
Sebelumnya di Novel Kembalinya Sang Puteri
Berkat bantuan Yingjun, Yueji akhirnya mendapatkan buku lukisnya kembali meski harus terkena denda sehingga
menghabiskan uang mereka. Nah, kira-kira bagaimana perasaan Yueji setelah kembali bertemu dengan pangerannya itu? Eh belum jadi pangeran tapi on the way lah ya. Yuk pantengin kelanjutannya, jangan lupa Like, Comment (kritik dan saran yang membangun), dan Vote. Author usahain biar bisa Up Everyday ya, Lets Reading
Setelah keluar dari Kantor Kehakiman
“Tuan Yingjun, terima kasih banyak atas bantuanmu hari ini. Kami tidak tau bagaimana harus membalasnya?” ucap Yi Mei sungkan
Untuk apa berterima kasih? Bukankah seharusnya ini impas? Jika tetap harus membayar lima puluh tael perak untuk apa sampai serumit ini? Lebih baik berurusan dengan rentenir jahat itu sehingga tak perlu bertemu dengannya!
“Itu hanya bantuan kecil. Lagipula, sepertinya ada yang masih tidak puas dengan keputusan ini?” jawaban Yingjun
dari pertanyaan Yi Mei, lalu melirik Yueji yang terlihat kesal dan murung. Karena merasa tersindir, Yueji langsung merubah ekspresi wajahnya dengan senyum terpaksa dan berkata
“Oh, benar apa yang dikatakan kakakku ini. Kami telah berhutang padamu!” ucapnya yang menoleh kesana-kemari
menghindari pandangan Yingjun
“Baiklah jika anda berkata demikian, maka aku akan menghargainya” (jawabnya dengan senyum menggoda) Oh ya, Ayahku mengundang kalian untuk makan malam disana sekaligus ada yang beliau ingin bicarakan. Jika tidak keberatan, sempatkanlah untuk mampir dan mengunjunginya kembali”
“Dengan senang hati. Kebetulan, kami juga memiliki hal yang hendak dibicarakan dengan Menteri Tao”
“Kalo begitu, mari saya antar!”
“Mari. . .!” mereka berjalan berdampingan menuju kediaman Tao
Kediaman Tao
Yingjun mempersilahkan mereka masuk namun tidak dengan dirinya. Ia berdalih akan pergi ke suatu tempat dan tak bisa mengikuti acara makan malam bersama ayahnya.
“Baiklah, kalo begitu kami masuk dahulu. Ayo Yi Cao, Yueji!”
“Nona Yueji!!” seru Yingjun memanggil namanya
“. .Ada apa. .?” jawaban ketus keluar dari mulutnya
“Tidak! Hanya sedang memastikan!” kata Yingjun yang semakin menggoda Yueji dan membuatnya kesal setengah mati kemudian melengos pergi masuk menyusul kedua saudarinya serta mengatakan sesuatu
“Genit! Tidak tau malu! Dasar Buaya!”
__ADS_1
Sembari tersenyum melihat tingkah lucu Yueji, Yingjun pun pergi ke Penginapan Changhu dan bertemu dengan Zhao Lantian yang sedang melakukan patroli malam dengan Wen Zhiling dan beberapa anak buahnya.
“Sepertinya kau memiliki banyak waktu senggang setelah sakit? Atau berkat Puteri Neiyan yang datang menjenguk,
kau jadi malas-malasan seperti ini?” sindirnya
“Lalu, apa kau cemburu melihat Puteri Neiyan menjengukku?”
“Omong kosong!”
“Apa lagi yang harus dilakukan oleh pengangguran sepertiku ini?”
“Salahmu sendiri, kenapa kau menolak saat ditawarkan menjadi Kepala Polisi dan malah menyerahkannya padaku?”
“Iya sudahlah anggap saja aku sedang tak beruntung. Aku hanya ingin lebih menikmati hidup dan tak terikat oleh kewajiban yang padat seperti ini. Lihatlah wajahmu yang penuh deangan kecurigaan setiap hari! Menyeramkan!”
“Huh, seenaknya bicara! Oh ya, bagaimana dengan kasusumu? Kau sudah menemukan orang yang mencelakaimu waktu itu?”
“Belum. Sulit mengenali mereka karena semuanya memakai topeng”
“Apa kau pernah menginggung seseorang akhir-akhir ini? dan, apakah mereka meninggalkan sedikit bukti untuk
“Bukti? Surat itu satu-satunya bukti saat ini dan sedang dipegang oleh ayah, tapi aku tak boleh menyerahkannya pada Zhao Lantian karena itu menyangkut ibuku. Mana mungkin, aku hanya berdiam diri di Penginapan dan sesekali mengunjungi rumah Bordil untuk bermain musik disana.”
“Apa kau perlu bantuanku untuk mengusut kasus ini?
