
Sepulang berjualan, Valey merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Tangan lembutnya mengelus perut sambil bergumam, "kamu hebat, Nak, meski ibu bekerja keras seharian, tapi kamu tidak rewel. Jangan nakal sampai nanti waktunya kamu lahir ya sayang." Dia tersenyum sendiri.
Saat pertama kali merasakan pergerakan janinnya, Valey merasa takjub dan bahagia. Pengalaman baru yang tidak pernah terbayangkan sama sekali. Menghadirkan perasaan hangat dan bertekad untuk selalu menjaga bayi itu sampai lahir.
Dua bulan lagi waktunya persalinan, dia teringat kotak tabungan dari hasil penjualannya beberapa bulan ini. Selama ini dia jarang menghitung, hanya disimpannya saja.
Valey bangun dan mengambil kotak tabungan yang disimpannya dalam lemari dekat tempat tidur. Ketika menghitung jumlahnya, dia sendiri terkejut. Ternyata jumlahnya lumayan banyak.
"Puji Tuhan. Terima kasih," ucapnya. Dia tidak menyangka, hasil kerja kerasnya bersama nanny membuahkan tabungan sebanyak itu. Kini sudah tidak khawatir lagi dengan biaya persalinan. Semua sudah aman bahkan ditafsirkan masih ada sisa. Tidak perlu membebankan pada Narendra.
Wanita itu teringat dengan percakapannya dengan nanny tentang sewa kantin. Jika dia bisa menyewa dua tempat sekaligus, tentu hasilnya akan bertambah kali lipat.
Valey menyimpan kembali kotak tabungannya dan mencari keberadaan nanny. Di depan pintu dia bertemu Shera.
"Kakak tau dimana nanny?"
"Sepertinya tadi sedang di dapur."
"Makasih, Kak, aku kesana dulu."
"Valey!" panggil Shera.
Wanita itu terhenti. "Ya, Kak?"
"Kapan jadwal periksa lagi? Besok Kakak ikut ya," kata Shera.
"Kamis minggu depan, Kak. Iya."
Bulan lalu Shera tidak ikut karena kurang enak badan. Dan dikesempatan bulan ini dia tidak mau ketinggalan untuk melihat perkembangan calon keponakannya.
Valey melanjutkan langkah untuk menemui nanny. Dia mengutarakan pendapatnya untuk menambah lokasi berjualan, dan ternyata nanny menyetujuinya.
"Tapi Non, bagaimana dengan uang sewanya?"
"Hampir cukup. Nanti sisanya kita cicil saja kalau boleh."
Nanny mengangguk.
Satu minggu setelahnya, Valey dan nanny mulai menyewa dua tempat untuk berjualan. Sangat repot, tentu saja. Tapi ketika menghitung hasilnya, mereka berdua sangat senang. Bahkan semakin bersemangat.
Minggu ini jadwal Valey memeriksakan kandungan. Narendra dan Shera sudah siap menuju rumah sakit untuk menyusul Valey.
Begitu sampai di kantin, Shera menghentikan langkah adiknya.
"Lihatlah, Valey sangat bekerja keras tanpa mengenal lelah dan tidak sekalipun mengeluh. Kakak kagum dengannya," ujar Shera.
__ADS_1
"Dia wanita luar biasa, Narendra. Bahkan Latisya belum tentu sehebat dia," imbuhnya.
"Kenapa Kakak membandingkan kekasihku dengan Valey? Mereka memang berbeda," sahut Narendra.
"Ya, mereka berbeda. Dan dari perbedaan itu harusnya kamu sadar, siapa yang harus kamu pilih dan siapa yang harus kamu lepaskan!"
Semakin hari, Shera semakin mendukung Valey untuk menjadi iparnya. Meski dia sudah mengenal Latisya, tapi tidak begitu suka karena kekasih adiknya itu terlalu materialistis.
"Aku tetap mencintai Latisya, Kak."
"Kamu sangat bodoh, Narendra!" Shera membuang napas kasar dan meninggalkan Narendra.
Pemeriksaan kali ini Valey mendapat nasihat dari dokter, karena tekanan darah berkurang juga hb (Hemoglobin) nya sangat rendah.
Dokter menyarankan agar Valey tidak banyak aktifitas. Juga menormalkan pikiran atau jangan banyak beban pikiran.
Semua itu dapat mempengaruhi janin dan persalinan nanti.
"Ingat pesan dokter, Valey. Harusnya dari sekarang kamu sudah banyak istirahat. Jangan berjualan lagi," tutur Shera begitu mereka kembali ke kantin rumah sakit.
