
Sebelumnya di Novel Kembalinya Sang Puteri
Jianke memberitahukan sebuah pesan dari Rumah Bordil Baihe untuk Yingjun mengenai orang yang memakai topeng dan menyerang para prajurit kerajaan serta Yueji. Setelah dijelaskan langsung oleh pemilik Rumah Bordil Baihe, yaitu Zhu Meihwa orang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri itu.
Dengan menyerahkan sebuah liontin berbentuk bunga persik yang mirip dengan milik ibu Yingjun, Zhu Meihwa menduga bahwa orang berpakaian serba hitam malam itu adalah miliknya. Namun, Yingjun tak percaya begitu saja, ia berusaha untuk mencari tahunya sendiri dengan datang ke tempat itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Ikuti sampai habis ya. . .
Malam Hari
Yingjun menunggunya datang di tempat itu. Ia berjalan mondar mandir sembari melihat ke segala arah, namun setelah lama menunggu tak ada tanda-tanda orang datang kesana. Hingga pada akhirnya, Jianke memberitahu bahwa ia melihat Zhao Lantian dan para prajuritnya mengejar seseorang yang menggunakan topeng dan berpakaian serba hitam. Mendengar hal itu, Yingjun pun segera menghampirinya.
“Berhenti Disitu!” teriak Zhao Lantian yang berlari mengejarnya. Saat sudah terlihat sangat jauh, Lantian kehilangan jejaknya lalu bertemu dengan Jianke.
“Kau, bukankah kau pengawal pribadi Yingjun?”
“Benar, Kepala Polisi Zhao. Anda sedang mengejar orang yang berpakaian hitam yang memakai topeng bukan? Mari, saya tunjukkan jalannya” ucap Jianke yang mengalihkan jalan
Namun, ternyata sebelum itu Yingjun telah mengikuti orang tersebut sampai ke perbatasan kota dan menghadangnya. Mereka akhirnya berhadapan secara langsung.
“Siapa kau sebenarnya?” ucap Yingjun, namun dia hanya terdiam
“Apa kau kembali karena mencari ini?” menunjukkan liontin itu padanya
“Liontin itu? Kenapa bisa ada ditanganmu?”
“Kau bukan ibuku, kenapa aku harus memberitahumu?” mendengar ucapan Yingjun orang tersebut pun membuka topengnya dan betapa terkejutnya ia saat melihat wanita yang ada dihadapannya benar-benar sang Ibu yang selama ini ia rindukan
“Ibu (memanggil dengan suara lirih) Aku tak pernah ingin mempercayai kata-kata Ayah dan Kak Meihwa. Tapi, kau. . .”
“Kenapa dengan diriku? Jangan - jangan kau masih menganggapku sebagai wanita lemah yang selalu ditindas oleh Ayahmu itu? Lebih baik kau bangun dan lihat dengan jelas siapa aku sekarang?”
“Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau jadi sekejam ini? Dan, apa kau benar-benar bergabung dengan sekte sesat itu?”
__ADS_1
“Jangan menyebutnya sekte sesat, kalian lebih sesat dari kami. Menghancurkan kerajaan yang telah dibangun dengan susah payah dalam sekejap hanya karena tergiur dengan kekayaan yang ia miliki. Membunuh semua orang yang tidak patuh pada mereka hanya karena ingin setia pada kerajaannya dan membiarkan seseorang harus hidup sebatang kara karena perang itu. Apa kau pikir itu bukan hal yang kejam?” serunya dengan penuh kemarahan
“Mereka yang membuatku seperti ini! Sekarang kalian ingin menyalahkanku hanya karena aku membunuh beberapa orang saja? Menjijikan!” sambungnya
“Kau masih memiliki aku, bu. Aku akan meminta pada Ayah, tidak, kau bisa tinggal denganku”
“Benar. Aku masih memilikimu untuk mengancam Ayahmu itu.”
“Kenapa kau begitu membenciku?”
“Salahkan Ayahmu! Aku juga mengatakan itu sebelumnya, bukan? Semua adalah salah Ayahmu. Apa yang terjadi dimasa lalu tak akan pernah bisa dihapus begitu saja. Jadi, jangan pernah berharap aku bisa kembali seperti dulu. Sekarang cepat kembalikan benda itu padaku atau aku akan melukaimu?”
“Kau masih mencintai Ayah?”
“Omong kosong! Jangan sembarangan bicara!”
