
Selanjutnya di Novel Kembalinya sang Puteri
Yingjun yang tadinya hendak pergi akhirnya kembali menghampiri mereka. Ia berniat untuk menghentikan Zhao Lantian membuka gulungan yang Yueji berikan, Yingjun pun segera berlari namun lukisan itu telah terbuka lebar diatas meja, tanpa ragu ia langsung mengambilnya dan melihat lukisan itu secara seksama.
“Apa yang kau lakukan?” seru Lantian pada Yingjun
Ini. . .bukan ibuku. . .ternyata yang Yueji lukis bukanlah wajah Wu Qingwei melainkan wajah orang lain
“Kenapa kau tiba-tiba bertindak impulsif seperti itu? Kembalikan lukisan itu sekarang!” Lantian kembali menyeru pada Yingjun yang tetap fokus pada lukisan yang ada pada tangannya.
Setelah mendengar perkataan Zhao Lantian, Yingjun pun menoleh pada Yueji yang sedari tadi menatapnya dengan dalam.
“Tuan Yingjun, ada apa dengan lukisannya? Sepertinya kau tertarik sekali untuk melihatnya?” ucap Yi Mei
“Aku hanya. . .penasaran saja” ucap Yingjun berdalih dan meletakkan lukisan itu kembali di meja.
“Jika kau penasaran, duduklah!” Zhao Lantian memberikan saran
“Aku. . .masih ada urusan. . .” jawab Yingjun berbalik dan pergi dari tempat itu. Yueji kembali menatapnya
“Sudahlah, mungkin ada yang salah dengan otaknya. Kita lanjutkan pembahasannya” Zhao Lantian
Beberapa jam kemudian
“Terima kasih atas kerjasamanya hari ini. Jawabanmu sangat membantu untuk kelanjutan penyelidikanku” ucap Lantian, jawab Yueji dengan senyumnya
“Sebagai rasa terima kasihku, bagaimana jika kutraktir kalian makan?”
“Tidak perlu repot Kepala Polisi Zhao. Sebagai satu-satunya saksi sudah kewajiban kami membantu kalian dalam penyelidikan” ucap Yi Mei
“Yueji. . .” suara Lantian memanggil Yueji yang sepertinya sedang kacau
“Ada apa denganmu? Tubuhmu disini, tapi pikiranmu ditempat lain. Apa yang sedang kau pikirkan?” bisik Yi Mei pada sang Puteri
“Aku tidak apa-apa” singkatnya
“Kau yakin?”
“He.em. . . Kepala Polisi Zhao, apa ada hal lain yang ingin kau tanyakan?” Yueji
“Sepertinya, cukup untuk hari ini”
“Kalau begitu, kita permisi kembali Penginapan”
“Aku baru saja akan mengajak kalian makan”
“Tidak perlu, kami masih kenyang, mungkin lain waktu”
“Oh, baiklah”
“Kalau begitu, kami permisi” ucap Yueji langsung menarik lengan Yi Mei dan pergi dengan terburu –
buru
Penginapan Changhu
__ADS_1
Yueji langsung melepas lengan Yi Mei kemudian berlari mencari sesuatu.
“Paman, dimana Yingjun?”
“Tuan. . . baru saja dijemput oleh utusan dari Istana”
“Oh. . .Lalu, kapan ia kembali?”
“Entahlah, sepertinya cukup serius mungkin akan lama. Ada apa nona?”
“Tidak Paman! Jika ia kembali, tolong beritahu aku!”
“Iya Nona” Yueji mencari Yingjun untuk menanyakan tentang sikapnya saat di Kamp Mianyang. Ia ingin mendengar secara langsung jawaban dari Yingjun tentang apa yang ia pikirkan mengenai lukisan itu.
Hari berikutnya. . .
Yueji kembali mendatangi Paman Pubu untuk menanyakan Yingjun
“Paman baru dapat kabar bahwa Tuan diutus langsung oleh kerajaan untuk berkunjung ke Negara tetangga dengan Tuan besar (Tao Yangli)”
“Berapa lama ia pergi?”
“Paman tidak bisa memastikan, tapi biasanya lebih dari satu minggu”
Satu minggu? Aku tidak bisa menunggu selama itu. . .
Dengan langkah lunglai, ia kembali ke kamarnya
“Sebenarnya ada apa denganmu? Sejak kemarin kau terus saja mencari Yingjun. Apa yang ingin kau katakan padanya?” tanya Yi Mei pada Yueji yang tengah berbaring di ranjang
“Kesalah pahaman seperti apa?”
