Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Persiapan


__ADS_3

Hari-hari berlalu. Sudah satu minggu sejak Narendra memperlihatkan cincin lamarannya di hadapan Shera, namun niat pria itu belum tertunaikan.


Narendra sedang mencari momen yang pas untuk memberi kejutan kepada Valey.


Pria dengan kaos putih dan celana pendek itu menuju kamar Shera.


"Ada apa?" tanya Shera yang sedang duduk di kursi sambil membaca majalah bisnis. Tanpa menoleh siapa yang masuk, seolah sudah hapal jika itu adalah Narendra, karena pria itu sering lupa mengetuk pintu.


"Kak, nanti malam aku titip Vandra, ya." Narendra berdiri mencangkung di samping pintu balkon.


"Kenapa ngomong segala? Bukannya selama ini Vandra sering sama aku," ujar Shera melirik Narendra.


Pria itu menyurai rambut yang masih sedikit basah. Sambil mendesis.


"Khusus nanti malam, karena aku mau pergi sama Valey."


"Jangan bilang nanti malam kamu mau melamar Valey?!"


"Yap, betul. Aku mau kasih surprise lamaran terindah untuknya."


"Widih ... sok sweet gitu." Shera meledek dengan kekehan.


"Ck ... Kakak!" protes Narendra yang tidak suka diledek demikian.


"Oke-oke, siap. Tapi jangan lupa harus live streaming ya."


"Maksud Kakak?"


Shera memutar bola mata. "Kakak juga pengen liat momen adikku ini melamar seorang gadis. Kamu harus live streaming saat melamar Valey nanti." Shera menjelaskan maksudnya.


"Siap. Nanti aku stay dari awal sampai akhir."


Narendra menyusul Shera duduk di kursi, lalu menyerobot minuman milik kakaknya.


"Kamu rese!" tegur Shera sedikit jengkel mendapati adiknya itu menghabiskan jus alpukat kesukaannya.


"Haus, Kak," kilah Narendra meringis.


"Minta dibuatin sama nanny kan bisa! Bisa juga minta dibuatin pembantu yang lainnya. Hidup kita sudah kembali seperti dulu, tinggal bilang saja sudah tersedia."


Narendra menggaruk belakang kepalanya. "Terkadang aku masih lupa kalau kehidupan kita kembali seperti semula. Gak nyangka, semua terjadi seperti mimpi buruk. Dan kita dibangunkan setelah semua rasa sakit kita lalui. Terlebih Valey, dia yang tidak tau apa-apa jadi ikut menanggung derita."


"Huft ... yang sudah ya sudah. Tidak perlu diingat lagi," gumam Shera. Dia beranjak ke samping nakas untuk menekan tombol yang terhubung langsung ke dapur.


"Nanny, tolong buatkan jus alpukat dua dan bawakan juga camilan," titahnya. Lalu kembali duduk di tempat semula.

__ADS_1


"Narendra, bagaimana dengan hatimu? Sudah seratus persen yakin?"


"Em, masih fifti-fifti. Tapi aku akan berusaha mencintainya sepenuh hatiku."


"Fifti-fifti karena masih memikirkan Tisya atau karena fisik Valey yang sekarang?!"


"Kak, kita pernah bahas ini. Setelah apa yang dilakukan Tisya, aku sudah tidak pernah memikirkan dia lagi. Untuk Valey, aku akan mencari referensi dokter terbaik untuk menyembuhkannya."



Di kamar Valey termenung. Arah pandanganya kosong menatap bentangan cakrawala yang sangat terik kala siang itu. Air matanya baru saja kering sesaat dia menangisi sesuatu.


"Tuhan, aku memang memiliki perasaan pada Naren. Tapi aku tidak memaksa kehendak. Jika tidak bertakdir maka lapang kan hatiku untuk melupakannya. Keadaanku yang seperti ini hanya akan menyulitkan dirinya."


"Vandra, tanpa mama mengatakan padamu. Kamu pasti tau mama sangat menyayangimu. Tapi mama tidak bisa menemanimu selamanya. Papa pasti akan menjagamu dengan baik."



Sore hari, Valey meminta nanny untuk mengantarkannya ke taman. Beralasan bosan selalu tinggal di rumah. Narendra dan Shera izin ingin menghadiri acara rekan bisnis. Namun Valey tahu, itu hanya alasan saja.


Valey di bantu supir berhasil pindah ke kursi roda. Nanny membantu mendorong sambil menggendong Vandra.


