Kembalinya Sang Puteri

Kembalinya Sang Puteri
Episode 18


__ADS_3

Selanjutnya di Novel Kembalinya Sang Puteri


Di dalam ruang tamu Penginapan Changhu


“Inilah alasanku menyukainya. Dia memiliki kebiasaan selalu rapih, lihatlah deretan buku-buku ini, dia benar-benar suka membaca. Tak heran ia selalu cakap dalam melakukan segala hal, referensinya saja sebanyak ini. Benar kan, Rou?” memperhatikan dari dekat setiap sudut ruang tamu itu.


“Anda benar, nona. Tuan Yingjun bukan hanya seorang yang memiliki kharisma tapi juga berwibawa”


“Itulah kenapa aku tak bisa berpaling darinya” perbincangan itu terhenti ketika Yingjun tiba dan terlihat raut wajah amat senang dari puteri Neiyan ketika melihat pujaan hatinya itu.


“Puteri Neiyan” memberi salam


“Sudah aku bilang tidak perlu berlaku sopan padaku. Bukankah kita sudah saling mengenal sejak kecil, kenapa masih sungkan padaku?”


“Kedudukanmu tetap berada diatasku, jadi memberi salam padamu adalah kewajiban untukku”


“Huh, sudahlah. Oh ya, kudengar kau terluka parah? Bagaimana perasaanmu sekarang? Masih ada yang terasa sakit? Kenapa kau sudah keluar rumah dan tidak istirahat saja? Bagaimana jika kondisimu semakin parah?” ceriwisnya bibir puteri Neiyan melebihi Xia Hua.


“Em, nona. Pertanyaan anda membuat tuan Yingjun bingung. Lebih baik, bicarakan sambil duduk” ujar pelayannya mengingatkan


“Kau benar, Rou. Yingjun, duduklah dulu! Aku membawakan makanan untukmu, ini buatanku sendiri. Cobalah! Aku juga bawakan beberapa obat. Resepnya aku minta secara khusus pada tabib yang paling hebat di negeri ini. Terimalah!” membantunya duduk lalu memberikan beberapa bingkisan yang sejak tadi ada di tangan pelayannya, Rou.


“Terima kasih banyak, Puteri Neiyan. Aku akan memakannya nanti!”


“Baiklah, berjanjilah untuk menghabiskan semuanya. Sekarang, kau bisa menjawab pertanyaanku tadi?”


“Um. . .yang mana yang harus aku jawab dulu?”


“Semuanya. . .”


“Nona, pertanyaanmu tadi terlalu banyak. Aku saja hanya mengingat kata terakhirnya” kembali mengingatkan


“Jangan samakan Yingjun dengan dirimu, dia adalah orang yang cermat aku yakin dia mendengar semua pertanyaanku tadi. Benar kan Yingjun?”


“Aku baik-baik saja puteri Neiyan, lukaku juga sudah pulih” jawabnya singkat padat dan jelas


“Benarkah? Lalu, siapa yang berani melukaimu? Apa kau perlu bantuanku untuk menangkap orang-orang itu?”


“Tidak perlu puteri Neiyan. Aku bisa menanganinya sendiri” menolaknya secara halus

__ADS_1


“Kau selalu saja menolak bantuanku!” kesalnya


“Bukan begitu. Kedatanganmu kemari saja sudah cukup, aku tak ingin terlalu merepotkanmu.” Ujarnya basa-basi


“Benarkah apa yang kau katakan tadi?” tersipu malu


“Darimana kau tau aku jika aku terluka?”


“Aku tau dari ayahku. Dia bilang bahwa ayahmu secara khusus menghadap Kaisar dan mengatakan bahwa kau sedang terluka. Untuk memastikannya akhirnya aku bertanya langsung dan beliau membenarkannya. Tapi saat aku ingin menjengukmu, beliau melarang dan mengatakan bahwa aku bisa menemuimu setelah kau benar-benar pulih”


“Ayah menghadap Kaisar?”


“Iya”


Kenapa Ayah memberitahu orang lain bahwa aku terluka? Apa jangan-jangan surat itu, ayah juga serahkan pada Kaisar? Tidak, itu tidak boleh terjadi!


Kenapa surat itu tidak boleh diketahui oleh orang lain? Dan apa yang membuat Yingjun khawatir atas tindakan ayahnya itu?


Di dalam kamar. . .


“Aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya lagi di tempat ini. Dia bahkan terlihat lebih tampan sekarang (Yueji hanya melamun sambil berbaring sedangkan Yi Mei yang tengah terduduk terus menatap wajahnya yang sepertinya hendak menangis) Eh, kalian tidak sopan sekali. Bukannya memberi salam dan memperkenalkan diri malah pergi begitu saja! Dasar!” dia memang terlalu polos.


