Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Di Kehidupan Manapun Aku akan Membencimu


__ADS_3

Lagi-lagi di keadaan yang sama. Naren harus menunggui Valey karena pingsan. Pria itu mondar-mandir di depan ruang UGD dengan memijit pangkal hidung. Hatinya tak henti memaki Valey. Perbuatan wanita itu sangat merepotkan.


Seorang perawat keluar dan menyuruhnya untuk masuk karena dokter sudah menunggunya.


Meski geram, namun ia tetap masuk di dampingi perawat tadi.


Seorang dokter berusia paruh baya mengenakan pakaian hijau sudah menyambutnya dengan senyuman.


Naren mengernyit aneh melihat reaksi dokter itu, tapi tidak mau menanyakan lebih lanjut.


"Silahkan duduk, Tuan."


Naren duduk di kursi, sambil ekor matanya melirik Valey yang baru sadar dan sekarang sedang memegangi bagian kepala. Mungkin wanita itu masih merasa pusing. Tapi ya sudah ia tak peduli.


Dokter itu terlihat membaca catatan medis, lalu mulai menerangkan padanya.


"Nona Valey mengalami dehidrasi berat dan itu sangat berbahaya bagi ibu hamil muda. Beruntung calon bayinya kuat, hingga masih bisa diselamatkan."


Naren maupun Valey sama-sama melolong tak percaya. Hamil muda?!


"Dan maaf jika saya lancang menanyakan hal ini. Apa istri Anda baru mengalami kekerasan? Luka di bagian kening juga pipi yang memar, itu sangat mempengaruhi psikis, bahkan berdampak juga dengan calon bayinya."


"Tuan, tolong dijaga istrinya. Di kehamilan delapan minggu masih sangat rentan dengan keguguran. Nona Valey yang mengalami dehidrasi berat harus benar-benar bed rest untuk waktu yang lama. Saya juga menyarankan agar Nona Valey di rawat hingga tiga hari ke depan agar kami bisa memantau kondisinya."


Valey bergeming di atas tempat tidur. Air matanya berjatuhan dengan sendirinya. Penjelasan dokter sama sekali tidak terlampir di dalam otaknya.


Ia masih tak mempercayai dua kata yang sama sekali tak terpikirkan. Hamil muda?! Ia dinyatakan tengah hamil muda? Yang artinya sedang mengandung anak Naren. Pria yang saat ini paling dibenci karena menyiksa fisik dan batinnya.


Hingga suara Naren yang meminta waktu untuk bicara dengannya, membuyarkan lamunan Valey.


"Jangan mendekat Naren! Jangan mendekat!" Valey sudah sangat ketakutan. Saat ini tubuh dan hatinya benar-benar rapuh. Ia ingin sendiri, meluapkan apa yang dirasa namun sulit intuk dijabarkan.


Ia marah, kecewa, juga membenci takdir. Membenci diri sendiri dan membenci pria yang telah menyeretnya pada kubangan kesakitan yang tak ada ujungnya.


"Aku akan menggugurkan anak ini!"


Naren menatapnya dengan sorot mata tak terbaca.


"Aku benci padamu Naren. Di kehidupan manapun aku membencimu. Aku tidak mau mengandung anak ini. Aku akan menggugurkannya." Valey menjerit tak terkontrol. Ia tak peduli dengan punggung tangan yang tertancap jarum infus, terus saja memberontak.

__ADS_1


"Diam!"


Bentakan Naren membuat Valey menghentikan gerakannya, tapi tidak dengan isak tangis yang kian memilukan.


"Diam dan istirahatlah!" Nada bicara Naren melemah dan pria itu berbalik keluar dari ruangan.


Naren duduk di kursi tunggu, lalu menjambak rambut kuat-kuat. Kepalanya berdenyut tak karuan.


Apalagi?! Apalagi ini?! Keadaan macam apa ini?!


Kenapa wanita yang sangat dibenci harus mengandung anaknya. Ia membenci wanita itu, tapi tidak dengan darah dagingnya. Ia tak bisa membenci kehadiran bayi itu.


Latisya, kekasihnya yang bernama Latisya yang berhak mengandung darah dagingnya. Wanita sempurna yang tengah mengejar pendidikan di Negara Paman Sam itulah yang pantas mengandung benihnya.


Bukan Valeycia yang seorang penjahat yang telah membunuh ibunya dan membuat keluarganya hancur berantakan.


