Kembalinya Sang Puteri

Kembalinya Sang Puteri
Episode 19


__ADS_3

Selanjutnya di Novel Kembalinya sang Puteri


Ruang Tamu penginapan


“Aku senang bisa berbicang lama denganmu sampai tidak sadar jika hari sudah sore. Sebenarnya aku masih ingin disini, tapi kau pasti tak mengizinkannya.”


“Kembalilah dahulu, kau bisa berkunjung lagi lain waktu, puteri.”


“Tuan benar, Puteri. Lagipula anda sudah terlalu lama disini, ayah anda pasti khawatir karena sebelumnya kita pergi terburu-buru. Tuan Yingjun juga butuh istirahat”


“Bukannya membantuku agar dia mau lebih lama aku temani, kau malah membenarkan perkatannya!”


“Maaf, Puteri. Hamba salah!”


“Sudahlah, kau ada benarnya juga. Aku harus pergi agar Yingjun bisa beristirahat! Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu!”


“Silahkan, Puteri!” pergi mengantar


Yi Cao yang telah menjelaskan semuanya pada Paman Pubu akhirnya keluar dari dapur dan melihat kearah ruang tamu dimana Yingjun dan Puteri Neiyan berada


“Siapa wanita itu, Paman?”


“Dia adalah Puteri Neiyan, puteri tunggal Kanselir dari Luo Jinxi”


Luo? Apakah dia masih satu marga dengan Luo yang aku kenal?


“Apa yang sedang anda pikirkan, nona?”


“Ah, tidak Paman. Kalau begitu, aku permisi kembali ke kamar dulu”


“Silahkan, nona!”


Malam hari


Yueji yang tidak bisa tidur karena memikirkan hari esok akhirnya menyelinap keluar penginapan untuk mencari udara segar. Tak disangka, Yingjun yang sedang  khusyuk dengan buku ditangannya ternyata melihat Yueji yang mengendap-endap layaknya seorang pencuri. Karena penasaran dengan apa yang akan dilakukannya, Yingju pun menghentikan kesibukannya dan mengikuti kemana Yueji akan pergi. Dengan ilmu bela diri meringankan tubuh,


Yueji pun melayang keatap sebuah Paviliun yang tinggi menjulang agar dapat melihat bulan dari dekat, sedangkan Yingjun terus mengikutinya dari belakang tanpa diketahui oleh Yueji.

__ADS_1


“Ibu, maafkan aku yang tak bisa menjaga peninggalan berharga darimu. Niatku meninggalkan Gua hanya ingin agar kenginanmu terwujud, tapi aku malah membuat masalah. Jika kau ada disini, apa kau akan memarahiku dan menghukumku seperti ibu-ibu yang lain? Aku tidak keberatan mendapatkannya asalkan aku bisa melihatmu secara langsung. Aku ingin mendengar omelanmu, meski aku sering mendapatkannya dari bibi, tapi aku yakin suaramu akan lebih merdu darinya” air matanya perlahan-lahan jatuh menetes membasahi pipi. Sembari terus melihat


bulan dan bintang, Yueji terus membayangkan wajah ibunya yang sedang tersenyum kepadanya. Yingjun yang berada tak jauh darinya mendengar keluh kesahnya hingga membuat hatinya trenyuh dan kasihan.


“Ibu, jangan khawatir. Aku pasti akan mendapatkan buku itu kembali. Bantu aku menghadapi mereka yang berusaha jahat padaku ya. Kak Yi Mei dan Kak Yi Cao juga akan berjuang bersamaku, kau pasti akan mendukungku dari atas sana kan?”


Selama ini, Yueji memang sering menyembunyikan rasa rindunya dengan sang Ibu tanpa diketahui oleh, Bibi, Kakek Petapa dan kedua Saudarinya. Ketika gundah melanda, ia akan mengadu pada Bulan yang dianggapnya sebagai penampung pesan untuk ibunya. Meski tak pernah menanyakan tentang apa yang terjadi pada keluarganya 20 tahun lalu, tapi sebenarnya dalam lubuk hati yang terdalam ribuan pertanyaan menggunung hingga memenuhi pikirannya. Demi tak membuat Bibi nya khawatir, ia sembunyikan segalanya sendiri dan akan ia keluarkan tanpa ada yang tau. Yingjun lah saat ini menjadi orang pertama yang mendengarkan keluh kesah dan kesedihannya.



Dia sedang menangis, mengeluarkan air mata yang lama ia sembunyikan. Entah apa yang membuatku tertarik untuk mengetahui kesedihannya, tapi aku benar-benar ingin tau siapa dia sebenarnya (Ujar Yingjun dalam hati)


Di waktu yang sama, Hakim Guan pergi ke kediamaman Kanselir Luo untuk memperlihatkan buku itu padanya.


