
Naren, Shera dan Valey tengah duduk di ruang tamu, sedangkan nanny pergi mencari warung untuk membeli keperluan dapur yang nantinya disiapkan untuk makan malam.
Sedari duduk berhadap-hadapan, tatapan Shera lekat memindai wajah Valey. Benar-benar asing dan ia sama sekali tidak mengenali gadis itu.
"Kak, ceritakan yang sudah terjadi pada Kakak?" Narendra sangat penasaran.
Shera beralih melihat adiknya dan mulai menceritakan awal kejadian yang dialami.
"Waktu Kakak pergi dengan ibu ke kota x, ada yang menabrak mobil Kakak. Kakak koma selama berbulan-bulan dan terbangun di ruangan asing. Kakak tidak tau apa yang sudah terjadi, sampai ... Kakak melihat dan mendengar Uncle Ziat mengobrol dengan seorang pria. Tapi sepertinya pria itu tidak asing, Kakak pernah melihatnya. Pria itu seperti pengawal di rumah kita."
Deg! Naren mengerutkan dahi. Berarti benar selama ini banyak mata-mata di rumahnya.
"Kakak mendengar semua pembicaraan Uncle Ziat dengan pria itu. Dia menunggu Kakak sadar dan akan mengalihkan semua harta ayah secara sah dimata hukum. Makanya Uncle Ziat merawat Kakak di rumahnya agar sewaktu-waktu kakak sudah sadar dia bisa memaksaku untuk menyerahkan harta kita." Shera bercerita dengan wajah sedih dan banjir air mata.
"Uncle Ziat benar-benar jahat. Dia yang membunuh Kakek, Nenek, Ayah, bahkan terakhir dia menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan ibu." Shera berubah terisak.
Naren melirik Valey. Namun bertanya pada kakaknya. "Apa yang membunuh ibu seorang perempuan?"
Shera menyusut hidung dan menggeleng. "Bukan, dia laki-laki seperti preman dengan rambut panjang dan wajah sangar. Kakak tau karena tak sengaja melihat dan mendengar obrolan pria itu yang sedang meminta sisa bayaran pada Uncle Ziat. Waktu Uncle Ziat sedang memeriksa keadaanku.
Sebenarnya Kakak sudah sadar, tapi Kakak berpura-pura masih koma dan mencari waktu untuk kabur."
Deg! Kali ini tubuh Naren benar-benar menegang. Wajahnya berubah pucat. Penjelasan dari Shera membuat ingatannya melayang ke beberapa bulan lalu saat ia menuduh Valey sebagai pembunuh ibunya, hanya karena mata-mata yang dikirim memberi informasi jika ibunya diseret oleh seseorang berambut panjang. Dan ia langsung berkesimpulan jika Valey yang membunuh.
__ADS_1
Apalagi kedatangan Valey sangat tepat disaat sang ibu ditemukan tewas. Jadi, hal itu menguatkan dasar pemikirannya.
"Apa sekarang kamu percaya jika aku tidak bersekongkol dengan pria bernama Ziat?! Apa sekarang hatimu sudah bisa menilai jika aku bukan pembunuh ibumu, Narendra?!
Aku minta, tepati janjimu. Kamu mengatakan kalau kakakmu sudah kembali dan kamu tahu kebenarannya kamu akan membebaskan aku. Sekarang semua sudah jelas, aku bukan seorang penjahat seperti yang kamu tuduhkan. Aku mohon, bebaskan aku." Valey menyela obrolan Shera dan Naren. Ia memejamkan mata sesaat, mengingat semua yang dilalui beberapa bulan terakhir. Tentang kekejaman Narendra yang menyekap dan menyiksanya tanpa perikemanusiaan.
Valey menunggu saat ini, sangat menunggu waktu dimana Narendra mendengar kebenarannya.
Shera yang tidak tahu apa-apa hanya memandang gadis itu juga Naren secara bergantian. Wajahnya menyiratkan pertanyaan. Apa yang sudah terjadi?
