Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Seseorang di Ruangan Asing


__ADS_3

Sudah sedari petang Naren pergi dari rumah, namun pria itu tidak melakukan hari seperti biasanya.


Naren memilih berdiam diri di ujung jalan sambil mengintai rumah sederhana yang ia sewa kurang lebih dua bulan ini.


Naren terkesiap, melihat Valey keluar membawa sapu dan mulai membersihkan halaman rumah. Di lanjut menyiram tanaman yang memang ada dari beberapa minggu lalu. Ia pikir nanny yang menanam.


Ia meremas jemari tangan, berarti selama ini Valey hidup dengan bebas. Tidak seperti yang dibayangkan jika Valey tetap berdiam diri dikamar dengan tangan terikat.


Tapi, jika wanita itu bisa bebas, kenapa tidak kabur dan pergi sejauh-jauhnya. Bukankah itu kesempatan emas.


Belum usai dengan pemikiran itu, lagi-lagi Naren terkesiap melihat nanny dan Valey keluar. Mengunci rumah dan terlihat berjalan beriringan. Bahkan, masing-masing membawa kotak besar.


Sebenarnya mereka mau kemana?! Jadi seperti ini aktifitas mereka sehari-harinya.


Telapak tangan Naren tergenggam. Ia terus membuntuti keduanya dengan jarak aman.


Naren menghentikan mobil saat keduanya juga berhenti dan terlibat interaksi dengan orang lain. Ia baru tahu jika nanny dan Valey ternyata sedang berjualan kue. Ia melihat Valey memasukan beberapa kue yang diberikan kepada orang itu, dan si pembeli memberikan sejumlah uang.


Kini terjawab sudah rasa penasarannya. Ia menghela napas panjang dan menyandarkan kepala dengan mata terpejam.


Hatinya mulai bergejolak melawan arah.


Apakah wanita itu benar-benar seorang penjahat?


Apakah wanita yang mau berjuang itu wanita yang tega membunuh ibunya?

__ADS_1


Apakah wanita yang terkadang masih peduli dengannya itu mampu bersekongkol dengan paman Ziat?


Naren menghela napas berat. Ia berdoa semoga Tuhan segera memberi jalan keluar, dan kakaknya segera ditemukan. Karena satu-satunya kunci kebenaran hanyalah kakaknya.


Naren masih terus mengawasi kegiatan nanny dan Valey, hingga kedua wanita itu berhenti di depan toko dan nanny terlihat masuk dan tak berapa lama sudah keluar membawa botol minuman.


Valey menghabiskan minuman dengan sesekali menyeka kening karena mungkin berkeringat. Cuaca menjelang siang itu memang lumayan terik.


Keduanya terlibat obrolan. Valey terlihat menghitung uang pecahan, lalu menyimpan di dompet kecil dan setelahnya mengelus perutnya yang masih datar. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


Pengintaian Naren harus puas sampai disitu karena deringan ponsel membuat pria itu harus segera pergi.


Beruntung Valey belum melewati gang yang biasa bertemu dengan Saina dan Morgan, jika tidak, pria itu akan sangat emosi.


Malam hari Naren sengaja pulang sebelum waktunya makan malam. Terlihat nanny dan Valey sibuk menyiapkan makan malam. Tapi bukan itu yang menjadi titik fokus seorang Narendra, melainkan pergelangan tangan Valey yang terikat tali biasanya.


Naren mendekati Valey membuat wanita itu diam kaku di dekat meja makan dengan jantung berdebar. Ia menduga-duga hal apa yang akan dilakukan Naren.


Jantung Valey masih berdebar saat kulit tangannya bersentuhan dengan Naren. Ia menatap manik tajam itu saat Naren membuka ikatannya.


"Tidak perlu diikat lagi."


Tatapan Valey masih di objek yang sama.


"Aku yakin kamu tidak akan kabur."

__ADS_1


Valey menelan ludah. Apa yang membuat Naren tiba-tiba berubah pikiran.


Sedangkan nanny yang sedang menyiapkan piring tersenyum-senyum. Mungkin perlahan-lahan Naren mulai percaya kepada Valey kalau wanita itu bukan penjahat.



Tak terasa kehidupan itu berjalan sudah hampir 4 bulan lamanya. Hingga perut Valey mulai sedikit terlihat menyembul namun tak ada perubahan apapun. Kehidupan mereka masih tetap sama. Bahkan selama itu juga kakak kandung Naren belum juga ditemukan.


Naren tetap berusaha keras mencari dan menemukan kakaknya agar kehidupannya bisa kembali seperti dulu.


"Nanny, apa Yuda sudah kembali?"


"Belum, Tuan. Tiga hari ini Yuda tak terlihat sama sekali."


"Kalau Yuda terlihat, bilang padanya aku mencarinya."


"Baik, Tuan."


Yuda, satu pengawal yang juga ikut pindah ke rumah sederhana. Namun pria itu jarang terlihat bahkan beberapa hari terakhir seperti menghilang begitu saja.


Naren mulai aneh dan penasaran dengan pria tersebut.



Sedangkan di sebuah ruangan asing. Seorang wanita yang selama beberapa bulan ini tak berdaya di atas ranjang mulai mengerjap pelan.

__ADS_1


Suara alat detak jantung berbunyi nyaring di ruangan yang hening dan tak ada aktifitas apapun.


"Dimana aku?" batin wanita itu dengan melirik seluruh ruangan menggunakan ekor mata. Ia tampak kesulitan menggerakkan badan. Ingin memanggil orang lain, tapi tidak bisa. Akhirnya memilih memejamkan mata kembali karena kepalanya terasa pusing.


__ADS_2