Kembalinya Sang Puteri

Kembalinya Sang Puteri
Episode 26


__ADS_3

Sebelumnya di Novel Kembalinya Sang Puteri


Yueji yang saat itu terbangun karena mimpi buruknya dijenguk oleh Yingjun yang membawa ramuan Penguat Fisik untuknya. Kedekatan mereka mulai terbentuk seiring berjalannya waktu. Yingjun yang memiliki sifat suka menggoda Yueji dan membuatnya kesal semakin hari semakin lengket dengannya. Bagaimana kelanjutan dua sejoli ini? Baca sampai habis ya. . .


Dalam mimpi Yueji



Karena terlalu bosan beberapa hari terbaring diatas ranjang, Yueji pun memutuskan keluar kamarnya dan menghirup udara disekitar Penginapan Changhu. Ia terus memikirkan tentang mimpinya yang berjalan diatas karpet merah menuju ke sebuah Singgasana namun disana terdapat banyak mayat tergeletak bersimbah darah dihadapannya yang tengah duduk di Singgasana tersebut. Menurutnya itu benar-benar mimpi yang mengerikan sehingga membuatnya beberapa kali terpejam dan berusaha mencerna mimpinya. Ditengah memikirkannya, ia melihat Hong Neiyan yang datang bersama dua pelayannya datang ke Penginapan Changhu dan diantar Paman Pubu ke sebuah ruangan.


Siapa wanita itu? Sepertinya dekat sekali dengan Paman? karena penasaran Yueji pun mengikuti mereka yang terlihat menuju ke ruang pribadi Yingjun. Dengan mengendap-endap, sembari merayap kakinya mulai melangkah berjinjit pelan lalu menguping pembicaraan mereka.


“Paman, kapan Yingjun keluar?” tanya Neiyan yang sudah didalam ruangan


“Baru saja tuan Puteri. Tuan hanya sedang membeli sesuatu, sebentar lagi pasti ia akan kembali. Anda duduklah dulu saya akan buatkan teh!” jawab Paman Pubu


“Baiklah, Paman. Terima kasih!” setelah mendengar langkah kaki Paman Pubu mendekat kearahnya, Yueji yang berada diluar pun langsung bersembunyi dan melanjutkan kegiatan mencuri dengarnya.


Tak berapa lama Yingjun pun kembali dan melihat Yueji yang terbungkuk mengintip ke dalam ruangan pribadinya. Melihat hal tersebut muncullah dalam pikirannya untuk menjahili gadis yang menyelamatkannya di hutan itu. Dalam diam ia tiba di belakang Yueji dan memperhatikannya dengan seksama.


“Cantik sekali gadis itu, pakainnya juga terlihat mahal, sepertinya bukan orang biasa. Apa


hubungannya dengan keluarga ini? Eh, dia juga membawa banyak makanan lezat. Honan (hidangan saus asam manis), Jiangsu (makanan dengan bahan pilihan seperti daun teh segar, jamur, buah pir, rebung dan jujube), Zhejiang (makanan tanpa lemak dengan cita rasa segar, empuk dan harum yang lembut), Guangdong (makanan dengan banyak bumbu rempah), waah, mereka terlihat sangat lezat aku jadi lapar!” ucapnya mengabsen makanan yang dibawa oleh Luo Neiyan


“Hati-hati, jangan sampai air liurmu jatuh ke lantai!” bisik Yingjun yang sedari tadi dibelakang Yueji


“Aaa!! Sejak kapan kau disitu?” teriak Yueji setelah wajahnya berbalik dan bertatapan langsung dengan Yingjun yang membuat Hong Neiyan keluar ruangan


“Sejak kau mulai mengintip kedalam ruangan pribadiku!” mendekatkan wajahnya


“Ada apa ini? Yingjun, siapa wanita ini dan kenapa dia. . .ada didepan ruanganmu memakai pakaian seperti ini?” Neiyan mempertanyakan keberadaan Yueji yang hanya memakai pakaian sederhana


“Puteri Neiyan. . .?” ucap Yingjun yang bingung melihat Neiyan keluar dari ruangan pribadinya


“Maaf tuan, karena cuaca diluar dingin jadi aku menyuruh Puteri Neiyan untuk menunggu didalam ruangan tamu anda” sebelumnya Yingjun pernah memberitahu Paman Pubu untuk tak mengizinkan Neiyan masuk kedalam ruang tamu pribadinya.


“Aku. . .aku hanya tamu di Penginapan ini. Kalian. . .berbincanglah! Aku. . .akan kembali ke kamar dulu!” melarikan diri

__ADS_1


“Eh. . .hei!!” teriak Neiyan pada Yueji yang kabur ke kamarnya


“Sudahlah. . .Ada keperluan apa Tuan Puteri datang kemari?”


“Kau tidak mau membiarkanku masuk?”