"Va-Valey, maafkan aku." Satu kalimat lolos dari mulut Naren. Wajah pucatnya tertunduk dalam. Seolah sedang menyesali semua yang telah dilakukan kepada gadis korban kesalahanpahamannya.
"Aku tak tau dengan diriku sendiri, apa aku bisa memaafkanmu setelah semua yang kamu lakukan padaku." Tangan Valey tak henti mengusap pipi karena air matanya terus mengalir.
Naren menelan ludah. Rasanya begitu sulit juga tak tega menceritakan ulang tentang kekejamannya pada Valey, sampai membuat gadis itu kehilangan harapan hidup dan ia pun merusak masa depan Valey.
"Sedari awal aku datang ke rumah Tuan Naren, dia menuduhku sebagai pembunuh ibunya. Bahkan memaksaku memberitahu keberadaan kakaknya. Padahal aku tidak tahu apapun tentang masalah keluarga kalian.
Aku datang atas permintaan seorang wanita yang terluka parah yang memintaku untuk memberikan kunci pada putranya. Sampai di rumah itu, aku justru dituduh dan disekap. Bahkan ...." Valey mendadak terhenti. Tidak sanggup menceritakan lagi rasa sakit yang dialami.
"Bahkan ... dia menyiksa, merusak masa depanku, juga merenggut kebebasanku."
Ekspresi Shera sangat terkejut. Menatap Naren dengan pandangan tak percaya. Yang ia tahu, selama ini adiknya memiliki sikap hangat dan tidak pernah berbuat kasar kepada seorang wanita.
__ADS_1
"Apa semua itu benar, Narendra?" Shera bertanya dengan wajah terkejut. Rasanya ia benar-benar tak percaya.
Narendra mengangguk. "Saat itu aku sangat kacau, Kak. Ibu ditemukan tewas, sedangkan Kakak tidak tau ada dimana. Dia datang memberiku kunci lemari berisi dokumen penting dan ada beberapa jejak kejahatan uncle Ziat.
Ku pikir, semua tuduhan ku semakin benar saat aku menyekapnya dokumen yang beberapa hari baru ku ketahui tiba-tiba semua hilang. Dan uncle Ziat mengatakan jika dia menyuruh mata-mata untuk mengambil dan melenyapkan dokumen penting itu. Saat itu aku semakin yakin jika dia ada kaitannya dengan uncle Ziat, Kak." Naren benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya.
"Naren, walau kita sedang terbelit masalah besar dan juga terpuruk, harusnya kamu bisa mengendalikan pikiran. Uncle Ziat sangat licik, kenapa kamu percaya begitu saja ucapannya. Yang Kakak tau kemarin, mata-mata uncle Ziat adalah seorang pengawal yang bekerja di rumah kita.
Apa kamu tidak bisa menilai wajah gadis itu sangat polos. Kakak saja tidak percaya kalau dia bisa berbuat jahat. Lalu kamu ...?! Bahkan kamu sampai menyekap dan menyiksanya seperti seorang tahanan?"
"Maafkan aku." Hanya itu yang berulang kali keluar dari mulut Narendra.
"Aku sudah tidak mengingat lagi apa yang kamu lakukan dulu, tapi aku mengingat janjimu. Sekarang, biarkan aku pergi. Aku sudah tidak ada hubungan dengan keluarga kalian lagi," ucap Valey menyela.
"Tapi aku tidak bisa menepati janji itu sekarang. Kamu tidak bisa pergi. Ada anakku yang sedang kamu kandung," jawab Naren.
Deg!
Kesalahpahaman yang kini sudah terurai membuat Valey senang dan merasa terbebas dari sebuah belenggu, namun ia lupa jika ada belenggu lain yang mengikatnya lebih kuat. Hingga ia masih tak bisa lepas dari kungkungan seorang Narendra.
"Anak? Apa lagi ini?" bingung Shera.
"Valey sedang mengandung anakku, Kak." Bibir Naren bergetar, mengingat malam pilu yang ia lakukan pada Valey.
__ADS_1
"Kamu menghamili gadis ini?! Sampai sejauh itu kamu menyakiti gadis ini, Narendra?! Kakak benar-benar sulit mempercayainya."