Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Indah dan Sakit yang Bersamaan


__ADS_3

Meski takut, tapi dengan sedikit paksaan dari Narendra akhirnya Valey ikut mengantri menaiki wahana yang paling tinggi diantara lainnya.


Begitu pintu ditutup rapat oleh petugas yang menjaga wahana permainan, jantung Valey mulai berdebar. Perlahan biang lala itu naik ke puncak, membuat Valey memejamkan mata sambil merapal doa.


Berbeda dengan Narendra yang sudah sering menaiki wahana ekstrim, baginya menaiki biang lala sangat indah untuk menikmati kota dari ketinggian.


"Sebelumnya apa kamu pernah menaiki wahana seperti ini?" Narendra bertanya tapi tidak melihat ke arah Valey. Padahal wanita itu tengah memejamkan mata dengan berpegangan erat pada pinggiran kerangka besi karena rasa takut.


Saat tidak mendapati jawaban, barulah Narendra menoleh dan melihat Valey terpejam sambil menggigit ujung bibir ranum yang terpoles lipstik peach. Membuat darahnya berdesir.


Beberapa lama Narendra terfokus, dia merasa semakin lama wajah Valey semakin membuatnya mempesona. Kecantikan yang dimiliki Valey sangat natural.


Tanpa sadar tangannya terangkat untuk menyingkirkan anak rambut yang menjuntai di pelipis Valey.


Valey merasakan ada yang menyentuh keningnya, lalu dia membuka satu kelopak mata dan bertanya, "A-ada apa?"


"Poni mu berantakan, aku cuma bantu membetulkan," sahut Narendra gugup. Karena dia benar-benar tidak sadar dengan gerakan impulsifnya.


"Oh." Mulut Valey membulat, setelahnya memejamkan mata kembali. Tidak ingin melihat pemandangan sekitar dari atas ketinggian.


"Kamu takut dengan ketinggian?" Kaget Narendra begitu menatap lekat Valey yang sama sekali tidak membuka mata.


"Hem, aku sangat takut," jawab Valey dengan nada bergetar.


"Kenapa tadi gak bilang?"


"Aku takut kamu marah kalau aku tidak naik."


Narendra membuang napas panjang. Beberapa akhir ini dia sudah bersikap baik pada Valey, apa gadis itu ternyata masih takut padanya.


"Harusnya kamu bilang dari awal kalau memang takut. Aku tidak mungkin memaksamu," ujar Narendra.


"Biang lalanya sudah terlanjur berputar, tidak mungkin berhenti ditengah jalan. Kemarikan tanganmu." Narendra sudah menggenggam tangan Valey. Bahkan dia bisa merasakan tangan wanita itu sedingin es.


"Tarik napas dan buang perlahan, lakukan berkali-kali sampai kamu tenang. Itu bisa mengurangi keteganganmu."


Valey menuruti yang diperintah oleh Narendra. Memang efektif membuatnya sedikit tenang, namun ketika dia membuka mata, tepat saat biang lala berada dibagian paling puncak dan membuatnya ketakutan.


Dengan gerakan tiba-tiba dia menarik jaket Narendra dan membenamkan wajahnya di dada pria itu.

__ADS_1


"Aku takut! Aku takut!" teriaknya ketakutan.


Narendra mematung, deru napas Valey mampu menembus kulitnya yang hanya terbungkus kaos tipis. Membuat jantungnya berdebar.


Harum manis parfum Valey mampu merusak pikiran jernihnya. Membumbung membayangkan sebuah kenikmatan antara dua sejoli yang beberapa bulan ini jarang dia realisasikan. Dasar sialan! Yang dibawah sana mulai bereaksi.


"Aku ingin keluar, kenapa lama sekali!"


Ucapan Valey membuyarkan pikiran kotor Narendra. Meski canggung, pria itu memaksakan diri memeluk bahu Valey. Wanita itu sangat ketakutan, dia ingin menenangkan.


"Tiga putaran lagi kita akan keluar," ucapnya. Embusan napas kasar dari mulut Valey sangat terasa, membuat pikirannya kembali menjurus ke hal tabu. Sekuat tenaga Narendra menahan gejolak.


"Lama sekali," gumam Valey. Jantungnya kian berdebar tak karuan. Bukan karena biang lala yang masih beroperasi, melainkan karena dekapan Narendra membuatnya nyaman sekaligus sangat gugup.


