Kembalinya Sang Puteri

Kembalinya Sang Puteri
Episode 16


__ADS_3

Sebelumnya di Novel Kembalinya sang Puteri. . .


Mendengar penjelasan dari Yueji, Hakim Guan masih kekeh untuk mempertahankan buku itu di tangannya dan berdalih bahwa ia membutuhkan investigasi lanjutan untuk mengetahui kebenarannya agar tak salah dalam menentukan keputusannya. Padahal ia hanya ingin tau mengenai rahasia dibalik buku itu.


“Perkataanmu memang benar nona Yueji, tapi aku masih perlu waktu untuk memutuskannya. Berdasarkan ide dari Kepala Polisi Zhao bahwa kita perlu membandingkan lukisan yang ada dibuku ini dan lukisan para pelukis dikota ini. Jadi sekarang biarkan bukunya menetap disini dan aku akan memberikan keputusannya setelah memanggil mereka kemari”


"Kenapa begitu? Bukankah kami sudah menjelaskan secara rinci dan semua bukti juga sudah kami berikan. Apa yang masih membuat anda ragu dan curiga, Hakim?” meluapkan emosinya


“Kau berani melawan keputusan, Hakim?” balasnya dengan nada tinggi


“Aku hanya. . .”


“Sudahlah, tahan emosimuYueji! Baiklah Hakim, kami akan mempercayakannya padamu. Kami harap, semoga ada kabar baik selanjutnya” ucap Yi Mei menenangkan adiknya


“Tentu. . .kalau begitu cukup untuk hari ini, kalian bisa kembali” titahnya yang membuat beberapa orang bingung termasuk juga rentenir Yutong yang sebelumnya merencanakan hal jahat pada Yueji.


“Lalu, bagaimana dengan anak ini?” tanya Yueji


“Kalian bisa membawanya dan bawa dia kembali besok!” berusaha terlihat baik di depan ketiga gadis itu


“Hakim Guan, kau tidak menahan mereka?” ujar Zhao Lantian


“Aku akan mempercayakan mereka padamu Kepala Polisi Zhao. Bisakah kau mengutus beberapa anak buahmu untuk mengawasi mereka?” pintanya yang semakin tak masuk akal


“Diawasi? Kenapa kami harus diawasi? Kami tidak akan kabur karena kami belum mendapatkan barang berharga milik kami!” lantang Yueji


“Yueji. . .” ucap Yi Mei berusaha tetap menenangkan adiknya

__ADS_1


“Kau benar-benar tidak mau buku ini kembali ya? Kenapa lagi-lagi menantangku? Aku bisa saja memenjarakanmu sekarang jika kau terus berperilaku tak sopan!” hentaknya


“Maafkan atas sikapnya Hakim. Kami akan menghargai keputusan anda saat ini dan terima kasih karena tidak menahannya. Kalau begitu, kami permisi dulu!” menarik Yueji yang saat itu tak rela dan enggan untuk pergi dari tempat itu seolah-olah kakinya telah tertancap kedalam tanah.


“Eh, eh, kenapa kau melepaskannya begitu saja? Bukankah kau bilang akan membantuku untuk memberinya pelajaran, sekarang kau malah membiarkannya keluar begitu saja? Bagaimana dengan perbuatannya padaku yang sudah babak belur ini?” keputusan Hakim Guan menimbulkan penolakan dari Rentenir Yutong


“Ah sudahlah ini hanya luka kecil (memegang wajah rentenir Yutong yang lebam dan membuatnya kesakitan) Lebih baik bantu aku untuk mengawasi mereka dan bawa anak buahmu keluar dari sini! Jangan membuat keributan!” melengos pergi meninggalkannya sendiri dan menghampiri Kepala Polisi Zhao


“Mohon bantuannya Kepala Polisi Zhao” pintanya sambil tersenyum


“Baik Hakim. Kami permisi!” menyusul ketiga gadis itu yang sudah keluar dari Kantor Kehakiman


“Hakim Guan, anda benar-benar akan melakukan ini padaku? Dimana keadilan di negara ini jika orang kasar sepertinya di bebaskan begitu saja? Sebelumnya kau membantuku untuk menghukum seorang yang sudah mengotori bajuku dengan hukum cambuk sebanyak 30 kali, sekarang dia bahkan melakukan hal yang lebih buruk daripada itu tapi kau malah melepaskannya?” dengan suara lantang memprotes keputusan Hakim Guan yang membuatnya mulai kesal


“Tuan Yutong, kecilkan suaramu atau aku akan mengubah pikiranku dan berbalik untuk memberimu hukuman? Jangan hanya karena kau mengenalku dengan baik lalu dengan semangat berapi-api kau memprotes hal yang sudah kuputuskan? Lebih baik bantu aku untuk mengawasi ketiga gadis itu dan berhenti membuat keributan disini!”