“Diamlah! Lebih baik sekarang kita beristirahat dan kumpulkan tenaga untuk perdebatan besok!” berbaring disamping Yueji


“Bagaimana perasaanmu sekarang?” ucap Yi Mei pada Yueji yang berbaring membelakanginya


“Lalu bagaimana menurutmu? Huh, rasanya aku ingin menenggelamkan diri ke tanah!” menghela nafas


“Itu. . .hanya sebuah. . .cium. . .” ucapnya terpotong


“Berhenti! Jangan menyebutkannya lagi! Itu hanya akan membuatku lebih ingin menghilang dari dunia ini menjadi debu!” tiba-tiba terbangun dan berbaring kembali


“Sepertinya kau terlalu menggunakan perasaanmu saat melakukannya. Jika tidak, kau tak akan secanggung ini ketika melihatnya bukan?”


“Mana mungkin! Aku tidak seperti itu!”


“Kau selalu menggunakan perasaanmu pada semua orang yang baru kau temui. Kau menolong pria yang baru terluka parah dan memberikan obat berharga yang diberikan kakek untuk menyelamatkannya. Kau juga membantu anak itu tanpa ragu hingga sekarang kau kehilangan buku lukismu dan hampir menunjukkan identitas aslimu. Kupikir dua orang ini cukup untuk membuktikan bahwa kau memang selalu menggunakan perasaanmu untuk membantu orang lain”


“Aku tidak tau itu. Aku hanya menuruti kata hatiku saja”

__ADS_1


“Itulah kelebihan sekaligus kekuranganmu”


“Apa maksudmu?”


“Memang baik memiliki hati yang peduli terhadap orang lain, tapi karena itu pula kau lebih mudah dimanfaatkan karena tidak bisa membedakan perasaan mereka yang sebenarnya. Manusia tidak bisa dianggap baik hanya karena kau percaya bahwa mereka terlihat baik. Bahkan yang sudah kau kenal sejak lama pun bisa jadi adalah orang yang paling ingin melukaimu, apalagi mereka yang asing. Jadi Yueji, mulai sekarang jangan pernah rapuh ketika melihat orang lain dalam kesulitan. Kau boleh menolong mereka saat kau juga tidak dirugikan karenanya. Berusahalah untuk bersikap acuh, bukan karena kau ingin menjadi jahat tapi itu perlu untuk menjaga diri sendiri. Mengerti?” pesannya untuk sang puteri


“Kurasa itu sulit, tapi aku akan mencobanya!” mereka yang sedang saling mengingatkan melupakan Yi Cao yang keluar untuk mengambil minuman di dapur


“Dimana aku bisa mendapatkan air, rasanya kerisng sekali tenggorokanku!” berjalan menyusuri setiap sudut penginapan. Paman Pubu yang baru saja mengantarkan minuman ke ruang tamu tempat Yingjun dan Puteri Neiyan berbincang, melihat Yi Cao yang kebingungan kemudian mendatanginya.


“Nona, anda mencari sesuatu?” ucapnya


“Tidak Paman. Aku hanya haus, tapi sejak tadi aku tidak bisa menemukan dapur”


“Anda kembalilah, biar nanti saya antarkan!”


“Eh. Lebih baik jangan, Paman. Saudari-saudariku sedang mengalami gejolak hati dan aku tak ingin mengganggu mereka.”


“Baiklah, kalo begitu mari saya antarkan!”


“Baik, Paman. Terima kasih!”


“Sebelah sini, nona. . . Bagaimana saya memanggil anda?”


“Oh. Margaku Yi dan ibuku memberi nama Cao dibelakangnya, jadi namaku Yi Cao”


Di dapur. . .


“Oh ya Paman. Bagaimana kondisi tuan tampan pemilik penginapan ini? Apakah dia sudah lebih baik?” tanyanya sambil menuangkan air minumnya.


“Tuan Yingjun sudah tidak apa-apa, nona. Eh, bagaimana anda tau jika tuan kami terluka baru-baru ini? Apa jangan-jangan anda yang melukainya?” seketika merubah sikapnya yang sebelumnya murah senyum hingga terlihat sangat marah


“Bukan, bukan, paman. . .”


“Lalu, dari mana kau tau? Siapa kau sebenarnya? Katakan!”


“Paman, dengarkan aku dulu. Bagaimana aku akan menjelaskan jika paman terus bertanya padaku?”


“Kalau begitu, katakan sekarang! Jangan sampai aku memanggil para penjaga disini untuk mengusirmu ya!” memaksa tanpa ampun, hampir saja sebuah kendi melayang kearahnya

__ADS_1


“Baik, baik paman, aku akan jelaskan. Jadi begini ceritanya. . .” ia menceritakan segala kejadian saat itu dengan seksama.


Terima kasih udah stay disini readers. Semoga kalian betah ya. Mohon maaf kalo masih ada Typo. . .


__ADS_2