Kembalinya Sang Puteri

Kembalinya Sang Puteri
Episode 20


__ADS_3

Sebelumnya di Novel Kembalinya Sang Puteri


Mereka kembali dihadapkan oleh permasalahan rumit dalam mendapatkan buku lukis itu. Kini giliran Kanselir Luo


yang ikut-ikutan mengulik identitas mereka dengan mengajukan suatu syarat. Apakah syarat itu? Dan apakah mereka mampu menyanggupinya?


“Syarat?” tiga gadis itu bertanya serentak


“Kalian akan diangkat menjadi seniman kerajaan”


“Apa? Seniman kerajaan?” terkejut berjamaah


“Benar. Kaisar memintaku untuk merekrut seniman baru dan aku memilih nona Yi Cao untuk menjadi kandidatnya”


“Maaf menyela, Tuan. Bagaimana jika kami menolaknya?” tegas Yueji


“Hei, kalian benar-benar tidak tau terima kasih ya. Kanselir Luo sedang menyelamatkan kalian dari hukuman dan


memberikan posisi terpandang sebagai seorang seniman di kerajaan ini. Kalian malah menolaknya?”


“Tuan, kami datang dari negeri jauh hanya untuk menjelajah beberapa tempat dan tak pernah terbesit sedikit pun berniat untuk mencari kedudukan setinggi apapun itu. Kami terhenti disini karena kesalahanku yang teledor dan kurang hati-hati dalam menjaga emosi sehingga menyelesaikan masalah dengan sebuah kekerasan. Jadi. . .”


“Jadi dengan senang hati mereka akan menerimanya” seru Yingjun yang tiba-tiba datang, semua orang disana langsung menoleh kearahnya, termasuk Yueji dan kedua saudaranya.


Kenapa dia ada disini? Benak Yueji


“Itu, bukankah dia. . .“ ucap Hakim Guan


“Putra tunggal Menteri Keuangan, Tao Yangli yang bernama Yingjun” sahut Kanselir Luo


“Anda mengenalnya, tuan?”


“Heh, siapa yang tak mengenal putra dari orang terkaya di negara ini. Bahkan kekayaan Kaisar pun berada dibawahnya. Bukan begitu, Yingjun?”


“Terima kasih atas pujiannya, Kanselir Luo”


“Lalu, apa tujuanmu kemari?”


“Sebelumnya, maaf atas kelancangan hamba menyela pembicaraan tuan dengan nona-nona ini. Hamba hanya ingin menjemput tamu. Kebetulan, beberapa hari yang lalu hamba terluka di perjalanan menjemput mereka. Tapi, setelah hamba pulih ternyata mereka telah sampai di Ibu Kota dan mendengar bahwa ada sedikit masalah menimpanya. Jadi hamba kemari untuk membantu menyelesaikannya”


Kejadian sebelum mereka tiba di Kantor Kehakiman


Yi Mei teringat pesan ibunya sebelum mereka meninggalkan Gua


“Yi Mei, ada yang ingin ibu sampaikan padamu”

__ADS_1


“Apa itu ibu?”


“Jika kau sampai di Negara Taiyang, segeralah berlalu dan jangan menetap terlalu lama disana”


“Memangnya ada apa ibu?”


“Ibu memberitahumu mengenai hal ini karena kau lebih bisa berfikir logis dibandingkan saudarimu, Yi Cao apalagi Tuan Puteri yang 5 tahun lebih muda darimu”


“Iya, bu”


“Kau tau keinginan Tuan Puteri untuk menjelajah dunia luar, bukan? Aku akan meminta kau dan Yi Cao ikut dengannya dan menjaganya”


“Lalu, bagaimana dengan ibu jika kami berdua pergi?”


“Masih ada kakek petapa disini, kami akan baik-baik saja. Ingat, bahwa keberadaan tuan puteri diluar sana sangat berbahaya ketika ada orang yang tau mengenai identitasnya yang sebenarnya. Dia terlalu lugu untuk orang-orang yang belum mengenalnya sehingga memungkinkan dapat dengan mudah dimanfaatkan. Jadi, ibu memintamu dan


saudarimu untuk menjaganya”


“Tapi. . .Jika kami gagal bu?” keraguan menyelimutinya


“Gagal? Hanya jika kalian gagal, mintalah bantuan pada seseorang!”


“Siapa itu ibu?”


“Tuan Tao Yangli. Dia adalah putra penasihat kerajaan Hanxing dan pindah ke Taiyang saat menikah dengan putri Pejabat Bentara lalu dinobatkan sebagai Menteri Keuangan disana. Kau bisa memberitahukannya mengenai tuan puteri karena dia adalah orang yang paling dapat dipercaya sekarang. Kau mengerti?”


Yi Mei pun langsung pergi ke Kediaman Menteri Tao dan meminta bantuannya. Sembari berlutut, ia memohon


dengan memberikan gulungan berisi lukisan selir Xiao Meili agar Tao Yangli percaya.


“Ini. . . Jadi, kau puteri kembar dari Ren Xia dan Pendekar Lun?”


“Benar, tuan. Sekarang tuan puteri sedang terlibat masalah dengan seseorang di Kantor Kehakiman” perlahan-lahan ia menjelaskan apa yang menimpa tuan puterinya. Tapi, jika aku pergi kesana langsung akan lebih menarik perhatian mereka nantinya.”


