
Masih di Novel Kembalinya Sang Puteri
Setelah membuka gulungan pemberian dari Yueji yang ternyata berisi wajah Sang Ibu, lalu ia pun membuak surat yang dititipkan bersama gulungan itu. Surat itu berisi. . .
(Aku minta Maaf sebelumnya karena telah menyinggung perasaanmu, aku benar-benar tak berniat melakukannya. Tapi, Sekarang aku tau mengapa kau bersikap seperti itu. Xia Hua telah menceritakan semuanya padaku. Kumohon jangan marah padanya karena aku yang memaksanya untuk menceritakan permasalahanmu)
“Hua’er, apa lagi yang sudah kau ceritakan padanya?” gumamnya, lalu ia kembali melanjutkan membaca surat itu
(Lukisan ini telah aku buat sesaat setelah aku sadar, saat kau pertama kali membawakan makanan dan obat untukku. Ketahuilah bahwa aku memang tau siapa pelaku yang melukaiku dan juga para prajurit malam itu, tapi aku tak ingin mengungkapkannya karena ia adalah ibumu, benar bukan? Jangan khawatir, aku sudah baik-baik saja oleh karena itu aku buru-buru meninggalkan Ibu Kota agar cepat sampai di tujuan awalku)
(Sebenarnya aku ingin bertemu denganmu dan mengatakannya langsung, tapi sepertinya kau terlalu sibuk. Aku pergi untuk kembali, tapi mungkin tak ada waktu untuk menemuimu lagi. Jadi, aku harap sikapku terakhir kali bisa kau lupakan. Simpan lukisan ini agar kau selalu bisa melihat ibumu. Bukankah kau merindukannya selama ini, itu yang Xia Hua bilang padaku)
“Dia menyembunyikan semua ini dariku” pikirannya menjadi bimbang dan tak karuan setelah membaca surat itu. Sepanjang malam surat itu terus berada dalam genggamannya, seolah ada yang mengganjal dihati ia terus berusaha memejamkan mata namun tak juga berhasil. Hingga pagi menjelang matanya tetap terjaga. Sampai pada akhirnya ia bangkit dari ranjangnya kemudian berangkat ke Kantor Zongzheng di Istana.
Sesampainya di Istana, ia melihat sang Ayah yang terlihat berjalan dengan tergesa-gesa menuju Ruang Singgasana, namun tak ia hiraukan dan terus berjalan menuju Kantornya.
Sementara itu di Ruang Singgasana, Tao Yangli terlihat memberikan sesuatu pada Sang Raja.
“Apa ini?” tanya Sang Raja pada Yangli
“Itu adalah keadaan yang sekarang terjadi di Desa Tianshi Yang Mulia” menjelaskan isi dari lukisan yang ia berikan.
“Bukankah Kepala Daerah Liu teah mengabarkan bahwa keadaan disana baik-baik saja dan sekarang dalam masa pemulihan? Mengapa lukisan ini menjelaskan hal yang sebaliknya?”
“Hamba juga tak tau pasti, Yang Mulia. Tapi, apa tidak sebaiknya kita mengutus seseorang untuk memeriksanya secara langsung untuk membuktikan apa yang ada dilukisan itu benar ataukah tidak?”
“Darimana kau mendapatkan lukisan ini?”
“Ingatkah yang Mulia pada seseorang yang pernah ingin dijadikan sebagai pelukis pribadi Hamba dan ternyata malah ditahan di Kantor Kehakiman? Dialah orang yang juga melukis lukisan yang sekarang ada ditangan Yang Mulia” mengingatkan kembali bahwa Yangli pernah meminta Kaisar untuk mengeluarkan dekrit agar bisa membebaskan Yueji dari hukuman. (lihat episode 20)
“Ternyata gadis itu? Tapi, mengapa ia bisa tau keadaan yang sebenarnya di Desa Tianshi? Bukankah sekarang ini ia berada di Kediamanmu?”
“Mereka adalah pengembara muda dari Negeri jauh yang kebetulan Hamba mengenalnya dan mengajaknya untuk sekejap bertandang di Kediaman Hamba, Yang Mulia. Beberapa hari yang lalu, mereka kembali mengembara dan pergi kearah Timur, tepat dimana Desa Tianshi berada sekarang” jelasnya
__ADS_1
“Hamba pikir, ada yang tengah disembunyikan oleh Kepala Daerah Liu mengenai kejadian yang sebenarnya disana. Selama ini Kerajaan telah memberi pasokan obat dan juga bahan makanan kesana melalui Kepala Daerah Liu, namun sepertinya semua itu tak terdistribusi dengan baik” menjelaskan kecurigaannya
“Maksudmu, Kepala daerah Liu menghentikan pasokan yang telah Kerajaan berikan untuk mereka?”
“Mohon maaf Yang Mulia, ini hanya kecurigaan Hamba”
"Aku juga merasa aneh padanya. Jika apa yang dikatakan oleh Kepala Daerah Liu benar, bahwa Desa itu telah baik-baik saja, tapi mengapa ia terus berada di Ibu Kota? Wuji, dimana Kepala Daerah Liu sekarang?” tanya Sang Kaisar pada penasihat pribadinya.