“Sejak kapan kau jadi sangat peduli padaku? Aku jadi tersanjung!” guraunya
“Sudahlah, anggap aku tak pernah menawarkannya dan bertemu denganmu malam ini! Zhiling, kita lanjutkan patroli!” bergegas pergi
“Baik, Ketua!” mengikutinya dari belakang
“Jianke!” memanggil pengawal priadinya yang sedari tadi mengawasinya dari jauh
“Aku disini!” muncul tiba-tiba dari atas atap rumah (jangan dibayangin kaya maling ya, karena posisinya sebagai
pengawal bayangan ia hanya akan selalu mengawasi tuannya di tempat yang tak terlihat orang lain)
“Bagaimana penelusuranmu dan apa yang sudah kau temukan?” ucapnya sembari menyembunyikan tangannya dibelakang
“Hamba sudah kembali ke hutan dan hanya ini yang hamba temukan!” menyerahkan sebuah ikat kepala
__ADS_1
“Qihei? Bukankah ini nama perguruan di Pegunungan Utara? ” membaca kata yang terdapat dalam ikat kepala itu
“Benar, tuan! Saat hamba bertarung dengan mereka, hamba juga sudah curiga dengan jurus-jurusnya. Mereka memiliki ilmu hitam yang sangat berbahaya bahkan mereka menyimpan racun dibalik kuku-kukunya yang seketika memanjang jika sedang dalam keadaan terdesak. Tapi, dari luka tuan kemarin sepertinya tak ada racun apapun melainkan hanya sebuah obat bius dengan dosis yang tinggi”
“Apa menurutmu. . . ibuku ada disana dan bergabung dengan mereka?”
“Kemungkinan besar, iya. Tapi, kita tidak bisa menerobos masuk kesana untuk mencari tau secara langsung karena itu akan sangat berbahaya. Apalagi dengan kejadian dimasa lalu, negara telah membuat dekrit untuk tidak boleh ada yang mendekati pegunungan Utara lagi”
Perguruan Qihei adalah salah satu perguruan yang berasal dari negara Qing dan sekarang ikut menjadi bagian dari
Taiyang. Setelah melewati beberapa kesepakatan dengan mereka agar bisa menyerah dan tunduk pada negara yang baru serta dijanjikan sebuah jabatan penting di Negeri Matahari itu (Taiyang = Matahari) akhirnya mereka menyetujuinya. Beberapa tahun menjabat, Ketua perguruan Qihei telah menewaskan sedikitnya 1000 orang hanya karena persoalan sepele. Ia menggunakan ilmu hitamnya dan racun ditubuhnya untuk menghabisi para korbannya. Hal ini sampai ke telinga Kaisar dan menyuruhnya untuk bertobat di Bukit Bintang bersama beberapa pengikutnya lalu menggugurkan jabatannya, namun ia menolaknya dan murka. Akhirnya, Kaisar meminta beberapa perguruan lain dan mengerahkan pasukannya untuk menundukan mereka lalu memukul mundur hingga ke Pegunungan Utara, tempat asalnya. Merekapun terkurung disana dan dijaga oleh sebuah pelindung yang membuat mereka tak bisa leluasa keluar.
Sampai sekarang Perguruan itu menjadi perguruan yang dikucilkan dari Negara Taiyang karena pernah membuat kekacauan dimasa lalu sehingga menewaskan beberapa warganya. Bahkan Kaisar juga membuat dekrit untuk tak mendekati Pegunungan Utara lagi. Jika ada yang melanggar, maka ia akan dianggap sebagai pembelot dan hukuman penjara akan menantinya.
“Kau benar. Kita harus menunggu mereka untuk bertindak kembali!”
“Tuan, apa sebaiknya anda kembali saja ke kediaman Tao untuk sementara waktu sampai kita menangkap salah satu dari penjahat bertopeng itu?”
“Kau ini!! sudahlah, kita harus kembali Changhu dan menunggu tamu kita datang! Ayo!” melangkah pergi
“Tamu?” pikirnya
Disisi lain, Zhao Lantian yang melanjutkan patrolinya melihat pergerakan aneh seperti bayangan yang tiba-tiba
melintas dihadapannya.
“Siapa itu?” refleksnya dengan posisi berjaga-jaga
“Ada apa Ketua?” tanya Zhiling
“Kau melihat ada bayangan didepan sana. Pergerakannya sangat cepat, sehingga terasa hanya seperti angin yang
berhembus”
“Kalian, periksa sebelah sana. Kalian pergilah kearah sana!” titah Zhao Lantian pada beberapa anak buahnya
“Siap Ketua!” merekapun berpencar memeriksa keadaan. Tiba-tiba beberapa dari mereka terpelanting keatas kemudian jatuh. Setelah didekati, Zhao Lantian melihat pakaian mereka berlubang dibagian dada sehingga membuat mereka mengerang kesakitan yang amat sangat sampai muntah darah dan tak sadarkan diri
“Siapa itu? Keluarlah dan hadapi kami!” teriaknya memperingatkan
Terlihat diatas atap seseorang , menggunakan pakaian serba hitam sedang mengawasi Zhao Lantian dan Wen Zhiling. Siapa kira-kira yang sedang membuat kekacauan ya? Tunggu kisah selanjutnya. . .
__ADS_1