
Jika saja dia bisa menggerakkan kaki untuk berlari menjauh dari tempat itu, maka secepatnya dia akan berlari dan menghilang dari kehidupan Narendra. Sungguh, hatinya belum bisa mempercayai ucapan pria itu.
Dia mendengar sendiri obrolan Narendra bersama Shera kalau pria itu belum sepenuhnya memiliki perasaan kepadanya. Dan ucapan itu baru tadi pagi di dengar, lalu bagaimana malam ini dia bisa mempercayai pernyataan Narendra bahwa pria itu mencintainya.
Itu terlalu seperti lelucon. Apakah perasaan bisa berubah hanya dalam hitungan jam?
"Jangan bermain-main dengan menyebut nama Tuhan, Naren. Aku mendengar sendiri yang kamu bicarakan bersama Kak Shera."
Deg! Itukah alasan Valey tidak mempercayainya. Mungkin yang didengar Valey hanya setengah kalimatnya saja, tidak mendengar semuanya.
Pria yang masih berjongkok sampai kakinya terasa kebas itu menghela napas panjang. "Kamu hanya mendengar setengahnya saja, tidak mendengar keseluruhan obrolanku dengan Kak Shera."
"Aku bisa panggil Kak Shera untuk menjelaskan semuanya," sambungnya.
Acara lamaran yang dibayangkan indah justru berakhir dengan perdebatan dan kesalahpahaman Valey. Lagi-lagi Narendra hanya bisa menghela napas panjang.
"Kamu salah paham, Valey. Benar kata Narendra, apa yang kamu dengar tidak sepenuhnya seperti yang kamu pikirkan. Percayalah, Narendra memang mencintaimu."
Suara Shera membuat Narendra dan Valey terkejut. Karena wanita itu ditugaskan untuk menjaga Vandra di rumah. Entah bagaimana Shera tiba-tiba muncul di ikuti dengan nanny yang menggendong Vandra.
"Kak ...."
"Kakak yang akan menjamin cinta Narendra padamu. Kakak mohon, jawablah dengan perasaanmu."
Valey menunduk dan kembali mempertimbangkan apa yang dikatakan mereka.
"Demi Tuan Kecil, Nona. Terimalah lamaran Tuan Narendra," bisik nanny pelan.
Shera yang berdiri di dekat Narendra mengusap bahu adiknya untuk memberi kekuatan. Dia berusaha meyakinkan, kalau semua akan berakhir bahagia. Valey pasti merubah keputusannya.
Narendra sendiri sudah hampir tak memiliki harapan. Valey selalu keras kepala dengan keputusannya. Jika kali ini Valey juga keras kepala, maka dia harus menerima keputusan wanita itu.
"Tuhan, beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Beri aku kesempatan untuk membahagiakannya." Narendra berpasrah. Dia sudah menjelaskan, tapi tinggal Valey mempercayainya atau tidak.
Narendra memperhatikan wajah putranya yang tertidur di gendongan nanny. Dia sangat berharap Valey mau merubah keputusannya agar mereka bisa berkumpul sebagai keluarga kecil.
Dan beberapa menit terlihat berpikir, Valey melihat juga melihat wajah putranya sebentar. Lalu dia menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum kembali bersuara.
"Baiklah, aku terima lamaran mu, Naren."
__ADS_1
Deg!!!
Narendra yang menunduk seketika mendongak. Menatap Valey yang juga sedang menatapnya.
"Apa yang kamu katakan, Valey? Benarkah yang aku dengar barusan? Kamu menerima lamaran ku?" runtut nya tidak percaya.
Valey mengangguk dan menyunggingkan senyum terbaiknya. Dia memegang tangan Narendra untuk meminta pria itu memasangkan cincin ke jari manisnya.
"Pasangkan cincin itu ke jari ku," pinta Valey.
Beberapa saat terpaku, begitu sadar segera memakaikan cincin berlian ke jari manis Valey. Begitu sebaliknya, Valey juga memasangkan cincin yang satu lagi ke jemari Narendra.
"Yey ... akhirnya di terima. Selamat buat kalian," seru salah satu pengunjung yang antusias menyaksikan adegan menegangkan tadi. Meski sempat menegangkan, tapi pada akhirnya bahagia karena bersatu.
Narendra memeluk Valey. "Terima kasih, Valey. Terima kasih. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia."
