
Pagi hari, Valey pergi ke dapur menemui nanny. Di rumah sederhana itu ia justru merasa sedikit lega. Ia bisa keluar masuk semua ruangan, kecuali kamar Naren. Bahkan bisa menemani nanny memasak dengan ia yang sedikit-dikit membantu.
"Nanny mau masak apa?" tanya Valey.
"Apa ya, Non, nanny juga bingung." Wanita paruh baya itu meringis. Sewaktu tinggal di rumah besar, semua bahan masakan sudah siap sedia, hingga menghidangkan masakan pun sudah dibuat jadwal.
Tapi sekarang jelas berbeda. Di dalam kulkas yang hanya satu pintu terdapat bahan makanan alakadarnya. Ia bingung harus membuat olahan apa.
"Memang di kulkas ada bahan apa saja?" Valey bertanya tapi sudah menuju ke lemari pendingin di sudut ruangan dan melihat-lihat isinya. Ada kol, wortel, daun bawang, tomat, beberapa butir telur. Sedangkan di dalam frezer ada ayam dan ikan saja.
"Bagaimana kalau kita buat nasi goreng buat sarapan pagi ini?" ujar Valey.
"Itu ... Non, Tuan Naren tidak suka dengan nasi goreng."
"Oh." Valey mengangguk. "Kalau ayam rica-rica suka tidak?"
"Tidak terlalu suka tapi masih mau makan. Apa saya masak itu saja, ya, Non?" tanya Nanny meminta pendapat.
Valey mengangguk. "Adanya itu, ya sudah masak itu saja."
Nanny mengeluarkan ayam yang masih beku, namun bau amis langsung tercium dan itu membuat Valey segera menutup hidung.
"Akhir-akhir ini saya perhatikan Non sering mual," ujar Nanny.
"Iya, aku tidak suka dengan bau yang menyengat."
Nanny menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyiapkan bumbu untuk membuat ayam rica-rica, wanita itu justru menelisik tubuh Valey dari ujung rambut sampai ujung kaki secara berulang kali.
"Ada apa, Nanny?" Valey mengernyit ditatap sedemikian rupa oleh nanny.
"Tidak! Tidak pa-pa." Nanny melanjutkan aktifitasnya namun dengan berbagai pertanyaan dibenaknya.
"Em, Nanny, bolehkan aku masak sendiri buat sarapanku pagi ini."
Pertanyaan Valey membuyarkan segudang pertanyaan dibenak nanny.
"Tentu boleh. Silahkan masak sesuka Nona." Nanny tersenyum.
"Makasih Nanny."
Valey merasa senang. Ia yang selama kurang lebih tiga bulan hanya menjadi penghuni kamar, kini bisa bebas bergerak melakukan apapun.
__ADS_1
Bahkan ia tak lagi merasa sebagai tahanan. Di rumah sederhana itu terasa nyaman dan seperti memiliki keluarga baru.
Tentang Naren, biarkan pria itu bersikap dingin, asal tidak menyiksa fisiknya lagi. Sekarang, ia justru merasa kasihan dengan Naren. Mungkin saat ini adalah masa tersulit bagi pria itu.
Dari cerita nanny tempo lalu, Naren adalah anak emas yang selalu disayang semua anggota keluarga, tapi saat ini, alih-alih menjadi anak emas, pria itu bahkan telah kehilangan segalanya. Bahkan harta bendanya. Sungguh kasihan.
Sebelum memulai memasak, Valey menanyakan masker penutup hidung pada nanny. Mengantisipasi jika rasa mual tiba-tiba menyerang.
Setelah mendapatkan itu, Valey mulai meracik bumbu, sambil sesekali mengobrol dengan nanny yang belum selesai memasak ayam rica-rica.
Ia bahkan tertawa saat nanny bercerita lucu, namun tawanya terhenti begitu melihat Naren berdiri di depan pintu dapur.
Nanny yang juga menyadari kedatangan Naren segera menanyakan gerangan apa yang membuat Naren datang ke dapur.
"Maaf Tuan sarapannya sebentar lagi baru selesai." Nanny menunduk meminta maaf atas keterlambatannya menghidangkan sarapan.
Jika di rumah besar, ada alat canggih untuk mempermudah pekerjaannya, sedangkan di rumah sederhana itu ia memasak dengan alat seadanya, jadi cukup lama ia menyelesaikan satu menu olahan saja.
"Aku tidak selera makan. Buatkan saja kopi," ujarnya dingin.
"Tapi minum kopi sebelum perut terisi tidak baik. Lambungmu bisa bermasalah." Tanpa diduga, Valey menyahuti.
"Ssstttthhh!" Valey mendesis ketika Naren menjambak rambutnya.
Ternyata pemikirannya salah. Ia mengira Naren tidak lagi menyakiti fisiknya, tapi ini pertama kali Naren menjambak rambutnya setelah dua bulan terakhir mereka jarang bertatap muka.
