Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Kaevandra Zavver Dierick.


__ADS_3

Lima bulan telah berlalu. Dalam sekejap itu semua kembali seperti awal. Hak waris keluarga Narendra sudah kembali.


Notaris sudah mengesahkan Narendra sebagai CEO setelah dewan direksi dan pemegang saham mengadakan rapat. Para petinggi itu setuju bila CEO AnC Grup digantikan oleh Narendra.


Sementara jabatan Shera beralih menjadi direktur utama.


Narendra dan Shera sudah kembali ke rumah lama mereka. Istana megah yang menyimpan sejuta kenangan indah tentang keluarga.


Namun kembalinya mereka ke istana megah dengan diiringi makhluk kecil yang diberi nama Kaevandra Zavver Rick.


Nama indah itu pemberian Narendra sendiri. Karena naasnya sampai detik ini sang ibu masih dalam keadaan sama.


Satu minggu yang lalu Narendra memindahkan Valey ke rumah sakit besar dengan alat medis lebih canggih. Hal itu dilakukan agar Valey segera terbangun. Apapun diupayakan untuk kesembuhan Valey.


Namun, hingga detik itu Tuhan masih belum mentakdirkan Valey sadar.


Setiap pulang dari kantor, Narendra selalu menyempatkan diri untuk menjenguk Valey di rumah sakit. Meski keadaan Valey belum berubah akan tetapi dia tidak bosan untuk sekedar duduk dan berbicara walau tanpa respon sama sekali.


"Hari ini tepat seratus lima puluh hari, apa kamu tidak bosan tidur terus," gumam Narendra sambil meniti wajah Valey yang sangat pucat. Pun, terlihat lebih kurus dari sebelum Valey koma.


"Vandra sudah pintar merespon suara dan sangat aktif. Apa kamu tidak ingin bangun dan melihat anak kita?" Dia menghela napas lelah. Beberapa bulan terakhir rutinitasnya berbicara di depan orang tidur. Tapi dia yakin, Valey pasti mendengar suaranya.


Kaevandra Zavver Dierick yang dipanggil Vandra, bayi yang dikandung Valey kini sudah berumur lima bulan.


Bayi itu memiliki rupa perpaduan Narendra dan Valey. Sangat tampan dan menggemaskan.


Jika di kantor tidak terlalu sibuk, Shera memilih menemani Vandra di rumah. Bersama nanny bergantian menjaga makhluk mungil yang mulai pintar dan menggemaskan.


"Baiklah, hari ini kamu belum bangun. Tapi aku tidak akan lelah menunggu matamu terbuka. Aku harus pulang, Vandra pasti menunggu kepulanganku."


Sore itu Narendra harus puas berbicara di saksikan angin saja, lagi-lagi tanpa respon Valey. Karena wanita itu masih saja terpejam.


Sampai di rumah, Narendra langsung menuju kamar putra tersayangnya.


"Sore, kesayangan papa." Narendra menghampiri putranya yang sedang dipakaikan baju oleh nanny.

__ADS_1


Nanny tersenyum hangat melihat raut bahagia terpancar dari pria yang dianggapnya sebagai keluarga itu.


Senyum Narendra dan Shera sudah kembali seperti dulu. Apalagi dengan kehadiran Vandra, membuat suasana rumah itu semakin hangat.


"Hari ini tuan kecil pintar sekali, Tuan, juga sangat aktif," sela nanny bercerita.


Narendra mengangguk dan meraih tubuh Vandra kecil untuk digendong. Dalam gendongan itu dia tak henti memberi kecupan pada Vandra sampai anak kecil itu merengek karena geli. Tapi Narendra tetap menciumi dengan gemas.


"Pintar sekali anak papa ini," ucap Narendra dengan senyum mengembang. Serasa penat seharian ini menguap begitu saja saat mengunjungi Valey dan bisa bermain dengan putra kecilnya.


"Tuan," panggil Nanny.


Narendra yang asik dengan Vandra lekas menoleh pada nanny. Wajahnya mengekspresikan rasa penasaran.


"Apa Non Valey belum ada tanda-tanda akan sadar?" tanya nanny dengan hati-hati. Sangat takut menyinggung dan membuat Narendra kembali bersedih.


"Dia masih saja betah tertidur, Nanny," jawab Narendra lemas.