Meski telah memiliki Luo Jinxi yang sekarang adalah Penasihat Kerajaan, namun Sang Kaisar lebih percaya pada Wuji, orang yang ia pilih sendiri sebagai informannya.
“Hamba menjawab Yang Mulia. Tuan Liu berada di Penginapan Baijin. Bahkan akhir-akhir ini ia terlihat sering mengunjungi ke Rumah Bordil Baihe, Yang Mulia”
“Rumah Bordil Baihe? Ia bahkan telah memiliki dua istri, untuk apa lagi mendatangi tempat seperti itu? Oh, maafkan aku Menteri Yangli. Aku tak bermaksud merendahkan Rumah Bordil” ucapnya segan karena pemilik Rumah Bordil itu adalah orang yang telah dikenal Yangli sejak lama, Yaitu Zhu Meihwa.
“Hamba mengerti, Yang Mulia”
Selain Wuji, Yangli merupakan orang kedua yang paling dipercayai oleh Sang Kaisar. Hubungan baik antara keduanya sudah terjalin sejak peperang dahulu berlangsung. Setiap kali ada suatu masalah, mereka selalu mendiskusikannya secara pribadi.
“Kalau begitu, Menteri Yangli, sementara ini hentikan distribusi obat dan makanan untuk Desa Tianshi dan pergilah ke Rumah Bordil Baihe, tanyakan pada Pemiliknya mengenai apa yang dilakukan oleh Kepala Daerah Liu selama ini disana!” titahnya pada Yangli
“Dan kau, Wuji. Perintahkan seseorang untuk pergi ke Desa Tianshi dan meneriksa langsung keadaan disana!” titahnya pada Wuji
“Baik, Yang Mulia. Segera Hamba laksanakan!”
Sebelumnya di Desa Tianshi. . .
“Bagaimana bisa jadi seperti ini?” gumam Yueji yang tengah mengamati dari jauh keadaan Desa yang terlihat menyedihkan itu sembari menuangkannya dalam sebuah lukisan.
Ia melihat seorang ibu yang tersungkur dengan seorang anak yang berada dalam gendongannya. Kakinya yang tak sadar ingin melangkah menghampiri dan menolongnya namun kedua saudarinya yang tiba-tiba datang langsung menghentikannya.
“Yueji. . .” seru sang Saudari dari kejauhan
__ADS_1
“Apa yang akan kau lakukan? Sudah kubilang tetaplah berada disini!”
“Tapi ibu itu membutuhkan pertolongan, kak”
“Bukan hanya ibu-ibu itu, tapi semua warga disana membutuhkan pertolongan. Bersabarlah, sampai aku membuat ramuan untuk bisa menyembuhkan mereka kita tetap harus berada disini”
“Baiklah. . . Lalu, bagaimana dengan bubuk kunyitnya?” Yueji
“Harga kunyit sangat mahal disini sehingga banyak dicari orang, untungnya kita masih bisa menemukannya disini tapi juga tidak banyak yang bisa dipetik, oleh karena itu kita mencari daun Binahong untuk menggantinya, tapi ini juga masih sangat kurang jika melihat banyaknya warga disana” Yi Cao
“Memang tidak ada jalan lain, kita tetap harus meminta bantuan dari Kota untuk mengirimkan tambahan obat. Siapa yang bisa kita percaya untuk menyampaikan pesan ini pada Sang Kaisar?” Yi Mei
“Paman Yangli? Hanya ia yang dapat kita percaya saat ini, bukankah begitu?” ide cemerlang Yi Cao
“Apa kita tak terlalu merepotkannya?” segan Yueji
“Lalu siapa lagi yang bisa kita mintai tolong jika bukan dia? Jangan bilang kau segan pada mereka karena Yingjun?” Yi Mei dapat membaca pikiran Sang Puteri
“Bukan. . .begitu. . .” elaknya
“Sudahlah, itu satu-satunya cara agar Kaisar tau tentang keadaan disini. Bukankah kau juga ingin cepat – cepat menolong mereka?”
“Kalau begitu, siapa yang akan pergi?” Yueji
“Aku saja yang pergi. Yi Mei masih butuh waktu untuk meracik obat herbal disini, sedangkau kau baru saja sembuh dan jarak dari sini ke Ibu Kota cukup jauh. Paling tidak membutuhkan waktu dua hari untuk sampai disana jadi lebih
baik kau menghemat tenaga dalammu dan tetap disini membantu Yi Mei” ucap Yi Cao menyarankan
“Berikan ini pada Paman saat kau akan menyampaikan pesan ke Ibu Kota, agar ia juga memiliki alasan saat menyampaikan pesannya pada Kaisar!” Yueji menyerahkan lukisannya
“Baiklah, aku berangkat sekarang!”
“Berhati-hatilah!”
__ADS_1
To be Contineued. . .