Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Setitik Keraguan


__ADS_3

Silau mentari yang masuk lewat celah gorden membuat tidur Naren terganggu. Kelopak mata yang terpejam bergerak-gerak merasa tidak nyaman.


Dan indera pendengarannya pun dipertajam saat terdengar isak tangis menyayat hati.


Naren terbangun dan melihati kamar yang asing baginya. Itu bukan kamarnya. Ketika bersandar di headboard, ia memijat kepala yang berdenyut dan pening.


"Argh!" Ia baru menyadari jika saat ini sedang berada di kamar tamu.


Ekor matanya terus melihati sekitar yang tampak berantakan. Bahkan, pakaiannya juga pakaian seorang wanita yang sudah tak berbentuk berserakan di ujung tempat tidur dan jatuh di lantai.


Akh! Apa yang terjadi?!


Tunggu-tunggu??? Suara tangisan itu???


Akh! Memang apa yang sudah terjadi?


Kilasan balik tentang peristiwa semalam mulai memecah banyak pertanyaan yang ada dibenaknya.


Tidak!!!


Dadanya bergemuruh demi mengingat kebrutalannya semalam.


Sial! Benar-benar sialan!


Dendam dan amarah memang membuat Naren menggebu ingin menyiksa wanita itu, namun tak terlintas sedikitpun untuk melakukan pele cehan sedemikian brutal.


Sebagai seorang player, ia tahu dan bisa merasakan, apakah wanita yang dipakai masih virgin atau sudah pernah tersentuh.


Dan, ia yakin, Valey masih bersih dan suci. Apalagi dengan melihat bercak merah yang memudar di sprei berwarna putih menjadi bukti bahwa semalam ia benar-benar telah melakukan sesuatu. ****!!!


Dengan dada bergemuruh dan kepala yang masih berdenyut, ia segera menyahuti pakaiannya dan segera dikenakan.


Ia mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Dimana asal isak tangis itu terdengar. Namun tak kunjung dibuka.


"Hei, buka pintunya!!!" Naren beralih menggedor pintu dengan tidak sabaran. Pikiran kalut membuat Naren cemas, takut, bersalah, dan entahlah ....


"Buka!!!"


Namun, pintu itu sama sekali tak terbuka.


"Hah, Sialan!" Naren menendang pintu dengan keras. Lalu keluar dari kamar itu.


Sementara di dalam kamar mandi Valey tak henti menangis. Sejak membuka mata hingga detik itu tak henti mengguyur tubuh dengan air yang mengucur dari shower.


Menggosok tubuh dengan kasar karena merasa jijik dengan tubuhnya sendiri setelah semalam disentuh tanpa ampun oleh Naren.

__ADS_1


Ia benci. Sekarang benar-benar benci dengan Naren. Pria itu bukan hanya menyekap, menyiksa, tapi telah membuat hidupnya hancur. Membuat masa depan yang pernah ia bayangkan indah mendadak hancur tak berbentuk. Kini hari-hari berikutnya akan semakin suram.


Bibir Valey bergetar. Terus memanggil mendiang ibunya. Ia berharap sang ibu yang sudah di tempat indah segera mengajaknya pergi dari neraka itu.


Ia lelah, benar-benar lelah dengan hidupnya yang sekarang. Ingin mengakhiri semuanya.



Sejak kejadian itu sampai tiga hari berlalu, Naren sama sekali tidak menemui Valey. Hanya nanny yang beberapa kali datang untuk memberi kabar tentang gadis malang itu.


Melaporkan jika Valey tak berselera makan, bahkan hanya melamun di samping jendela. Tubuhnya semakin kurus dengan kulit yang terlihat pucat. Mengenaskan. Siapapun yang melihat takkan tega melihatnya.


Dan, pagi ini, gedoran di pintu kembali mengusik Naren untuk berteriak marah. "Ada apa?!"


"Nona Valey ... Tuan!" Nanny pucat dan gemetar.


"Kenapa?!" Naren masih berteriak marah.


"Nona Valey mencoba bunuh diri."


"Apa?!"


Naren setengah berlari menuju kamar tamu. Kamar yang enggan ia datangi sejak malam sialan itu ia terjadi. Tapi, laporan tentang Valey yang mencoba bunuh diri membuatnya harus segera masuk.


Ia bergeming dengan degub jantung tak menentu.


"Tuan, tolong bawa Nona Valey ke rumah sakit. Tolong selamatkan nyawanya. Tolong, Tuan." Nanny memohon dengan tangisan. Melihat darah berceceran membuatnya takut jika Valey tak bisa diselamatkan.