"Tu-tuan, jangan!" Tangan nanny terangkat ingin membantu Valey melepas tangan Naren, tapi nanny urungkan karena tidak berani ikut campur.
"Jangan mengira disini aku tidak bisa melakukan apapun dan kamu bebas melakukan apapun!" bentak Naren masih dengan tatapan menghunus.
"Aku akan melepas mu jika kamu memberitahu dimana kakakku! Sampai dia belum kembali, jangan harap aku melepasmu!" Naren melepas cengkraman tangannya dengan kasar, membuat Valey hampir terjatuh jika nanny tidak segera menyangga tubuhnya.
"Nona tidak pa-pa? Sebaiknya jangan banyak bicara dengan Tuan Naren. Emosi Tuan Naren sedang tidak stabil, membuatnya mudah marah."
"Dan maafkan saya yang tidak bisa menolong saat Tuan Naren menyakiti Nona." Nanny menunduk sedih. Mata tuanya memancarkan kabut air mata.
"Tidak apa, Nanny, tidak apa. Aku baik-baik saja." Valey mencoba tersenyum dan merangkul tubuh nanny.
Hatinya mencelos, Naren tetaplah Naren. Apa yang membuatnya berpikir jika Naren berubah, nyatanya pria itu masih sama. Kejam dan masih menyiksanya.
"Padahal Nona baik sekali, tapi kenapa Tuan Naren tetap tidak percaya." Nanny menerawang sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Sudah kubilang, hati Naren sudah mengeras, sulit untuk membedakan."
Di dalam kamar Naren, tangan pria itu terkepal erat. Terkadang ia biasa saja melihat Valey, tapi bila teringat dengan kakaknya, maka ia sulit mengontrol emosi dan rasanya ingin menyiksa Valey karena wanita itu tetap tak mau membuka mulut tentang keberadaan kakaknya.
Apalagi bisikkan hatinya yang mengatakan jika Valey bersekongkol dengan Ziat, membuat emosinya hadir secara meluap-luap.
Naren membuang napas kasar. Takkan ada perubahan jika ia tak melakukan apapun, tapi untuk sekarang ia benar-benar buntu. Otaknya Tak bisa berpikir dengan jernih.
•
Rumah sederhana itu dihuni 4 orang, tapi terasa sunyi. Yuda, pengawal setia yang ikut pindah jarang terlihat di rumah. Lebih sering keluar entah kemana.
Sedangkan Naren tak beranjak dari kamar ataupun menjadi penghuni kursi di ruang tamu sambil fokus dengan layar laptop. Entah sedang mengerjakan apa.
Nanny sibuk membereskan rumah, dan Valey sering di dalam kamar karena akhir-akhir ini sering mudah lelah dan mengantuk.
Saat ingin ke kamar mandi, tak sengaja mendengar percakapan Naren dan nanny.
"Beli kebutuhan dapur dan lainnya."
"Saya masih ada uang, bisa pakai uang saya untuk belanja. Tuan simpan saja uang itu," ujar nanny terdengar begitu tulus.
"Itu bukan tugasmu untuk menghidupiku. Simpan uangmu dan pakai ini." Naren menyerahkan uang pada nanny.
"Dan tolong gunakan seperlunya. Sampai semua kembali. Aku sedang berusaha."
Ini pertama kali seorang Naren berbincang panjang dengan nanny. Padahal selama berpuluh tahun mengabdi, sikap Naren sangat angkuh dan tidak mengenal para pelayan.
Sungguh, harusnya Naren bersyukur ada nanny yang masih setia mengabdi meski pria itu sudah tak memiliki kekayaan berlimpah.
"Pasti, Tuan. Akan saya gunakan sebaik mungkin. Dan, semoga apa yang menjadi milik Tuan segera kembali. Begitu dengan Nona Shera, mudah-mudahan segera ditemukan."
"Untuk itu bantu aku bagaimana caranya wanita sialan itu mau membuka mulut. Jangan perlakukan dia dengan baik! Dia akan semakin membangkang dan keenakan. Dia itu tawanan bukan saudara yang harus diperlakukan baik!"
"Tapi, saya yakin, Nona bukan penjahat yang bersekongkol dengan tuan Ziat. Nona sangat lembut, tidak mungkin dia seperti itu."
"Jangan percaya dengan wajah polosnya, aku yakin dia pembunuh ibu dan ada kaitannya dengan hilangnya Kak Shera!"
"Apa yang membuat Tuan sangat yakin?"
"Dia datang dengan sebelumnya mengatakan ingin menyampaikan pesan dari ibu. Kalau pada saat itu ibu masih hidup, kenapa dia tidak menolong ibu?! Lalu setelah dia disini, semua file penting hilang. Aku yakin, semua itu rencana yang disusun oleh uncle Ziat yang sudah bersekongkol dengannya."
__ADS_1