“Um. . .Baiklah, silahkan!” Yingjun dan Neiyan kembali berbincang dalam waktu yang cukup lama. Sementara Yueji yang kembali ke kamarnya dihampiri oleh Paman Pubu.


“Huuh, bagaimana mungkin dia tiba-tiba berada dibelakangku tanpa bersuara sedikit pun? Wanita itu. . . “


“Dia adalah Puteri Luo Neiyan, nona. Putri tunggal dari Kanselir kerajaan Taiyang Luo Jinxi, sekaligus


teman masa kecil tuan Yingjun” ucap Paman Pubu yang datang membawa makanan


“Oooh. . . Pantas saja mereka terlihat akrab. Oh ya Paman, dimana kakak-kakakku?”


“Mereka pergi sejak pagi, nona dan berpesan pada saya dan tuan Yingjun untuk menjaga anda sementara mereka tak disini”


“Pergi? Pergi kemana?”


“Mereka. . .”


“Ssh. . .Ugh, kak sakit!” keluhnya yang dipeluk erat oleh Yi Mei


“Maaf, maaf, aku lupa lukamu. Bagaimana keadaanmu sekarang?”


“Aku baik-baik saja, kak. Tapi, kenapa kau sendiri dimana kak Yi Mei?”


“Nona-nona, kalau begitu saya permisi”


“Baik, Paman. Terima kasih! Kalian pergi kemana? Aku sudah tidak apa-apa sekarang, jadi lebih baik kita lanjutkan perjalanannya”


“Yueji, duduk dulu! Kau sudah koma selama dua hari, tubuhmu butuh istirahat lebih”


“Dua hari? Kalau begitu kita sudah hampir lima hari berada disini, bukan?”


“Sebenarnya, kita masih harus tinggal disini beberapa hari lagi”

__ADS_1


“Kenapa? Apa yang kalian sembunyikan dariku?”


“Sebenarnya, Yi Mei dan aku keluar untuk bekerja”


“Bekerja?”


“Iya. Kita benar-benar kehabisan uang karena kejadian beberapa hari kemarin. Uang terakhir kita gunakan untuk menolong ibu dari anak yang mencuri bukumu. Waktu itu ia mengalami sebuah penyakit yang membutuhkan ramuan obat langka dan mahal. Karena kita membutuhkan kesaksiannya untuk membebaskanmu, jadi tanpa pikir panjang kita menolongnya membelikan obat untuk ibunya. Menurut Paman Yangli, jika kita melanjutkan perjalanan pun tidak akan bisa melewati perbatasan karena setiap orang yang datang harus membayar upeti disana”


“Lalu, dimana kau bekerja? Biarkan aku membantumu!”


“Tidak perlu. Lukamu belum sepenuhnya sembuh, kau istirahat dan pulihkan saja tenagamu dulu. Biarkan urusan mencari uang, kami yang akan menanganinya”


“Bagaimana bisa begitu. Uang itu habis juga karenaku bukan, aku juga andil untuk bertanggung jawab menggantinya”


“Kau ini. jangan menyalahkan diri sendiri, keputusan menolongmu adalah keinginan dan kewajiban kita. Aku dan Yi Mei sudah berjanji pada ibu untuk menjagamu, ketika ada sesuatu hal terjadi padamu tak peduli sesulit apapun itu kita harus melakukannya. Mengerti?”


“Tidak!”


“Yueji. . .”


“Kak, bagaimana pun perjalanan ini ada karena aku yang memintanya. Kita ini keluarga, harus bisa saling menjaga, susah senang bersama. Aku sudah sering mengingatkan untuk tidak memprioritaskan aku dalam hal apapun. Jika aku salah, izinkan aku bertanggung jawab untuknya. Sakit bukan alasan untuk bermalas-malasan, kalian sudah


menjagaku selama beberapa hari ini jadi aku ingin giliranku untuk membantu kalian.”


“Tapi. . .”


“Jangan halangi aku! Kau tau bukan, jika aku sudah memiliki tekad maka tak ada yang bisa mencegahnya”


“Kau ini! Jika Yi Mei tau, dia akan marah nantinya!”


“Aku yang akan menjelaskan padanya”


“Sudahlah. Benar kata kakek, memang tidak ada gunanya berdebat denganmu!”


“Kau tau itu! Hehe”


Sejak dahulu, Yueji hanya tau mengenai jatidirinya bahwa ia adalah seorang puteri dari kelurga terpandang dan Ren Xia adalah pelayan setia sang Ibu. Ren Xia selalu memprioritaskan kebutuhan sang Puteri diatas putri putrinya, untunglah mereka dapat mengerti dan tak tersinggung dengan sikap ibunya. Namun sesuai dengan wasiat Xiao Meili, Ren Xia menganggap Yueji sebagai puterinya sendiri meski seringkali sungkan terhadapnya. Lambat laun, semuanya saling berbaur dan semakin dekat tanpa dibatasi oleh sebuah hubungan Pelayan dan Majikan.

__ADS_1


Bersambung. . .


__ADS_2