“Jika tidak, kenapa ibu meminta kembali liontin yang diberikan Ayah kepadamu? Kau sudah melukai banyak orang, pikirkan bagaimana kerajaan akan menghukummu jika tertangkap nanti. Oleh karena itu, kembalilah sebelum semuanya menjadi semakin sulit untuk mu, ibu”
“Berhenti bicara dan serahkan liontin itu sekarang!” katanya sambil melangkah maju melawan putranya sendiri. Tiba – tiba datang seseorang membantu Qingwei melawan Yingjun hingga tersungkur ke tanah lalu ia membawa Qingwei pergi dari sana. Jianke yang datang tepat waktu langsung menolong tuannya.
Di depan Penginapan Changhu
“Jianke!” ucap Yingjun yang terlihat masih tak percaya.
“Iya Tuan” sahutnya yang sedari mengikuti Yingjun dari belakang
“Benarkah yang aku lihat tadi adalah ibuku? Aku selalu menyangkal apa yang dikatakan oleh Ayah dan Kak Meihwa, tapi. . .dia benar-benar telah menjadi lebih kejam. Dia bahkan mengatakannya secara langsung bahwa selama ini aku menjadi alat untuk balas dendamnya. Apa kesalahanku padanya sehingga dia begitu membenciku?” menggenggam tangannya dengan erat seraya berlinang air mata.
Dengan wajah sedih dan langkah lunglainya, Yingjun masuk ke Penginapan Changhu. Tatapannya yang kosong
dan wajah sembabnya menandakan bahwa ia belum bisa menerima mengenai sikap sang Ibu terhadapnya.
Yueji yang kebetulan pada saat itu sedang mengamati lukisannya sendiri di teras Penginapan, melihat Yingjun yang begitu lesu melangkah merasa kasihan padanya.
__ADS_1
“Ada apa dengannya? Bukankah tadi siang masih semangat mengolokku? Kenapa sekarang malah berjalan
bagaikan manusia yang memiliki tubuh tak bertulang? Tapi. . .kasihan juga melihat wajahnya yang begitu suram seperti itu.” Sembari menyangga dagunya diatas meja, Yueji terus sang putera menteri itu dengan dalam.
Pagi hari
Kamar Yingjun masih terlihat sepi dan tak nampak ia akan segera keluar kamarnya untuk beraktifitas. Mengingat kejadian semalam, Yueji terus mengamati kamarnya dari teras halaman
Kenapa dia belum keluar kamar? Padahal matahari sudah diatas kepala tapi tak ada tanda-tanda dia akan membuka pintu kamarnya. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?
Tiba-tiba Paman Pubu datang dan berdiri di depan kamar Yingjun membawa senampan makanan. Mata Yueji terus mengamatinya tanpa berkedip.
“Tuan, Paman bawakan makanan kesukaan tuan” terdengar suara Paman Pubu dari jauh yang menawarkan makanan pada Yingjun dari balik pintu. Namun, sepertinya tak ada jawaban darinya. Rasa penasaran Yueji pun menuntunnya merencanakan sesuatu lalu menghampiri Paman Pubu yang masih berdiri di depan kamar.
“Paman, ikut aku ke dapur! Ayo!” berbisik
“Tapi, tuan belum makan sejak pagi jadi aku membuatkan makanan kesukaannya”
Belum makan sejak pagi? Masalah apa yang ia hadapi sehingga harus mogok makan seperti ini. Dasar!! Paman tenang saja, aku yang akan membuatnya memakan semua masakan Paman. Sekarang, kita kembali ke dapur dulu dan buatkan aku sesuatu” tetap berbisik
“Baiklah, nona” mereka pergi menuju dapur
Dapur Changhu
Ternyata Yueji meminta Paman Pubu untuk membuatkannya Bakpao lalu melukis sebuah wajah singa diatasnya.
“Pulang sore, sampai siang hari pun belum bangun, kau memang pantas disamakan dengan seekor singa” ucapnya sambil terus melukis. Tak hanya sebuah karakter singa yang ia lukis, wajah Yingjun yang terlihat suram tadi malam pun jadi inovasinya mewarnai bakpao - bakpao itu.
“Nona Yueji benar-benar berbakat melukis ya. Tapi, apa nona yakin jika tuan tidak akan marah diberikan makanan seperti itu?”
“Paman tenang saja, aku bukan hanya yakin tapi aku akan memastikan dia menghabiskan semua bakpao ini dan memakan semua makanan yang sudah Paman buatkan untuknya! Kalo begitu, aku pergi ke kamarnya dulu ya. Do’akan aku Paman!”
__ADS_1
Apakah usaha Yueji akan berhasil membuat Yingjun membuka hatinya?? Next eps besok ya. . .