Karena sedari awal ia yakin, Valey hanya gadis polos yang tidak mungkin mampu melakukan kejahatan besar yang terus dituduhkan oleh Naren.


Naren segera menggendong tubuh Valey bersamaan menyuruh nanny untuk memerintah anak buah menyiapkan mobil.


Meski ia marah dan dendam dengan gadis itu, tapi entah sisi hati yang mana membisikinya agar segera menolong Valey.


Tak puas dengan kemampuan sopir, ia memutuskan menyetir sendiri dengan kecepatan tinggi.


"Tuan, tubuh Nona Valey semakin terlihat pucat," ucap nanny.


Naren melihat lewat kaca spion. Tubuh Valey tergolek tak berdaya dipangkuan nanny.


"****!!! Kenapa harus terjebak macet!" makinya.


"Non, bertahanlah," gumam nanny.


Naren melongok ke belakang, lalu memaki lagi. Membunyikan klakson terus menerus, padahal apa yang dilakukan sama sekali tidak efektif membawa perubahan. Dengan kata lain mobilnya tetap terjebak di tengah kemacetan.

__ADS_1


Dan setelah lima menit memaki dan berkata kasar, akhirnya Naren bebas memacu kendaraan dengan kecepatan maksimal.


Setelah sampai di depan pintu rumah sakit, ia berteriak memanggil perawat untuk segera menangani Valey.


Begitu Valey di bawa ke ruang UGD, ia kembali ke depan untuk memindahkan mobil dan memarkirkan di tempat yang semestinya.


Naren tak lekas turun. Ia memejamkan mata sambil membentur-benturkan kening di pegangan setir.


Benaknya menyalahkan diri atas tindakan Valey yang mencoba bunuh diri. Semua itu pasti dampak dari perbuatan brutalnya malam itu.


Setelah beberapa lama gelut dengan pemikirannya sendiri, ia lekas keluar dari mobil dan menyusul ke ruang UGD.


"Bagaimana?" tanyanya saat melihat nanny berdiri di depan UGD sambil menguncupkan tangan di depan dada. Seperti sedang berdoa.


"Dokter belum selesai menangani Nona Valey."


"Apa kamu tidak mengeceknya setiap saat? Bagaimana dia sampai melakukan itu?!"


"Tadi pagi sewaktu saya mengantar sarapan, Nona masih baik-baik saja. Dia memintaku membawakan beberapa buah yang belum di kupas, jadi saya berinisiatif menyelipkan pisau buah. Tapi ...."


Dari potongan cerita itu Naren sudah tahu kejadian yang selanjutnya. Cukup ngilu membayangkan Valey melukai pergelangan tangannya sendiri sampai membekas luka menganga.


Pria itu beralih duduk sambil menjambak rambut. Hal yang sering ia lakukan saat gundah dan pikiran terasa penuh.


Kembali bergejolak. Sisi lain terus menyalahkan diri, tapi sisi lain mengatakan itu balasan setimpal atas perbuatan Valey sendiri.


Dan bersamaan dengan pintu UGD yang terbuka, membuyarkan gejolak pikiran Naren. Ia menghadap dokter untuk menanyakan keadaan gadis malang itu.


"Bagaimana keadaanya?"


"Keadaan pasien mengkhawatirkan karena pergelangan tangan yang disayat banyak mengeluarkan darah. Tapi setelah penambahan lima kantung darah, semoga saja pasien bisa melewati masa kritis." Setelah memberi penjelasan, dokter itu berlalu pergi.


Naren membuang napas kasar. Ia memberi sejumlah uang pada nanny dan menyuruh wanita paruh baya itu untuk kembali ke rumah.


Meski nanny enggan meninggalkan Valey, tapi ia tak mungkin membantah perintah tuannya. Dengan berat hari nanny meninggalkan rumah sakit.


Setelah beberapa saat berdiam diri, ia memutuskan untuk masuk ke dalam dan langsung disuguhi pemandangan wajah polos Valey yang pucat.


Semakin mendekat, jantungnya semakin berdebar tak karuan. Pikirannya pun tak henti bergejolak.


Semakin lekat memandangi Valey, semakin muncul keraguan pada diri sendiri. Benarkah wajah polos itu mampu melenyapkan nyawa seseorang? Juga bersekongkol dengan pria keji seperti Ziat.


Akan tetapi, seringkali penampilan tidak menjamin tolak ukur kebaikan seseorang.


Lagi-lagi menghela napas kasar. Rasanya semakin bingung memikirkan benang rumit dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2