Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Siapa Wanita Hamil Itu


__ADS_3

Tok ... tok ... tok!!!


Ketukan itu terus berlanjut membuat Valey lekas berdiri. Tapi Narendra mencegah.


"Biar aku saja yang buka pintu," ucapnya.


"Jangan! Siapa tau itu orang jahat yang mencarimu. Mereka tidak mengenaliku, jadi biar aku saja yang buka." Valey melanjutkan langkah menuju ruang depan.


Tok ... tok ...!


"Ya, tunggu sebentar!" teriak Valey karena tamu yang berkunjung tampak tidak sabaran dan terus mengetuk pintu.


Kriet ....


Begitu pintu dibuka, Valey mengernyit melihat sosok yang bertamu ke rumahnya.


"Maaf, cari siapa?" tanya Valey.


"Ini rumah yang ditinggali Narendra Adiyasa Syahputra, kan?"


Valey berpikir sejenak, apa nama yang disebutkan itu adalah nama lengkap Naren. Sebelum Valey menjawab, wanita itu sudah memberi pertanyaan kembali.


"Kamu siapanya Narendra?"


"A-aku ... em, aku hanya orang yang numpang tinggal dengan keluarga Naren," jawab Valey.


"Maksudnya?" Wanita itu kebingungan. Ketika melongok ke dalam, dia melihat seluet pria yang dikenal luar dan dalam.


"Sayang!"


Narendra membeku ditempat.


Latisya menyelonong masuk dan menubruk tubuh Narendra. "Aku merindukanmu."


Narendra pasrah menerima pelukan kekasihnya. Antara terkejut, syok dan bingung kenapa tiba-tiba kekasihnya datang. Lalu dari mana Latisya mengetahui alamat tempat tinggalnya?


"Kamu kok gini? Kayak gak suka aku datang," ucap wanita itu cemberut.


Narendra menyempatkan melirik Valey yang juga tengah mengamati ke arahnya dan Latisya. Raut wajahnya mendadak mendung.


"Tisya, bagaimana kamu tau aku tinggal disini?"


"Helo, Narendra, aku sudah jauh-jauh kemari tapi kamu malah menyambutku dengan pertanyaan tidak penting seperti itu! 2 jam menuju tempat ini, aku lelah. Bahkan kamu tidak menyuruhku duduk atau istirahat di kamarmu?" Latisya mengomel kesal dengan sambutan Narendra yang seolah sama sekali tidak mengharapkan kedatangannya.


"Bukan begitu, sayang. Aku sangat terkejut kamu tau tempat ini." Narendra mengelus bahu Latisya untuk menenangkan.


"Aku haus sekali. Suruh pembantumu itu buatin minuman." Latisya melirik Valey.


"Sayang, dia bukan pembantu!" tegas Narendra.


"Dia tinggal satu atap denganmu, jika bukan pembantumu lalu siapa?"


Narendra menelan ludah, bingung harus menjelaskan bagaimana.


"Dia ...." Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Narendra gugup.


"Baik akan saya buatkan minum. Tunggu sebentar!" sela Valey untuk mengalihkan pembahasan. Lekas dia pergi ke dapur.


Narendra ingin mencegah, tapi tak ada pilihan. Setelah menghela napas panjang, dia menyuruh wanita berpakaian minim itu untuk duduk.

__ADS_1


"Sayang, kamu tau alamat ini dari mana?"


"Aku mencari lewat signal ponselmu," jawab Latisya santai.


"Tempat ini sangat jauh, kenapa harus datang, kalau kamu rindu aku bisa menemuimu."


Latisya memberi tatapan menyelidik. "Kenapa kamu terlihat tidak senang aku datang kemari?!"


"Bukan begitu. Kamu tau aku sedang bersembunyi. Aku takut pria sialan itu mengintai mu dan tau tempat persembunyianku."


"Tidak-tidak! Paman kamu tidak tahu kalau aku pulang ke Indonesia, jadi kamu tenang saja." Latisya melingkarkan tangan pada lengan Narendra, bahkan menempelkan tubuhnya.


"Aku hanya waspada. Sekarang aku belum memiliki persiapan untuk melawan Ziat, aku takut kalau dia menemukan aku dan kakak, maka tamat riwayat kami."


"Sayang, kamu kan tau aku disini cuma satu minggu, rasanya aku ingin menghabiskan sepanjang waktu denganmu." Latisya memasang wajah lemah, membuat Narendra mengusap pipinya dan mengecup kening dengan lembut.


"Setelah masalah ini selesai, kita bisa menghabiskan waktu semaumu."


Di depan pintu ruang tengah Valey terhenti saat menyaksikan pria dari ayah bayi yang dikandung sedang mencium kekasihnya dengan penuh perasaan.