Diluar Kantor Kehakiman Distrik Shangnan


“Kenapa kau membiarkan mereka menyita buku itu? Bagaimana jika mereka membuangnya atau bahkan membakarnya?” menyibakkan tangan Yi Mei yang dari tadi menariknya


“Kau ini, tenang sedikit! Kita tidak memiliki kuasa disini dan tidak akan bisa melawan mereka. Jika kau terus menantangnya, apa kau pikir akan menang dari mereka? Tentu tidak, mungkin mereka akan melakukan hal yang semakin memojokkan posisi kita. Bersyukurlah bahwa sekarang kita sudah keluar dari tempat itu dan mereka tidak menahanmu. Sekarang, lebih baik kita berfikir mengenai apa yang sedang mereka rencanakan dengan bukumu sehingga kita bisa bersiap untuk persidangan besok!” hentak Yi Mei dengan maksud menenangkan Yueji


“Benar Yueji, sepertinya hal ini memang sudah terencana dari awal. Jadi, sekuat apapun kau berusaha untuk mendapatkan buku itu kembali, maka mereka akan semakin curiga”


“Huh, aku benar-benar kesal dibuatnya! Tapi aku heran, saat setelah aku sampai disini dia bersikap biasa saja. Namun setelah melihat isi buku itu, ia langsung melihat ke arahku tanpa berkedip lalu menanyakan asal-usulku seolah-olah ia sedang mengingat wajah seseorang. Kemudian setelah kalian datang dan mengatakan bahwa kak Yi Cao adalah pemilik sebenarnya, ia langsung mengalihkan pandangannya padamu. Kalian pasti sengaja mengalihkan perhatiannya dariku kan?”


“Em, kau benar. Tapi kau juga tidak usah heran, mereka seperti itu karena melihat tanda bunga peony disudut lukisanmu.”

__ADS_1


“Bunga Peony? Itu tanda khas milik ibuku, aku memang sengaja menyertakannya karena aku berharap semua lukisan itu akan seperti lukisan yang dibuat olehnya sendiri”


“Aku tau itu. Yueji, ibuku sudah pernah menjelaskan mengenai tujuan dari menyembunyikan identitasmu bukan? Karena semua itu berkaitan dengan ibumu. Sebelum kita meninggalkan Gua, dia juga sudah memberi tau agar kau menyembunyikan kemampuan melukismu dihadapan orang lain dan tetap menjaga rahasia dari buku itu bukan? Itu juga karena lukisanmu yang sangat mirip dengan milik ibumu. Inilah jadinya jika semua itu dilanggar” mengingatkan, menasehati dengan nada tinggi sembari mencengkeram lengan Yueji karena terlalu khawatir sampai tak sadar membuatnya kesakitan.


“Aku tak tau jika akan serumit ini jadinya”


“Yi Mei, lepaskan cengkeramanmu, kau menyakitinya!”


“Huuuh ( melonggarkan cengkeramannya ) Mereka pasti akan mencoba mengulik tentang dirimu jika tau yang sebenarnya, itulah kenapa aku mencoba mengalihkan perhatiannya pada Yi Cao agar kau tetap aman.


"Bayangkan saja, memang hal tadi masuk akal berdebat hanya karena sebuah buku? Sebanyak itukah waktu seorang Hakim untuk mengurusi sebuah buku yang bahkan bukan milik warga negaranya melainkan orang asing? Itu karena pemilik dari bendanya yang memiliki keistimewaan tersendiri dan sedang diincar oleh mereka. Lihat kan, dari tadi ia hanya bertanya mengenai siapa pemilik dari buku itu dan melepaskanmu begitu saja ketika aku mengalihkannya pada Yi Cao?” menurunkan nada bicaranya


“Sudahlah, kau terlalu keras padanya!” Yi Cao


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menekanmu atau terlalu menyalahkanmu. Aku hanya terlalu khawatir padamu!”


“Aku yang harusnya minta maaf karena membuat masalah hari ini, sampai kak Yi Cao harus menjadi umpan untuk menyelamatkanku. Aku berjanji akan lebih berhati-hati kedepannya!” menunduk dengan raut wajah penyesalan


“Sudahlah, kau pasti lelah. Lebih baik kembali ke penginapan dan istirahat disana. Tidak perlu memikirkan hal ini lagi, yang kau perlu ingat hanya pesan dari ibuku. Mengerti?”


“Iya kak, aku akan mengingatnya. Sekali lagi, maafkan aku ya” dengan wajah masamnya


“Em” jawabnya dengan anggukan. Mereka kembali ke Penginapan untuk beristirahat, namun melupakan satu hal. Apakah itu?



Bersambung. . .

__ADS_1


__ADS_2