
Rumah makan Gongxi. . .
Sambil menunggu Yi Mei dan Yi Cao yang sedang mencari penginapan, Yueji menunggunya di balkon rumah makan sambil memperhatikan pemandangan pasar kota dari atas.
“Kenapa mereka lama sekali?” katanya sambil menyangga dagu. Saking bosannya bosan menunggu ia mengeluarkan buku lukisnya didalam tasnya. Ia menuangkan apa yang ia lihat ditempat itu kedalam sebuah lukisan yang indah nan cantik. Tangannya yang sangat piawai mengoleskan tinta keatas permukaan kertas dan matanya yang seolah-olah menjadi penunjuk kemana arah goresan kuas itu berjalan. Titik, garis, lingkaran, persegi perlahan-lahan ia lukis hingga menjadi satu pemandangan pasar didalam buku lukis milik sang Ibu.
“Apa yang sedang kau lukis?” suara Yi Cao yang datang bersama Yi Mei membawa bungkusan kecil ditangannya.
“Kalian dari mana saja, kenapa lama sekali?” jawabnya sembari terus melukis
“Sulit mencari penginapan yang murah disini, untungnya kami mendapatkannya meski jaraknya lumayan jauh dari sini. Oh ya, tadi aku dan Yi Mei melihat sebuah kios kue bulan dan membelikannya untukmu. Orang disini bilang kalau kue ini sangat populer disini bahkan sering menjadi incaran para pelancong yang berkunjung kemari, karena penasaran akan rasanya jadi aku membeli beberapa untuk perbekalan”
Kue bulan? Matanya berkedip beberapa kali mengingat pertemuannya dengan Yingjun beberapa waktu sebelumnya karena hendak membeli kue itu.
“Cobalah, kau pasti menyukainya!” menyodorkan bungkusan itu ke hadapan Yueji yang masih melamun
“Kalian bisa memakan semuanya!” tersadar
“Jangan begitu. . .lihat, aku akan memakannya terlebih dahulu. Mm, rasanya manis dan teksturnya begitu lembut. Cobalah, kau juga Yi Mei” satu suapan yang membuatnya terlena
Kue itu akan terasa manis dimulut kalian, tapi akan terasa asam untukku. Argh, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi disini, tapi sejujurnya aku senang melihatnya baik-baik saja.
”Sudahlah jangan memaksanya. Simpan saja beberapa untuk kita bawa kembali ke Penginapan. Bagaimana lukisanmu?” sangga Yi Mei mengalihkan perhatian saat melihat ekspresi aneh diwajah Yueji ketika mendengar mengenai kue bulan itu.
“Sudah hampir jadi. Lihatlah!” menunjukkan
“Apapun yang kau lukis pasti akan terlihat hidup dan nyata, aku hampir tenggelam ke dalamnya” puji Yi Mei.
“Aku tidak menyangka suasana kota akan seramai dan seindah ini, apalagi jika diamati dari atas. Banyak dari mereka yang memakai gaun indah, perhiasannya juga sangat berkilau dan terlihat mahal. Banyak juga yang menjual beraneka ragam makanan, pernak-pernik yang tergantung dan banyak lagi yang lainnya. Selama ini, aku merasa hampir buta warna gara-gara hanya bisa melihat suasana hutan yang hijau, gua yang gelap, langit biru dipagi hari dan jingga di sore hari. Sampai akhirnya aku tau bahwa ada banyak warna didunia ini, mulai dari yang terang hingga mereka yang redup namun tetap istimewa.” Meracaunya dengan tangan yang terus melukis
“Kau puas dengan perjalanan ini?”
“Tentu saja! Kapan lagi aku bisa merasa sebebas ini melukis, banyak hal baru yang aku lihat dan tak pernah kutahu bahwa mereka benar-benar ada didunia ini”
“Kau benar, apa yang tidak kita temukan dihutan kita bisa melihatnya disini. Sudah, lekas selesaikan lukisanmu dan masukkan kedalam tas sebelum ada orang yang melihat!”
“Kak, kau tenang saja, alasanku memilih tempat ini karena tak banyak orang yang memperhatikan.”
__ADS_1
“Benar sekali Yueji, ditempat seperti ini mereka cenderung melihat apa yang ada dihadapan mereka saja tanpa memperhatikan sisi yang lain, jadi kita juga tak akan terlihat oleh mereka. Kau jangan terlalu cemas!” sahut Yi Cao yang terus melahap kue bulan itu.
“Bukannya kau bilang kue itu akan kau bawa sebagai bekal, kenapa kau tak menyisakannya satu pun. Bahkan Yueji belum mencobanya.”
“Ah, hehe. . .”tersenyum malu
“Sudahlah, lagipula aku tidak berniat memintanya. Oh ya, kak Yi Cao kamu mau mencoba meneruskan
lukisanku? Tanganku sudah mulai keluh rasanya”
“Kau bercanda? Bagaimana jika dia malah merusak lukisanmu? Sudahlah, jika kau lelah teruskan saja nanti di penginapan!” ejeknya
“Aku yakin tidak apa-apa. Lagipula sewaktu di Gua juga ia banyak membantuku untuk menyelesaikannya.” membelanya
“Kau ini selalu meremehkan kemampuan bertarungku. Kali ini asal kau tahu, dalam hal melukis aku lebih baik darimu!” balasnya
“Sudah, sudah. Silahkan kak, kau tinggal mengikuti pola yang sudah kubuat. Hasilnya pasti takkan jauh berbeda
dengan milikku. Susun garisnya disini, iya, tarik kesini, benar begitu, bagus. Waah kau benar-benar berbakat, teruskan!” ajarnya
Tak lama kemudian makananpun datang. Yi Cao yang sedang asik dengan lukisannya tak menghiraukan makanan yang sudah tersaji rapi dimeja (aku pikir dia juga sudah kenyang karena telah memakan semua kue bulan tadi – suara hati author, hehe). Yueji yang tengah kelaparan dengan sigap menyerobot makanan itu kemudian tanpa basa-basi melahapnya dan meninggalkan gambarnya bersama Yi Cao. Si pelayan yang tadi mengantarkan makanan pun memperhatikannya melukis.
