
Masih di Novel Kembalinya Sang Puteri
Setelah pembicaraan yang cukup panjang, ketiga saudari itu pun memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan kota Taiyang menuju desa Tianshi. Tapi sebelum itu, Yueji meninggalkan sebuah gulungan untuk Yingjun yang ia serahkan pada Paman Pubu. Bagaimana kelanjutannya, keep read yuk
“Kemana kalian akan melanjutkan perjalanan?” tanya Paman Pubu pada ketiga gadis yang sedang berkemas
“Entahlah Paman, yang pasti kami akan terus berjalan kearah Timur mengikuti arah bulan. Setelah tujuan kami terpenuhi barulah kami akan kembali” jawab Yi Mei
“Rasanya baru kemarin kalian menetap disini dan sekarang sudah mau pergi saja”
“Waktu akan cepat berlalu ketika bersama dengan orang yang menyenangkan, bukan begitu paman?” sahut Yi Cao
“Tapi, apa kalian tidak menunggu tuan Yingjun dulu baru beranjak?”
“Itu. . .” jawab Yi Mei yang tiba-tiba menatap Yueji bersamaan dengan Yi Cao. Terlihat Yueji mengeluarkan sebuah gulungan lalu memberikannya pada Paman Pubu
“Tidak perlu Paman, aku hanya hanya akan meninggalkan ini untuknya” menyerahkan gulungan itu dan sebuah kertas
“Ini. . .”
“Oh ya Paman, sepertinya kami tidak akan sempat untuk berpamitan dengan Paman Menteri Tao. Jadi, tolong sampaikan salam kami pada mereka ya”
“Paman mengerti, nanti akan Paman sampaikan” jawabnya tanpa basa-basi
“Kalau begitu, kami pamit Paman. Jangan lupa untuk memberikannya pada Yingjun” ucap Yueji
“Pasti akan langsung Paman berikan ketika Tuan kembali”
“Terima Kasih banyak Paman”
“Jangan sungkan seperti itu. Selama kalian disini Paman sudah menganggap kalian sebagai keluarga Paman sendiri. Jadi, ketika kalian kembali dari perjalanannya jangan lupa untuk mampir”
“Baik Paman. Kami pamit, jaga diri Paman baik-baik dan salam untuk Paman Menteri dan Bibi juga Xia Hua”
“Kalian juga jaga diri baik-baik” akhirnya ketiga gadis itu melanjutkan misinya. Sebelum itu, mereka sempatkan pergi ke Kamp militer Mianyang dan memberikan surat perpisahan untuk Zhao Lantian yang dititipkan pada penjaga
gerbang baru setelah itu mereka benar-benar pergi meninggalkan kota yang penuh dengan kenangan yang terduga itu.
__ADS_1
Setelah beberapa hari berjalan melewati hutan, mereka berhenti karena jalan yang akan dilewati terdapat sebuah pagar yang melintang menjulang tinggi sehingga sulit untuk dilewati.
“Kita tak salah jalan kan?” tanya Yi Cao pada saudari-saudarinya
“Tidak mungkin. Ini satu-satunya jalan umum menuju perbatasan. Tapi, kenapa ada palang pagar disini?” jawab Yi Mei
“Lihat, ada orang disana. Kita tanyakan saja padanya” Yueji menunjuk seorang laki-laki ditengah rerumputan lalu mereka menghampirinya
“Permisi Paman, kami ingin bertanya apakah jalan didepan sana bisa dilalui?” tanya Yi Cao
“Jalan itu sudah lama ditutup nona” jawab laki-laki yang membawa keranjang dipunggungnya
“Sudah lama ditutup?”
“Benar, sudah sekitar empat bulan yang lalu”
“Lama sekali. Kalau kami boleh tau, kenapa ya Paman?” sambung Yi Mei
“Diujung jalan ini ada sebuah desa bernama Tianshi. Beberapa bulan yang lalu desa itu terkena wabah yang mematikan. Bahkan banyak tabib yang tidak bisa untuk mengetahui jenis penyakitnya dan akhirnya menyerah. Karena takut akan merambat ke ibu kota, Pemerintah daerah mengisolasi mereka disana dan tidak membiarkan siapapun untuk keluar masuk melewati desa itu” jelasnya
“Lalu, bagaimana keadaan mereka sekarang?” still Yi Mei
“Siapa yang bertanggung jawab atas desa itu?” Yueji said
“Tuan Liu, beliau adalah Kepala Pemerintahan didesa Tianshi. Tapi, saya lihat bahwa ia telah kembali ke Ibu Kota sejak tersiar kabar bahwa wabah itu sulit disembuhkan”
“Apa?”