"Puji Tuhan, setelah kesulitan yang dilalui, selangkah lagi hanya akan ada kebahagiaan. Walau nanny bukan siapa-siapa, tapi nanny ikut senang."


Deg! Wanita paruh baya itu menoleh cepat. Valey sedang menunduk dan meneteskan air mata.


"Aku tidak bahagia dengan keadaanku sekarang."


"Non ...."


"Aku merasa tidak pantas untuk Naren. Aku berkecil hati dengan keadaanku."


"Non ...!"


"Bantu aku, Nanny. Tolong bantu aku!"


Perkataan nanny selalu di serobot cepat oleh Valey. Wanita itu beralih menggenggam tangan Nanny dengan sorot penuh permohonan.


"Bantu aku untuk pergi."


Bola mata nanny membulat. Tidak percaya dengan permintaan wanita yang dianggapnya anak sendiri itu.


"Nanny ...."


"Tidak, Non. Sekarang saatnya Non bahagia, kenapa ingin pergi?"

__ADS_1


"Nanny yakin, Tuan Narendra tidak mempermasalahkan keadaan Nona. Dia juga sedang berusaha mencarikan pengobatan terbaik. Bukankah sudah lama Anda menyukai Tuan Narendra? Lalu Anda akan menyia-nyiakankannya begitu saja."


"Naren tidak sungguh-sungguh menyukaiku. Hatinya hanya terlibat rasa bersalah. Dia berhak mendapat wanita yang sempurna." Sorot mata Valey menggambarkan sebuah luka yang mendalam.


Sesaat tak sengaja mendengar obrolan Shera dan Narendra, dia menyesali keputusannya kembali tinggal bersama mereka. Harusnya dia pergi dan menghilang.


"Non Valey sudah lebih dari sempurna. Menurut saya, Anda sangat pantas untuk Tuan Narendra. Walau Anda tidak bisa berjalan, tapi semua itu tidak menjadikan Anda buruk. Nanny akan selalu mendampingi dan membantu Non dalam segala hal."


"Kalau begitu tolong bantu aku pergi dari Naren."


"Kecuali itu. Karena menurut saya Anda berhak bahagia. Terlepas apapun alasan Tuan Narendra ingin bersama Anda."


Valey membuang napas kasar. Niatnya mengajak nanny ke taman untuk membantunya pergi justru di tentang keras.



Di sebuah restoran mewah yang ada di tengah kota, seorang pria sedang sibuk meninjau persiapan untuk acara nanti malam. Dia dan sang kakak terjun langsung untuk mengawasi pekerja restoran menyiapkan semuanya.


"Perfect. Semoga nanti malam acara mu berjalan lancar. Bawa pulang Valey sebagai menantu di rumah kita," ujar Shera dengan sudut mata berkaca-kaca.


Narendra tersenyum sambil mengamati buket bunga mawar indah yang ada di depannya. Kalaupun hatinya belum seratus persen untuk Valey, tapi dia merasakan bahagia luar biasa.


Jantungnya berdetak kencang, meski waktu yang ditentukan masih lama.


Sesungguhnya dia mencintai Valey, akan tetapi keadaan Valey memang membuat hatinya ragu.


Perkataan dokter yang tidak bisa memastikan kesembuhan Valey mempengaruhi pikirannya.


"Narendra, cincinnya jangan lupa!"


Ucapan Shera membuyarkan lamunan Narendra. Dia merogoh saku dan mengeluarkan kota perhiasan kecil yang berisi cincin lamaran.


Dia menghela napas. "Belum apa-apa jantungku sudah berdebar-debar," gumamnya.


"Santai. Jangan nervous. Valey juga memiliki perasaan kepadamu, dia pasti menerimamu."


Dua jam setelahnya. Di rumah Narendra tampak beberapa orang perias yang datang untuk merias Valey. Dia mengatakan akan mengajak Valey pergi menghadiri pesta.


Walau Valey sudah tahu, tapi dia hanya menurut.


Narendra berdiri di depan pintu dengan tersenyum manis. Menunggu Valey yang sedang di rias oleh perias MUA.


"Kamu terlihat bahagia, meski sepenuhnya tidak bahagia." Valey melihat Narendra dari pantulan cermin.


"Aku tunggu di bawah, ya," ujar Narendra saat mendekati Valey untuk meminta izin menunggu di bawah. Dan Valey menyetujui.

__ADS_1


__ADS_2