
Narendra kembali ke dalam tenda setelah panggilannya diakhiri. Valey sedang menyantap bakso dengan tenang.
"Lahap banget," ujar Narendra basa-basi. Namun Valey hanya tersenyum singkat. Lalu melanjutkan makannya.
"Masnya mau pesan mie ayam atau bakso?" Pemilik tenda itu menghampiri meja mereka dan menanyai Narendra.
"Tidak, Pak," balas Narendra. Pemilik tenda itu mengangguk dan pergi.
"Kamu suka banget sama makanan seperti itu?" Narendra kembali bertanya pada Valey. Namun hanya dijawab anggukan saja.
"Mau pesan buat dibawa pulang, gak?"
Lagi-lagi Valey hanya menggeleng, membuat Narendra aneh dengan perubahan sikap wanita itu, baru beberapa detik tersipu malu, juga terlihat bersemangat. Bahkan belum ada 20 menit sudah berubah menjadi pendiam juga acuh. Apa mungkin itu salah satu reaksi ibu hamil yang sering berubah mood. Seperti keterangan dokter saat pemeriksaan kemarin. Membingungkan.
"Setelah ini mau kemana?"
"Pulang!"
Setelah membayar satu mangkuk bakso beserta minuman yang dipesan Valey, mereka berdua keluar dari tenda itu.
"Yakin mau pulang? Gak mau coba permainan yang lain? Atau mau beli makanan lagi?" tawar Narendra karena masih bingung dengan perubahan sikap Valey.
"Aku lelah, ingin istirahat. Kita pulang saja."
'Hatiku mulai lelah. Seperti tak memiliki arah. Entah sampai kapan seperti ini,' batin Valey.
Pemuda itu tidak lagi memaksa dan menuruti perkataan Valey untuk pulang.
Sampai di rumah Valey langsung masuk ke kamar tanpa mengucap apapun. Narendra benar-benar bingung dengan sikap Valey. Tapi tidak tahu alasan apa yang membuat suasana wanita itu buruk.
Di dalam kamar, Valey berganti pakaian dan merebahkan diri di sisi lain tempat yang ditiduri Shera. Wanita itu memunggungi Shera dan memejamkan mata. Namun sudut matanya kian mengeluarkan cairan bening.
Valey bingung dengan dirinya sendiri. Entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa kecewa dengan Narendra.
Harusnya dia tidak peduli tentang hubungan pria itu dengan kekasihnya, toh dia bukan siapa-siapa. Hanya wanita malang yang kebetulan mengandung benih Narendra. Dan setelah anak itu lahir, dia harus pergi sejauh mungkin. Lalu kenapa harus merasa kecewa?
__ADS_1
Mengenai sikap manis Narendra yang sempat membuatnya berbunga, apakah dia mulai memiliki perasaan?
Tidak! Jangan sampai memiliki perasaan. Karena sampai kapanpun perasaannya tidak akan terbalas.
"Jika hatiku mulai luluh, tolong ingatkan aku, Tuhan. Aku tidak boleh memiliki perasaan kepada Naren."
•
Hari berganti, hingga tak terasa kandungan Valey sudah memasuki tahap trisemester ke tiga. Memasuki bulan ke tujuh. Perut kian membesar dengan pergerakan janin yang aktif.
Selama itu Narendra dan Kindra belum berhasil merealisasikan rencana mereka karena Kindra sendiri mengalami kecelakaan dan harus menjalani perawatan dalam jangka waktu yang lama. Jika hanya Narendra sendiri yang menjalankan rencana itu, tentu akan kesulitan.
Terpaksa mereka masih harus bersembunyi agar jangan sampai Ziat menemukan mereka.
Sementara itu, tentang kepulangan Latisya harus ditunda karena keluarganya sedang berduka. Sang nenek meninggal, hingga kepulangannya di batalkan dan sekalian sampai nanti kuliahnya usai.
Valey mengelus perut yang bergerak aktif, sambil bergumam. "Semangat untuk hari ini, ya, Nak." Dia menata bahan jualan. Sedangkan nanny sedang menjemur baju.
Tiba-tiba Narendra ke dapur. "Perutmu setiap hari bertambah besar, melihat jalanmu juga sepertinya kesulitan. Sebaiknya berhenti berjualan. Aku takut mempengaruhi bayimu," tuturnya.