"Lakukan terus seperti yang aku bilang tadi. Tarik napas dan buang perlahan. Hilangkan ketakutanmu dan bayangkan sekarang kamu sedang berada di tempat yang indah," tutur Narendra.


Valey menelan ludah. Kenapa ucapan Narendra seperti seseorang yang sedang menenangkan kekasihnya. Konyol.


Tapi tak dipungkiri, pelukan Narendra terasa hangat dan nyaman. Ssperti pelukan sang ibu yang tidak pernah dia rasakan lagi semenjak ibunya meninggal.


"Tidak ada tempat indah yang pernah ku datangi. Tapi tempat paling nyaman adalah rumahku saat keluargaku masih utuh."


Narendra mendadak miris mendengar kata keluarga. Membayangkan keluarganya yang satu per satu telah pergi dengan cara tragis.


Valey memberanikan diri mendongak karena suara Narendra terdengar berbeda. Ternyata pria itu sedang menyusut sudut matanya.


"Maaf membuatmu teringat dengan kedua orang tuamu," bisik Valey.


Narendra menurunkan pandangan hingga tatapan mereka saling bertemu. Sendu. Semakin lekat memindai setiap inci wajah Valey. Entah dorongan apa yang membuatnya mengikis jarak hingga embus napas mereka saling bersinanggungan.


Tubuh Valey seperti tersengat aliran listrik saat bibir Narendra menempel pada bibirnya. Dia pun seperti terhipnotis hingga tak kuasa menolak atau memberontak.


Keduanya tersadar saat penjaga wahana itu berteriak. "Waktunya habis!"


Valey segera menjauhkan diri dari Narendra dan bergerak cepat untuk turun. Tidak menggubris Narendra yang mengatakan agar dirinya turun dengan hati-hati.


Narendra tersenyum tipis dan segera mengejar langkah Valey sebelum gadis itu hilang dikerumunan orang-orang.


"Jangan jauh-jauh dariku, akan sulit menemukanmu kalau kita terpisah."

__ADS_1


Valey tidak menjawab, wajahnya menunduk dengan jemari tangan saling meremas. Bahkan degup jantungnya masih bertalu-talu mengingat ciuman singkat yang sama sekali tidak terbayangkan.


Pipinya merona malu, dan hal itu tidak luput dari pandangan Narendra.


'Dia tersipu dengan tindakan biasa tadi. Benar-benar polos,' batin Narendra.


"Kamu mau yang mana lagi?" tawar Narendra.


"Terserah," jawab Valey masih membuang muka. Tidak berani bertatap langsung dengan pria jangkung di depannya.


"Atau mau makan bakso? Itu kesukaanmu, kan?"


Valey mengangguk cepat agar Narendra tidak terus-terusan menatapnya.


Mereka berkeliling untuk mencari tenda bakso. Ketika itu tangan mereka tetap saling bergandengan.


Satu langkah di belakang Narendra, Valey tersenyum-senyum sendiri.


"Kamu pesan saja baksonya, aku terima telepon sebentar. Jangan kemana-mana!" pesan Narendra. Dia menyuruh Valey masuk ke dalam tenda, sedangkan dia menjauhi tenda karena ponselnya berdering.


"Mau pesan bakso atau mie ayam, Neng?"


"Pesen bakso gak pakek daun seledri dan banyakin kuahnya, ya, Mang. Satu lagi, em ... yang satu nanti saja saya tanya teman dulu," kata Valey.


"Oke, siap!"


Valey keluar dari tenda untuk mencari keberadaan Narendra. Dia tadi lupa untuk menanyakan pesanan pria itu.


Begitu melihat pria jangkung itu berdiri di belakang tenda, dia melangkah untuk mendekat.


"Tentu saja aku sangat merindukanmu, Baby. Sudah tidak sabar menunggu kepulanganmu."


Deg!


Seketika Valey terhenti.


"Kamu perempuan satu-satunya yang aku cintai, tidak mungkin aku kelain hati."


Valey menutup mata. Kesenangan dan debaran beberapa saat lalu lenyap tak tersisa.

__ADS_1


'Apa yang kamu pikirkan, Valey?! Apa yang kamu harapkan?!' Merutuki diri sendiri yang hampir terlena dengan sikap lembut Narendra padahal pria itu sudah memiliki kekasih.


Dia mengusap pipi dan mengurungkan niat untuk mendekati Narendra. Memilih kembali ke dalam tenda untuk menangkan diri.


__ADS_2