Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Datang ke Markas Ziat


__ADS_3

Mendengar makian Narendra, Ziat justru tergelak dengan suara keras.


"Kamu sudah terlalu lama bersembunyi dan bermain-main dengan Uncle. Saatnya kalian menyerah," ucap Ziat dengan santai.


"Cuih! Sampai kapanpun aku tidak akan menyerah!" tegas Narendra.


"Uncle beri pilihan. Menyerah dengan suka rela atau memilih dengan paksaan?!"


"Kubuat pilihan itu tidak ada. Aku akan merebut kembali apa yang menjadi hakku. Dan kamu, takkan kubiarkan kamu bisa menghirup udara bebas. Ku pastikan sisa hidupmu membusuk dipenjara!" gertak Narendra. Meski dia belum tahu rencana untuk membebaskan Valey, setidaknya dia ingin menunjukan bahwa tidak gentar sedikitpun dengan ancaman Ziat.


"Oh, menakutkan sekali ... Ha ha ha ....?" gelak tawa Ziat membuat emosi Narendra meninggi.


"Sebelum sesumbar seperti itu harusnya kamu memikirkan dua nyawa yang aku tahan. Kalau kamu tidak menyerah, berarti siap kehilangan wanita itu juga bayimu!"


"Kalau kau berani melakukan itu, aku bersumpah akan mencari dan membunuhmu!" geram Narendra.


"Ku kirim sebuah alamat tapi kau harus datang bersama kakakmu. Dia harus mau menandatangani surat pengalihan harta warisan!" Setelah mengatakan itu, Ziat yang mengakhiri panggilannya.


Narendra mengusap wajah kasar dan menjambak rambut dengan kuat. Kenapa pria jahanam itu mengetahui persembunyiannya sebelum dia berhasil menyusun rencana.


Apalagi Ziat menyeret Valey dan calon bayinya untuk dijadikan tumbal. Padahal mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan permasalahan mereka.


Narendra memutuskan untuk pergi ke klinik, memberitahu Shera tentang penculikan Valey.


"Kak, Valey ditangkap pria bajingan itu!" Begitu sampai di klinik Narendra langsung mengatakan kepada Shera.


Wanita itu sangat terkejut. Centong sayur yang dipegang seketika terlepas begitu saja. Bola matanya melebar. Syok.


"Maksud kamu ... Shera di tangkap oleh Paman Ziat?" ulangnya memastikan.


"Iya."


"Ya Tuhan ... bagaimana bisa?! Ba-bagaimana Paman bisa menemukan persembunyian kita?" gumam Shera yang sudah meneteskan air mata.


Narendra tidak menjawab karena dia juga tidak tahu dari mana Ziat mengetahui tempat persembunyian mereka.


"Latisya!" pekik Shera. "Pasti gara-gara kekasihmu itu!" tuduhnya.


"Tidak mungkin, Kak! Tidak mungkin gara-gara Tisya." Narendra menyangkal.


"Narendra, berbulan-bulan kita tinggal disini dengan aman, tapi begitu Tisya datang, Paman Ziat langsung mengetahui persembunyian kita. Seperti itu apa kamu tidak curiga?" Shera memicing curiga, tapi adiknya tak bergeming.

__ADS_1


"Tidak mungkin, Kak. Tidak mungkin Tisya yang memberitahu Ziat. Kurasa hanya kebetulan saja mata-mata Ziat melihat salah satu dari kita dan akhirnya mengetahui tempat tinggal kita dimana." Pria yang dibutakan oleh cinta itu tetap menyangkal tuduhan Shera. Kekeh membela kekasihnya.


"Oke-oke, kita tidak usah membahas itu dulu. Untuk saat ini yang paling penting adalah bagaimana caranya kita bisa membebaskan Valey," ucap Shera. Nyawa Valey dalam bahaya, mereka harus mencari jalan keluar.


"Kindra! Aku akan meminta bantuan Kindra." Narendra mengambil ponselnya untuk menghubungi temannya. Dia yakin Kindra bisa menolongnya.


[Ya ....]


"Ki, gawat! Pria sialan itu mengetahui persembunyian ku dan menangkap wanitaku!" ujar Narendra terdengar sangat panik.


[Yang kamu maksud Tisya? Dia ditangkap dan dijadikan tawanan oleh Paman mu?] balas Kindra belum paham dengan maksud Narendra.


"Bukan. Tentang itu ceritanya panjang. Intinya ada orang ku yang tertangkap oleh pria sialan itu dan dia mengancam akan melenyapkannya kalau kak Shera tidak mau menandatangani pengalihan harta warisan."