“Panjang ceritanya. Yang pasti aku telah menyinggungnya”
“Aku tidak tau harus memberi saran apa padamu karena aku tak tau pokok permasalahannya. Tapi, kau benar kita sudah tak bisa lagi menunda perjalanan ke Timur. Semakin lama menetap akan semakin lama buku lukismu terisi, kita juga tidak bisa kembali ke Gua untuk bertemu dengan Ibu dan Kakek”
“Aku tau. Kalau begitu, lebih baik besok kita mulai berjalan lagi. Aku akan meninggalkan surat untuknya sebagai permintaan maaf”
“Kau yakin? Bagaimana dengan lukamu?”
“Sudah lebih baik”
“Baiklah kalau itu maumu. Kita tunggu Yi Cao pulang dan memberitahunya“
“Em”
Tengah malam diKediaman Kanselir Luo
“Tuan” seseorang memberi hormat pada Kanselir Luo yang tengah asyik membaca
“Apa yang kau temukan mengenai gadis-gadis itu?” tanyanya
“Tidak banyak tuan, karena beberapa hari yang lalu salah satu dari ketiga gadis itu terluka dan tak banyak beraktifitas diluar”
“Siapa?”
“Gadis termuda diantara mereka”
__ADS_1
“Ah, Yueji. Kenapa dia bisa terluka?”
“Sama seperti kabar dari para prajurit Kamp militer Mianyang, gadis itu juga dilukai oleh orang yang memakai topeng berjubah hitam. Namun, ia masih beruntung karena selamat dari serangan itu”
“Lalu, apa lagi yang kau tau mengenai mereka?”
“Beberapa hari yang lalu, saya melihat gadis yang sebelumnya terluka sedang melukis di buku itu”
“Buku? Buku dengan tanda bunga Peony?”
“Benar tuan”
“Wah, mereka membohongiku. Tapi aku sudah menduga bahwa gadis bernama Yi Cao itu hanyalah seorang pengalih. Bagaimana dengan kedua saudarinya?”
“Mereka bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan secara bergantian, tuan”
“Bekerja sebagai pelayan? Betapa bodohnya mereka saat menolak tawaranku untuk menjadi pelukis kerajaan dan malah memilih menjadi seorang pelayan di sebuah restoran kecil. Tetap awasi mereka dan laporkan segalanya padaku”
“Baik tuan”
Ternyata setelah kejadian di Kantor Kehakiman Kanselir Luo menempatkan mata-mata untuk ketiga saudari itu dan mencoba mengulik identitas mereka yang sebenarnya.
Masih di Kediaman Luo, Kamar Neiyan
Setelah selesai menerima informasi dari mata-matanya, Kanselir Luo Jinxi menghampiri kamar putrinya yang terlihat masih terang
“Apa yang membuatmu masih terjaga?” ucapnya sambil melangkah masuk menghampiri putri kesayangannya itu yang tengah terduduk memegang kain sulaman
“Ayah, kenapa kau kemari?” ucap Neiyan menghentikan kegiatannya
“Memang Ayah tidak boleh mengunjungi puteri ayah sendiri?”
“Bukan begitu. Tapi ini sudah larut malam, kenapa ayah belum tidur?” ucapnya dengan suara manja
“Heh, bukankah puteri ayah juga masih terjaga? Seharusnya ayah yang bertanya padamu, kenapa kau belum terlelap hingga selarut ini?” duduk disamping puterinya
“Aku sedang menyulam untuk hadiah kepulangan Yingjun nanti Ayah. Aku dengar dia sedang pergi ke negara tetangga untuk membicarakan mengenai bisini. Aku yakin akan ada kabar baik darinya, oleh karena itu aku akan memberikan hadiah khusus untuknya dengan sulaman buatan tanganku sendiri”
Huh, sepertinya nasib baik tak berpihak padaku. Aku begitu membenci keluarga Tao tapi anakku satu-satunya malah tergila-gila oleh anaknya (pikir Kanselir Luo) Kau bisa meneruskannya besok, lebih baik sekarang cepat tidur!”
“Aku takut jika besok Yingjun kembali dan aku belum menyelesaikan sulamanku”
“Mereka pergi dengan tujuan bisnis, pasti akan sedikit lama untuk kembali lagi. Jadi,kau masih punya banyak waktu untuk membuatnya”
“Benarkah seperti itu?”
“Tentu saja. Ayah tidak akan berbohong dengan puteri kesayangan ayah sendiri”
“Baiklah, kalau begitu aku tidur dulu ayah”
“Tidurlah yang nyenyak”
“Selamat malam, Ayah”
“Selamat malam, yan’er (mengambil sulaman milik Neiyan yang tinggal diatas mejanya dan melihatnya sambil bergumam) Merepotkan, kenapa harus puteriku yang menghalangi kebencianku!”
Bersambung. . .
__ADS_1