
Pengenalan tokoh lanjutan
Kaisar Negara Taiyang : Yang Guozhu
Menteri Keuangan : Tao Yangli Putra : Tao Yingjun
Istri : Zhen Xuejie Putri : Tao Xia Hua
Perwira Utama : Zhao Baoyu Putra : Zhao Lantian
Kediaman Menteri Tao
“Bagaimana keadaannya tabib?” ucap Xuejie yang cemas melihat putranya yang penuh dengan luka goresan dan lebam disekujur tubuhnya sehingga tak sadarkan diri cukup lama.
“Dewa melindunginya nyonya, nadinya masih cukup lemah dan lengan atasnya mengalami patah tulang tapi nyawanya masih tertolong. Apakah sebelumnya ia sudah diberikan obat atau sebuah ramuan?”
“Sesaat setelah dia sampai disini, kami langsung memanggil anda, keluarga kami tak ada yang mengerti mengenai medis mana mungkin memberikannya obat?”
“Jika berdasarkan luka ditubuhnya, seharusnya tuan Yingjun tidak akan sebaik ini. Tapi. . .”
“Apa sekarang kau sedang mengumpat putraku!” katanya dengan nada tinggi
“Ampun nyonya, bukan begitu. . .Tapi ini terlihat aneh karena luka-lukanya dapat pulih dengan cepat dan aliran darahnya pun terlihat lebih lancar. Sepertinya ia telah diberi ramuan yang membantunya untuk cepat pulih dengan sendirinya”
“Ramuan apa itu? Apa itu membahayakan?”
“Saya belum tau ramuan apa itu, tapi saya pikir tidak akan membahyakan nyonya dan malah sebaliknya. Kita hanya perlu memulihkan luka luar dari tubuh tuan Yingjun sedangkan luka dalamnya telah teratasi dengan baik karena ramuan itu.”
“Sebenarnya ramuan apa yang kau maksudkan itu? Xia Hua, apa kau sempat membeli ramuan di balai pengobatan lalau memberikannya pada kakakmu?”
“Tidak Bu. Setelah aku menemukan kakak, aku langsung bergegas membawanya pulang karena khawatir terjadi sesuatu dengannya” jawab gadis manis yang sedari tadi berdiri disamping ibunya.
Brakk(Suara pintu terbanting)
“Bagaimana kondisinya?” Menteri Tao yang tiba dengan terburu-buru setelah mendengar putranya yang terluka setelah kembali dari hutan.
__ADS_1
“Kau ini, tenanglah sedikit tabib sedang memeriksanya” sambut sang istri yang menenangkan suaminya
“Lalu bagaimana kondisinya?”
“Tuan Yingjun baik-baik saja Tuan Tao. Saya akan membuatkan resep tambahan untuk pemulihannya, minumkan secara rutin maka dalam waktu 3 hari ia dapat kembali seperti sedia kala”
“Baik tabib. Terimakasih atas bantuanmu” kata sang ibunda
“Sama-sama nyonya. Kalau begitu, saya undur diri!”
Tuan Tao terduduk memeriksa dengan cermat keadaan putranya yang masih tak sadarkan diri itu dan menanyakan kejadian yang sebenarnya pada putrinya.
“Xia Hua juga tidak tau ayah. Tapi saat aku sampai di penginapan Changhu, paman Pubu langsung memberitahuku bahwa kakak tiba-tiba pergi dengan tergesa-gesa dan tak kunjung kembali. Akhirnya aku mengajaknya dan beberapa orang untuk menyusulnya ke hutan”
“Hutan? Dari mana kau tau bahwa kakakmu menuju hutan?”
“Paman Pubu menemukan surat ini di kamar kakak, Ayah.” Kertas yang terlipat tak beraturan itu diserahkannya. Di bacanya dengan seksama, matanya mengikuti alur dari pesan pada kertas itu dan entah apa isi pesannya hingga membuat emosinya terluap dan meremas kertas itu menjadi gumpalan kecil.
“Ada apa, suamiku? Apa isi surat itu?” seolah ingin tau, ia menanyakan rasa penasarannya
“Tidak apa-apa. . .Tidak usah kau pikirkan, kalian jaga saja Yingjun. Aku harus pergi ke penginapan dulu untuk mencari tahu yang sebenarnya!”
“Baiklah, hati-hati!” patuhnya.
“Ibu, siapa itu Wu Qingwei?”
“Wu Qingwei?”