“Waah, ternyata anda berbakat dalam melukis, nona. Mengesankan sekali, pasti akan mahal jika anda menjualnya” sanjungnya sambil meletakkan mangkuk-mangkuk ditangannya.
“Eh, ini. . .” hendak menyangkal, namun terpotong
“. . .Terima kasih, paman. Tapi kami tidak berniat untuk menjualnya” sahutnya
“Sayang sekali. Bakat seperti ini sangat langka disini, aku jamin jika kalian menjualnya pasti akan banyak orang yang membelinya dengan harga yang tinggi”
“Benarkah?” kata Yi Cao yang mulai tergiur dengan paman pelayan itu
“Tidak paman, terima kasih atas informasinya. Tapi kami benar-benar tidak akan menjualnya!”
“Baiklah, baiklah. Kalau begitu silahkan nikmati makanannya!” berpaling pergi
“Tutup bukunya dan simpan! Jangan sampai ada orang lain lagi selain dia yang melihatnya!”
__ADS_1
“Kau dengar apa kata pelayan tadi, lukisan ini bisa dijual dengan harga yang mahal” menghentikan lukisannya
“Jangan berfikiran yang aneh-aneh! Memangnya itu milikmu? Cepat tutup dan berikan pada Yueji biar dia yang menyelesaikannya” perbincangan si kembar dengan nada lirih
“Kau ini, aku hanya membayangkannya saja. Jika perkataan pelayan itu benar, mungkin kita bisa menghasilkan uang yang banyak dikota ini.”
“Tutup mulutmu! Bagaimana kau bisa mengatakan itu? Kau lupa tujuan kita keluar Gua dan meninggalkan ibu serta kakek disana? Apa kau berniat untuk menetap disini dan menghentikan perjalanan kita? Bukankah ibu juga melarang kita untuk memperlihatkan lukisan-lukisan ini pada orang asing? Sekarang berkat kau, ada orang yang melihatnya dan bahkan mengusulkan hal yang tidak masuk akal, yaitu menjualnya”
“Dia hanya pelayan, apa yang kau khawatirkan?” kembali melukis
“Tapi dia tetap manusia yang memiliki mulut, memangnya ada jaminan jika dia tidak akan mengatakannya pada orang lain tentang apa yang ia lihat barusan?” kesalnya
“Sudah, sudah, kalian ini kenapa? Kak Yi Cao, berikan bukunya padaku biar aku yang meneruskannya nanti. Sekarang makanlah, kau bahkan belum menyentuh mangkuknya dan berhentilah berdebat!” melerai perdebatan kedua gadis kembar itu
“Maaf, aku terlalu emosi!” Yi Mei
“Tidak ada yang salah dalam hal ini. Wajar saja jika pelayan itu kagum, bukankah ia bilang bahwa bakat seperti ini langka. Aku yakin kau marah karena kau tidak ingin perjalanan ini gagal hanya karena iming-iming kekayaan bukan? Semua orang bebas berpendapat di dunia ini, jadi jangan saling menyalahkan!” keluarlah kata bijaknya
Setelah menghabiskan hidangan di rumah makan itu mereka pun bergegas pergi dan kembali menyusuri seisi pasar.
“Sepertinya tintaku mulai habis. Kita harus pergi membelinya lagi” ucap Yueji
“Biar aku saja yang membelinya, kau tunggu disini dengan Yi Cao!”
“Em. . .” angguknya
“Eh, sepertinya kue bulan itu masih ada. Aku akan pergi untuk membelinya lagi biar kau juga bisa merasakannya. Tunggu disini sebentar, aku akan pergi dan kembali dengan cepat!”
“Tapi. . . itu tidak perlu” suaranya yang menggantung tanpa di dengar oleh Yi Cao yang sudah keburu pergi. Tinggalah ia sendiri ditengah keramaian. Tak jauh dari tempat itu, terdengar suara seseorang sedang memainkan musik yang mendayu begitu menenangkan dan membuat siapapun tersihir oleh suaranya. Tanpa sadar Yueji mengikuti alunan musik itu dan mendekati sumber suara hingga sampai pada sebuah Rumah Bordil.
Rumah Bordil Baihe
Di dalam rumah bordil itu, terlihat banyak penari yang yang menunjukkan kemampuannya di depan para tamu. Sambil terus mendengarkan suara musik itu ia juga tertarik untuk mengabadikan kemolekan tubuh sang penari ke dalam bukunya. Dengan hati-hati ia mengamatinya dari sudut ruangan dan melihat seseorang sedang memainkan sebuah sitar dibelakang para gadis yang sedang menari. Ia berusaha mengintip dari balik celah para penari itu, namun pandangannya sedikit terhalang dan tak bisa melihatnya secara jelas. Matanya terus terpaku pada
pemain musik itu, tanpa ia tau bahwa seseorang yang sedang diperhatikannya adalah Yingjun (Takdir oh takdir). Sembari memainkan Sitarnya, mata Yingjun menerobos dalam sela-sela para penari itu dan membalas pandangan Yueji kemudian memperhatikannya tanpa diketahui oleh Yueji karena ia duduk dengan ditutupi oleh sebuah tirai transparan.
Bersambung. . .
__ADS_1