Dia memejamkan mata. Menghirup udara dan menghembusnya perlahan. Melihat Narendra bersama wanita lain, entah mengapa dadanya terasa sebak.


Padahal selama sudah tahu jika Narendra sudah memiliki wanita yang sangat dicintai, lalu kenapa dia merasa sangat sedih ketika melihat langsung kemesraan mereka.


Apa hubungannya dengannya? Cemburu? Iri? Tidak! Harusnya dia boleh memiliki perasaan itu.


Dia harus sadar diri, bahwa dia bukan siapa-siapa. Hanya wanita malang yang sedang mengandung anak Narendra. Itupun bukan atas kesengajaan.


Valey menegarkan hati untuk menyuguhkan minuman yang dibuat.


"Silahkan!" ucapnya.


Valey menatap Narendra sejenak. Sementara pria itu menggeleng dan tampak gugup.


"Iya, aku sedang hamil."


"Sayang, wanita ini bisa tinggal bersamamu? Sebenarnya Dia siapa?" cecar Latisya.


"Dia ...."


"Aku tidak punya tempat tinggal, dan disini aku cuma bantu-bantu," potong Valey.


Latisya mencebik, menatap Valey dengan pandangan merendahkan. "Ayah dari bayimu dimana? Bagaimana bisa kamu tinggal dengan kekasihku?" tanyanya ketus.


"Dia pergi meninggalkanku."


"Menyedihkan. Kedepannya kamu pasti menyusahkan. Atau jangan-jangan kamu korban pelecehan seksual!" cibir Latisya.


"Setelah saya melahirkan, saya akan pergi dari sini," ujar Valey dengan menahan gemuruh hatinya.


"Bagus deh." Latisya sungguh menunjukan ketidaksukaanya di hadapanValey.


Melihat wajah Valey semakin mendung, Narendra tidak tega.


"Sayang, ayo kita cari tempat enak mengobrol," ajak Narendra.


Narendra membawa Latisya untuk pergi. Dia tidak ingin kekasihnya terus merendahkan Valey.


__ADS_1


Sampai sore hari Narendra belum kembali ke rumah. Justru nanny dan Shera sudah pulang lebih dulu.


"Valey, Narendra dimana?" tanya Shera dengan celingak-celinguk mencari keberadaan adiknya.


"Naren sedang keluar, Kak."


"Keluar kemana? Dia bilang hari ini tidak pergi."


"Sebenarnya tadi kekasihnya Naren datang ...."


"Apa??? Latisya kemari?" Shera terkejut.


"Iya, Kak, dan Naren mengajaknya pergi."


Baru saja mereka sedang membicarakan Narendra dan kekasihnya, tiba-tiba dua orang itu datang.


"Kak Shera!" Latisya memeluk Shera, seperti seorang adik yang sedang merindukan kakaknya.


"Hay, Latisya," sapa Shera.


"Narendra sedih sekali waktu kakak hilang. Syukurlah kalian bisa berkumpul lagi."


Shera mengangguk.


"Apa Narendra yang memberitahumu kalau kami tinggal di sini?"


"Bukan! Aku mengandalkan signal ponsel."


"Oh." Shera membulat. "Aku akan bicara dengan Narendra sebentar!" ujarnya.


Setelah Shera menggeret tangan Narendra untuk mengikuti masuk ke kamar yang dekat dengan ruang tamu. Latisya bergumam "kenapa Narendra dan Kak Shera sepertinya tidak suka aku datang."


"Narendra! Lihatlah, tiba-tiba Latisya datang kemari. Kacau kalau uncle Ziat mematai Latisya."


"Tidak Kak! Dijamin aman," jawab Naren.


"Kamu aman, tapi Valey pasti tidak nyaman!"


"Kenapa membicarakan Valey?"


Shera bernapas kasar. "Kamu benar-benar tidak peka, Narendra! Valey mengandung darah dagingmu, dan bisanya kamu bermesraan di depannya. Apa kamu tidak punya perasaan?!"


"Si-siapa yang sedang mengandung darah daging Narendra?"


Deg!


Shera dan Narendra sontak melihat ke arah pintu.


"Sa-sayang ...."


Latisya berdiri di depan pintu kamar dengan wajah syok. Dia sangat jelas mendengar kalimat yang diucap Shera barusan.


"Tisya, tidak! Kakak hanya salah bicara. Iya. Kak Shera salah bicara!"


"Katakan Narendra! Siapa yang sedang mengandung darah dagingmu? Wanita tadi? Iya?"


"Sayang ...."


"Jawab Narendra!" teriak Latisya yang sudah mulai menangis.

__ADS_1


__ADS_2