
"Narendra kamu darimana saja? Kakak menghubungimu dari ponsel Valey tapi tidak kamu jawab. Setelahnya ponselmu tidak aktif!" cecar Shera ketika Narendra baru menjejakkan kaki memasuki rumah.
"Memang ada apa, Kak?" tanya Narendra dengan santai.
Dia melihat kakaknya baik-baik saja, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi dia melupakan seseorang yang sedang berjuang mengandung anaknya.
"Tadi Valey jatuh di kamar mandi," cerita Shera.
Baru Narendra menoleh cepat. "Bagaimana keadaanya?"
"Kenapa? Sekarang kamu baru khawatir setelah tau Valey jatuh?!" cibir Shera.
"Kak ...!"
"Dia baik-baik saja. Tapi tadi sempat nangis karena perutnya seperti kram. Kakak takut banget. Telepon kamu malah ditolak terus. Aku sama nanny bawa dia kembali ke klinik. Untungnya tidak fatal. Dokter menyarankan agar Valey dirawat, tapi dia tidak mau. Dan dokter cuma kasih pesan agar Valey tidak melakukan aktifitas apapun beberapa hari ini." Panjang lebar Shera bercerita.
"Dimana dia sekarang, Kak?"
"Di kamar. Baru aja minum obat dan istirahat," ujar Shera.
"Narendra, sesibuk apapun tolong angkat telepon Valey. Jika dia menghubungi berarti ada yang penting. Kamu ingat, dia sebentar lagi melahirkan, kamu sebagai ayah dari si bayi harusnya siap siaga bila sewaktu-waktu Valey membutuhkanmu," imbuh Shera bernasehat.
"Aku tadi lagi bersama Latisya, Kak. Aku takut Latisya curiga dan akan mencari tahu tentang Valey. Bisa kebongkar semua."
"Jadi, kamu masih mempertahankan Latisya?!" Shera bertanya tak percaya.
Helaan napas Narendra sudah mewakili jawabannya.
"Semoga kamu tidak menyesal dengan apa yang kamu pertahankan," ucap Shera dan berlalu pergi.
Dia kesal dengan keputusan Narendra yang masih mempertahankan hubungan dengan perempuan bernama Latisya, akan tetapi dia tak bisa berbuat apapun. Semua nasehatnya tak dihiraukan.
Narendra buru-buru menuju kamar Valey dan menemukan perempuan itu sedang terlelap. Dia mendekat dan duduk ditepi ranjang. Perlahan dia mengusap perut Valey yang kian membesar.
"Naren?!" Valey terkejut merasakan perutnya sedang diusap. Begitu membuka mata, ternyata Narendra sudah duduk disampingnya.
"Kamu gak pa-pa? Apa perutmu masih sakit? Maaf, aku tadi lagi sibuk," ucap pria itu.
__ADS_1
Valey menghela napas. "Sudah gak sakit. Aku tau kamu sedang sibuk. Beruntungnya Tuhan masih menjaga bayi kita."
Deg!
Valey kelu dengan kata terakhir yang diucapkan, dia melihat ekspresi Narendra dan kembali menunduk. Harusnya dia tidak mengatakan 'bayi kita' karena setelah lahir dia tidak akan memiliki bayi itu. Dia hanya mengandung, sedangkan bayi itu milik Narendra dan kekasihnya.
Narendra memperhatikan wajah Valey yang selalu teduh. Perempuan itu sama sekali tidak marah walau dia tidak ada disaat Valey hampir celaka.
"Sebaiknya kamu berhenti ikut nanny berjualan. Kehamilanmu yang semakin mendekati persalinan sudah tidak boleh melakukan banyak aktifitas. Aku takut terjadi sesuatu."
Valey menggeleng. "Aku setuju dengan ide Kak Shera. Mencari orang yang bisa membantu nanny. Tapi aku masih harus ikut untuk mengawasi."
"Kamu terlalu mementingkan penghasilan, tidak memikirkan kondisimu dan bayimu. Uang lebih penting bagimu! Padahal aku sudah tekankan, biaya persalinan aku yang akan usahakan! Kamu hanya cukup menjaga kondisimu. Jangan memaksa kuat. Aku tidak mau terjadi hal buruk pada bayi itu!" ujar Narendra yang nampak menahan kesal karena Valey tetap kukuh ikut jualan.