"****! Dasar bodoh! Kamu benar-benar bodoh, Naren! Bisa-bisa kamu lepas kendali dan meniduri wanita rendahan itu. Sial!" Naren memaki diri sendiri.


Malam itu harusnya ia tidak masuk ke kamar Valey, hingga kejadian itu tak akan terjadi. Sungguh, ia tak pernah terbesit sedikitpun jika Valey akan mengandung anaknya.


Ia terus menyalahkan diri, kenapa malam itu tak bisa mengontrol diri.


Ketika ia sedang termenung dengan keadaan, tiba-tiba Valey keluar.


"Pergi kemana?"


"Kemanapun. Aku tidak mau dirawat!"


"Kamu tidak dengar aku menyuruhnya diam dan istirahat!" Naren tidak membentak, namun wajah pria itu menyiratkan kemarahan.


Mungkin karena sadar sedang berada di rumah sakit, hingga Naren tak leluasa untuk berteriak.


"Aku tidak mau!"


"Jangan memancing emosiku, dengar dan lakukan perintahku!"


"Suster ... suster, tolong aku. Pria ini berbuat jahat! Dia menyekap dan menganiaya ku. Tolong, Sus!" Valey berlari ke arah perawat yang sedang berjalan di lorong.


Naren segera mengejar Valey. "Maaf, istriku sedang syok. Jadi dia berbicara asal. Jika boleh, tolong panggilkan dokter untuk membuat istriku tenang."

__ADS_1


"Tidak Suster, pria ini akan menyakitiku lagi. Ku mohon tolong aku." Valey meraih tangan perawat untuk meminta bantuan.


Tapi perawat itu justru lebih mempercayai ucapan Naren dan berlalu untuk memanggil dokter.


Usai perawat berlalu, Naren segera mendekap tubuh Valey agar tidak lari lagi.


"Lepas bajingan! Lepaskan!" Valey berusaha meloloskan diri, tapi Naren mengunci pergerakannya dari belakang. Membuat usahanya sia-sia.


Tiga puluh menit kemudian, Valey sudah tenang dan sedang berbaring di ruang perawatan.


Dokter harus menyuntik obat tidur karena Valey tidak bisa mengendalikan diri.


Di samping brankar Valey ada Naren yang sedari tadi menghela napas panjang. Rumit, semuanya semakin rumit. Kenapa harus ada masalah baru yang menambah beban pikiran.


Bagaimana seterusnya, tindakan seperti apa yang harus ia ambil? Apa menggugurkan calon bayi itu adalah solusinya? Tapi itu sama saja ia membunuh darah dagingnya sendiri.


Bukankah ia sama dengan Valey, sama-sama seorang pembunuh jika ia mendukung keputusan Valey untuk menggugurkan anak itu.


Tapi, kehadiran janin itu sama sekali tak terduga bahkan tak diinginkan.


Di saat Valey belum bangun, ia menitipkan Valey pada perawat karena ia harus pulang mengambil pakaian dan laptop. Bahkan ia menyuruh perawat untuk mengikat kedua tangan Valey untuk mencegah berbuat hal yang tidak diinginkan.


Tengah malam Naren sampai di rumah sederhana, itupun langsung disambut oleh wajah khawatir nanny.


"Tuan, dimana Nona Valey? Kenapa Anda tidak pulang bersamanya? Dimana Nona, Tuan?" nanny memberondong pertanyaan.


"Dia di rumah sakit," jawab Naren singkat.


"Rumah sakit? Apa yang terjadi dengan Nona?"


Naren bernapas kasar dengan lagi-lagi menjambak rambut, frustasi. "Dia hamil."


Sama halnya dengan Naren dan Valey tadi, reaksi nanny juga sama. Sama-sama terlolong, tak percaya.


"Non Valey hamil? Bagaimana mungkin? Si-siapa yang menghamili Nona?"


Terjawab sudah rasa penasaran nanny tentang perubahan fisik Valey, bahkan tentang mual yang hampir setiap pagi Valey muntah-muntah.


Tapi, siapa laki-laki yang telah menghamili gadis malang itu?

__ADS_1


"Aku tak sengaja melakukannya. Hanya malam itu, tapi dia langsung hamil."


"Tu-tuan ...." Nanny lebih terkejut mendengar ungkapan Naren. Pria itu bukan hanya menyiksa fisik, tapi menyiksa batin Valey. Benar-benar malang sekali nasib gadis itu.


__ADS_2