
Masih di Novel Kembalinya Sang Puteri
“Kau ingin aku tersanjung?” ucap Yingjun menggoda
”Kau! Tidak perlu. Kau juga pasti tidak ingin melakukannya, bukan?”
“Terima kasih. . .karena sudah mengingatkanku” menatap tajam Yueji yang duduk dihadapannya. Mendengar ucapannya ia pun balas menatap Yingjun
“Kau mengingatkanku bahwa aku tak sendiri di dunia ini. Aku tersadar bahwa, aku tidak boleh jatuh karena masih banyak orang yang bisa membuatku bangkit dari kesulitan yang sedang aku hadapi. Seberat apapun masalah itu, aku masih memiliki mereka yang terus memperhatikanku dan tak akan meninggalkanku bahkan terus menjagaku dan tak akan pernah melukaiku”
“Kau benar. Mereka sangat baik padamu, jadi kau juga harus menjaga mereka” Yingjun dan Yueji saling bertatapan hingga membuat keduanya sama – sama tenggelam dalam perbincangan singkat tersebut. Tiba – tiba Paman Pubu datang membawa ramuan jahe yang tadi Yi Mei janjikan untuk Yueji.
“Ehem. . .( menyela ) Maaf, Tuan dan Nona, ini ramuan jahe yang nona Yi Mei pesan tadi.” Suasana sendu dua sejoli itu pun berakhir dan Yueji memalingkan wajahnya karena malu
“Iya, Paman. Terima kasih” ucap Yingjun
Apa yang barusan terjadi? Kenapa aku berdebar ketika menatapnya?
“Kalau begitu, Paman kembali ke dapur dulu!”
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” ucap Yueji pada Yingjun
“Kau malu?”
“Kenapa, harus malu?”
“Jadi, kau senang bertatapan lama denganku?”
“Kau ini! Aku pergi!” mutung dan bangkit dari kursi
“Baiklah, baiklah. Aku minta maaf. Bukankah, saat mengantarkan makanan ke kamarku kau bilang ingin mengajakku berbincang dan kau akan berusaha menghiburku? Kenapa sekarang malah ingin melarikan diri?”
“Kapan aku mengatakannya? (gumamnya lirih) Sepertinya kau melupakan perkataanku yang lain!” kembali duduk
“Apa itu?”
“Kau belum menceritakan tentang apa yang membuatmu sesedih kemarin malam! Sekarang, kau bisa mengatakannya padaku!”
“Aku. . .tidak bisa menceritakan semuanya. Itu. . .berkaitan dengan masalah pribadiku”
“Oh, Baiklah, aku memahami itu. Kau bisa mengatakannya ketika kau siap, aku akan menunggumu! Tapi, apapun masalahnya, ketika kau merasa berat memendamnya sendiri, bagikanlah pada orang yang benar – benar kau percayai. Aku. . .juga bisa menjadi bagian dari itu. Mengerti!”
Perbincangan mereka berlanjut dan terlihat semakin akrab
Pagi Hari
Yingjun yang telah kembali seperti sedia kala, mengajak Yueji untuk keluar bersama ke Pasar Kota
“Kemana kau akan mengajakku pergi?”
__ADS_1
“Bukankah kau senang melukis, aku akan mencarikan tempat yang indah agar bisa kau lukis!”
“Benarkah? Kebetulan sekali, sudah lama aku tidak mengisi buku ini. Tapi, aku tak bisa melakukannya dalam keramaian, kau tau itu kan?”
“Aku tau. Kau tenang saja, tempat itu paling cocok untuk kau lukis dibukumu”
“Baiklah”
“Tapi sebelum itu aku ingin membelikan sesuatu untukmu”
“Apa itu?”
“Kau akan tau nanti, ayo!” menarik tangannya menuju ke suatu tempat yang ternyata adalah kios kue bulan, tempat pertemuan awal mereka
“Kenapa. . .kau mengajakku kemari?”
“Kuingat, waktu itu kau ingin membeli beberapa kue bulan disini tapi setelah melihatku kau malah melarikan diri. Ah, aku lupa menanyakan hal itu padamu semalam”
“Tidak perlu ditanya juga kau pasti sudah tau jawabannya bukan?” gumamnya
“Benar sekali. Nona Yi Cao memang baik karena mau memberitahu semuanya”
“Dasar!!” membuang muka lalu melihat Zhao Lantian danWen Zhiling yang terlihat berbeda tanpa seragamnya lalu menghampirinya dan meninggalkan Yingjun yang sedang bertransaksi membeli kue bulan
“Paman, berikan aku dua bungkus kue bulan ini!” ucap Yingjun
“Baik Tuan. Semuanya 6 tael” Yingjun pun membayarnya dan mencari Yueji yang sudah tak berada disampingnya. Tak lama kemudian ia melihat bahwa Yueji tengah bersama Zhao Lantian yang masuk dan hendak membeli sesuatu di toko senjata lalu menyusulnya mereka.
