Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Waktu Berdua


__ADS_3

Satu minggu kemudian, Valey dan nanny sedang menata masakan dan bahan makanan untuk dibawa ke rumah sakit.


Mulai hari ini mereka akan berjualan di kantin rumah sakit. Semua itu berkat Shera yang membujuk Narendra agar memberi izin mereka berjualan.


Namun hanya Valey dan nanny saja, sementara Shera tetap tinggal di rumah. Karena keberadaan Shera ditempat umum sangat berbahaya. Takut dikenali oleh pengawal Ziat.


Valey memilih menggunakan jasa taksi online, daripada harus merepotkan Narendra yang mengantar dan menjemput mereka.


"Mudah-mudahan rezeki kita hari ini banyak ya Nanny," ucap Valey ketika mereka sudah sampai di kantin rumah sakit dan mulai menata dagangan mereka.


Tidak mudah mengurus surat izin dari pemilik yayasan klinik, butuh waktu juga dana yang lumayan. Valey dan nanny menggabung uang tabungan mereka untuk membuka usaha itu. Sedangkan modal memakai uang Narendra yang meminjam lagi dari Kindra.


Tiga hari pertama jualan mereka hanya laku seperempatnya saja, namun Valey memberi semangat nanny agar jangan menyerah.


Di hari ke lima, sedikit bertambah. Hingga hari ke sepuluh, dagangan mereka laku setengahnya. Valey sangat senang dan tak henti mengucap syukur. Bahkan semakin bersemangat untuk berjualan.


Sore itu ketika Valey dan nanny sedang bersiap untuk pulang, keduanya melihat sosok pria yang berdiri di dekat pintu.


Valey menyuruh nanny untuk menanyai pria itu. Dia mengira seseorang yang ingin memesan makanan.


"Maaf, Mas, mau pesan apa?" Nanny bertanya kepada pria itu.


"Nanny, ini aku." Pria itu membuka kaca mata juga maskernya.


"Astaga, Tuan Naren. Maaf, Nanny tidak mengenali, Tuan."


"Apa sudah mau pulang?"


"Iya, tinggal beberes setelah itu kita langsung pulang."


"Bilang pada Valey tidak usah pesan taksi, aku kesini mau jemput kalian."


"Oh, baik. Nanny bilang pada Valey dulu."


Setelah semua selesai dibereskan, Valey dan nanny menemui Naren untuk segera pulang.


Narendra menyuruh Valey duduk di kursi depan, sedangkan nanny di kursi belakang dan menjaga beberapa barang.


Ditengah perjalanan, mobil mereka terjebak macet. Umumnya penumpang mobil akan merasa bosan, tapi tidak dengan Valey. Wanita itu tersenyum-senyum sambil melihat pemandangan luar.

__ADS_1


Berjarak seratus meter dari jalan raya, tepatnya berada di lapangan luas sudah disulap menjadi tempat pasar malam.


Memang belum waktunya dibuka, karena masih sore sedangkan sesuai namanya tempat itu dibuka ketika malam hari. Tapi entah apa yang diminati Valey sampai wanita itu tampak tersenyum-senyum sendiri. Padahal hanya dengan melihat beberapa kerangka permainan yang belum beroperasional.


Dan hal itu tak luput dari pandangan Narendra. "Apa nanti malam kamu mau kesana?"


Valey menoleh mendengar pertanyaan Narendra. Dia menggeleng. "Enggak."


Dia memang menjawab tidak, tapi sebenarnya sangat ingin. Mengingatkan ketika kecil diajak ke pasar malam oleh ibunya, lalu mencoba berbagai wahana permainan juga membeli banyak jajanan. Kenangan yang ingin diulang meski bukan bersama mendiang ibunya lagi.


Malam hari, seusai makan malam. Narendra meminta izin pada Shera untuk mengajak Valey pergi jalan-jalan. Shera tentu menyetujui.


"Kakak ikut dengan kami saja," bujuk Valey. Dia enggan pergi berdua dengan Narendra karena merasa canggung.


"Maaf, Valey, Kakak gak enak badan. Kakak mau minta pijit sama nanny. Kamu pergi berdua dengan Narendra. Kalau dia macam-macam, kamu tinggal telpon kakak saja."