[Orang mu siapa? Kenapa Paman mu menangkap orang itu? Apa dia ada hubungannya dengan masalah kalian?] Dari runtutan pertanyaan itu, Kindra sepertinya sangat penasaran dengan orang yang ditangkap Ziat.


Bukankah dari dulu umpan Ziat adalah Shera, satu-satunya kelemahan Narendra. Tapi, Shera baik-baik saja, lalu siapa yang Ziat tangkap untuk dijadikan sandera?


"Entah ada hubungannya atau tidak, yang jelas wanita yang tertangkap itu sedang mengandung anakku."


[Apa?!]


"Mereka sama pentingnya untukku, Ki. Aku harus menyelamatkannya."


"Dia sudah mengirim alamatnya, ku teruskan padamu dan kita bertemu di dekat lokasi saja."


[Ya, ide bagus!]



Narendra fokus melihat jalanan, dia mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Sedangkan Shera yang duduk di samping kursi kemudi tak henti mencemaskan keadaan Valey. Dalam hati tak henti berdoa untuk keselamatan Valey.


Sementara di tempat penyekapan Valey, wanita itu terus sedang menahan sakit di beberapa titik wajahnya akibat tamparan dan pukulan dari Ziat.


Dia seorang pria, tapi tidak segan menyakiti kaum wanita.


"Lepaskan aku! Sia-sia usaha kalian menangkap ku, Narendra tidak akan kemari!" teriak Valey.


"Dia pasti kemari!" sahut Ziat yang sedang duduk tak jauh dari tempat Valey. Dering ponsel membuat pria itu bangkit, sedikit menyingkir dari Valey.


"Ada apa? Dia sudah ada disini."

__ADS_1


"Kamu tenang saja, akan ku buat dia kesakitan."


"Kamu menginginkan wajahnya ku rusak?"


"Baiklah."


Samar-samar tapi Valey mendengar obrolan Ziat dengan entah siapa. Kalimat terakhir yang terdengar cukup membuat Valey gemetar takut.


Wajah siapa yang akan dirusak? Mungkinkah wajahnya? Tapi, siapa yang bersekongkol dengan Ziat, kenapa melibatkan dirinya.


Valey mulai merasakan perutnya kembali kram.


"Nak, jangan takut. Tuhan pasti nyata mengirimkan pertolongan untuk kita. Tolong bertahan sebentar. Ibu tau kamu kuat. Kita bertahan sama-sama," gumam Valey dengan rintikan gerimis dari sudut matanya.


"Tuhan, berikan pertolongan. Tolong kirimkan seseorang untuk membantuku. Tapi jangan sampai Naren yang datang. Aku takut terjadi sesuatu dengannya."


Sekitar tiga jam menempuh perjalanan, akhirnya Narendra dan Kindra bertemu di titik tak jauh dari tempat yang dikirim Ziat.


"Naren, kamu dan Kak Shera yang akan menemui Ziat. Sedangkan aku dan anak buah ku akan memantau dari jarak aman. Ada saat mereka lengah atau berani berbuat nekad, kita akan mengepung mereka." Kindra menyampaikan rencananya.


"Kakimu Ki?" Kaki Kindra masih dalam pemulihan, Narendra juga mengkhawatirkannya.


"Kaki ku tidak papa. Ayo, kita harus bergerak cepat!"


Narendra kembali masuk ke dalam mobil, lalu melanjutkan perjalanan menuju markas Ziat.


"Selamat datang keponakan tersayang." Ziat menyambut kedatangan Narendra dengan gelak tawa renyah. Bahkan sempat merentangkan kedua tangannya seolah ingin memeluk.


"Selamat bertemu, Shera. Kau keponakan tidak tahu terima kasih, sudah Paman tolong tapi kabur begitu saja." Ziat beralih pada Shera.


"Cuih! Bukannya kau yang tidak tau terima kasih, Nenek sudah melahirkan mu, tapi kau malah membunuhnya hanya demi harta. Menjijikan!" ucap Shera.


"Bukan hanya karna harta, tapi karna mereka tidak adil!" Ziat berubah memerah, murka.


"Menjijikan!" gumam Shera.


"Dimana Valey?" tanyanya.


"Dia aman di sebuah ruangan."


"Cepat beritahu kami!" sahut Narendra.

__ADS_1


"Jika kakakmu sudah menandatangani suratnya, maka wanita itu akan aku bebaskan," ujar Ziat.


__ADS_2