedang bermimpi?
Naren tahu Valey sedang bingung dengan sikapnya, bahkan ia sendiri nampak asing dengan apa yang dilakukan. Namun, ia tak bisa membiarkan bayinya kelaparan. Bagaimanapun caranya Valey harus makan.
"Aku tidak peduli!"
"Turuti semua perkataanku dan jangan membangkang!"
"Sekarang cepat makan bubur ini!"
Valey membuang muka saat Naren menyuapinya.
"Jangan memaksaku berbuat kasar! Cepat buka mulutmu."
Namun Valey tetap bergeming.
Naren menaruh mangkuk ke atas meja, lalu dengan tangan kanan mencengkram dagu Valey dan tangan kirinya memaksa menyuapkan bubur.
Setelah Naren melepas cengkraman dagunya, Valey membuang muka. Di sudut matanya menitikkan dua bulir kristal bening.
Secara reflek Naren mengambil tissue dan menyusut sudut mata Valey. Gerakan impulsif itu menimbulkan rasa canggung.
Beruntung nanny sudah kembali, hingga Naren menyuruh nanny untuk menyuapi Valey.
__ADS_1
"Non makan dulu, nanny suapi," bujuk Nanny. Beruntung kali ini Valey menurut, hingga wanita itu menghabiskan setengah mangkuk bubur ayam.
"Sudah, aku sudah kenyang!" Valey menolak saat nanny akan menyuapinya. "Tolong ambilkan minum."
Nanny memberikan segelas air pada Valey dan di teguk lamgsung sampai licin tandas.
"Nona hebat, buburnya hanya tinggal sedikit." Nanny tersenyum senang.
Naren yang sedari tadi pura-pura sibuk di depan laptop sesekali mencuri pandang ke arah Valey. Dan entah tiba-tiba merasa lega mendengar nanny mengatakan jika Valey sudah menghabiskan setengah mangkuk bubur.
Sangat aneh, tapi ia sendiri tidak tahu dengan dirinya.
Di malam hari, nanny sudah tidur di ranjang rumah sakit yang kebetulan kosong. Sedangkan Naren hanya merebahkan diri di sofa namun masih terjaga.
"Tolong lepaskan ikatan ini."
Suara Valey mengejutkan Naren, hingga pria itu bangun dan mendekat.
"Jika aku melepaskan ikatan itu apa kamu bisa berjanji tidak akan melakukan hal berbahaya?"
Valey menanggapi ucapan Naren dengan tawa kecut. "Kenapa kamu berubah khawatir? Bukankah selama ini kamu selalu menyiksaku bahkan tidak peduli dengan keadaanku?!" balas Valey sarkas.
"Harusnya kamu senang aku nekat melakukan hal berbahaya. Bahkan aku mati sekalipun harusnya membuatmu puas!"
"Atau ... ohya, aku lupa. Kamu hanya mengkhawatirkan bayi ini."
"Iya aku mengkhawatirkan bayi itu. Dan aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Aku yang membuatnya ada, jadi aku akan bertanggung jawab."
Deg!
Kata-kata seolah lolos begitu saja. Naren pun nampak tak mempercayai ucapannya sendiri. Bertanggung jawab?! Pertanggung jawaban seperti apa yang akan ia lakukan?
Valey bersitatap dengan manik Naren. Tentu saja tak mempercayai ucapan pria itu.
"Bertanggung jawab?! Haha ...." Valey tergelak remeh. "Sebelumnya kamu menyiksaku, dan setelah tau ada bayi dalam perutku kamu mengatakan akan bertanggung jawab?! Apa aku bisa mempercayai ucapanmu?!"
"Terserah! Tapi aku akan tanggung jawab sampai bayi itu lahir."
•
Tiga hari istirahat total di rumah sakit, hari ini Valey sudah diperbolehkan pulang. Masih tetap ditemani nanny dan Naren fokus mengemudi mobil rental.
Sesampainya di rumah, Naren meminta nanny menjaga Valey sedangkan ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sebentar.
Hari ini Valey tak banyak bicara, bahkan terlihat kurang semangat dari hari kemarin.
"Nanny buatkan susu, ya, Non," tawar nanny.
Valey menggeleng. "Apa seperti ini perlakuannya terhadap wanita yang sedang mengandung bayinya?" gumam Valey.
Nanny mengurungkan niat untuk meninggalkan Valey di kamar. Wanita paruh baya itu duduk di pinggir ranjang.
"Maafkan Tuan Naren. Nanny paham Tuan Naren melakukan itu takut Anda melakukan hal yang tidak-tidak."
"Tapi sampai kapan Naren melepas ikatan tanganku?"
__ADS_1
"Sampai Anda mau berjanji tidak akan melakukan hal yang berbahaya."
"Huft ...." Valey menghela napas berat.