"Kemarin aku memberimu izin supaya kamu tidak bosan di rumah terus. Tapi sekarang, perutmu sudah semakin besar banyak resiko kalau kamu tetap banyak aktifitas. Hanya sampai bayi itu lahir, dan kau akan bebas!"
Valey mengangkat wajah. Meski sudut matanya berair, tapi tidak sedikitpun terlihat marah atau kesal meski Narendra menyudutkannya demikian.
"Maaf kalau menurutmu aku hanya mementingkan penghasilan. Aku tidak ingin membebankan biaya persalinan padamu, aku tau keadaan ekonomimu ...."
"Aku tidak merendahkanmu. Selagi aku bisa, aku hanya berniat membantumu. Selama ini pekerjaan yang aku jalani sama sekali tidak membebaniku, malah aku sangat senang mempunyai kegiatan. Aku bisa melupakan yang sudah terjadi dan aku mendapat semangat hidupku lagi.
Walau aku sibuk, aku tetap mempertimbangkan kondisiku. Tadi hanya kecelakaan kecil ketika aku jatuh dikamar mandi. Mungkin aku kurang berhati-hati.
Naren, walau setelah bayi ini lahir dan aku tidak memiliki kesempatan untuk merawatnya, tapi percayalah, aku selalu menjaganya." Valey menjeda dan menghela napas.
Sementara Narendra diam dan mulai terhenyak mendengar setiap ucapan Valey.
"Aku sama sekali tidak merendahkanmu. Sama sekali tidak!" Tekan Valey.
"Aku tahu posisimu serba terbatas, maka dari itu aku menyadari kesulitanmu mendapat uang ...."
"Itu ...." Narendra sudah kembali ingin menyela.
"Tolong! Tolong dengarkan aku sampai selesai. Jika tidak, kamu akan terus salah paham," sahut Valey.
Valey membuka laci dan mengambil sebuah kotak bekas kaleng biskuit. "Ini persiapan untuk persalinan nanti. Aku hanya membantumu, jangan berpikir terlalu jauh."
__ADS_1
"Aku akan lebih berhati-hati. Jika kamu melarangku ikut nanny berjualan, baiklah, mulai sekarang aku akan tinggal di rumah."
Narendra terhenyak. Valey tidak membalas kemarahannya, dan pada akhirnya mengalah. Tapi dia tahu, sudut matanya menyimpan kekecewaan dan luka. Apa ucapannya tadi keterlaluan?
Dia tidak membuka kaleng biskuit itu, dan menaruhnya didekat Valey. "Uang persalinan tetap aku yang akan menanggung. Itu uangmu. Jadi kamu simpan saja."
Tak ingin berlarut-larut semakin salah paham. Dia memilih meninggalkan kamar Valey.
Barulah setelah pria itu pergi, Valey menjatuhkan diri dan terisak tertahan.
"Bertahan, Valey. Hanya sebentar lagi. Hanya sebentar lagi dan kamu akan melupakan semuanya," bisiknya untuk menguatkan diri sendiri.
Dia sangat terluka karena Narendra salah paham dengan niatnya yang hanya ingin membantu, tapi Narendra menuduhnya merendahkan pria itu.
Padahal dia hanya kasihan setiap kali Narendra kebingungan untuk memenuhi kebutuhan mereka, sedangkan penghasilan pria itu hanya dari keuntungan saham yang tidak seberapa.
Dia menyadari ruang gerak Narendra terbatas, sedangkan dia bebas melakukan apapun. Maka dia yang berusaha untuk mencukupi semuanya. Dan semua itu dia ikhlaskan hanya ingin membantu. Sama sekali tidak berpikir untuk merendahkan.
Narendra terlihat keluar rumah dan pergi entah kemana. Shera dan nanny saling menebak apa yang terjadi dengan Narendra dan Valey.
"Nanny, aku susul Valey sebentar," ujar Shera.
"Non, kalau boleh biar nanny yang susul Non Valey." Nanny memohon.
Shera mengalah dan memberi kesempatan agar nanny saja yang menyusul Valey di kamar.
Tok tok!
"Non!"
Mulanya Valey pura-pura diam, tapi begitu nanny duduk didekatnya, wanita itu kembali terisak.
"Nanny, walau bayi ini milik Naren, tapi aku menjaganya."
"Iya, nanny tau Non selalu menjaga dan menyayangi bayi itu. Apa Tuan Narendra menyalahkan Nona?"
Kali ini Valey tidak bisa memendam, dan menceritakan semuanya pada nanny.
__ADS_1