Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Kapan Kita Nikahnya?


__ADS_3

Baru sampai di kantor, Narendra sudah uring-uringan sendiri. Suasana hatinya memburuk karena kedatangan Morgan ke rumahnya. Jika saja hari ini jadwalnya tidak padat, dia akan mengambil cuti dan menjadi satpam di rumahnya untuk menjaga Valey juga kakaknya dari pengaruh pria itu.


"Huh!" Dia mendengus kasar ketika menjatuhkan diri di kursi kebesarannya.


Pintu ruangannya diketuk dan reflek membentak seseorang itu untuk masuk.


"Santai, Man. Kenapa masih pagi begini bermuka suram? Kesambet apaan di jalan tadi?"


Narendra langsung melihat orang itu. Kindra sedang menggodanya dengan menaikan kedua alis dan tersenyum jenaka ke arahnya.


"Kamu sudah kembali, Ki?" Narendra berdiri untuk menyambut sahabatnya. Satu-satunya orang paling berjasa dikala dia terbelit masalah pelik.


Kini, kesuraman Narendra berangsur menghilang.


"Kamu tipikal teman yang melupakan persahabatan, Ren. Bagaimana bisa kamu melamar Valey tanpa memberitahuku. Dasar teman sialan," rutuk Kindra mencibir ke arah Narendra.


"Sorry-sorry. Ku pikir kamu sedang sibuk."


"Sesibuk apapun aku, aku ikut bahagia melihatmu menemukan wanita yang kamu cintai."


"Thanks. Kamu yang terbaik," ucap Narendra dan mengembangkan senyum.


"Tapi kamu yang sialan," balas Kindra bercanda. Keduanya tertawa bersama.


"Kakimu sudah sembuh total?"


Terakhir kali mereka bertemu, kaki Kindra tidak bisa berjalan normal akibat kecelakaan. Lalu Kindra pergi ke negara tetangga untuk melakukan pengobatan sekaligus melanjutkan studinya.


Narendra terkejut, karena hanya beberapa bulan saja temannya itu sudah pulih dan bisa berjalan normal.


Beberapa bulan ini mereka jarang berkomunikasi karena sama-sama sibuk dengan aktifitas masing-masing.


"Di sana ada dokter ahli saraf yang menangani kakiku. Hanya beberapa kali terapi dan kakiku sudah mulai membaik."


"Apa aku harus membawa Valey ke sana supaya dia juga bisa berjalan lagi?" gumam Narendra.


"Valey? Kenapa dengan wanita mu itu?"


Narendra terlalu sibuk dengan dunia bisnis dan keluarganya, sampai lupa memberi kabar tentang keadaan Valey kepada Kindra.


"Setelah sadar dari koma, kedua kaki Valey dinyatakan lumpuh."


"Lumpuh?" ulang Kindra tampak terkejut.


"Saraf-saraf di kakinya kehilangan fungsi. Keterangan dokter, bisa jadi karena dampak operasi waktu itu, juga disebabkan oleh pukulan benda tumpul."


Kindra mendengar dengan seksama, meski keningnya berkerut saat Narendra bercerita.

__ADS_1


"Dan Tisya yang melakukan itu pada Valey," sambungnya.


"Ck-ck, dasar wanita jahat. Tega sekali Tisya melakukan kejahatan seperti itu. Dia sudah kehilangan hati nurani. Tidak memikirkan andai dia yang mengalaminya." Kindra bergidik membayangkan kejahatan yang dilakukan Latisya.


Cemburu buta menyebabkan seseorang kehilangan akal. Hingga menggunakan cara apapun untuk menyalurkan amarah.


"Kalau kamu ingin membawa Valey berobat, aku bisa menghubungi Dokter Emil untuk mendaftarkan wanita mu."


"Berhenti mengatakan Valey sebagai wanitaku, Ki. Kedengarannya geli." Narendra bergidik geli mendengar Kindra sering menyebut Valey sebagai wanitanya.


"Lah, memang kenyataanya seperti itu, bukan? Kalau dia bukan wanita mu? Apa dia wanita milik orang lain?" Kindra berkata sambil tertawa.


"Ada banyak kata yang lebih enak di dengar. Misalnya kekasih, pacar atau juga tunangan. Tapi jangan wanita mu, kesannya seperti Valey adalah simpanan ku."


"Dulu dia memang simpanan mu, bukan?" Kindra terus meledek, membuat Narendra mendelik marah. Namun dalam artian bukan marah yang sesungguhnya.


"Jangan paksa aku untuk mengusir tamu seperti mu!"