“Tuan Kanselir, Hakim Guan ingin bertemu dengan anda” ucap seorang pelayan yang berbicara dari balik pintu


“Dia tidak bisa melihat waktu? Ini hampir tengah malam untuk apa dia bertamu?” jawabnya yang bersiap untuk tidur


“Katanya ada hal yang sangat penting untuk diberikan, tuan”


“Suruh dia pergi, berikan padaku besok saja!” menarik selimut


“Apa yang kau katakan tadi? Berani-beraninya kau mengungkitnya lagi!” serunya terduduk silang


“Ampun tuan, Hamba tidak ada maksud seperti itu. Tapi, Hamba mendapatkan ini dari seorang wanita. Mohon tuan untuk memeriksanya” ujarnya sambil bersujud lalu menyerahkan buku lukis milik Yueji pada Ayah dari Neiyan itu.


“Apa ini. . .? Merepotkan sekali!” membuka dan mengamati setiap lembar dari buku lukis yang telah terisi oleh beberapa lukisan dari Yueji selama perjalanannya. Sama seperti Hakim Guan yang tertegun melihat tanda bunga Peony disudut kanan lukisan, ia pun sama.


Bunga Peony ini. . .(mengingat kejadian masa lalu saat ia melihat stempel kerajaan dengan bentuk yang sama milik selir Xiao Meili yang dibuat khusus untuknya) hanya ada satu di dunia ini! Apa para pembunuh itu berbohong tentang kejadian waktu itu?Tapi ini tidak mungkin, aku mendengar dengan jelas dari mereka bahwa telah menjalankan tugas dengan baik bahkan aku memeriksanya langsung kesana dan melihat kereta kudanya jatuh ke jurang. Aku juga melihat jasad tangan kanan Kaisar pada saat itu (maksudnya adalah Yi Shaolun dan dikenal dengan Pendekar Lun tanpa menyebutkan marganya)


“Dari siapa kau mendapatkannya?”


“Ada tiga orang wanita pengembara yang membawanya, tuan. Mereka terlibat sebuah kasus dengan rentenir Yutong karena buku itu, lalu Kepala Polis Zhao membawanya ke Kantor Kehakiman dan memberikannya padaku”


“Lalu dimana mereka sekarang?”


“Saat ini, mereka berada di penginapan milik keluarga Tao dan sedang diawasi oleh anak buah dari Kepala Polisi Zhao untuk berjaga-jaga agar tidak melarikan diri”

__ADS_1


“Bagus! Aku akan ikut denganmu besok untuk melihat secara langsung siapa mereka!”


Keesokan harinya di Kantor Kehakiman Distrik Shangnan


Yueji, Yi Mei, dan Yi Cao memasuki ruangan yang terlihat sepi. Mereka saling menatap seolah bingung dengan suasana persidangan yang hanya terdapat beberapa orang dari pihak pengadilan.


“Selamat datang, nona - nona! Bagaimana kabar kalian hari ini? hehe, aku tak sabar mendengar jawaban kalian atas pertanyaan yang akan diberikan” ucapnya yang terlalu berbasa-basi


“Terima kasih atas sambutannya, Hakim Guan. Tentunya kami siap menerima pertanyaan dari anda dan kami yakin bahwa apa yang akan kami ucapkan adalah sebuah kebenaran!” seru Yi Mei dengan percaya diri


“Eh, bukan aku yang akan bertanya pada kalian, tapi beliau. . .” maksudnya adalah Kanselir Luo yang masuk kedalam ruangan melalui pintu lain kemudian menggantikan Hakim Guan duduk di singgasana Hakim


“Siapa dia?” tanya Yi Cao pada Yi Mei. Melihat orang asing di depannya, Yueji terlihat kesal dan mengepalkan tangannya dengan erat, seolah berfikir bahwa hari ini akan sesulit kemarin bahkan mungkin lebih.


Ibu, apa aku bisa menghadapi mereka?


“Aku perkenalkan pada kalian, beliau adalah Kanselir Kerajaan, tuan Luo Jinxi yang secara khusu datang untuk kalian. Bagaimana, seharusnya kalian merasa tersanjung bukan?” ujar Hakim Guan yang berdiri disampingnya


“Eh, Kenapa mengundang Kanselir dalam persidangan, bukankah itu terlalu berlebihan?” sahut Yi Cao.


“Kau terlalu berlebihan Hakim Guan. Berikan aku waktu untuk menanganinya, bolehkan?” ujar Kanselir Luo


“Silahkan, Tuan!”


“Menurut Hakim Guan bahwa gadis yang bercadar itu adalah pemilik asli buku ini? Aku penasaran dengan wajahnya. Baiklah, nona – nona. Aku telah mendengar seluruh kronologi kejadiannya dan memang tak ada seniman yang bisa membuat lukisan serupa dengan yang ada dibuku ini. Oleh karena itu, aku yakin bahwa ini adalah milik. . .” menggantung perkataannya


“Izin menjawab tuan. Buku itu milikku, Yi Cao” maju satu langkah dari tempatnya


Ia menggunakan marga Yi dan bukan Xiao. Apakah ini hanya sebuah pengalihan identitas agar tak ada yang tau mengenai dirinya atau memang bukan dia?


“Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengembalikan buku ini padamu!”


Semudah itu? Pikir Yueji


“Tapi dengan satu syarat!” lanjut Kanselir


“Syarat?” tiga gadis itu bertanya serentak

__ADS_1


Apakah syarat yang akan diajukan oleh Kanselir Luo pada mereka. Baca terus sampai teh end ya. Stau tune. . .


__ADS_2