Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Kembali di Lingkaran yang Sama


__ADS_3

[Naren, Kakak disini. Tolong kakak, Naren. Tolong bawa kakak pergi dari sini!]


"Kakak?!" Naren berteriak kencang saat mengalami mimpi buruk. Dada bergemuruh dengan napas tersengal, sedangkan kening halusnya mengeluarkan keringat dingin.


Pria itu menggeleng beberapa kali demi mengingat mimpi paling mengerikan baginya. Sang kakak meringkuk tak berdaya disebuah ruangan asing dengan dikelilingi beberapa pria dengan tatapan buas. Pakaian yang dikenakan tercabik-cabik mengerikan.


Naren menelan air ludah dengan susah payah. Wajahnya memucat dan telapak tangannya terkepal.


Ia berfirasat mimpi itu sebagai simbol bahwa sang kakak sedang dalam bahaya. Hati Naren semakin gusar menduga-duga keadaan kakaknya lewat mimpi barusan.


Ia yang duduk di kursi tunggu lekas beranjak masuk ke dalam ruangan. Dan lagi-lagi diperlihatkan dengan keadaan tak berdaya Valey. Padahal sudah hampir 7 jam berlalu tapi masih belum ada tanda akan siuman.


Sampai keesokan paginya, kelopak mata Valey lebih dulu bergerak dan tak lama terbuka.


Valey merintih saat tak sadar menggerakkan tangan kiri yang terdapat bekas luka sayatan sedang ditutup perban.


Valey mengerjap kembali demi mengingat ia sedang berada di alam mana. Di surga kah atau masih di neraka dunia?


Harapannya ia sudah tenang di alam baru, tapi nyatanya ia salah. Karena tepat di sampingnya saat ini adalah Naren. Pria yang paling dibenci dengan segenap hati. Yang artinya ia masih di dunia yang sama, dan di lingkaran yang sama.


Tidak!!!


Valey menyentak tangan Naren yang entah bagaimana sedang bertumpuk di atas punggung tangannya. Hal itu membuat si pemilik tangan terbangun.


Saat Naren sepenuhnya membuka mata, pria itu mendapati Valey sedang menatapnya tajam. Sorot mata terluka itu sedang mengeluarkan air mata.


"Kamu sudah bangun," gumam Naren.


"Lebih baik aku tidak bangun selamanya," sahut Valey dengan membuang pandangan.

__ADS_1


Naren sudah siap akan membentak, tapi ia urungkan.


Keadaan hening karena keduanya saling diam. Naren terus menatap Valey namun Valey sendiri tak sudi membalas tatapan itu.


Risih terus-terusan ditatap Naren, Valey memberanikan diri menyuruh pria itu pergi.


"Pergi! Lebih baik kamu pergi!" usir Valey.


"Aku tidak akan pergi," sahut Naren.


"Kalau tidak mau pergi, biar aku yang pindah!" ancam Valey benar-benar muak melihat Naren. Pria yang memperlakukannya dengan kejam.


"Oke-oke, aku pergi!" Naren mengangkat kedua tangan ke atas, lalu beranjak pergi.


Setelah mendengar pintu tertutup, air mata Valey yang sedari tadi ditahan kini meluap membanjiri pipi.


Sungguh, kenapa Tuhan tidak membiarkannya lenyap dari dunia, agar ia bisa bersama ibunya dan tak lagi merasakan kekejaman Naren. Kenapa ia harus berada di lingkar yang sama yang akan membuatnya tersiksa lahir batin.


Tiga hari sudah Valey di rawat, hari itu dokter sudah mengizinkannya pulang. Lagi-lagi harus menahan hati karena Naren lah yang menjemputnya pulang.


"Cepat naik," perintah Naren ketika pria itu berdiri di samping pintu mobil.


Valey justru melirik kesana kemari.


"Jangan coba-coba kabur! Karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Mereka dengan mudah bisa mengejar mu." Naren sudah bisa membaca gerak-gerik Valey yang gelisah melihat sekitaran. Saat ia lengah, Valey pasti berencana akan kabur.


Tapi, lagi-lagi tak semudah itu. Ia sudah menyiapkan 6 pengawal sekaligus untuk berjaga di belakang mobilnya. Siaga bila sewaktu-waktu Valey berusaha kabur.


Valey bertambah benci dengan Naren. Tapi ia tak punya pilihan lain. Seperti yang dikatakan tadi, ia pun tak bisa kabur dari lingkaran Naren karena banyaknya pengawal yang mengikuti.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Valey membungkam mulut. Tak sudi berkata dengan pria bengis itu walau satu patah katapun. Sampai tak terasa sudah sampai di depan rumah megah milik Narendra.


Valey turun dan tergesa masuk ke dalam rumah. Namun di depan pintu ternyata sudah di sambut oleh nanny yang terlihat lega saat dirinya sudah memasuki rumah itu.


"Puji Tuhan, Nona sudah sehat," ucap nanny.


Valey berusaha mengembangkan senyum meski sangat terpaksa. "Terima kasih, Nanny."


"Nanny antar ke kamar." Nanny menggandeng lengan tangan Valey untuk dipapah ke kamar tamu. Kamar yang menjadi saksi tangis pilu wanita malang itu.


Kamar itu sama, tapi keadaan di dalam sudah banyak yang dirubah. Tak ada barang atau hiasan apapun, semua sudah di lepas dan dipindah entah kemana. Bahkan lemari kaca diganti dengan lemari kayu yang di letakkan di sudut ruangan.


Valey menghela napas panjang. Ruang penyekapan yang sempurna, hari-harinya akan semakin suram.


"Nona istirahatlah, biar nanny siapkan bubur." Nanny sigap membantu Valey duduk di tempat tidur.


"Tidak usah, Nanny. Aku tidak selera makan," cegah Valey.


"Non harus banyak makan supaya lekas sehat." Nanny ikut duduk dipinggir ranjang.


"Nanny, kenapa aku diselamatkan? Kenapa? Padahal aku ingin sekali pergi dari dunia ini."


"Jangan bicara seperti itu." Nanny menggeleng. Tangan hangat keibuannya menggenggam tangan Valey, memberi kekuatan agar gadis malang itu tidak merasa sendirian.


"Beberapa hari ini Tuan Naren sepertinya mulai berubah. Nanny yakin, Tuan Naren tidak akan memperlakukan Non seperti kemarin." Wanita itu berubah mengangguk.


"Semoga saja Tuan Naren segera tahu kebenarannya bahwa semua hanya salah paham." Nanny berusaha menghibur agar Valey tenang.


"Tidak mungkin Tuan Naren berubah. Hatinya sudah membatu sampai tidak mau mendengar penjelasan orang lain. Sungguh, Nanny, aku ingin sekali pergi dari sini dan tidak ingin bertemu pria seperti Tuan Naren. Bahkan, aku senang bila kemarin tidak ada yang menyelamatkanku. Aku bisa menyusul mendiang ibuku. Tapi, entah kenapa Tuhan tetap membiarkan aku hidup."

__ADS_1


Nanny memeluk Valey dan mengusap bahunya dengan lembut. "Tuhan memberi kesempatan karena mungkin sedang menyiapkan rencana indah untuk Nona. Tidak ada yang sia-sia didunia ini, semua membawa kebaikan. Percayalah, Tuhan ada dan akan menolong umatnya."


__ADS_2