Nanny yang sudah diberi tugas untuk mengasuh Vandra jarang memiliki waktu untuk menjenguk Valey. Hingga belum tahu keadaan Valey apakah sudah mengalami perubahan atau masih sama.


Narendra mengangguk lalu kembali bermain dengan Vandra. Nanny meminta izin ke dapur membuat susu untuk Vandra.


Netra Narendra tak sengaja melihat kaleng bekas biskuit menyembul dari dalam selimut, membuatnya menyipit.


Bekas kue itu seketika mengingatkannya kepada se seorang. Dulu, Valey menyimpan tabungan persis di dalam kaleng bekas biskuit seperti itu. Membuat kenangannya tertuju pada wanita yang tengah koma.


Narendra tergerak untuk meraih kaleng itu dan dibukanya. Dia sangat terkejut, rupanya memang benar itu bentuk tabungan milik Valey. Dia terdiam dengan pandangan mengawang. Mengingatkannya diwaktu susah, perjuangan Valey begitu gigih.


Bahkan berkat kerja keras Valey, saat ini usaha di kantin sudah mengalami kenaikan lebih pesat. Meski mereka sudah pindah, tapi ada orang kepercayaan yang mengembangkan usaha milik Valey.



Di tengah malam, kelopak mata yang sudah terpejam selama lima bulan itu mulai bergerak-gerak meski lemah.


Tak selang berapa lama, mulai terbuka dan mengerjap pelan hingga beberapa kali. Menyesuaikan cahaya ruangan.

__ADS_1


Valey hanya bisa berkedip-kedip sambil mengamati ruangan serba putih itu. Bau obat-obatan begitu menyengat, membuatnya terasa berdenyut. Apalagi bunyi detak jantungnya sendiri membuat kepalanya semakin nyut-nyutan.


"Aku dimana?" gumamnya. Tapi ketika melirik tiang infus, dia baru mengerti jika berada di rumah sakit.


Pandangan matanya mengitari ruangan, akan tetapi tidak menemukan siapapun. Ternyata dia hanya sendiri tanpa ada yang menunggui. Padahal anak buah Narendra sedang menjaga di depan pintu.


Mungkin juga karena tengah malam, hingga suster yang menjaga memilih bergabung dengan petugas lain.


Valey menenggak air liur susah payah. Kerongkongannya terasa amat kering, tapi tubuhnya terlalu lemas untuk bangun. Bahkan sebagian terasa kebas.


Ketika melihat ke arah perut, dia mengernyit bingung. Bukankah dia sedang hamil sembilan bulan, tapi kenapa perutnya datar?


Berbagai pertanyaan langsung muncul. Apakah dia sudah melahirkan? Dimanakah bayinya? Berapa lama dia terbaring disana, hingga melupakan beberapa kejadian penting.


"Naren ...," gumamnya lirih. Dia ingin melihat Narendra dan bertanya beberapa hal. Tapi ketika dia memaksa untuk bangun, justru badannya terasa sakit dan sebagiannya kebas.


Dia berusaha kembali terpejam, semakin lama kepalanya semakin sakit. Dia akan menunggu besok pagi saja.


Sementara di rumah Narendra kembali.


Pria memakai pakaian tidur itu terbangun tiba-tiba hanya karena sebuah mimpi. Dia bermimpi didatangi Valey dengan pakaian hitam yang sangat elegan. Valey tersenyum senang ke arahnya.


Dalam mimpi itu Valey tidak mengucap apapun, saat dia ingin meraih tangan Valey, justru wanita itu menjadi bumbungan asap dan perlahan memudar.


"Valey!" Dia terbangun setelah berteriak memanggil nama Valey.


Saat sudah menyender di kepala ranjang, rupanya kejadian barusan cuma mimpi.


"Kenapa aku memimpikan dia? Apa arti ini ada artinya?" gumamnya. Dia turun dari ranjang lalu menuju kamar Shera.


"Kak, barusan aku bermimpi bertemu Valey. Apa Kakak tau arti mimpi itu?"


Shera menggeleng. "Mungkin Valey akan segera bangun," ujar Shera.


"Benarkah?" Narendra terkejut.

__ADS_1


"Besok pagi kita ke rumah sakit untuk melihat keadaan Valey.,"


__ADS_2