
Kelanjutan cerita di Novel Kembalinya sang Puteri
Sebelumnya, Tao Yangli dan Yingjun kembali ke Istana untuk menghadap Kaisar dan melaporkan keberhasilan mereka mempererat kerjasama dengan negara tetangga. Kaisar pun memberikan penghargaan pada keduanya berupa dua buah Karpet bersulam emas dari Persia yang membuat orang yang ada dalam ruangan itu terkejut dan bangga pada Menteri keuangan Negara Taiyang itu. Lalu, penghargaan apa lagi yang akan diberikan oleh Sang Kaisar? Stay tune. . .
“Apa, Karpet emas dari Persia? Bukankah itu sangat mahal? Mereka benar-benar beruntung ya?” suara riuh para menteri yang saling berbisik setelah mendengar hadiah yang akan diberikan pada Tao Yangli
“Terima kasih banyak Yang Mulia” seru tao Yangli sambil memberi hormat
“Selain itu. . .” melanjutkan membaca dekrit namun terpotong sejenak oleh riuh bisik para menteri
“Waah, masih ada lagi ternyata hadianya. Benar-benar sangat beruntung” riuh kembali para menteri
“Selain itu, Istana juga akan menganugerahkan sebuah jabatan penting untuk Tuan Yingjun, yang telah bersedia untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Dengan kecerdasannya dan kewibawaannya, Istana memberikan jabatan sebagai Zongzheng (Marga Kekaisaran, yang bertugas mengawasi interaksi dengan kerajaan lain) pada Tuan Yingjun yang akan berlaku mulai dekrit dibacakan”
“Jangan menolaknya. Kau akan dianggap tidak menghargai keputusan Kaisar jika kau melakukan hal itu” suara Yangli yang berbisik pada Puteranya yang berdiri dibelakangnya dan terlihat ragu untuk menjawab keputusan yang telah dibacakan
“Dengan segala Hormat dan Kepatuhan, hamba akan menerima jabatan ini Yang Mulia” menunduk memberi hormat sebagai ucapan terima kasih
“Baguslah. Kalau begitu, selamat untuk kalian” ucap Sang Kaisar menyelamati Ayah dan anak itu
“Terima Kasih, Yang Mulia” mereka berdua kembali memberikan hormat
Tao Yangli dan Yingjun pun melangkah keluar dari Istana dan berniat untuk kembali ke kediamannya masing-masing untuk berehat setelah melakukan perjalanan yang jauh. Ternyata Kanselir Luo mengikutinya dari belakang dan menghentikan langkah mereka.
“Kalian memang selalu diberkati, ternyata Dewa Keberuntungan sedang ada berpihak pada kalian. Kudengar negara Baozu tidak mudah menerima tamu. Tapi kalian bahkan dapat meyakinkan mereka untuk menyuntikkan dana pada negara ini. Aku sangat terkejut” ucapnya dengan nada ejekan yang membuat Yingjun hampir naik pitam
“Terima kasih banyak atas sanjungannya, Kanselir Luo. Kami hanya mencoba yang terbaik dengan kemampuan yang kami miliki” kata Yangli dengan nada yang merendah
“Oh, begutukah? Tapi, apakah kalian memiliki tipu daya tersendiri dalam menarik perhatian Kaisar Baozu agar mau memenuhi keinginan kalian?”
“Tolong, jaga bicara anda, Kanselir!” ucap Yingjun tegas
“Oh, oh, tenanglah Tuan Zongzheng. Apa seperti ini sikapmu yang sebenarnya. Aku semakin tidak mengerti mengapa puteriku tergila-gila padamu dengan perangaimu yang seburuk ini” makin mengejek
“Maaf Tuan Kanselir, tidak ada hubungan antara perangaiku dengan perasaan puteri anda. Kami hanya berteman jadi anda tak perlu salah paham”
“Berteman? Dekat denganmu saja aku akan melarangnya, apalagi berteman denganmu. Jangan bermimpi”
__ADS_1
“Kalau begitu, sebaiknya anda lebih menasehati puteri anda lagi agar tak sering menemuiku”
“Beraninya kau memberi saran seperti itu padaku!” sentaknya dengan nada tinggi hendak memukul Yingjun lalu dihalangi oleh Yangli
“Cukup, hentikan! Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?” ucapnya membela dan melindungi Yingjun
“Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa kau tak akan selamanya beruntung seperti sekarang. Jadi, jangan berpikir untuk menaikkan dagumu lebih tinggi lagi karena kau hanyalah seorang pejabat kecil” Luo Jinxi memperingatkan Yangli.