"Tidak perlu mencemaskannya, Naren. Setiap bulan kita melihat perkembangannya dengan baik. Aku harus mengumpulkan uang untuk persalinan nanti."
"Apa kamu kira aku tidak sanggup membiayai persalinanmu nanti?! Kamu meremehkan aku?! Dengar! Selama ini aku mengizinkanmu berjualan bukan karna uang, tapi agar kamu punya aktifitas dan tidak bosan!" Dia memegang kedua bahu Valey, memaksa wanita itu untuk menatapnya.
"Maaf jika ucapanku salah."
Narendra melepas cengkeramannya dan membuang napas kasar.
Padahal tak sedikitpun Valey berniat meremehkan ayah dari bayi yang dikandungnya. Bahkan hanya ingin meringankan beban Narendra karena sampai detik ini pria itu hanya mengandalkan pembagian uang saham yang tak seberapa. Tapi, niat baiknya ternyata salah diartikan.
Menyembunyikan genangan di pelupuk mata, Valey beralih ke meja makan untuk mengambilkan Narendra makanan.
"Aku tadi masak ayam kecap. Sarapan dulu." Valey meletakkan piring yang lengkap dengan nasi dan lauknya di atas meja makan dan menyuruh Narendra sarapan.
"Non, sudah siap?" Nanny muncul dari pintu belakang.
__ADS_1
"Sudah, nanny."
"Kamu belum pesan taksi 'kan? Aku antar saja," celetuk Narendra.
"Hem." Valey mengangguk. "Aku tunggu di depan."
Setelah Narendra menyelesaikan sarapannya, mereka lekas mengantarkan ke klinik tempat biasanya Valey berjualan.
Dalam perjalanan Narendra hanya diam, suara yang terdengar hanya obrolan dari Valey dan nanny.
"Saya dengar kalau kantin sebelah kita sudah habis masa kontraknya dan penyewa sebelumnya tidak memperpanjang lagi," ujar nanny.
"Apa uang sewanya masih sama ya?"
"Mungkin, Non."
"Wah, ada peluang lagi nih." Valey antusias.
"Tapi Non, apa gak semakin repot? Apalagi kandungan Nona semakin mendekati persalinan. Nanny takut Nona kelelahan."
Narendra yang sebagai pendengar setia sesekali melirik lewat center mirror. Dia tahu berapa jumlah uang yang harus dikeluarkan jika menyewa tempat baru. Belum lagi dengan modal awalnya, jelas merogoh kocek yang lumayan.
Sementara hutangnya kepada Kindra sudah terlalu banyak, dia takkan enak hati kalau terus-terusan meminta bantuan Kindra.
Tapi mengetahui minat mereka ingin menambah usaha jelas tidak mungkin dia diam saja. Apalagi dia laki-laki yang bertanggung jawab atas kebutuhan semuanya harusnya dia. Nyata akhir ini kebutuhan dapur justru menggunakan hasil jualan Valey dan nanny.
Sesudah membantu mengusung bahan jualan, Narendra beristirahat sejenak sambil melihat keadaan kantin. Baru dibuka sudah ada pembeli yang berdatangan.
Dia memperhatikan Valey yang melayani pembeli dengan ramah. Terkadang ikut tersenyum saat Valey senyum pada pembeli.
Semakin hari semakin terlihat menarik.
Meski perut Valey membuncit, tapi wanita itu tetap gesit melayani pembeli. Namun dalam hati Narendra justru merasa bersalah. Karena wanita yang dulu pernah disiksa harus bekerja keras demi kebutuhan mereka.
Duduk di sudut ruangan, pria itu justru merenung. Mengingat kembali awal kesalahpahaman antara dirinya dan Valey, sampai dia menyiksa wanita itu tanpa belas kasihan.
__ADS_1
Tetapi begitu baik dan tulusnya wanita bernama Valey, meski telah disakiti tapi sama sekali tidak mendendam. Jika ingat semuanya, hatinya sungguh merasa bersalah. Bahkan di dahi Valey masih membekas sebuah luka akibat dulu terbentur tembok dan kayu. Menjadikan rasa bersalahnya kian menjadi.
Untuk itu dia berjanji, jika perjanjian diantara mereka telah usai, setelah anak itu lahir, dia akan membebaskan Valey. Membiarkan wanita itu pergi dan tidak membebani apapun lagi. Dia yang akan merawat anak mereka.