Valey mengangguk dengan air mata haru.
Tepat momen indah itu tercipta, dari sudut taman restoran itu menyala lampu-lampu kecil yang membentuk sebuah tulisan. 'I Love you, Valey.'
Yang disiapkan oleh Narendra bersama pegawai restoran.
"Ante, jangan menikah dengan Om ini. Harusnya menikah dengan papaku." Seorang gadis kecil tiba-tiba mendekat dan menggenggam tangan Valey. Bola mata jernihnya dipenuhi air mata.
Valey terkejut melihat rupa gadis kecil itu.
"Saina ...."
Seorang pria mengejar langkah Saina dan berhenti di tengah-tengah mereka.
"Maafkan putri saya," ucapnya.
"Papa, Saina mau Ante Valey. Saina mau Ante Valey jadi mamaku." Gadis kecil itu merengek dan menangis, membuat semuanya bingung.
Tapi ada satu wanita yang tak berhenti menatap pria itu dan putrinya secara bergantian.
"Saina, ayo kita pergi, sayang. Jangan buat Papa malu. Kamu lihat sendiri Om itu sudah melamar Ante Valey, itu artinya Om itu juga yang akan menikah dengan Ante Valey." Ayah dari Saina berusaha menjelaskan, agar gadis kecil itu menghentikan keinginannya.
Semenjak Valey menghilang tanpa kabar, kesehatan Saina sempat drop dan harus di rawat dengan waktu lama. Karena menginginkan pengobatan terbaik untuk putrinya, pria bernama Morgan itu pindah ke ibu kota.
__ADS_1
Dan saat dia mengajak putrinya untuk makan malam di restoran itu, tak sengaja melihat seorang pria sedang melamar wanitanya. Namun begitu nama Valey disebut, Saina langsung histeris melihat keberadaan Valey.
Morgan sudah mencegah Saina agar tidak berlari ke arah mereka, tapi gadis kecil itu seolah tidak bisa dicegah.
"Ante, Saina mohon jangan menikah dengan Om ini. Ante menikah dengan papaku biar Ante jadi mamaku."
Saina terus menggumamkan kalimat itu, membuat Valey bingung harus bagaimana.
"Saina sayang, tidak harus menikah dengan papa Saina, Ante bisa kok jadi mama kamu."
Gadis kecil itu mulai menghentikan tangisannya. "Memang bisa begitu? Tapi kata Papa, kalau Saina mau punya mama, papa Morgan harus menikah dulu dengan Ante."
"Valey, apa ini?! Siapa mereka?!" Narendra menyela. Dia bertanya dengan nada kurang enak. Jelas bingung dengan kehadiran Saina dan Morgan.
"Naren, nanti aku jelaskan padamu," jawab Valey. Yang terpenting saat ini adalah membuat Saina tenang dan mengerti.
"Tapi ...."
"Narendra!" Shera menyahut. Menggelengkan kepala agar adiknya itu diam.
Suara Shera membuat seseorang menoleh cepat ke arah Shera. Pria itu terkejut dan membelalakkan mata. "Sherana ...."
Valey dan Narendra sama-sama melihat Morgan. Bagaimana pria itu memanggil nama Shera.
"Narendra, Kakak pulang dulu," ujar Shera yang bergerak tidak nyaman dan ingin segera pergi dari tempat itu.
"Sherana, tunggu!" panggilan Morgan tidak dihiraukan Shera sama sekali. Wanita itu justru mempercepat langkahnya.
"Sekian lama nya, kenapa harus di pertemukan lagi dengan dia," gumam Shera kacau.
"Sherana, berhenti!" Morgan menyekal tangan Shera dan menghentikan langkahnya.
"Maaf, kita tidak saling kenal. Dan tolong lepaskan pegangan tanganmu!" Desis Shera marah. Dia menyentak tangan Morgan, tapi tidak terlepas.
"Shera, aku ingin menjelaskan sesuatu yang membuat kita jauh."
"Itu sudah berlalu. Dan tidak penting!"
"Bagiku sangat penting, Shera. Karena perasaanku masih sama seperti dulu."
__ADS_1
"Berhenti, Morgan! Jangan katakan apapun. Aku membencimu! Sangat membencimu!" pekik Shera dengan napas memburu. Air mata yang menggenang siap tumpah jika dia mengedipkan mata.