“Dari dulu aku tidak pernah berniat untuk memiliki jabatan yang tinggi dengan sebuah ambisi. Karena semakin aku menginginkannya semakin aku merasa tak puas dan merasa selalu ingin lebih tinggi lagi. Hal seperti itu tentu tidak akan ada habisnya, bukan? Seperti dirimu yang sekarang”
“Kau, beraninya kau. . .”
“Aku tak masalah jika kau ingin berurusan denganku, tapi aku tak akan tinggal diam jika kau melibatkan anak-anakku”
“Kau benar-benar. . .”ucap Jinxi yang tak dapat lagi berkata-kata
“Tanpa mengurangi rasa hormat, kami permisi untuk kembali ke tempat kami, Kanselir Luo” membungkuk dan melangkah pergi
“Lihat saja nanti, sampai kapan kau akan bersikap seperti itu padaku!”
Mereka dulunya adalah teman dalam satu Kamp pelatihan. Namun, prestasi Yangli yang berada diatas Jinxi membuatnya disegani oleh para tetinggi di Kamp dan membuat Jinxi iri. Hal itu berlanjut hingga sekarang, seringkali Jinxi berencana membuat Yangli menjadi buruk dimata Kaisar, namun usahanya selalu saja gagal.
Sepanjang perjalanan kembali ke kediamannya masing-masing, Yingjun terus menatap sang ayah yang berjalan didepannya. Ia membandingkan sikap ayahnya tadi dengan perkataan dari ibunya yang selalu menyudutkan Yangli dan membuatnya buruk dimata puteranya.
“Kenapa memandang ayah seperti itu?” tanyanya yang merasa puteranya sedang menatapnya dengan serius sembari fokus dengan jalan sekitar
“Tidak. . .tidak ada” mengelak
“Jangan malu, katakan saja!” menggodanya
“Tidak ada, Ayah. Hanya saja, aku penasaran mengapa Kanselir Luo sepertinya sangat membenci ayah”
“Dia? Tentu saja!”
“Maksud ayah?”
“Dia memang harus membenci ayah karena ayah lebih hebat darinya. Bukankah begitu?” jawabnya sambil bercanda
__ADS_1
“Aku serius ayah. Ah, sudahlah kau memang tak pernah ingin memberitahuku yang sebenarnya” pergi berlalu mendahului ayahnya
“Ayah juga serius, Puteraku (berkata dengan lantang agar Yingjun yang tampak telah jauh mendengarnya) Kita memang ayah dan anak, sama-sama suka memendam masalah sendiri” Ucapnya dengan nada lirih sambil terus menatap Yingjun yang mulai hilang ditengah keramaian
Penginapan Changhu
“Tuan Puteri. . .Tuan Puteri (ucap pelayan Neiyan berlari menghampirinya yang tengah duduk di ruang tamu pribadi Yingjun) Tuan Yingjun sudah kembali”
“Apa? Dimana dia sekarang?” ucapnya semangat
“Ada di depan, Tuan Puteri” ia pun langsung berlari menemui pujaan hatinya
itu.
“Yingjun, kau sudah kembali?” dengan wajah sumringahnya menyapa Yingjun yang tampak lelah
Kenapa dia ada disini? Pikirnya tak begitu senang
“Ada hal apa Tuan Puteri kemari?” to the point
“Aku membawakanmu hadiah, karena kudengar kau berhasil menjalankan perintah dengan baik dari Kaisar. Rou, mana hadiahnya?” meminta bungkusan kecil kain bersulamkan bunga Gardenia berisi Giok berwarna hijau, Yingjun pun menerimanya
“Bagaimana? Kau menyukainya? Aku menyulamnya sendiri loh”
“Terima kasih, Tuan Puteri. Tapi, sepertinya kali ini aku tak bisa menemanimu berbincang karena sangat melelahkan setelah melalui perjalanan jauh” ia berusaha menghindari Neiyan karena perkataan ayahnya sewaktu didepan Istana
“Oh sayang sekali, yang penting kau kembali dengan selamat. Istirahatlah, aku akan. . .aku, akan kembali” ragunya mengatakan karena sebenarnya ia ingin lebih lama bersama Yingjun
“Terima kasih, Tuan Puteri. Hati-hati dijalan” berlalu melewatinya menuju kamarnya
“Kenapa sepertinya Tuan Yingjun tak senang Puteri ada disini?” bisik sang pelayan pada Neiyan
Apa itu benar? Sudahlah! Jangan menghasutku lagi!” bentaknya lalu pergi
To be continued. . .
Besok dan lusa libur dulu ya, Update lagi tanggal 10, Ok
__ADS_1