Ancaman Narendra justru meledakkan tawa Kindra. "Ampun, Tuan Narendra. Ampun."



Sore hari sepulang dari kantor, Narendra mencari Valey dan Vandra ke kamar kakaknya. Dan benar, dia menemukan mereka di sana.


"Naren, kamu sudah pulang?" Valey mengetahui kedatangan Narendra. Pria itu memberi kecupan kecil di kening Valey.


"Aduh-duh, kuku-kuku mu tajam sekali. Mama pasti lupa memotong kuku mu," ujar Narendra. Seketika pipi bersihnya tertinggal baret kemerahan.


"Oh iya, Mama lupa belum periksa kuku Vandra. Nanny akhir-akhir ini sibuk mendisiplinkan pelayan, sampai lupa juga memeriksa kuku Vandra."


"Kalau Ante Shera?" Narendra menunjuk Shera lewat sorot matanya.


"Kak Shera juga sibuk dengan anak ang ... ups ...." Valey menutup mulut begitu sadar hampir salah berucap.


"Kamu bicara apa, Sayang? Kak Shera sibuk dengan anak siapa?" Narendra mengernyit penasaran.


"Enggak," singkat Valey, membuat Narendra semakin curiga.


"Narendra, Kakak ingin bicara," sela Shera. Mungkin sudah saatnya dia jujur dengan adiknya.


"Kalau Kakak memaafkan Morgan, apa kamu juga mau memaafkannya?"


"Kak ... laki-laki itu sudah menyakiti Kakak. Bertahun-tahun membuat Kakak tersiksa. Aku tidak bisa ...."


"Naren. Dengarkan Kak Shera dulu." Valey menyela.


Pria itu melihat Valey sebentar, apa perubahan Shera ada pengaruh dari Valey. Mengingat wanita itu sangat baik dan tidak pernah menyimpan dendam.

__ADS_1


"Semua sudah masa lalu, Narendra. Kakak ingin berdamai dengan luka. Kakak memutuskan untuk memaafkan Morgan dan ...."


"Dan apa?" sambung Narendra cepat.


"Dan memberinya kesempatan kedua."


"Aku tidak setuju!" tegas Narendra.


"Naren, setiap orang berhak mendapat kesempatan. Biarkan Kak Shera dan Tuan Morgan menjalin hubungan yang belum selesai," ujar Valey kembali menyela.


"Laki-laki itu tidak pantas mendapat kesempatan!"


"Narendra, bukankah kamu dulu juga menyakiti Valey, tapi Valey tetap memberimu kesempatan. Sampai kalian saling mencintai dan bahagia?" ujar Shera membalikkan keadaan.


Narendra terdiam dengan bibir kelu. Tak menemukan kata untuk membalas perkataan kakaknya.


"Kak Shera saja sudah berdamai dengan lukanya. Kamu juga harus bisa mendukung mereka, biar Kak Shera mendapat kebahagiaan seperti kita."


Ah, perkataan Valey selalu berhasil mengacaukan pikirannya.


Valey mengelus pipi Narendra dengan lembut. Menatapnya dengan kehangatan cinta. "Kita bahagia, Kak Shera juga berhak bahagia."


"Kamu terlalu pandai berbicara," gumam Narendra masih setengah kesal. "Susah mendebat denganmu," imbuhnya.


Valey tersenyum dan mengedipkan sebelah mata.


"Setelah Kak Shera menikah, kita juga akan menikah."


Hem ... bujukan yang satu itu membuat Narendra benar-benar goyah. Setelah acara lamaran malam itu, Valey belum memberi kepastian kapan mereka bisa melangsungkan pernikahan.


"Baiklah, aku tidak melarang lagi."


Mendengar persetujuan dari adiknya, Shera langsung memeluk Valey.


"Kalian memang ahli bersekongkol." Narendra menggerutu dengan wajah ditekuk.


"Terima kasih Valey. Kakak akan selalu mendoakan kamu bahagia."


"Valey juga mendoakan Kak Shera selalu bahagia." Keduanya berpelukan bahagia tanpa perduli Narendra yang terus menggerutu.


"Aku akan memberitahu Morgan," ucap Shera dan berlalu meninggalkan kamarnya.


Narendra melirik pintu yang sudah tertutup. "Terus kapan kita nikahnya?"


Valey menoleh dan menjawab. "Kapan-kapan."


"Valey !!!"

__ADS_1


Valey tertawa dan menjauh dari Narendra yang akan mencubitnya. Semoga dalam kebahagiaan mereka tak ada lagi duri yang menusuk.


__ADS_2