"Tapi Kak, pembeli sangat ramai, tidak mungkin nanny berjualan sendirian." Valey fokus melihat beberapa pembeli yang antri di depan kantinnya. Terlihat jelas jika nanny sangat kewalahan.
"Kita cari orang untuk menggantikanmu. Jadi, kamu hanya perlu duduk mengawasi tanpa harus melayani pembeli."
"Kakak tidak mau terjadi sesuatu denganmu dan calon keponakanku. Makanya kamu harus berhati-hati."
"Hem."
Narendra bergabung dengan mereka setelah tadi sibuk menerima telepon. Pria itu mendekati Shera dan berbisik pelan. "Latisya pulang. Aku akan menemuinya."
"Apa?!" Shera sangat terkejut.
"Kita pulang sekarang karna aku harus segera pergi," ucap Narendra.
"Narendra, Kakak berharap pertemuanmu kali ini bisa memberimu petunjuk. Mana yang harus kamu pilih dan mana yang harus kamu buang."
Narendra tidak menjawab dan justru melangkah menjauh.
"Apa yang harus dipilih dan buang Naren, Kak?" Valey bertanya karena tidak mengerti sama sekali dengan ucapan Shera.
"Tidak! Bukan apa-apa, Valey. Kakak bantu nanny beres-beres dulu. Setelah itu kita pulang.
Valey mengangguk meski sangat penasaran. Tapi dia benar-benar tidak mengerti maksud perkataan wanita itu.
•
__ADS_1
Meski menempuh perjalanan jauh, Narendra tetap pergi untuk menemui Latisya. Dia sangat terkejut saat kekasihnya itu memberitahu sudah ada di Jakarta.
Padahal beberapa waktu lalu, Latisya mengatakan sedang di Negara X dan akan pulang beberapa bulan ke depan.
Tapi ya sudah, dia tidak mempermasalahkan hal itu. Dan justru sangat senang karena sebentar lagi bisa bertemu dan bertukar rindu.
Di cafe langganan mereka sebelumnya, Narendra nampak celingak-celinguk mencari kekasihnya. Dia mengabsen satu per satu pengunjung dan akhirnya menemukan wanita yang tengah melambaikan tangan kearahnya.
"Sayang ...." Wanita berpakaian modis itu langsung memeluk tubuh Narendra. "I miss you."
Narendra tersenyum bahagia. "Aku lebih merindukanmu. Ini kejutan luar biasa. Tiba-tiba kamu pulang tanpa memberitahuku."
"Aku sengaja. Hi hi ...." Latisya cekikikan. Wajah wanita itupun tak kalah bahagia.
Setelah puas berpelukan, keduanya duduk bersebelahan dengan tangan saling menggenggam.
"Aku turut berduka untuk semua masalah yang terjadi di keluargamu," ucap Latisya mengawali pembicaraan serius.
Narendra mengangguk lalu tersenyum singkat.
"Kamu tau, aku kemarin lupa dan malah datang ke rumah lamamu. Dan, yah ... tentu tidak menemukan siapapun," ujar wanita berambut sebahu itu.
Dia menatap Narendra dengan kening berkerut. "Kamu yakin, dalang dibalik semuanya adalah uncle Ziat? Narendra, aku sama sekali tidak percaya."
"Aku sudah melihat semua bukti kejahatannya, tapi sayang, pria keparat itu menggunakan cara licik untuk mencurinya dariku. Jadi, aku tidak bisa memenjarakannya. Tapi lihat saja, tidak lama lagi aku dan Kindra akan menyerangnya."
"Lalu sekarang kamu tinggal dimana?"
"Di suatu desa terpencil."
"Dimana tempatnya? Aku ingin mengunjungimu."
"Nanti saja kuberi tau. Kak Shera melarangku."
Latisya menghela napas dengan wajahnya ditekuk kecewa. "Janji ya, kamu akan memberitau ku. Aku disini tidak lama. Hanya satu minggu."
Narendra mengangguk. Setelah menghabiskan makanan yang dipesan, mereka berdua menuju hotel.
Baru saja Narendra dan Latisya masuk ke hotel, tiba-tiba ponsel Narendra berdering. Tertera nama Valey yang menghubungi.
Karena tidak ingin ada yang mengganggu kesenangannya bersama sang kekasih, Narendra menolak panggilan hingga berkali-kali. Bahkan mematikan daya ponselnya ketika Latisya mulai curiga dengan si penelpon.
"Siapa? Dari tadi nelpon terus. Angkat saja, siapa tau penting."
"Bukan siapa-siapa, tidak penting sama sekali."
__ADS_1