
"Ka-kamu ...?" Valey sangat terkejut melihat seseorang yang tengah berdiri di depannya, sedang tersenyum remeh dan bersedekap dada.
Valey bertanya-tanya, ada hubungan apa wanita itu dengan pria baya yang menangkapnya.
Wanita itu kekasih Narendra, harusnya berpihak padanya dan tidak mungkin bersekutu dengan Ziat.
"Wanita murahan, tidak punya harga diri!" cibir Latisya dengan tatapan marah bercampur jijik.
Mulut Valey membungkam, dadanya bergemuruh marah berbaur rasa sakit. Tentang keadaannya saat ini, harusnya Narendra yang disalahkan, bukan dirinya.
"Jangan bicara sembarangan! Kamu tidak berhak menilai ku seperti itu!" decit Valey.
"Apa? Tidak berhak menilai mu seperti itu? Ha ha ...." Latisya tergelak meremehkan. "Lalu kamu mau dinilai sebagai wanita baik-baik? Begitu?!"
Sejurus kemudian tatapan Latisya berubah menajam. Langkahnya mendekati Valey lalu tiba-tiba mencengkram dagunya dengan kuat.
"Dengar! Seorang wanita baik tidak akan merusak hubungan orang lain! Gara-gara kamu mengandung bayi sialan itu, aku yang kena imbas harus mengurusnya. Harusnya dari awal bayi itu dilenyapkan, biar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Tapi kamu justru mempertahankannya. Dasar wanita bodoh!"
Valey memejam, menahan rasa sakit dari cengkeraman Latisya yang begitu kuat. Bahkan kuku panjang wanita itu berhasil menggores pipi dan menimbulkan rasa pedih.
"Perkataanmu salah. Jika aku diberi pilihan, sungguh, aku tidak mau merusak hubunganmu dengan Naren. Bahkan jika aku bisa merayu Tuhan, aku memilih tidak ingin bertemu Naren hingga merasakan sakit dan terhina."
"Dan kenapa aku mempertahankan bayi ini, karna aku tidak mau jadi pembunuh! Jadi, jangan salahkan aku, tapi salahkan Naren, karna dia yang menciptakan keadaan ini!"
"Pintar sekali kamu memutar balikkan fakta, yang jelas, jika kamu tidak merayu Narendra, dia tidak akan berselera melihat tubuhmu seperti itu! Bahkan Narendra pasti merasa jijik." Latisya sudah terlanjur benci, bagaimanapun Valey menjelaskan dan membela diri maka hanya percuma. Jelas wanita itu tidak mempercayai.
Benci dan marah menimbulkan rencana buruk untuk membuat Valey terluka, bahkan ingin melenyapkan Valey dan bayinya.
Latisya berganti menjambak rambut Valey dengan kekuatan penuh. Hingga jeritan Valey menggema mengisi ruangan.
"Tolong lepaskan!" Siksaan yang dilakukan Latisya mengingatkan Valey pada kekejaman Narendra. Kenapa dia harus mengalaminya kembali.
Apa semua rasa sakit yang dilalui kemarin belum usai, hingga dia harus kesakitan lagi.
Latisya menjambak lebih kuat dan melepaskan begitu saja. Helai-helai rambut Valey ada yang tersangkut di jarinya. Dia segera mengibaskan dengan tatapan jijik.
Valey menangis. Kepalanya berdenyut nyeri. Bahkan secara bersamaan perutnya kembali terasa kencang.
__ADS_1
Seperti Latisya tidak puas sampai disitu. Kini, sebelum Valey menetralkan rasa sakitnya, dia sudah di hujami tamparan dikedua pipinya. Kepalanya terlempar ke kanan dan kiri. Rasa sakit dan perihnya tak tertahan. Dia hanya bisa menangis.
"Aku membencimu, sangat membencimu!" jerit Latisya. Dia memukul Valey dengan brutal sampai wanita itu tak bisa menahan rasa sakit dan pingsan.
"Cukup! Berhenti! Kamu bisa membunuhnya!" Ziat memegang bahu Latisya dan menarik tubuhnya agar menjauh dari Valey.
"Aku memang sangat ingin membunuhnya. Wanita sialan ini pantas mati. Dia sudah merayu Narendra sampai hamil anaknya! Dia harus mati!"