“Paman, kami ingin mengambil belati yang sudah kami pesan sebelumnya” ujar Zhao Lantian pada paman pemilik toko.
“Baik, Kepala Polisi Zhao. Sebentar, saya ambilkan!” jawab paman pemilik toko pergi mengambil belati tersebut
“Waah, aku tidak pernah senjata sebanyak ini (terkagum-kagum) Eh, bukankah ini Jian (Pedang lurus bermata dua dengan panjang antar 70-110 cm)” ucapnya sambil membuka pedang yang disebutkannya
“Toko ini memang paling lengkap di kota ini bahkan sudah diakui oleh kerajaan sebagai toko senjata terbaik. Beberapa senjata disini juga banyak yang dipesan oleh luar negera dan itu sudah berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu”
“Oh, begitu rupanya” membuka pedang itu dan tiba-tiba pemilik toko datang dan menegurnya
“Tunggu Nona! (datang membawa sebuah kotak lalu meletakkannya di meja dan menghampiri Yueji yang sedang berada di sudut toko) Pedang ini sudah ada yang memesannya, jangan sampai kau merusaknya!” langsung merebut pedang itu dari Yueji
“Maaf. . .Aku hanya melihatnya saja! Lagipula jika sudah dipesan, kenapa paman meletakkannya disini, siapa yang tau!” ujarnya dengan nada suara yang semakin kecil.
Zhao Lantian pun hanya tersenyum melihatnya. Entah kenapa ia selalu terhibur setiap kali melihat Yueji
bertingkah, tapi sikapnya itu membuatnya jadi lebih sering tersenyum
dibandingkan sebelum ia mengenal Yueji.
“Sudahlah, jika tidak ingin membeli jangan sentuh apapun disini!” kata Paman pemilik Toko
__ADS_1
“Hemph!!” kesalnya
“Eh maaf Kepala Polisi Zhao, aku jadi melupakan anda” mengubah ekspresinya lalu menghampiri Zhao Lantian
“Maafkan temanku juga Paman, dia orang baru disini” ucap Lantian
“Ah, tidak apa-apa Kepala Polisi Zhao” jawabnya dengan senyuman
Barusan dia memarahiku seolah ingin memakanku, tapi sekarang dia malah bersikap manis terhadap Zhao Lantian? Apa wajahnya sebuah toepng? Bagaimana dia bisa mengubah wajahnya secepat itu? Menyebalkan!! Suara hati Yueji
“Bagaimana Kepala Polisi Zhao, apa anda puas dengan hasilnya?” tanyanya pada Lantian yang sedang melihat belati pesanannya
“Bagus Paman, aku menyukainya. (Sama persis dengan milik ibuku sebelumnya)”
“Syukurlah kalo begitu”
“Kenapa kau memesan sebuah belati giok, memangnya pedang sangat membosankan bagimu?” kata Yingjun yang
tiba-tiba datang dan menghampiri Lantian
“Kau. Tentu saja tidak. Aku memesannya untuk seseorang!”
“Dilihat dari bentuknya, sepertinya. . .itu untuk wanita. Benar bukan?” melirik kearah Yueji
“Apa? (berlari kecil menghampiri mereka) Wanita? Siapa itu?” mendengar perkataan Yingjun membuat Yueji yang sejak awal mengagumi Lantian menjadi penasaran
“Kenapa kau tiba-tiba bersemangat seperti itu?” Yingjun
“Aku tidak bertanya padamu, aku bertanya pada temanku, Tian!”
“Tian? Sejak kapan kalian jadi memiliki panggilan khusus seperti ini?”
“Aku ti. . .tidak. . .!” merujuk pada Yingjun
“Dia adalah temanku wajar saja jika kita memiliki panggilan khusus. Bukankah begitu, Tian?”
“Nona Yueji. . .maksduku, Yueji. Bukankah kemarin kau hanya menyuruhku untuk memanggil dengan namamu bukan? Jadi, kau juga harus memanggilku namaku secara utuh!”
“Tapi. . .”
“Sudahlah, aku harus membeli sesuatu yang lain terlebih dahulu! Paman terima kasih belatinya! Zhiling, ayo!” melangkahkan kakinya keluar toko
“Baik Bos!” diikuti Zhiling
“Eh. . .kau mau pergi kemana? (meneriaki Lantian) Lihatkan, karena ucapanmu dia jadi marah denganku!” berbalik kesal
“Aku?? Kenapa aku??”
“Iya, itu Kau! Tian. . .bukan. . .Zhao Lantian, tunggu aku!” berlari mengejar Zhao Lantian dan Zhiling
__ADS_1
“Heii!!” mengikutinya