Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Selamat Datang Kembali Valey


__ADS_3

Setelah Shera keluar dari ruangan Valey, berganti Narendra yang masuk dengan Vandra yang tertidur di gendongannya.


"Naren ...."


"Jangan pergi, Valey. Aku mengingkari janjiku, aku tidak ingin membebaskan mu," ucap Narendra tiba-tiba.


"Naren ...."


"Apapun yang ingin kamu katakan, aku tetap tidak ingin membebaskan mu. Tetaplah bersama kami, Valey. Jika bukan karna aku, setidaknya demi Vandra." Narendra melirik Vandra yang terlelap dalam dekapannya. Berharap Valey mau mengurungkan niatnya.


Valey menunduk dan terlihat menghela napas. "Selama ini kebebasan adalah yang aku inginkan. Jangan mengingkari janjimu. Keadaanku sekarang seperti ini, aku pasti merepotkan kamu, Kak Shera dan Nanny. Dengan keadaanku seperti inipun aku tidak bisa menjaga Vandra dengan baik."


"Karena keadaanmu seperti itulah yang membuatku ingin menjagamu. Dengan begitu mungkin saja aku bisa menebus kesalahanku," ujar Narendra.


Valey terdiam cukup lama. Menimang antara dua suara yang sedang membisikinya. Ingin bebas atau tetap tinggal bersama mereka. Jika dulu Narendra sudah mempunyai kekasih yang membuatnya bertekad harus lepas dari pria itu.


Namun sekarang Latisya di penjara dan Narendra sudah memutus hubungan dengan wanita itu, jadi tak ada masalah jika dia tak menjaga perasaanya. Andai mereka terlibat perasaan, tak ada hati yang harus dijaga.


"Jangan terus menerus merasa bersalah, Naren. Aku sudah memaafkanmu."


"Kamu wanita baik, Valey, aku tau kamu memaafkan ku. Tapi hatiku sendiri yang menyadari perbuatan buruk ku."


Narendra menatap penuh permohonan, sementara Valey mengalihkan pandangan karena tega melihatnya.



Satu minggu berlalu. Dua mobil MPV memasuki gerbang istana Narendra. Para pelayan berjajar di depan pintu untuk menyambut majikan mereka.


Si sopir lebih dulu keluar untuk mengambil kursi roda yang disimpan di bagian belakang mobil.


Sementara seorang pria berpakaian rapi membuka pintu samping dan menggendong seorang wanita untuk di dudukkan di kursi roda, namun begitu kursi roda sudah disiapkan. Pria itu justru melewatinya.


"Naren, kursi rodanya ...," ucap Valey mengingatkan Narendra agar dirinya di dudukan di sana.


"Aku sanggup membawamu sampai ke kamar," ucap Narendra dengan tersenyum tipis. Dia tetap melangkah, membawa masuk Valey ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Naren! Banyak orang, aku malu." Valey ingin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu, akan tetapi apa yang dilakukannya pasti jauh lebih memalukan. Mau bagaimana lagi, dia hanya bisa berpasrah.


Kedua kalinya dia datang ke rumah megah itu, namun dalam keadaan berbanding terbalik. Jika kedatangannya dulu menimbulkan kesalahpahaman, tapi kini kedatangannya seperti sangat diharapkan.


Narendra membawa Valey ke kamar yang sudah disiapkan. Dia mendudukkannya di atas ranjang.


Dan ternyata Shera juga nanny mengikuti mereka sampai ke dalam kamar itu.


"Selamat datang kembali di rumah ini, Valey. Semoga kali ini kamu betah. Sekarang ada Kakak yang mengawasi kalian, kalau Narendra berbuat menyakitimu lagi, laporkan pada Kakak. Biar Kakak yang akan memberinya pelajaran," ujar Shera sambil melirik Narendra yang saat itu sedang menatap jengah ke arahnya.


"Siap, Kakak, Bos," jawab Valey singkat namun berhasil membuat mereka tertawa.


"Ibu mu bisa melucu juga Vandra," imbuh Shera dengan tertawa.


"Selamat datang, ya, Non. Semoga keberadaan Non Valey kali ini hanya ada kebahagiaan," ucap nanny yang membuat mata Valey justru berkaca-kaca. Hanya nanny yang tahu bagaimana kedatangannya dulu.