"Kalau sampai dia dan bayinya mati, usaha kita akan sia-sia. Narendra dan Shera tidak akan mau menandatangani surat pengalihan harta warisan. Kamu gagal mendapat bagian 30 persen. Dan takutnya kita bisa masuk penjara!" Ziat menenangkan Latisya, dia tidak ingin usahanya untuk memancing Narendra datang justru tidak ada hasil sama sekali.
"Kalau begitu buat dia cacat dan menderita seumur hidup!"
•
"Cepat katakan, dimana Valey!" teriak Narendra.
Blap!
Ziat membanting map di depan kakak beradik itu. "Tandatangani maka wanita mu akan ku bebaskan."
"Baiklah-baiklah." Akhirnya Ziat menyetujui. Dia memanggil salah satu anak buahnya untuk membawa Valey ke hadapan mereka.
Seseorang itu masuk ke ruangan lain yang sangat gelap, cukup lama baru kembali dengan mendorong kursi roda yang diduduki oleh Valey.
"Valey!" Shera memekik melihat Valey.
"Va-ley," gumam Narendra sangat lirih. Saat menyaksikan Valey tak sadarkan diri membuat seluruh nadinya memanas. Buku tangannya terkepal erat.
"Kamu melakukan apa dengannya, kenapa Valey tidak sadarkan diri?" Shera histeris ingin mendekati Valey, tapi dicegah oleh anak buah Ziat.
"Dia hanya tidur sebentar, nanti juga bangun!"
"Bedebah! Apa yang kamu lakukan padanya?" Narendra mengambil langkah dan hampir melayangkan tinju untuk Ziat, tapi sama halnya Shera, dicegah oleh anak buah Ziat.
Wajah Valey terdapat luka lebam dan setitik noda darah. Narendra merasa tidak tega melihatnya. Padahal dia dulu pernah melakukan itu pada Valey.
Tapi entah mengapa melihat Valey terluka karena orang lain, jiwanya meronta tidak terima dan ingin membunuh orang yang menyakiti Valey.
__ADS_1
"Siram dia dengan air, maka dia akan segera bangun!" ucap Ziat.
Salah satu anak buah mengambil air mineral dan mengguyurkan ke wajah Valey, sampai wanita itu merintih.
"Valey-Valey!" panggil Shera.
Perlahan wanita yang mulai sayu itu bersitatap dengan Narendra dan Shera.
"Kak Shera, Naren, kenapa kalian datang?" ucap Valey sangat lirih.
"Kami pasti datang menyelamatkanmu, Valey."
"Harusnya kalian jangan datang. Orang itu hanya ingin menjebak kalian agar mau menyerahkan harta warisan kalian."
"Semua itu tidak penting, Valey, kamu lebih penting dari apapun," ujar Shera yang tenggelam dalam isak tangisnya.
"Stop! Hentikan drama kalian dan segera tanda tangan! Jangan membuang-buang waktu karena aku sudah tidak sabar," bentak Ziat.
Shera dan Narendra saling pandang, apakah harus merelakan hak mereka atau mencari cara lain.
"Cepat!"
Narendra dan Shera maju mendekati meja untuk bersiap membubuhi tanda tangan. Tapi tak semudah itu mereka menyerah, karena Narendra hanya mencari celah saja.
Dia menangkis pistol yang ditodongkan ke arahnya, lalu membekap tubuh tua seorang paman yang menjadi musuhnya.
Namun para pengawal Ziat yang banyak, cukup kesulitan untuk dilawan.
Saat Narendra fokus melawan anak buah Ziat, pria itu mengambil pistol yang terlempar tadi. Dia mengarahkan ke arah kakak dan adik itu lagi.
"Narendra, berhenti! Atau kamu mau merasakan timah panas menembus paru-parumu!" ancam Ziat. "Berani melawan lagi, pamanmu ini tidak main-main dengan ucapannya!"
Narendra mengangkat tangan ke udara, tanda menyerah. Tapi dari arah lain suara letusan senjata api membuat seseorang terjatuh di lantai.
Kindra dan anak buahnya datang. Dia lebih dulu memberi hadiah timah panas pada bahu Ziat. Hingga pria itu teriak kesakitan.
"Kurang ajar!" ujat Ziat. "Kamu membawa orang lain!" tatapan tajamnya mengarah pada Narendra.
__ADS_1