Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Sudah Merasa Berat


__ADS_3

"Nikahi dia!" Shera berucap dengan penuh penekanan.


Naren yang semula menunduk langsung terperanjat. "Tidak mungkin, Kak. Bagaimana dengan kekasihku?" ujarnya kelu.


"Bagaimana tidak mungkin?! Kamu sendiri yang katakan kalau gadis itu mengandung anakmu. Jadi kamu harus bertanggung jawab!"


"Aku memang mau bertanggung jawab, tapi cukup menjaga sampai anak itu lahir. Setelahnya aku akan merawat bayi itu dengan Latisya." Naren berucap dengan penuh keyakinan. Dan hal itu sudah dia pikirkan sedari awal.


Meski Valey sedang mengandung darah dagingnya, namun baginya, tidak mungkin dia menikahi gadis itu. Karena dia sendiri memiliki tambatan hati yang sangat dicintai. Bahkan sudah berniat menikahi Lastisya saat wanita itu kembali ke Indonesia.


Di tempatnya duduk Valey meremas jemari dengan kuat. Sengaja dilakukan untuk mengalihkan rasa tak menentu dihatinya.


Sisi lain hatinya membenarkan pemikiran Narendra. Bahwa pria itu cukup menjaganya sampai bayi itu lahir, lalu setelahnya dia akan pergi dan tak memiliki hubungan apapun lagi dengan pria itu.


Akan tetapi, ada rasa nyeri yang menghujam saat diakhir kata Narendra mengatakan kalau akan merawat bayinya dengan wanita lain. Bahkan hal itu belum terjadi, dan masih sangat lama untuk dialami, namun hatinya sudah merasa berat.


"Permisi, saya ke kamar dulu untuk istirahat," pamit Valey tanpa mau mendengar percakapan adik dan kakak yang masih bersikeras dengan pendapatnya masing-masing.


"Hem." Shera mengangguk. "Ibu hamil memang harus banyak istirahat," imbuhnya dengan tersenyum.


Setelah Valey hilang dibalik pintu kamar. Shera memandang adiknya dengan tatapan tajam.


"Lihat, Naren. Dia gadis yang begitu polos dan lembut. Bagaimana bisa kamu punya pemikiran kalau dia yang membunuh ibu!"


"Pikiranku saat itu benar-benar sangat kalut, Kak." Naren menyandarkan punggung dan memijat pelipis.


Shera menggeleng dengan mata terpejam. "Kalau kamu tidak menikahinya, dan kamu hanya menginginkan anaknya saja, itu tidak adil, Narendra. Kasihan dengannya."


"Tapi aku mencintai Latisya, Kak. Waktu itu aku hanya melampiaskan kemarahan dan berniat membalas dendam. Jangan paksa aku menikahinya karena yang aku cinta hanya Latisya dan aku akan menikahinya!" tegas Naren.


"Kakak tidak sangka punya adik pengecut. Sudah berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab. Kamu akan menjadi seorang ayah, tapi apa kamu tega memisahkan bayimu dengan ibu kandungnya?


Dengar Narendra, sebaik-baiknya ibu sambung, tetap ibu kandung yang paling berhak mengasuhnya. Jika kamu jujur dengan Latisya, Kakak yakin, dia akan mengerti."

__ADS_1


Setelah memberi pencerahan panjang, Shera meninggalkan Narendra seorang diri. Dia masuk ke kamar yang sama dengan Valey, karena memang tidur dalam satu kamar.


Valey yang meringkuk dalam selimut pura-pura memejamkan mata. Namun Shera tetap mendekat dan duduk di tepi ranjang.


"Aku tau kamu belum tidur," ujar Shera. "Bisakah kita bicara dari hati ke hati?" sambungnya.


Valey membuka mata dan beranjak duduk dengan bersandar pada kepala ranjang.


"Apa yang ingin Anda bicarakan?"


Keduanya saling bertatapan, namun tanpa dinyana Shera mengelus punggung tangan Valey.


"Saya sungguh minta maaf atas kesalahan dan sikap buruk adik saya ...." Shera menjeda kalimatnya.


Valey menunduk dengan sudut mata kembali berkaca-kaca. 'Kesalahan Naren begitu besar, aku tidak tau bisa memaafkannya atau tidak,' batinnya.