Dan semoga saja doa nanny dikabulkan oleh Tuhan. Tak ada lagi kesakitan dan hanya akan ada kebahagiaan.


Vandra yang di gendong Shera menangis dan mengulurkan kedua tangan ke arah ayahnya. Dengan sigap Narendra meraih tubuh putranya.


"Dari dalam perut aku selalu mengatakan kalau dia adalah anakmu. Dan sekarang, semua itu sungguh terjadi," gumam Valey dengan mencebik. Akan tetapi malah membuat Narendra tertawa.


"Kalau begitu mulai sekarang sering-seringlah mengatakan kalau dia anakmu, biar Vandra bisa dekat denganmu." Pria itu mengambil duduk di samping Valey, mencoba mendekatkan ibu dan anak itu.


"Itu mama ... sayang. Vandra harus dekat juga dengan mama." Narendra membimbing tangan putranya untuk meraih tangan Valey. Dengan senang hati wanita itu juga menjangkaunya.


"Aduh-aduh Nanny, keberadaan kita seperti obat nyamuk. Ayo kita keluar saja, nanny," ucap Shera. Nanny hanya tersenyum mendengarnya.


"Bukan begitu, Kak ...." Valey ingin menyanggah, tapi keburu Shera dan nanny berjalan menuju pintu keluar.


"Kalau sudah begitu, dunia seperti milik kalian berdua," gumam Shera yang masih bisa tertangkap telinga Valey.


Setelah pintu tertutup, Valey melirik pria di sampingnya. "Kamu gak malu?"


"Kenapa malu? Kak Shera biasa begitu. Cuek saja." Narendra tampak santai. Merubah posisi menjadi rebahan di samping Valey namun masih dengan menjaga putra nya.

__ADS_1


"Kamu bisa cuek. Aku tetap malu."


"Vandra-Vandra ...." Narendra tidak lagi menggubris keluhan Valey. Dia mengajak putranya bermain. Menggelitiki perut Vandra sampai punyanya itu menggeliat kegelian.


Vandra yang baru bisa tertawa sambil memukuli wajah ayahnya.


"Adoy-doy ... ganas juga tanganmu. Papa sendiri di pukulin sampek di jambak begitu," gerutu Narendra yang langsung menghindar saat cengkraman tangan Vandra terlepas dari rambutnya.


Valey hanya tertawa menyaksikan itu. Sungguh, kebersamaanya mereka seperti keluarga harmonis yang penuh kehangatan. Laiknya keluarga bahagia, namun nyatanya mereka hanyalah dua orang asing yang tinggal satu atap tanpa adanya hubungan yang jelas.


Valey tak ingin membayangkan hal yang lebih. Hanya ingin menjalani seperti air mengalir dan menyerahkan jalan takdirnya kepada Tuhan.



Malam hari, Narendra kembali masuk ke kamar Valey untuk mengajaknya makan malam.


"Kak Shera udah nunggu di bawah," ujarnya.


Valey menjangkau kursi roda yang ada di samping tempat tidur, tapi di tepis oleh Narendra.


"Kalau ada aku, tidak perlu gunakan kursi roda. Aku siap membawamu ke mana pun."


"Naren, aku bukan anak kecil. Badanku juga berat," ucap Valey.


"Lebih berat hatimu yang harus menerima keadaan mu seperti ini. Biarkan aku berguna untukmu, Valey." Sorot mata Narendra sangat serius. Namun hal itu benar-benar tidak terbiasa bagi Valey.


"Kamu ingin berguna untukku tapi aku tidak ingin merepotkan mu."


Narendra menghela napas. Baru menyadari jika Valey sedikit keras kepala. Jika diladeni maka akan berujung perdebatan. Dia memilih langsung menggendong tubuh Valey.


Selesai makan bersama dan mengobrol hangat di depan ruang keluarga, Valey kembali ke kamar dengan Narendra yang masih setia menjadi kursi roda hidup untuk Valey.


Setelah Valey duduk di atas ranjang, dia menyelimuti sampai sebatas pinggang.


"Selamat malam," bisiknya.

__ADS_1


"Selamat malam juga, Naren. Terima kasih," balas Valey. Dia terkejut tiba-tiba Narendra mengecup keningnya.


__ADS_2