Sebenarnya Shera hanya berbohong, dia ingin memberi waktu pada Narendra dan Valey agar lebih dekat. Karena semakin kesini, dia semakin care kepada Valey. Menurutnya Valey adalah gadis polos dan sangat baik, sedangkan Latisya, dia sangat tahu watak gadis materialistis itu. Dan sesungguhnya tidak setuju jika Narendra harus berkomitmen Latisya.


"Tapi, Kak ...." Valey tampak berat.


"Eh, kok tapi-tapi. Sudah sana berangkat." Shera tersenyum kecil sambil mendorong bahu Valey.


"Kita cuma jalan-jalan sebentar, tapi mukamu seperti dipaksa pindah rumah lagi," celetuk Naren. Namun Valey tidak menjawab.


"Perutnya tidak tertekan, kan?" tanyanya.


"Tidak."


Setelah memutari mobil, Naren sudah masuk dan duduk di belakang kemudi. Menghidupkan mesin mobil dan langsung tancap gas.


Beberapa kali Narendra curi pandang ke arah Valey, lalu menyunggingkan senyum kecil.


Malam ini Valey berbeda dari hari-hari biasanya. Rambut legam panjangnya diurai indah dan hanya di beri riasan penjepit rambut kristal berbentuk kotak memanjang.


Jika biasanya wajah Valey hanya polos tanpa make sama sekali, tapi malam ini wajah itu terlihat berbeda. Wajah oval nya di poles riasan flawless.


"Siapa yang bantu kamu berdandan?"


Setelah beberapa saat hening, tiba-tiba Narendra bertanya.

__ADS_1


"Hem? Oh, Kak Shera. Kenapa, keliatan aneh ya?" Valey memegang pipi, merasa tidak percaya diri melihat Narendra mengamatinya dengan bibir tersenyum.


Sekilas, dia terhanyut dengan senyuman Narendra. Yang mana pria itu jarang sekali, bahkan mungkin belum pernah menunjukan senyum natural seperti saat ini.


Narendra fokus ke jalan sambil menggeleng. "Gak aneh. Malah kelihatan fress dan ...." Dia terhenti. 'cantik,' lanjutnya dalam hati.


"Dan apa?" ulang Valey yang tidak jelas mendengar ucapan Narendra.


"Bukan apa-apa," sahut Naren untuk mengalihkan topik.


Tidak mungkin dia terang-terangan memuji Valey cantik. Mengingat seperti apa hubungan mereka selama ini.


Tak terasa tinggal beberapa meter lagi sudah sampai di tempat yang akan dituju Naren. Mata Valey berbinar indah saat mengetahui wahana yang tampak meriah di depan sana. Tidak menyangka jika Narendra akan mengajaknya mengunjungi tempat yang sangat ingin dia kunjungi.


Setelah memarkirkan mobil, Narendra mengajak Valey masuk.


Valey menghentikan langkah saat tiba-tiba Narendra menggenggam telapak tangannya. Terasa hangat, hingga aliran darahnya berdesir-desir.


"Tempat ini terlalu ramai, aku takut kamu kepisah."


'Oh itu alasannya,' batin Valey. Dia mengikuti langkah Narendra dengan sedikit kecewa. Entah apa yang hatinya inginkan.


"Kamu ingin mencoba wahana apa?"


"Carousel."


"Itu seperti anak kecil."


"Siapa bilang? Lihat itu, orang dewasa juga banyak yang naik komedi putar."


"Iya, tapi itu kesukaan anak kecil."


"Ya sudah, terserah kamu saja." Valey menyerah. Membiarkan Narendra yang memilih.


Tapi, meski awalnya Narendra mencibir, pada akhirnya pria itu mengantri untuk membeli tiket permainan yang inginkan Valey.


Setelah selesai dengan carousel, Valey mengajak untuk naik kora-kora. Salah satu permainan yang cukup membuat takut dan jantung berdebar.


"Jangan yang itu. Wanita hamil tidak disarankan menaiki kora-kora. Kecepatan dan ketinggiannya menyebabkan jantung berdebar kencang. Dan itu sangat beresiko untuk ibu hamil."

__ADS_1


"Kita naik biang lala saja," sambungnya.


"Biang lala lebih tinggi, itu juga tidak disarankan untuk wanita hamil," ujar Valey membalikkan ucapan Naren. Dari kecil dia sangat takut dengan ketinggian. Dengan melihat ketinggiannya saja membuat nyalinya menciut.


__ADS_2