"Jujur saya kaget mengetahui kebejatan Narendra, tapi saya akan usahakan agar dia mau tanggung jawab dan menikahimu." Shera melanjutkan kalimatnya.


Valey menggeleng. "Saya setuju dengan yang dikatakan Naren. Saya disini hanya sampai anak ini lahir, setelah itu saya akan pergi jauh dan menyerahkan bayi ini untuk diasuh ayahnya bersama ibu sambungnya."


"Aku tau kalian tidak memiliki perasaan satu sama lain, tapi apakah tidak memikirkan nasib anak kalian ke depannya."


"Aku yakin, Naren dan ibu sambungnya akan menyayanginya."


Shera mengembus napas berat. Tak bisa berpikir apapun lagi.



Di rumah sederhana yang ditempati Naren sebelumnya. Ziat bersama beberapa pengawal mengepung rumah itu, namun pria itu mengumpat segala perkataan kotor mendapati Naren sudah tidak ada disana.


Sejak awal mengetahui Shera kabur, Ziat sudah sangat murka pada pengawal yang diberi tugas untuk menjaga Shera.


Sudah sangat lama dia menunggu keponakannya segera sadar dari koma, tapi, seperti ditipu mentah-mentah karena Shera ternyata sudah pergi tanpa jejak.

__ADS_1


Tingkat kemurkaannya semakin bertambah begitu mendapat laporan dari Yuda jika Naren juga sudah pergi.


"Sial, sial, sial! Gagal semua rencanaku! Aggrh!" Pria itu menendang meja kayu hingga patah menjadi dua. Menggeledah seluruh ruangan, tapi tidak menemukan siapapun. Dan tidak menemukan barang apapun sebagai petunjuk.


"Sisir semua tempat! Aku tidak mau tau, temukan mereka secepatnya!" teriak Ziat dengan kekuatan penuh. Otot-ototnya sampai mencuat kepermukaan kulit. Bola matanya seolah menyala dan kian membara.


"Yuda! Kamu terlalu sering bersenang-senang diluar sampai kehilangan jejak mangsa kita. Dasar tidak berguna!" Ziat beralih menatap nyalang pada Yuda. Mata-mata terpercaya yang ditugaskan mengawasi pergerakan Naren.


Bahkan Ziat juga yang menyuruh Yuda berpura-pura menjadi pengawal setia, mengikuti kemana Naren pergi hanya untuk memantau pergerakannya.


"Maaf, Bos. Maafkan saya." Pria bernama Yuda itu menunduk.


Ziat yang masih diselimuti kemarahan, semakin kesal mendengar pria itu hanya mengucap maaf berkali-kali.


"Pergi! Cari Naren dan Shera sampai ketemu! Kalau tidak, nyawamu yang akan ku penggal!" ancam Ziat.


"Ba-baik, Bos."



Pagi hari Valey membantu nanny memasak. Meski di larang oleh Shera, namun Valey tetap melakukannya.


"Non murung dan melamun terus, jangan begitu, kasihan bayinya kalau Nona banyak pikiran," ujar Nanny yang memperhatikan raut Valey begitu murung sejak Valey berdiri di sampingnya.


"Aku tidak betah disini, Nanny. Aku ingin kembali di rumah yang sebelumnya. Aku teringat dengan Saina. Apa dia menunggu kita?"


"Nanny juga teringat dengan Saina, tapi bagaimana lagi. Kita tidak mungkin kembali ke rumah itu. Berbahaya."


"Yang berurusan itu Naren dan kakaknya, kenapa aku harus terseret masalah mereka. Sungguh nanny, jika bukan karena anak ini aku ingin sekali bebas."


Nanny mengelus bahu Valey. "Sabar ya, Non. Terkadang Tuhan memberi jalan yang tidak kita suka, tapi pada akhirnya jalan itu yang membawa kita pada kebahagiaan. Kita tidak bisa menebak rencana Tuhan."


Valey memejamkan mata dengan telapak tangan mengelus perut yang mulai sedikit menonjol.

__ADS_1


'Benar, rencana Tuhan tidak bisa ditebak, tapi sebuah kebahagiaan tidak mungkin aku menemui kebahagiaan jika tetap pada keadaan ini.'


Shera yang tadinya ingin bergabung akhirnya hanya berdiri di belakang pintu. Merasa sangat kasihan dengan gadis malang itu.


__ADS_2