“Biar aku yang pergi, Ayah!” seru Yingjun menghampiri mereka


“Anda?” tanya Yi Mei


“Dia adalah putraku. Apa yang akan kau lakukan?”


“Aku punya rencana, Ayah! Tolong percayakan mereka padaku!”


“Bagaimana nona Yi Mei?”


“Dengan senang hati, tuan. Bantuanmu sangat kami perlukan”

__ADS_1


“Baiklah kalo begitu! Aku akan pergi ke istana untuk meminta Kaisar merekrut kalian secara khusus menjadi tamu


pribadiku”


“Terima kasih, tuan Tao. Terima kasih banyak”


Kembali ke Kantor Kehakiman Distrik Shangnan


“Hamba membawa pesan khusus dari Kaisar untuk membawa tamu Ayah pergi ke Kediaman Tao sekarang. Bagaimana, tuan Kanselir?”


“Sepertinya mereka adalah tamu penting sehingga kau datang sendiri untuk menjemputnya. Tapi, sehebat apapun


mereka, bukankah hukum di negeri ini harus ditegakkan untuk sebuah keadilan bagi para korbannya dan sekarang aku sedang melaksanakannya”


“Hukum? Keadilan? Hukum dan keadilan seperti apa yang anda bicarakan? Jika hal itu mengenai kekerasan yang dilakukan oleh nona ini, bukankah ia hanya sedang membela diri karena apa yang menjadi miliknya telah dirampas oleh orang lain?” jelas Yingjun


“Tetap saja apapun alasannya bertindak terlalu gegabah bukanlah hal yang baik. Meski seorang wanita, tapi


dia telah membuat 7 orang lelaki dewasa babak belur ditangannya hanya karena sebuah buku lukis sederhana ini, apa itu masuk akal?”


“Berdasarkah Hukum adat di Negara ini, wanita tidak memiliki hak yang sama dengan laki-laki entah itu dalam


menghukum ataupun menerima hukuman. Dalam hal ini (penganiayaan seacara fisik) jika mereka laki-laki maka hukumannya cambuk tangan sebanyak tiga puluh kali dan pemukulan kaki sebanyak lima puluh kali jika korbannya meninggal dunia. Tapi berbeda dengan wanita yang dikenakan hukuman denda sebanyak 50 tael perak apabila melakukannya dan baru akan menerima hukuman cambuk sebanyak dua puluh kali pada kaki jika korbannya meninggal dunia. Para korban hanya mengalami luka luar, seharusnya denda saja sudah cukup bukan? Benar begitu Hakim Guan?”


Apa? Lima puluh tael perak? Kau akan membuat kami bangkrut, tuan pikir Yueji yang terperanjat mendengar pernyataan dari Yingjun


“Itu. . .” tak dapat berkata-kata. Sebagai Hakim ia tentu tau mengenai aturan hukum yang sebenarnya, namun karena perasaannya dan rencana jahatnya bersama Kanselir Luo ia melupakan kewajibannya untuk menegakkan hukum secara adil.


“Tuan Kanselir, sebelumnya anda mengatakan bahwa merebut benda tak berharga yang dirampas oleh orang lain merupakan hal yang tidak masuk akal bukan? Lalu bagaimana dengan kasus yang berkepanjangan ini hanya karena benda yang kau anggap tak berharga itu? Atau mungkin karena terlalu berharga jadi anda terlalu menginginkannya?”


“KAU!! (kesal hingga bangkit dari kursinya) Putra Menteri Keuangan memang sama persis seperti ayahnya, bermulut pedas dan pandai mengalihkan perhatian orang lain!” balasnya


“Apa?” mulai merasakan emosi


“Tuan Yingjun, tenanglah. Mereka hanya ingin memutarbalikkan keadaan dan memancing kemarahanmu, ingat tujuanmu yang sebenarnya berada disini. Tolong tahan emosimu!” suara Yueji yang berada di belakang Yingjun berusaha menenangkannya


“Huuh (menghela nafas) Sepertinya anda juga pandai mengalihkan pembicaraan sehingga hampir saja hamba melakukan sebuah kesalahan. Baiklah, kita harus segera menyelesaikan permasalahan ini. Bagaimana Hakim Guan? Jangan hanya karena perasaan pribadi anda melupakan tugas anda sebagai seorang Hakim tinggi di Negeri ini. Jika Kaisar tau, anda bisa diturunkan dari jabatan anda sekarang dan dikirim ke pengadilan pelosok”


“Ehem. . .Baiklah kalo begitu, berdasarkan penjelasan dari tuan Yingjun, nona Yueji dianggap bersalah dan akan dikenakan denda sebanyak lima puluh tael perak.”


“Bagaimana dengan bukunya?” seru Yueji


“Buku itu (menjawab dengan ragu sambil melihat kearah Kanselir Luo) buku itu akan dikembalikan pada pemiliknya,


yaitu Nona Yi Cao. Kasus selesai sampai disini dan kalian bisa kembali!” gugupnya melihat ekspresi kesal dari wajah Kanselir

__ADS_1


“Terima kasih atas keadilannya Hakim Guan. Kalo begitu, kami permisi!” ucap Yingjun mewakili tiga gadis itu dan


pergi meninggalkan Kantor Kehakiman bersama mereka.


__ADS_2