“Iya bu. Surat itu ditulis atas nama Wu Qingwei. Aku tidak sempat membaca keseluruhan isinya, hanya saja pesannya tertulis bahwa orang itu menyuruh kak Yingjun ke hutan untuk memberitahukan sebuah kebenaran. Karena aku sangat khawatir, jadi aku langsung memutuskan untuk mencarinya ke hutan bersama yang lain.”
“Jadi itulah alasan kenapa ia tak memberitahukannya padaku. . .”
“Ibu mengenalnya?”
“Jangan beritahu kakakmu kalau kau sempat membaca isi pesan itu karena bisa saja dia marah padamu”
__ADS_1
“Kenapa harus marah? Bukankah malah seharusnya berterima kasih karena aku yang menyelamatkannya?”
“Kau ini!” mencubitnya
“Hehe. . .Iya iya bu, Hua’er janji tidak akan memberitahunya” membalas dengan memeluk sang ibunda
Siapa itu Wu Qingwei? Apa hubungannya dengan keluarga Tao dan kenapa Menteri Tao sangat marah saat tau bahwa si Pengirim surat itu adalah dia? Bagaimana kelanjutan perjalanan tiga gadis dari hutan Bukit Bintang itu?
** Desa Shamo. . .**
Setelah melewati rindangnya pepohonan di hutan selama berjam-jam, akhirnya mereka sampai disebuah desa kecil bernama Shamo. Tak mau berlama-lama mereka langsung mencari penginapan untuk tempat sang putri dan kedua kakaknya beristirahat melepas penat setelah seharian berjalan menyusuri hutan belantara. Mereka
menemukan sebuah penginapan kecil nan sederhana dan memesan sebuah kamar untuk mereka membaringkan badan yang sudah mau runtuh rasanya. Kebiasaan tidur bersama membuat kemana pun mereka pergi hanya membutuhkan sebuah kamar untuk istirahat.
Bangunan yang terbuat dari kayu itu membuat suasana malam hari menjadi semakin hangat sehingga membuat si gadis kembar seketika terlelap. Sedangkan Sang Putri yang masih terjaga sedang menikmati malam yang saat itu tengah bertabur bintang, sehingga membuat tangannya gatal untuk mengabadikannya ke dalam buku bersampul
merah yang sedari tadi melekat ditangannya. Wajahnya menengadah keatas dan mengamati setiap sudut langit, ia mulai menggabungkan para bintang itu dengan garis menggunakan jari telunjuknya.
Tak disangka, ternyata wajah pria yang ia selamatkan saat di jurang muncul mengganggu pikirannya. Bukannya merasa kesal, namun senyumnya malah merekah semakin lebar. Khayalnya kembali muncul bersamaan dengan ingatannya yang terpaku pada moment terindah ketika bibir mereka saling bersentuhan, wajahnya pun saling berdekatan sehingga bisa bertatapan satu sama lain. Ketampanan pria itu memang membuat Yueji tenggelam, namun tetap saja ia tak berharap akan bertemu dengannya lagi karena akan sangat malu nantinya.
Ibu, apa aku sedang mabuk sehingga bayangannya selalu muncul dan menenangkanku? Apakah takdir akan membawa kita untuk kembali bersua? Kuharap tidak, rasanya akan sangat memalukan. Benar kan ibu? Dia menjadi
orang asing pertama yang aku selamatkan, aku yakin niat baikku akan membuatnya hidup dengan lebih baik lagi.
“Nona? Nona ?” seru suara seorang wanita si pemilik penginapan yang melihat Yueji sedang menyendiri menikmati malam
“Iya??” jawabnya terkejut dan langsung menoleh
“Kenapa anda masih terjaga? Apa ruangannya tidak nyaman? Atau mungkin terlalu sesak di dalam? Aku bisa menyiapkan sebuah kamar lagi untuk anda!”
“Ah, tidak. . .Mataku hanya belum ingin terpejam, jadi aku keluar untuk menikmati bintang sebentar sambil menunggu kantukku tiba”
"Kalau begitu, bagaimana jika aku siapkan beberapa makanan ringan untuk menemani anda?”
“Tidak, tidak perlu. . .kruyuk kruyuk. . .” mulutnya mengelak tapi tidak dengan cacing diperutnya yang sepertinya sedang berguling-guling meminta makanan.
__ADS_1
“Kalau begitu, saya ke dapur dulu untuk menyiapkan makanannya” menyeringai setelah mendengar bunyi dari perutnya