“Apa kalian berniat untuk melewati jalan itu?”
“Seharusnya seperti itu. Tapi. . .” ucap Yi Cao menghentikan perkataannya
“Lebih baik jangan nona. Memang ini adalah jalan utama dan lebih dekat ke perbatasan, tapi banyak masyarakat desa lebih memilih memutari gunung, meski pun jaraknya lima kali lebih jauh”
“Kalau begitu, terima kasih Paman”
“Sama-sama nona”
__ADS_1
“Bagaimana ini? Apa kita terima saja sarannya?” Yi Cao
“Tidak. Aku ingin melihat keadaan desa itu!”
“Kau gila? Bukankah paman tadi mengatakan bahwa wabah itu mematikan dan sulit disembuhkan? Kau malah ingin menyerahkan nyawamu sendiri!” sentak Yi Cao
“Tapi kak, banyak orang disana sedang mempertaruhkan nyawanya”
‘Kenapa kau peduli dengan itu? Bukankah Kaisar sendiri dengan kuasa setinggi itu tak peduli dengan masyarakatnya, kenapa kau yang hanya orang asing sangat memperhatikan hal itu?” sambung Yi Mei
“Menurutku, Kaisar bukan tidak tau melainkan tak ada yang memberi tau mengenai hal ini., ditambah lagi Pemerintah desa yang sepertinya enggan berurusan dengan penyakit yang menyerang desanya. Jika bukan kita yang bertindak, maka bisa saja wabah ini akan semakin menyebar ke tempat lain, bahkan mungkin bisa sampai ibu kota” jelas Yueji
“Tapi, apa kuasa kita disini memberitahu Kaisar? Apa kita harus kembali ke Ibu kota dan meminta bantuan pada Paman Menteri untuk menyampaikannya?” Yi Mei
“Tidak. Selama kita disana, Ibu Kota terlalu tenang ketika ada wabah yang mengerikan seperti ini. Jadi menurutku pasti ada yang menyembunyikannya”
“Ada apa dengan kalian? Kenapa tiba-tiba rungsing dengan sebuah penyakit mematikan? Ayolah, lebih baik kita ambil jalan memutari gunung saja seperti saran paman tadi. Meski kurang lebih membutuhkan waktu satu minggu, setidaknya kita tak berurusan dengan kematian” Yi Cao yang semakin panik kedua saudarinya itu melangkah ke jalan yang salah
“Kau ini. Apa hati nuranimu tertinggal di Penginapan? Bukankah sebelumnya kau sangat peduli terhadap orang lain?” ejek Yueji
“Bukan seperti itu, tapi masalah kali ini berbeda. Yi Mei bujuk Yueji untuk mengambil jalan lain”
“Tidak! Kali ini aku setuju dengan Yueji”
“Apa maksudmu?”
“Aku berfikir bahwa kita harus menyelidiki hal ini. Benar kata Yueji, jika wabah ini tidak segera diatasi bisa saja akan merambat ke tempat lain. Sekarang hanya orang-orang didesa Tianshi saja yang terkena wabah, tapi kita tidak tau untuk waktu satu bulan ke depan mungkin saja akan sampai di Ibu Kota dan menimbulkan lebih banyak korban lagi. Apa kau tak prihatin akan hal itu?”
“Aku tau kau tak akan menolaknya” ucap Yueji yang bangga dengan kakaknya itu
“Kalian ini benar-benar membuatku bungkam. Baiklah, jika itu keinginan kalian. Aku kalah suara dan hanya mengiyakannya saja bukan?”
“Yes. Baiklah kalau begitu kita mulai dari melihat keadaan desanya dahulu agar kak Yi Mei bisa mendiagnosis seperti apa wabahnya (Karena hanya Yi Mei yang mengerti mengenai medis dan karena itulah ia tertarik untuk menangani kasus ini)”
“Kalau begitu jangan tunda lagi, kita harus segera kesana”
“Ayo!”
__ADS_1
Apa yang akan terjadi dengan ketiga gadis itu setelah mereka memutuskan untuk membantu warga melawan penyakit mematikan. Tunggu kelanjutannya besok ya. Stay Tune. . .